
Waktu sudah menunjukan pukul 09:00 Am, terlihat sosok Bayu yang sedang mengangkat telpon di sebuah parkiran kantor. Pria itu tampak asik duduk di atas kap mobilnya dengan kacamata hitam yang menghiasi wajahnya.
"Apa maksudmu?" Tanyanya menjawab panggilan yang diterimanya.
"Aku akan datang menemuimu disana, jangan pergi sebelum aku tiba. Bantu ulur waktu saja ...." Suara Kiara membuat pria itu menghela napas beratnya sambil memainkan kunci mobil ditangannya.
"Jangan bercanda!" Suara Bayu sedikit meninggi berusaha menghentikan tindakan wanita itu, tapi sambungan telponnya sudah terputus sebelum dia berhasil mengomelinya.
"Dasar wanita. Selalu saja bersikap seenaknya ...." Ocehnya sambil bangkit dari posisi duduknya.
"Yah hanya mengulur waktu, aku ahlinya dalam hal itu. Mari kita lihat apa dia mau menerima tawaran emas ini?" Lanjutnya mulai berjalan memasuki kantor megah dihadapannya.
'Padahal sudah memiliki kantor semegah ini, masih saja ingin menguasai lahan pertanian pak Arya. Seberapa serakahnya tuan Danu ini?' Batin Bayu sambil berjalan ke arah lift dengan siulan yang dibuatnya.
***
Di kediaman Danu, terlihat sosoknya yang sedang memarahi seorang pria seusianya di dalam ruang kerjanya.
"Dasar tidak becus!" Umpatnya kepada sosok pria yang tak lain adalah asisten pribadinya.
Kini asisten itu tampak gemetar ketakutan menundukan kepalanya sedalam mungkin. Membiarkan telinganya mendengar amarah majikannya sampai dia merasa puas dan membiarkan dirinya pergi dari hadapannya.
"Aku tak mau tau, kau harus menyelesaikan tugasmu dengan baik. Aku tak mau mendengar kegagalan lagi, apapun yang terjadi jangan biarkan anak itu menerima lamarannya. Buat situasi dimana dia akan memilih Delia sebagai calon istrinya." Jelasnya dengan nada suara yang naik turun, lalu pria itu mulai menghempaskan dirinya pada kursi kerja dibelakangnya.
"Ba–baik tuan. Saya pamit undur diri ...." Pamit asisten itu sebelum meninggalkan ruang kerja majikannya.
Sedangkan Danu, pria itu tampak sibuk mengingat kejadian kemarin malam. Saat dia diundang oleh ayahnya untuk membicarakan soal lahan pertanian dan rencana pernikahan Akira yang sudah diatur oleh keluarganya.
"Arrgh... kenapa ayah memberikan restu pada kakak? Harusnya anak itu menikah dengan Bayu dan putriku yang menikah dengan Akira. Tapi kenapa malah jadi seperti ini?" Geramnya sambil memijat keningnya yang sudah berdenyut.
Tak lama kemudian seorang wanita berambut pirang memasuki ruang kerjanya sambil membawakan teh untuknya.
"Sudahlah jangan terlalu memaksakan keinginanmu sayang ...." Tuturnya sambil berjalan mendekati meja kerja Danu.
"Tidak bisa, aku harus melakukan ini demi keluarga kita." Jelasnya dengan suara yang mengecil.
"Kau sudah memiliki semuanya, apa salahnya jika memberikan lahan itu untuk kakakmu? Ayah juga sudah menjelaskannya kan?" Tutur wanita itu sambil memijat bahu suaminya.
"Tapi aku tidak terima dengan keputusannya, sebagian lahan itu adalah milik ku. Bagaimana bisa ayah memberikan semuanya pada Arya?" Jelasnya tak mau mengalah.
"Apa kau lupa? Kau sudah menandatangani alih nama atas lahanmu itu. Kau menandatanganinya dihadapan keluargamu tepat pada saat lahan itu digadaikan untuk membantu keuangan kantormu."
"Berhenti menceramahiku Nadia!" Ucap pria itu sedikit menaikan nada bicaranya.
"Apapun yang terjadi, aku ingin putriku menikah dengan putra dari keluarga Wira." Lanjutnya sambil melirik istrinya dengan tatapan tajamnya, Nadia yang merasakan aura mengerikan dari sorot mata suaminya pun hanya bisa menelan ludahnya dengan susah payah.
Disisi lain, Bayu sudah disambut baik oleh Dafa di ruang kerjanya. Mereka sudah duduk manis diatas sofa yang tersedia disana dengan ditemani dua cangkir kopi untuk mereka nikmati.
"Jadi apa yang membawamu datang kesini?" Tanya Dafa tanpa banyak basa-basi.
"Sepertinya Delia jarang berkeliaran disini ya ...." Gumam Bayu membuat Dafa menatap curiga padanya.
"Tenanglah, aku hanya ingin memberikan penawaran untukmu. Ku yakin kau tak akan bisa menolak penawaran besar ini." Lanjutnya saat menyadari ekspresi Dafa yang mulai tak bersahabat.
"Penawaran?" Tanya Dafa masih memperhatikan Bayu yang sedang menikmati kopi dicangkirnya.
"Ya, aku dikirim langsung oleh Kiara untuk menemuimu ...." Jawabnya sambil menyimpan cangkir kopi ditangannya ke atas meja dihadapannya.
"Jadi penawaran apa yang ingin dia berikan padaku?" Lanjutnya bertanya sambil meraih cangkir kopinya.
"Bekerja samalah dengan kami." Jawab Bayu membuat pria itu tersendak.
"Kau sadar sedang berbicara dengan siapa?" Tanya Dafa langsung mendapatkan senyuman sarkas dari Bayu.
"Tentu saja, kau adalah asisten pribadinya Delia. Mana mungkin kau bisa berkhianat padanya kan? Tapi jika kami bisa memberikan bayaran yang lebih besar, apa kau mau bergabung bersama kami?" Jelas Bayu sambil mengangkat kaki kanannya dan menumpangkannya pada kaki kirinya.
"Jangan bercanda! Mana mungkin aku mau menerimanya." Ucapnya penuh penekanan bersamaan dengan pintu ruang kerjanya yang terbuka, menampilkan sosok Kiara yang berjalan masuk mendekati mereka.
"Lama sekali ...." Ucap Bayu saat melihat Kiara berdiri disampingnya.
"Bagaimana?" Tanya Kiara segera mendapat gelengan kepala dari sepupunya itu.
"Hee... jadi kau tidak tertarik bekerja sama dengan kami?" Lanjutnya bertanya sambil memperhatikan sosok Dafa yang menatapnya dengan sinis.
"Ku dengar kau sedang membutuhkan banyak uang untuk pengobatan ibumu. Biaya oprasinya juga terbilang mahal kan? Jika kau mau, aku bisa membantu biaya pengobatannya dan memanggilkan dokter terbaik untuk menangani ibumu. Tapi–" Jelasnya terpotong saat mendengar suara gebrakan meja yang dibuat oleh Dafa.
"Kenapa kau bisa tau masalah–" Tanyanya terpotong.
"Mudah saja, dari dulu kau memang seorang pria yang suka mempermainkan perasaan perempuan. Mengincar orang kaya, memeras mereka dan menggunakan semua uang itu untuk menghidupi keluargamu. Kau juga menyembunyikan latar belakang keluargamu dari semua targetmu karena tak ingin dikasihani oleh siapapun, jadi kau menggunakan cara kotor yang bisa membuat semua perempuan membencimu. Tapi sekarang kau berhasil bekerja di kantor semegah ini, tentu saja penghasilanmu cukup besar dengan menjabat sebagai asisten pribadi putrinya tuan Danu kan?" Jelas Kiara sambil memperhatikan berkas ditangannya, berkas yang berisi soal data pribadi Dafa dan latar belakang keluarganya.
"Kau!" Bentak Dafa sambil mengepalkan kedua telapak tangannya dengan perasaan kesalnya.
"Bagaimana tuan? Apa kau berubah pikiran? Coba lihat ini dan pertimbangkan keputusanmu. Jika kau berminat, langsung saja hubungi kantorku. Aku akan menyambutmu disana ...." Tutur Bayu sambil memberikan surat perjanjian ketangan Dafa dengan senyuman sarkasnya.
"Ayo pergi. Tanpa perlu menjelaskan lebih banyak pun, dia sudah paham dengan maksud kedatangan kita. Kita tunggu saja di kantorku." Lanjut Bayu sambil berjalan kearah pintu diikuti oleh Kiara.
"Kau yakin dia akan menerima tawaran kita?" Tanya Kiara tampak khawatir mengikuti langkah Bayu.
"Setauku dia sangat menyayangi ibunya, demi kesembuhan ibunya ... dia pasti akan melakukan apapun, termasuk mengkhianati majikannya sendiri." Jelas Bayu sambil menekan tombol lift.
"Tapi ...." Gumam Kiara terlihat murung.
"Sudahlah, kita tunggu hasilnya saja. Kenapa kau menjadi begitu khawatir begini?" Tutur Bayu sambil meraih puncak kepala Kiara, berusaha menenangkan sepupunya itu.
"Tentu saja aku khawatir, belakangan ini mata-mataku selalu melaporkan hal-hal mencurigakan yang dilakukan oleh Delia saat dia sedang bersama dengan Akira. Dan aku—" Jelasnya segera dihentikan oleh senyuman Bayu.
"Entah kenapa kau terlihat seperti seorang kakak yang mengurusi adik-adikmu ya ...." Tutur pria itu membuat Kiara mengernyitkan dahinya.
"Kakak?" Tanyanya langsung mendapatkan anggukan cepat dari Bayu.
"Siapa?" Tanyanya lagi.
"Kau." Jawab Bayu sambil memasuki lift saat pintu liftnya terbuka.
"Aku? menjadi kakaknya siapa?" Tanya wanita itu mengikuti langkah Bayu.
"Akira dan Kinan." Jawab Bayu kembali menunjukan senyuman lebarnya.
"He? kenapa aku harus menjadi kakak mereka?" Tanyanya lagi terlihat malu-malu.
"Entahlah ...." Gumam Bayu langsung mendapat sikutan maut dari Kiara, membuatnya memekik kesakitan.
xxx