
"Sepertinya Dea sangat mengkhawatirkanmu." Tutur seorang wanita berusia 37 tahun kepada gadis berusia 15 tahun yang sedang duduk disampingnya.
"Apa maksud ibu?" Tanya gadis itu tak mengerti.
"Kau tau nak? Dea bilang, dia ingin menjadi pelari juga sepertimu. saat melihatmu tak bisa berlari lagi dia merasa sedih. Dan dia memutuskan untuk menjadi penggantimu dan menjadi harapan untukmu. Belakangan ini kamu jarang berbicara dengannya kan? karena itu dia ingin menjadi lebih dekat denganmu, dengan menjadi seorang pelari, Dea pikir dia bisa belajar banyak hal darimu." Jelas wanita itu membuat gadis berusia 15 tahun itu merenung.
"Jadi kenapa Dea ingin menggantikanku dan menjadi harapan untuk ku?" Tanyanya tak mengerti.
"Mungkin karena Dea selalu memperhatikanmu, dia bilang sangat mengagumimu dan ingin menjadi sepertimu saat melihatmu begitu bahagia saat berlari, lalu saat semua hal buruk itu menimpamu, kau jadi jarang tersenyum dan mungkin itu membuat Dea khawatir dan memutuskan untuk menggantikanmu." Jawab wanita itu dengan suara lembutnya.
"Jadi Dea selalu memperhatikanku?" Gumam gadis itu sambil tersenyum, "Sekarang Dea dimana bu?" Lanjutnya bertanya.
"Dia bilang mau belajar di kamarnya." Jawab ibunya membuat gadis itu bergegas.
"Aku akan mengembalikan senyuman kakak dan menghadiahinya mendali untuk menghiburnya. tapi baru bergabung beberapa minggu, kakiku sudah banyak memar. benar-benar menyakitkan, apa kakak pernah mengalami hal ini sebelumnya? dia sudah berjuang keras untuk bisa menjadi pelari tercepat." Oceh Dea didalam kamarnya terdengar sampai keluar membuat gadis berusia 15 tahun itu menghentikan langkah kakinya.
Kemudian gadis itu memberanikan diri untuk mengetuk pintu kamar adiknya, Dea. dan Deapun mempersilahkannya masuk tanpa melihat siapa yang mengetuk pintu kamarnya.
"Kakak?" Gumam Dea yang terkejut dengan kehadiran kakaknya, "A–ada apa?" Lanjutnya bertanya.
"Hee..." Gumam Kinan sambil duduk diatas tempat tidur Dea, "Ku dengar kau ingin menjadi pelari sepertiku ...." Lanjutnya sambil memperhatikan beberapa memar di kaki Dea.
"I–itu ...." Ucapnya terpotong, "Aku senang kau mengagumiku dan ingin menjadi sepertiku." Jelas Kinan sambil tersenyum membuat Dea membelalak terkejut.
'Sudah lama... aku tidak melihatnya tersenyum.' Batin Dea.
"Tapi sepertinya kau tidak cocok menjadi seorang pelari. Lihatlah semua memar itu, kau berusaha sangat keras ya, pasti rasanya sakit ...." Tutur Kinan memperhatikan kaki Dea, "Aku tidak akan melarangmu menjadi seorang pelari selama kau masih menyukainya. Kau harus melakukan apa yang kau sukai jadi kau bisa bersenang-senang dan melakukannya dangan sepenuh hati." Lanjut Kinan membuat Dea menitikan air matanya.
"He? Kau menangis!? Sudah ku duga pasti rasanya sangat menyakitkan, ia kan? Pasti sakit kan? Duh ... cara berlarimu itu seperti apa sih? Kenapa bisa memar-memar gini?" Tanya Kinan berusaha mengubah suasana dan mendekati adiknya.
"Berisik! Aku tau ini sakit, tapi jangan membuatnya tambah sakit." Bentak Dea sambil menghapus air matanya.
"Kau benar-benar payah, Dea payah ...." Ejek Kinan membuat Dea emosi.
'Dea... terima kasih karena selalu memperhatikanku selama ini, maaf karena aku tidak menyadarinya. Kali ini biarkan aku yang memperhtikanmu, jadi Dea jadilah dirimu sendiri, jadilah seperti yang kau inginkan, kau tidak perlu menjadi seorang pelari sepertiku untuk membuatku merasa bangga padamu, kau tidak perlu mengkhawatirkanku lagi. Jadi pilihlah masa depan yang menurutmu cocok denganmu.' Batin Kinan disela-sela pertengkarannya dengan Dea.
***
"Kak!" Ucap Dea berusaha membangunkan Kinan yang sedang pulas tertidur dilantai, "Kakak!" Lanjutnya berteriak membuat Kinan terbangun.
"Dea!?" Ucap Kinan yang sudah terduduk, "Kau membuatku terkejut." Lanjutnya sambil menguap.
"Kau bisa masuk angin kalau tidur dilantai, kenapa gak tidur di kamarmu?" Tanya Dea yang berjongkok dihadapan kakaknya.
"Tenagaku habis... jadi aku gak bisa jalan ke rumah." Jelasnya sambil menatap lantai yang di dudukinya, 'Jadi tadi itu cuma mimpi?' Lanjutnya dalam hati.
"Sepertinya aku tidak perlu membantumu ya." Tutur Dea sambil bangkit dari posisi jongkoknya.
"Haaa!! Kau dari mana saja? Kenapa belanjanya lama banget?" Tanya Kinan yang sudah tersadar sepenuhnya, sedangkan Dea mulai berjalan kearah pintu keluar, "Kau benar-benar tega padaku!" Lanjut Kinan masih tak terima dengan keterlambatan adiknya.
"Tu–tunggu." Teriak Kinan saat melihat adiknya pergi dari hadapannya.
***
"Huwaaaah... kau membelikannya untuk ku? Waaah asiiiikk ...." Teriak Kinan kegirangan saat melihat big cola dan bungkusan keripik balado kesukaannya tersimapn diatas meja makan, "Harusnya kau membelikanku dua kali lipat." Lanjutnya melirik tajam kearah Dea yang sedang merapikan isi kulkasnya.
"Kau masih marah padaku?!" Gumam Dea.
"Ngomong-ngomong Dea ...." Ucap Kinan mengalihkan pembicaraan, "Sejak kapan kau ingin menjadi seorang guru?" Lanjutnya bertanya.
"Hem? Kapan ya?" Gumam Dea berusaha mengingat waktu saat dia memutuskan ingin menjadi seorang guru.
"Apa sebelum kau memutuskan untuk menjadi pelari sepertiku? Atau setelah kau menyerah menjadi seorang pelari sepertiku?" Tanya Kinan dengan suara lembutnya membuat Dea segera melihat kearah kakaknya yang sedang menatap keripik balado ditanganya.
"Kenapa tiba-tiba kakak membahas soal cita-citaku?" Tanya Dea kembali fokus pada pekerjaan merapikan isi kulkasnya.
"Cuma pengen tau aja, yah tapi apapun alasamu aku sangat senang dengan keputusanmu untuk menyerah pada lari. Soalnya kau memang payah, Hhahaha..." Jelas Kinan membuat Dea kesal.
"Kau benar-benar menjengkelkan seperti biasanya ya." Ucap Dea penuh penekanan.
"Tapi aku juga sangat terkejut saat mendengar kau ingin menjadi seorang guru, habisnya kau sangat pemarah, aku tidak bisa membayangkan wajah murid-muridmu kelak. saat mereka kena marah karena tidak mengerjakan pekerjaan rumah atau saat mereka telat masuk kelas," jelas Kinan mengatakan apa yang dipikirkannya, "ga-gawat aku tidak bisa menahannya ...." Lanjutnya berusaha menahan tawa membuat Dea semakin jengkel.
"Kakak !!!" Ucap Dea dengan wajah menakutkannya.
"Bwahahaha..." Tawa Kinan pecah, "Li–lihat dirimu, baru saja aku mengatakannya. kau sudah marah lagi, Hhaha... sial perutku, perutku ...."
"Big cola sama keripiknya aku ambil lagi." Ucap Dea membuat Kinan berhenti tertawa saat melihat big cola dan keripiknya diambil oleh Dea.
"Jangan! kembalikan big cola dan keripik ku, Deeaaa..." Teriak Kinan mengejar Dea yang sudah pergi ke ruang tengah.
"Tidak mau! tidak akan ku berikan." Ucap Dea mengangkat keripik dan big colanya setinggi mungkin.
"Kembalikan!" Ucap Kinan berusaha mengambil kembali makanannya.
"Coba aja kalau bisa." Tantang Dea sambil menyeringai.
"Sial!" Umpat Kinan merasa kesal, "Tunggu!" Lanjutnya membuat Dea berhenti bergerak.
"Dea ... ini perasaanku saja atau emang tinggi badanmu bertambah?" Tanya Kinan membuat Dea tersenyum, "Kau lebih tinggi dari biasanya ...." Lanjutnya saat menyadari pertumbuhan adiknya.
"3 cm, sekarang tinggiku 175 cm, yeay ...." Jawab Dea menyombongkan dirinya membuat Kinan tak berkutik, "Pendek, kau lebih pendek dariku, hahaha..." Lanjutnya mengejek kakaknya.
"Sial! kenapa tinggimu harus bertambah?" Gumam Kinan tampak kecewa karena semakin terlihat pendek dirinya dihadapan adiknya.
xxx