Dea & Kinan

Dea & Kinan
108. Kediaman Akira



Setelah selesai membeli beberapa pakaian, Fino langsung membawa Kinan ke kediaman Akira. Rumah sederhana dua lantai dengan cat berwarna putih berpadu dengan cat abu-abu.


"Sudah sampai nona." Ucap pria berambut ikal itu memarkirkan mobilnya di samping halaman rumah.


Lalu Kinan dan Fino pun segera keluar dari dalam mobil dan berjalan kearah pintu masuk.


"Ini beneran rumah Akira?" Tanya Kinan merasa tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Pasalnya rumah keluarganya terlihat begitu mewah nan megah, tapi saat ini dia hanya bisa melihat rumah sederhana dengan halaman rumah yang tak jauh berbeda dengan halaman rumahnya.


"Silahkan masuk," tutur Fino mempersilahkan ketika pintu rumahnya dibuka dari dalam dan menampilkan seorang wanita paruh baya yang mengenakan celemek.


"Selamat datang tuan, apa tuan Akira bersamamu?" Tanya wanita itu sambil mencari perawakan Akira yang mungkin masih berada di dalam mobil.


"Tidak bi, kali ini saya datang bersama dengan tunangannya. Saya sudah menghubungi tuan, dan beliau meminta saya untuk membawanya kesini." Jelas Fino membuat wanita itu tersenyum ramah setelah sempat membulatkan mulutnya.


"Salam kenal bi." Ucap Kinan membalas senyuman wanita itu.


"Kalau begitu saya akan mengantarnya ke kamar, bibi siapkan beberapa makanan untuk makan malam nanti ya." Lanjut pria itu sambil berjalan kearah anak tangga di sudut rumahnya.


"Permisi bi ...." Tutur Kinan merasa canggung dengan wanita yang baru ditemuinya.


"Fino yang tadi itu?" Tanya Kinan yang mengekor dibelakang pria itu.


"Ah, itu bi Inah. Pengurus rumah ini, tuan mempekerjakannya untuk merawat rumahnya agar tetap bersih meski tak ditinggali olehnya. Agar saat dia berkunjung, rumahnya selalu dalam keadaan bersih." Jelas Fino.


"Sekarang sudah sampai, ini kamar tuan. Nona bisa memakainya, kamar saya ada di bawah. Jika nona membutuhkan sesuatu, nona bisa memanggil saya disana." Lanjutnya sambil menunjukan pintu kamar yang akan digunakan oleh Kinan.


"Apa tidak ada kamar lain? Kenapa harus kamar Akira? Aku merasa tidak–" Tanya wanita itu terhenti saat mendapati telapak tangan Fino yang mengangkat tepat didepan wajahnya.


"Nona ini kan calon istrinya tuan, jadi nona bisa memakai kamarnya. Tuan juga tidak akan keberatan jika mengetahuinya." Jelas pria itu sambil membuka pintu kamar dihadapannya dan segera masuk untuk menyimpan tas belanjaan Kinan di atas tempat tidurnya.


"Aroma ruangannya benar-benar wangi ... aku mencium aroma campuran mint dan orange, aku sangat suka dengan aroma ini," tutur Kinan tampak antusias memasuki kamar itu.


"Wanginya benar-benar khas Akira ya ... aku jadi merindukannya." Lanjutnya bergumam membuat Fino terkekeh saat mendengar gumaman wanita itu, Kinan yang terkejut dengan tawa Fino pun merasa malu karena sudah bergumam seenak jidatnya.


"Tuan memang menyukai aroma seperti itu, tapi terkadang dia juga menggunakan parfume lain." Tutur Fino sambil tersenyum kearah Kinan.


"Hee..." Gumam wanita itu masih dengan ekspresi malunya.


"Kalau begitu sebaiknya nona beristirahat dulu. Saya juga harus pergi, ada pekerjaan yang belum saya selesaikan." Tutur pria itu sambil berjalan kearah pintu meninggalkan Kinan di dalam kamar itu sendirian.


"Di lantai dua hanya ada dua kamar, tapi sepertinya hanya kamar ini yang terlihat luas." Gumamnya sambil mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. Memperhatikan setiap dekorasi dan barang-barang yang tertata rapi disudut ruangan hingga ke sudut lainnya.


Disisi lain, Akira terlihat kesal menerima panggilan masuk dari Kiara. Pria itu ingin segera mengusaikan permainan bodoh yang melibatkannya. Pasalnya dia mulai tak bisa mengendalikan perasaan rindunya pada sosok Kinan, dan dia tak bisa menghubungi calon istrinya demi keberhasilan rencana pengumpulan bukti kejahatan Delia dan menangkap basah wanita itu.


"Bertahanlah sampai besok, jika rencanaku berjalan lancar. Kau bisa mengakhirinya besok malam." Suara Kiara membuat Akira menghela nafas lelah.


"Asal kau tak ingkar janji, aku akan menurutimu." Balasnya sambil menutup telponnya.


Kemudian pria itu langsung memeriksa pesan masuk dari Fino, senyumannya mengembang saat membaca bagian Kinan yang menempati kamar pribadinya.


"Jadi dia tidak menolak ya." Gumamnya sambil membaca pesan berikutnya.


"Kopinya tuan." Tutur pria itu sambil memberikan cangkir itu ketangan Akira.


"Terima kasih" Ucap Akira kepada pelayan itu.


Pria itupun langsung pergi dari ruang kerja Akira, meninggalkan pria berambut hitam itu sendirian di dalam ruangannya. Menatap foto Kinan yang terpampang di layar komputernya. Wajahnya langsung memerah saat mengingat pesan terakhir dari Fino.


'Apa-apaan pesan terakhirnya itu? Dia ingin membunuhku ya?!' Lanjutnya dalam hati sambil menyenderkan tubuhnya kesandaran kursi kerjanya.


"Dia merindukanku ya ... Fino bilang dia juga sangat menyukai aroma wangi di kamarku? Arrgh sial, aku semakin ingin mengakhiri semua ini secepatnya lalu pergi menemuinya dan menggodanya sebanyak yang ku mau." Gumamnya lagi tampak frustasi.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 05:10 Pm, Dea tampak cemberut di depan pintu rumahnya sambil memperhatikan layar heandphonenya yang menampilkan pesan dari kakaknya.


"Kalau tau dia gak akan pulang, aku tidak akan membiarkan si Fino membawanya pergi!" Gerutunya merasa kesal sambil meremas heandphone di tangan kanannya.


"Kenapa harus di tinggal sendiri lagi? Bagaimana kalau ada kecoa berkeliaran lagi? bisa mati aku." Lanjutnya masih belum puas mengoceh.


Lalu terdengar suara pintu yang di ketuk dari luar, tak lama kemudian pintu itu terbuka menampilkan sosok Megan yang memasuki rumah Kinan dengan celana jeans abu dan kaos hitam polos yang tertutupi jaket biru tuanya.


Dea yang masih berdiri di tempatnya hanya bisa bengong memperhatikan kedatangan Megan yang membawa sesuatu di tangannya.


"Aroma ini ...." Gumam Dea dengan mata berbinarnya.


"Loe ngapain berdiri di depan pintu? nungguin gue?" Tanya Megan tak di dengarkan.


"Nasi goreng, gak salah lagi. Loe beli dimana?" Tanya Dea tampak bersemangat dan hendak meraih bungkusan ditangan Megan, namun dengan cepat pria itu menjauhkannya dari jangkauan gadis berambut hitam itu.


"Gue gak beli buat loe ya." Ucapnya membuat ekspresi gadis itu berubah.


"Bercanda, gue beli dua porsi ko. Fino bilang kak Kinan gak bisa pulang hari ini, jadi gue beli nasi goreng di jalan." Lanjutnya sambil meraih puncak kepala Dea dan tersenyum lebar pada gadis itu, tapi gadis itu hanya bisa mengerucutkan bibirnya dengan perasaan kesal karena dipermainkan oleh pria dihadapannya.


"Udah jangan ngambek lagi sih, kita makan aja mumpung masih hangat." Tutur Megan membuat Dea menghela nafas pasrah.


"Tapi yang cuci piring bekasnya loe ya." Ucap Dea sambil berjalan kearah dapur diikuti oleh Megan.


"Bedua lah." Ucap Megan tak mau mengalah.


"Gak mau, loe aja sendiri. Siapa suruh buat gue kesel, udah tau gue lagi kesel gara-gara si Fino yang gak balikin kakak gue!" Jelas Dea membuat Megan tersenyum kaku memperhatikan punggung gadis itu.


'Jadi karena itu dia berdiri di depan pintu dengan ekspresi kesalnya?' Batin Megan merasa tak percaya dengan tingkah aneh gadis itu.


"Iya deh, gue yang cuci piring bekasnya. Daripada loe ngamuk gak jelas, gue bisa mati kalau berhadapan sama cewe kaya loe disaat kak Kinan lagi gak ada di rumah." Gumam Megan sambil mengedarkan pandangannya kesembarang arah.


"Loe ngomong apa?" Tanya Dea menengok kearahnya, dengan cepat pria itu menggelengkan kepalanya sambil tersenyum lebar dengan kesan memaksa.


xxx