
Waktu sudah menunjukan pukul 12:10 Pm, suasana kantor sudah sangat sepi karena semua karyawan sudah pergi keluar untuk berburu makan siang.
Yang tersisa hanya Kinan dan Delia yang masih berbincang serius di dekat meja kerja Kinan.
Tak satupun diantara mereka yang menghindari tatapan tajam yang diperlihatkan satu sama lain, menciptakan tekanan berat dan suasana yang tak mengenakan.
"Aku akan memastikan pernikahanmu dengan Akira tak akan pernah terjadi." Tutur Delia memecah keheningan yang sempat menyelimuti mereka.
"Kita lihat saja nanti." Tantang Kinan tak mau kalah, tapi dengan cepat wanita berambut pirang itu memasang ekspresi angkuhnya.
"Sepertinya aku harus meminta maaf padamu untuk sesuatu yang sudah ku lakukan pada kekasihmu itu." Tutur Delia membuat sepupunya terkejut sekaligus kebingungan.
Belum sempat dia menanyakan maksud Delia, seorang pria sudah berdiri diambang pintu ruang kerja para karyawan. Delia melirik kearah kehadiran Akira dan langsung memberikan senyuman manisnya.
Kinan yang melihat kedatangan Akira pun langsung memberikan senyuman hangat dengan mata berbinarnya, pasalnya dia sudah sangat merindukan sosok Akira yang tak bisa ditemuinya selama hampir satu minggu ini. Dan sekarang pria itu ada dihadapannya, masih berdiri di depan pintu dengan ekspresi terkejutnya.
"Akira." Gumam Kinan tampak bahagia dengan kehadiran pria berambut hitam itu.
"Kau sudah datang sayang?" Tanya Delia sudah berjalan kearah Akira, Kinan yang mendengar perkataan Delia pun langsung memudarkan senyumannya dan mengubah ekspresi bahagianya menjadi penuh tanya, tatapannya masih terfokus pada sosok Akira yang sudah memasang ekspresi datarnya.
"Iya, aku datang untuk mengajakmu makan siang bersama." Jawab pria itu sambil meraih puncak kepala Delia membuat Kinan semakin terkejut dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
'Apa maksudnya ini? Apa ini artinya dia berhasil membuat Akira jatuh cinta padanya? Bagaimana bisa? Secepat ini? Pria bodoh itu ....'Batin Kinan bertanya-tanya.
"Kau mau ikut bersamaku Kinan?" Tanya Delia yang sudah berdiri dihadapannya, meninggalkan Akira di depan pintu.
"Kau terkejut?" Lanjutnya berbisik sambil tersenyum manis kepada sepupunya itu.
"Apa?" Tanya Kinan sambil mengepalkan kedua telapak tangannya dengan erat, namun segera mengendur saat merasakan tangan Delia yang bertengger dibahunya.
"Sepertinya obatnya sudah bekerja dengan baik," Bisiknya ditelinga Kinan masih memegangi bahu sepupunya.
"Dia sudah melupakanmu sepenuhnya, sekarang apa yang akan kau lakukan?" Lanjutnya masih berbisik membuat wanita itu melirik tajam kearah Delia yang sudah melepaskan tangannya dibahu Kinan.
"Kalau begitu sampai nanti." Ucap Delia kembali menunjukan senyuman manisnya sebelum berjalan kearah Akira yang setia menunggunya di depan pintu.
"Apa yang dia katakan?" Gumam Kinan sambil memperhatikan kepergian Akira dan Delia.
Dengan lemas wanita itupun kembali mendudukan tubuhnya diatas kursi kerjanya, lalu memijat keningnya yang mulai berdenyut. Padahal hatinya sangat ingin mengejar pria itu, namun saat melihat sorot matanya dia mengurungkan niatnya.
"Melupakanku? Obat? Obat apa yang dia maksud? Ada apa dengan tatapan pria bodoh itu?" Gumamnya masih memijat keningnya, "apa jangan-jangan obat yang dia maksud itu? Apa mungkin dia melakukan hal sekejam itu?" Lanjutnya berkeringat dingin saat memikirkan kemungkinan terburuk yang dilakukan oleh sepupunya itu.
Dengan cepat Kinan berjalan keluar dari dalam ruang kerjanya dan berjalan kearah lift dengan tergesa-gesa.
"Ini semua bohong kan? Dia pasti bercanda kan? Mana mungkin dia melupakanku semudah itu." Ocehnya saat menunggu pintu lift terbuka.
Disisi lain, Kiara baru tiba di kota X. Wanita itu langsung meluncur ke perusahaan Akira dengan mobil sport putih yang dikendarainya.
'Aku tak sabar ingin memakan masakan Kinan.' Batinnya sambil bersenandung ria mempercepat laju mobilnya.
"Tunggu! Itu kan mobilnya Akira?" Gumamnya saat melihat mobil Akira melewati mobilnya dari arah berlawanan, "Dia bersama Delia? Kenapa dia ada disini? Itu arah ... dia baru pergi dari kantornya kan? Bagaimana dengan Kinan? Apa dia tidak bertemu dengannya?" Lanjutnya mengoceh sambil mengemudikan mobilnya sampai tak sadar kalau dia sudah menurunkan kecepatan berkendaranya.
Kemudian matanya kembali menangkap sebuah mobil perusahaan yang tak asing baginya, melaju dengan kecepatan penuh mengejar mobil Akira yang baru melewatinya.
"Kenapa malah terjadi hari ini? Tidak bisakah menunggu sampai malam tiba?" Oceh Kiara saat menyadari sesuatu yang buruk telah terjadi, sesuatu yang melenceng dari rencana yang dibuatnya.
***
'Sial kenapa aku melakukan itu padanya? Harusnya tadi aku menyapanya kan? Lihatlah bagaimana dia tersenyum saat melihatku, sorot matanya yang menunjukan rasa rindunya. Rasanya aku ingin terjun kearahnya dan memeluk tubuhnya dengan erat, seandainya disana tak ada wanita ini. Aku pasti sudah memeluknya saat melihat ekspresinya itu.' Batin Akira terus mengoceh karena merasa bersalah pada calon istrinya itu.
"Hari ini kita mau makan dimana?" Tanya Delia membuyarkan lamunan Akira.
"Terserah padamu saja." Jawab Akira masih sibuk dengan kemudinya.
"Hem ...." Gumam Delia berusaha memikirkan tempat makan siang yang ingin dia kunjungi bersama dengan Akira.
'Kau harus membayar ini Kiara. Jika rencanamu gagal, aku tidak akan segan untuk memberikan pelajaran padamu!' Gerutunya dalam hati sambil mempercepat laju mobilnya saat melihat mobil perusahaan mengejar mobilnya, sepertinya dia juga tau akan sosok Kinan yang mengemudikan mobil itu.
"Kau ada saran? aku tidak tau banyak tempat makan di kota ini." Tutur Delia tak digubriasnya.
Pria itu masih sibuk mengemudikan mobilnya berusaha melepaskan diri dari kejaran Kinan, "Kenapa dia jadi keras kepala begini?" Gumamnya terhenti saat melihat sebuah mobil sport merah diarah berlawanan melaju dengan cepat menghantam mobil perusahaan yang melaju di dibelakang mobilnya.
Dengan cepat Akira menghentikan mobilnya dan turun dari dalam mobilnya, napasnya terengah-engah dengan sorot mata khawatir melihat mobil naas yang bertabrakan dengan mobil sport berwarna merah itu.
'Kinan?' Batinnya saat mengingat orang di dalam mobil yang mengejarnya itu, dengan cepat pria itu langsung berlari mendekati mobil yang menghantam pinggiran jalan, tak jauh dengan mobil sport yang terbalik dibelakang mobil perusahaan itu.
"Akira?!" Teriak Delia saat melihat pria itu berlari menjauhi mobilnya, kemudian matanya menangkap sosok Kinan yang susah payah keluar dari dalam mobilnya.
"Dia?" Lanjutnya beralih pada sebuah mobil sport yang terbalik dibelakang mobil yang dikendarai oleh sepupunya itu.
***
"Sial! kenapa musibah datang disaat seperti ini? Untunglah aku sempat menghindari tabrakan itu dengan membanting setir." Gumam Kinan sambil memegangi keningnya yang terasa sakit akibat benturan dengan setir mobil.
Pandangan Kinan pun tertuju kearah mobil sport yang sudah terbalik. Matanya membelalak terkejut saat melihat kerusakan mobil sport yang nyaris menabrak mobilnya dengan kecepatan penuh.
'Seandainya tadi aku tidak membanting setir, bagaimana jadinya nasibku?' Batinnya berusaha menelan ludahnya saat merasakan tenggorokannya mengering.
"Kinan," Suara Akira mengejutkan wanita berambut coklat itu, dengan cepat dia membalikan badannya kearah kedatangan Akira.
Belum sempat dia melihat ekspresi pria itu, Akira sudah memeluknya dengan penuh rasa khawatir mengingat apa yang baru saja terjadi pada calon istrinya.
"Kau baik-baik saja? keningmu ...." Lanjutnya saat melepaskan pelukannya dan memperhatikan memar dikening Kinan dengan serius.
'Apa ini?' Batin Kinan merasa lega dengan apa yang dilihatnya, matanya terus terfokus pada wajah pria dihadapannya. Merasakan sentuhan tangannya yang menyentuh keningnya dengan hati-hati.
'Apa Delia berbohong soal ucapannya? obat yang dia maksud dan ingatan Akira yang ... apa semua itu bohong?' Lanjutnya bertanya-tanya dalam hati, tanpa sadar air matanya sudah menetes membuat pria berambut hitam itu terkejut dan langsung menatap mata Kinan dengan penuh tanya, bersamaan dengan itu ambulance dan beberapa mobil lainnya berdatangan memenuhi lokasi termasuk dengan mobil polisi.
"Bodoh!" Ucap Kinan membuat Akira terkejut.
"Bodoh?" Tanyanya langsung mengundang tangis Kinan yang semakin menjadi.
"Aku sangat takut, benar-benar takut, hiks ...." Jelas wanita itu disela-sela tangisnya, untuk pertama kalinya dia tak merasa malu menangis seperti itu di depan orang lain.
xxx