
Setelah mendengar suara perut Delia yang meminta makan, akhirnya aku memutuskan untuk mengajaknya makan disebuah rumah makan sederhana dipersimpangan jalan sebelum pulang.
"Jadi kenapa kau kabur dari rumah?" Tanyaku bersamaan dengan datangnya seorang pelayan yang menghidangkan pesanan kami.
"Hem ... kenapa ya? Mungkin karena aku tak suka menuruti keinginan ayah yang memintaku untuk terus menganggu hubunganmu dengan Akira." Jawabnya dengan malas dan segera menyantap bakso dihadapanya.
'Jadi dia disuruh paman untuk mengganggu hubunganku dengan Akira.' Batinku merasa sedih dengan Delia yang diperlakukan seperti itu oleh ayahnya sendiri.
Padahal aku sudah tau kalau dia dijadikan alat oleh ayahnya untuk menghancurkan keluargaku. Tapi rasanya tetap saja, aku tak bisa benar-benar membencinya.
Apalagi saat kenangan itu kembali berputar dalam ingatanku, mana bisa aku membenci sepupuku sendiri. Yang tak bisa ku mengerti adalah kenapa paman sangat ingin menghancurkan keluarga kakaknya sendiri?
Sebenarnya ada dendam apa dia pada ayah sampai dia begitu ingin melihat keluarga kami kesulitan. Sampai detik inipun aku tak mengetahui alasan dibalik perbuatannya itu.
"Terus malam ini kau tidur dimana?" Lanjutku bertanya.
"Entah." Jawabnya setelah menelan potongan bakso didalam mulutnya.
"Ha?" Gumamku merasa tak percaya dengan jawabannya. Bagaimana bisa dia mengatakannya se–enteng itu?
"Kau tidak berniat untuk kembali?" Lanjutku kembali bertanya sambil memijat keningku saat merasakan denyutan dikepalaku.
"Setidaknya tidak untuk hari ini. Aku tak ingin melihat wajah ayah dan mendengar suaranya ...." Jelasnya dengan sorot mata sendu membuatku tersentuh.
"Biar bagaimanapun kau harus pulang kan? Ibumu pasti khawatir, ayahmu juga pasti mengkhawatirkanmu saat ini." Tuturku berusaha membujuknya sebaik mungkin.
Ya sejujurnya orang tua mana yang tak mengkhawatirkan keadaan anak mereka saat anaknya kabur dari rumah.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 02:15 pm sekarang. Kinan dan Delia juga masih berjalan disekitar kota sampai langkah mereka berakhir disebuah jembatan.
"Terima kasih." Ucap Delia sambil memperhatikan aliran sungai yang tenang dibawah sana.
"Hanya mentraktirmu bakso, tidak perlu berterima kasih seperti itu." Tutur Kinan yang berdiri disampingnya sambil memperhatikan beberapa mobil yang berlalu lalang disekitar mereka.
"Bukan itu, maksudku ... terima kasih untuk waktunya, berkatmu aku jadi bisa bercerita banyak hal padamu. Berkatmu aku juga tak dijebloskan ke penjara karena perbuatanku yang hampir mencelakai ingatan Akira." Jelasnya dengan wajah dan suara yang penuh penyesalan.
"Aku senang kita bisa banyak berbincang seperti dulu lagi." Suara Kinan membuat wanita berambut pirang itu segera melirik kearahnya dan memperhatikan senyuman lebar diwajah sepupunya itu.
"Maaf karena tak bisa membantumu ...." Lanjutnya melunturkan senyuman lebarnya.
"Kenapa juga kau harus membantu musuhmu hah?" Ucap Delia mendekatkan wajahnya kearah Kinan, menatap sorot mata wanita itu dengan begitu tajam.
"He?" Gumam Kinan yang merasa terkejut dengan perkataan sepupunya itu.
"Saat itu aku memang menganggapmu sebagai musuhku, tapi sekarang sudah berbeda. Aku sudah memutuskan untuk berkhianat pada ayahku, jadi–" Lanjutnya terhenti saat melihat Kinan mendorong tubuhnya bersamaan dengan suara tembakan.
***
"Sudahlah tuan, anda tidak perlu murung seperti itu." Tutur Fino sambil memperhatikan wajah majikannya dipantulan spion.
"He?" Suara Fino kembali mengganggu pria berambut hitam yang sedang fokus dengan layar ponselnya dan refleks menginjak rem mobilnya.
Mempehatikan dua orang wanita diatas jembatan yang ada dihadapannya, kebetulan mobil mereka ada dijalan bawah saat itu.
"Sekarang apa lagi?" Tanya Akira menyadarkan pria berambut ikal itu.
"Tuan, lihatlah diatas jembatan sana. Tidak kah itu terlihat seperti no–na ..." Tutur Fino membelalakan matanya saat mendengar suara tembakan setelah wanita itu mendorong tubuh wanita lainnya hingga terjengkang.
"I–itu ...." Lanjut Akira saat melihat seorang wanita menarik tangan wanita berambut pirang yang terduduk lemas.
Beberapa detik kemudian Fino dan Akira melihat kedua wanita itu terjun bebas dari atas jembatan dan melihat beberapa pria berjas hitam berdiri memperhatikan dasar sungai sambil memegangi sebuah pistol.
"Tuan?" Tanya Fino tak bisa melanjutkan perjalanannya. Mereka sudah terlanjur memarkirkan mobilnya dipinggir jalan.
"Ki–nan, tadi itu ...." Gumam Akira segera keluar dari dalam mobilnya dan berlari kepinggiran sungai membayangkan wajah Kinan yang belum dijumpainya sejak berpisah dengannya di kota X.
Fino yang melihat Akira panik pun segera mengejar langkah majikannya.
"Dari yang ku lihat mereka mencoba untuk menyelamatkan diri dari orang-orang itu." Gumam Akira sambil melihat kearah jembatan yang ada diatasnya.
"Disana tuan." Ucap Fino melihat seorang wanita berambut pirang sedang melilitkan sebuah kain putih ditangan kanan wanita yang duduk dihadapannya sambil meringis kesakitan dengan tubuhnya yang basah kuyup.
"Bodoh! Kenapa kau lakukan itu? Seharusnya kau tidak perlu bertindak sejauh itu, ku pikir aku akan mati saat terjun dari atas sana. Dan lagi hiks ...." Oceh Delia tak kuasa menahan tangisnya dan segera memeluk tubuh Kinan dengan sangat erat.
"Bagaimana jika kau sampai mati? Mereka pasti akan menyalahkanku hiks, seharusnya biarkan saja dia menembak ku." Lanjutnya semakin terisak.
"Aku baik-baik saja, yang tadi itu tak ada apa-apanya. Aku senang Delia baik-baik saja–" Tutur Kinan sambil mengelus rambut sepupunya dengan lembut, berusaha menenangkannya.
"Baik-baik saja apanya?" Suara Akira mengejutkan mereka berdua membuat Delia segera melepaskan pelukannya dari Kinan.
"A–akira? Kenapa–" Tanya Kinan terhenti saat melihat pria itu sudah berjongkok disampingnya sambil meraih tangan kanannya.
"Hanya tergores." Lanjutnya sambil meringis.
"Siapa mereka?" Tanya Akira melirik kearah Delia, dengan cepat wanita itu menggelengkan kepalanya karena tak tahu menahu soal para pria berjas hitam itu.
"Sepertinya mereka mengincar Delia." Jawab Kinan membuat pria itu menghela napas lelah.
"Kenapa kau sangat ceroboh seperti ini? Ibu bilang kau langsung pulang setelah mencoba gaun pengantinnya, tapi kenapa malah berkeliaran bersama Delia? Padahal kau menolak ajakan bertemu denganku, tapi kau malah bersama dengan sepupumu? Bahkan sampai melukai dirimu seperti ini. Tidak kah kau berpikir nyawamu bisa melayang saat itu juga? Apa kau tidak memikirkan perasaanku sedikit saja? Bagaimana kalau–" Tutur Akira tak bisa menahan dirinya lagi.
"Maaf, aku hanya memikirkan soal keselamatan Delia." Tutur Kinan dengan mata berkaca-kacanya, untuk pertama kalinya dia melihat pria itu semarah itu padanya.
"Fino lacak mobil mereka dan jangan biarkan mereka lepas." Lanjut Akira sambil bangkit dari posisi jongkoknya.
Delia yang melihat Kinan murung pun segera memeluknya dengan erat.
"Akira mencemaskanmu Kinan, kau tau kan kalian akan menikah dalam waktu dekat ini. Tapi dia malah melihatmu seperti ini ... maafkan aku." Jelas Delia membuat Kinan mengangguk lemah.
xxx