Dea & Kinan

Dea & Kinan
22. Curhatan Fani



Setelah mengikuti ujian akhir smester di hari pertama, Dea pun langsung pulang bersama dengan Fani.


"Hari ini loe gak bareng sama pacar loe lagi?" Tanya Dea yang berjalan di samping Fani.


"Enggak, gue lagi marahan sama dia. Jadi gak usah bahas dia dulu ya, mending bahas kak.Akira aja, gue harap bisa pulang bareng dia lagi kaya waktu itu." Jawab Fani sambil memasang ekspresi berseri-serinya saat menyebut nama Akira.


"Kayanya gak akan bisa deh." Ucap Dea membuat Fani melirik kesal kearahnya.


"Siapa tau kan?" Gumam Fani sambil melihat beberapa mobil yang berlalu lalang dihadapannya saat sampai di halte bus.


"Gue bilang gak akan bisa. Lagian ini masih siang, kak.Akira itu pulangnya sore sore," jelas Dea membuat Fani murung, "lagian loe kenapa bisa marahan sama tuh orang?" Lanjutnya bertanya.


"Rafa?" Tanya Fani membuat Dea memutar bola matanya menahan rasa kesalnya.


"Emangnya siapa lagi?" Jawab Dea dengan nada bertanya bercampur kesal karena sahabatnya ini begitu menyedihkan saat sedang galau.


"Tau tuh, tanya aja sama orangnya." Jawab Fani sambil melihat ke sembarang arah membuat Dea menyerah. Padahal awalnya dia ingin membantunya berbaikan dengan Rafa. Tapi karena Fani terlihat mengesalkan dimatanya, maka Dea pun mengurungkan niat baiknya.


Tak lama kemudian bus yang ditunggu pun datang, dan mereka langsung naik kedalam bus.


***


"Dasar Fani." Umpat Dea masih merasa kesal saat memasuki halaman rumahnya dan segera meraih knop pintu rumahnya.


"Aku pulang," teriaknya setelah masuk dan bergegas melepaskan sepatunya, "arrgh... hari ini bernar-benar panas." Lanjutnya sambil melangkah kearah ruang tengah untuk mengambil air dingin di dalam kulkas.


Suasana rumah terlihat berbeda siang ini, biasanya selalu ada Kinan yang tak pernah absen dari bermain game di depan komputernya. Atau dia yang biasanya bermalas-malasan di sofa sambil bermain heandphonenya. Tapi wanita itu tak terlihat dimanapun, membuat Dea bertanya-tanya.


"Kemana dia? Tumben gak keliatan, biasanya anteng main game." Gumam Dea berjalan kearah kamar Kinan dan meraih knop pintu kamar itu.


Saat pintu kamar itu di buka, Dea langsung menghentikan langkahnya ketika melihat kakaknya sedang tertidur dengan kepala yang diletakan di atas meja belajarnya, dan tubuhnya yang terduduk di atas kursi dengan jendela kamar yang terbuka lebar. Membiarkan udara di luar memasuki kamarnya.


"Wajahnya benar-benar terlihat lesu, apa kakak selalu terlihat kelelahan seperti ini ya?" Gumam Dea yang sudah berdiri di samping kakaknya sambil memperhatikan wajah Kinan yang sedang terlelap dalam tidurnya.


Kemudian Dea memutuskan untuk pergi ke kamarnya setelah menyelimuti kakaknya dengan selimut yang terlipat diatas tempat tidurnya.


Saat gadis itu keluar dari kamar Kinan, tiba-tiba saja heandphonenya berdering. Dengan cepat dia mengangkat panggilan masuk yang diterimanya setelah mengambil heandphone yang disimpanya di dalam saku rok sekolahnya.


"Ya?" Tanya Dea setelah melihat nama si pemilik nomor itu, yang tidak lain adalah sahabatnya sendiri.


"De gue kerumah loe ya, gue pengen curhat soal si Rafa nih." Tuturnya.


"Tadi gue tanya kenapa loe marahan sama Rafa. Loe malah gak mau bahas, sekarang malah mau curhat. Gue mau belajar nih." Ucap Dea sambil berjalan menaiki anak tangga.


"Nyusahin banget sih ni anak satu." Gumam Dea sambil meraih knop pintu kamarnya dan segera masuk kedalam untuk mengganti seragam sekolahnya dengan pakaian biasa.


***


"Jadi mau curhat apaan nih?" Tanya Dea sambil berjalan kearah Fani yang sudah duduk di atas kursi yang tersedia di depan rumah Dea. Kemudian gadis itupun duduk di samping Fani sambil melihat kearah gerbang rumahnya.


"Si Rafa, dia sibuk banget ngurusin masalah sahabatnya sampe lupa sama gue. Padahal gue kan pengen dia merhatiin gue lagi kaya sebelum-sebelumnya. Tapi makin gue cuekin makin cuek sikap dia ke gue. Kan nyebelin." Jelas Fani terlihat kesal.


"Ya udah sih, kalau masalah sahabatnya udah kelar juga nanti dia merhatiin loe lagi." Tutur Dea setelah menghela nafasnya.


"Tapi gue kesel aja kalau pesan gue sampe gak dibales. Gue telponin juga jarang diangkat. Heran aja gitu, masalah apa sih yang lagi menimpa sahabatnya itu sampe dia kaya gitu ke gue ...." Jelas Fani berusaha menahan rasa kesalnya.


"Ini pasti karena loe waktu itu gak mau neraktir gue dan nolak niat baik gue buat do'ain kelanggengan hubungan kalian. Jadi gini nih ...." Tutur Dea sambil melirik jahil kearah Fani.


"Apaan sih loe. Emang do'a loe sebegitu ngaruhnya apa? Atau jangan-jangan loe diem-diem do'ain hal buruk buat hubungan gue sama Rafa kan?" Tanya Fani sambil menyikut tangan Dea yang sudah tak kuasa menahan tawa karena kelakuan Fani. Dia yang selalu memberikan nasehat kepada Dea soal hubungannya dengan pacarnya saat dia masih punya pacar, dan terlihat begitu dewasa dimata Dea. Tapi kini, Fani terlihat seperti anak kecil di mata Dea.


"Gue gak sejahat itu kali." Ucap Dea setelah puas tertawa, sedangkan Fani masih memasang wajah kesalnya karena tanpa sebab dia malah ditertawakan oleh Dea.


"Udah jangan marah-marah gak jelas gitu. Mending loe kasih waktu sendiri dulu buat si Rafa, nanti juga kalau masalahnya udah selesai dia pasti balik lagi merhatiin loe. Percaya aja sama dia, hubungan itu soal kepercayaan kan?" Jelas Dea sambil meregangkan otot tubuhnya, "Udah kan? Gue mau balik belajar lagi nih. Besok jadwal ujiannya pelajaran matematika loh. Loe kan tau gue payah dalam pelajaran itu." Lanjutnya membuat Fani kembali kesal setelah dia sempat mendapatkan ketenangan dari kata-kata Dea.


"Ya udah gue balik. Awas aja kalau loe sampe masuk kelas remedial." Ucap Fani sambil bangkit dari tempat duduknya dan menatap tajam kearah Dea. Membuat gadis itu sedikit merinding.


"Ya–ya udah balik sana." Ucap Dea membuat Fani menghela nafasnya.


"Ngomong-ngomong gimana hubungan kalian? dua kakak beradik yang buka-bukaan soal sifat asli kalain di depan kak Akira dengan adiknya. Mereka gak risih kan liat kelakuan kalian?" Tanya Fani sebelum pulang.


"Kalau mereka risih. udah kabur di hari pertama kali, dan lagi kelakuan mereka juga sama kaya Aku dan kakak, sering ribut. meski caranya berbeda." Jelas Dea sambil memalingkan pandangannya kesembarang arah saat mengakui keburukan sifatnya yang selalu lepas kendali karena sering dibuat kesal oleh kakaknya.


"Serius loe?" Tanya Fani memasang wajah datarnya, meragukan penjelasan Dea.


"Ngapain gue bohong? udah sana pulang, gue mau belajar." Jawab Dea sambil bangkit dari posisi duduknya dan segera mendorong tubuh Fani menuju gerbang rumahnya.


"Loe kok tega banget sih sama gue? gak diajak masuk dulu apa? kasih gue minum ke." Tutur Fani yang masih didorong oleh Dea.


"Loe juga gak ngajak gue masuk kerumah loe waktu gue minjem duit malam itu. jadi kita impas, bye ...." Jelas Dea sambil mengingat kejadian saat dia meminjam uang kepada Fani malam-malam. hanya untuk membeli pulsa listrik karena kesalahannya tentunya.


"Dasar pendendam." Umpat Fani saat melihat Dea melengos masuk ke dalam rumahnya. dan gadis itupun memutuskan untuk pergi dari sana.


xxx