Dea & Kinan

Dea & Kinan
44. Kencan



Pagi ini aku bangun pagi dan bersiap dengan pakaian terbaik ku. Merias wajahku dan menata rambutku secantik mungkin.


Aku hanya ingin pergi jalan-jalan bersama Megan dihari spesialku ini. Karena kemarin malam dia terlihat begitu murung, jadi ku pikir mengajaknya jalan-jalan adalah hal bagus untuknya. Selain itu aku juga bisa menghibur diriku sendiri dengan menggoda orang patah hati sepanjang hari.


"Hhaha benar-benar jahat" Gumamku sambil bercermin, "Sepertinya aku harus pergi ke salon dan memotong rambutku..." Lanjutku saat melihat rambut panjangku yang mulai menggangguku.


"Oke cantik ! Ayo pergi..." Ucapku pada diriku yang terpantul dicermin, lalu dengan cepat tanganku meraih sebuah tas kecil dan segera menyelempangkannya.


Ku langkahkan kakiku menuruni anak tangga dengan terburu-buru dan berhenti di depan pintu kamar kakak. Lalu mengintipnya sebentar, ku lihat dia masih terlelap dalam tidurnya.


"Hari ini biarkan saja. Aku tidak mau membuang tenagaku untuk memarahinya" Tuturku sambil berjalan kearah rak sepatu yang tersimpan di dekat pintu keluar.


Saat aku sedang sibuk mengenakan sepatu, terdengar suara kak.Akira dan Megan yang mulai mendekati rumahku. Dengan cepat aku membuka kunci dan memutar knop pintunya.


Dan ku dapati Megan dan kak.Akira yang sudah berdiri di depan pintu. Menatapku dengan serius tanpa sepatah katapun.


"A-ada apa ? Apa ada yang salah dengan pakaianku ? Atau ada sesuatu di wajahku ?" Tanyaku merasa tak percaya diri.


"Tidak. Kau terlihat cantik seperti biasanya" Jawab kak.Akira membuatku tersanjung.


"Pagi-pagi gini udah rapi aja. Mau kemana ?" Tanya Megan sambil menutup mulut dan hidungnya. Seperti menyembunyikan rasa malunya. Entah apa yang menbuatnya malu seperti itu, aku bahkan tidak bisa memikirkannya. Karena sekarang aku begitu bersemangat.


"Jalan-jalan" Jawabku sambil tersenyum lebar kearahnya, "Yuk temenin gue" Lanjutku sambil menariknya.


"Ha ? Haaa..." Teriak Megan begitu terkejut dengan reaksiku.


"Kuncinya" Teriak kak.Akira membuat Megan refleks membalikan badannya dan menangkap kunci mobil yang dilemparkan kepadanya.


"Tolong bangunkan kakak ya" Teriak ku masih menggeret Megan.


"Ada angin apa ngajakin gue jalan-jalan ? dan lagi loe gak keberatan kakak gue deket-deket sama kakak loe" Tanya Megan terdengar meremehkanku.


"Udah sih ikut aja. Gue mau menghibur orang galau, jadi berterima kasihlah, urusan mereka biar mereka aja yang urus" Jawabku membuatnya kesal dan langsung mencubit pipiku dengan gemasnya.


"Swakit... lepwaskan !" Ucapku memohon ampun darinya.


***


"Tuan putriku masih tertidur ya..." Tutur Akira memasuki kamar Kinan dan melihat wanita itu tertidur dengan pulasnya. mengenakan baju tidur berwarna putih dengan selimut yang menutupi setengah tubuhnya.


Akira menghentikan langkah kakinya saat melihat sebuah lukisan yang sudah mencuri perhatiannya sejak hari pertama pindah rumah. Kemudian matanya kembali memperhatikan wajah damai yang ditunjukan oleh Kinan saat dia sedang tertidur.


"Sepertinya semua perkataanmu itu ada benarnya juga ya, sebagian hatiku masih mengharapkan Kiara. Tapi sebagian lagi menolaknya dengan keras, aku sampai tidak tau harus berbuat apa. Ibu mulai mendesak ku untuk melakukan perjodohan denganmu, tapi aku takut kau juga akan meninggalkanku sama seperti wanita itu" Tutur Akira berbicara pada orang tidur sambil duduk disamping tempat tidur Kinan.


"Apa aku harus menerima perjodohan ini ya ? Lagipula kau juga akan dijodohkan kembali dengan Bayu jika aku menolak perjodohan ini. Lalu apa yang akan kau lakukan jika kau benar-benar dipaksa menikah dengan pria itu ? Dea ? Bagaimana dengannya saat dia tau kondisi perekonomian keluargamu yang membuatmu harus bekerja sekeras ini ?" Lanjutnya kembali mengoceh sambil memainkan rambut Kinan dengan memutar-mutarnya dijari telunjuknya.


Tak lama kemudian Kinan pun terusik dan segera bangkit dari tempat tidurnya dengan ekspresi terkejut saat mendapati Akira yang sedang duduk disamping tempat tidurnya dengan ekspresi dingin seperti biasanya.


"A-apa yang kau lakukan di kamarku ?" Tanyanya sambil memeluk bantal ditangan kirinya dan wajahnya juga terlihat begitu merah.


"Membangunkanmu-" Jawabnya terhenti saat melihat Kinan terhuyung memegangi kepalanya dan terjatuh kebawah tempat tidurnya, membuatnya terkejut setengah mati.


Dengan cepat Akira berlari ke sebrang tempat tidurnya dan melihat wajah Kinan yang berkeringat dingin dan memerah, nafasnya juga terdengar berat dan terburu-buru.


"Kau ? Demam ?" Tanya Akira sambil memeriksa suhu tubuhnya, "Panas sekali..." Lanjutnya sambil membaringkan Kinan kembali keatas tempat tidurnya.


Dengan cepat dia menelpon dokter pribadinya untuk datang dan memeriksa kondisi Kinan. Lalu dia segera pergi ke dapur untuk mengambil air dingin dan handuk kecil agar bisa mengompresnya.


Tak lama kemudian dia kembali dan segera mengompres kening Kinan. Manatap wajah gadis itu dengan tatapan khawatirnya.


"Apa yang kau lakukan ?" Tanya Kinan dengan suara lemasnya, untuk pertama kalinya dia melihat ekspresi khawatir yang ditunjukan oleh Akira padanya. Padahal biasanya pria itu selalu memasang wajah datarnya dan tatapan sedingin es balok. Tapi kali ini berbeda, tatapannya lebih hangat dari biasanya.


"Tidurlah, dokter akan segera tiba. Aku juga akan membuatkanmu bubur" Jawab Akira begitu mencemaskan Kinan.


"Tidak perlu, pergi saja. Tinggalkan aku sendiri, uhuk uhuk..." Jelasnya sambil terbatuk, membuat Akira menarik selimutnya hingga menutupi leher Kinan.


"Mana mungkin aku..." Tutur Akira terhenti saat melihat Kinan kembali terlelap. Kemudian pria itu bergegas pergi ke dapur dan segera membuatkan bubur untuk Kinan.


'Kenapa aku mau repot-repot mengurusnya ? Ada apa denganku ?' Batin Akira bertanya-tanya sambil membayangkan wajah Kinan yang tak berdaya karena demam.


***


"Hanya demam biasa, mungkin karena kelelahan dan pola tidur yang tidak teratur. Untuk sementara waktu sebaiknya biarkan dia beristirahat dulu, aku juga sudah menuliskan resepnya. Tuan bisa mengambilnya di apotik" Jelasnya sambil memberikan resep obat yang dia maksud padaku.


"Baiklah, terima kasih" Ucapku setelah melihat resep obat ditanganku.


"Kalau begitu saya permisi dulu tuan" Tuturnya sebelum pergi dari hadapanku.


Dengan cepat aku kembali ke kamarnya dan meminta seseorang untuk menebus obat yang diberikan dokter padaku melalui telpon.


"Sepertinya aku harus menghubungi ibu kalau aku tidak bisa memenuhi undangan makan malamnya..." Tuturku sambil mencari nomor ibu dari dalam heandphoneku dan mulai menghubunginya.


***


Waktu sudah menunjukan pukul 03:00 Pm. Dea dan Megan pun sudah cukup bersenang-senang. Dan memutuskan untuk kembali kerumahnya.


"Kenapa musti potong rambut segala ?" Tanya Megan melirik ke arah Dea yang sedang sibuk bermain heandphone ditangannya.


"Karena pengen, ada alasan lain ?" Jawab Dea balik bertanya sambil melangkahkan kakinya menuju tempat parkir diikuti oleh Megan.


"Gak ada sih, cuma pangling aja lihatnya" Tutur Megan sambil menyamakan langkahnya dengan Dea.


"Kenapa ? gue cantik ya ?" Tanya Dea mulai menggoda Megan.


"Berisik loe" Ucap Megan memalingkan wajahnya dari Dea.


"Sebenernya gue lagi kesel sih sama loe. Gue juga sampai repot-repot ngajain loe jalan-jalan, berusaha menghibur loe. Tapi loe nya..." Tutur Dea sambil memperhatikan langkahnya dan segera menghentikan ucapannya saat tiba-tiba Megan mulai bersuara.


"Gue gak minta loe buat ngehibur gue ya. Dan lagi gue juga yakin gak buat loe kesel hari..." Tuturnya membuat Dea menghentikan langkahnya dan berbalik kearah Megan, membuat pria itu ikut menghentikan langkahnya.


"Loe udah buat gue kesel dari kemarin malam, Gak peka banget sih jadi orang !" Jelas Dea penuh penekanan membuat Megan merinding saat merasakan aura menakutkan yang muncul dari tubuh gadis itu.


"He ? gue ? buat loe kesel ? kenapa ?" Tanya Megan menahan rasa takutnya.


"Cuma loe yang gak ngasih hadiah buat gue. padahal gue nungguin dari kemarin, dasar gak peka !" Jelas Dea merasa gemas sendiri.


"Ah itu..." Ucap Megan langsung meraih sesuatu di dalam saku jaketnya, "Ini ! sebenernya mau gue kasih dari kemarin. cuma gue ragu loe bakalan suka, tapi ternyata loe nungguin hadiah dari gue" Jelas Megan membuat Dea tersipu.


"Kenapa gak dikasih dari kemarin ? hadiah apapun bakal gue terima selama itu dihari ulang tahun gue sih" Ucap Dea sambil merebut boneka beruang seukuran kepalan tangan Megan dari tangan pria itu.


"Hha-hahaha... loe-" Tawa Megan pecah karena merasa tak percaya dengan raut wajah Dea yang diperlihatkan padanya.


Raut wajah bahagia dan senyuman hangat yang hanya dia tunjukan pada orang-orang tertentu. Selain itu, tatapannya begitu hangat saat melihat boneka ditangannya berhasil membuat Megan kembali tertawa.


Entah apa yang lucu dari hal itu sampai membuatnya tertawa terpingal-pingkal. mungkin saja dia sedang mentertawakan nasibnya. Padahal Dea juga sedang patah hati, tapi gadis itu malah memikirlan soal dirinya.


"Apa ?" Tanya Dea kembali memasang wajah kesalnya, tak terima dirinya ditertawakan seperti itu.


"Gak nyangka aja loe nungguin hadiah dari gue sampai segitunya" Jelas Megan kembali membuat Dea tersentak sekaligus tersipu, "Dan lagi pakaian yang loe pake kemarin juga sebenernya itu hadiah dari gue buat loe" Lanjutnya sambil tersenyum lebar membuat wajah Dea semakin memanas.


'Manisnya...' Batin Dea tak bisa berpaling dari wajah Megan yang tersenyum menggemaskan.


"Makasih ya udah mau memakai pakaian dariku dihari spesialmu..." Tutur Megan lebih lembut dari sebelumnya.


'He ? apa dia selalu bersikap selembut ini ? dan lagi...' Batin Dea sambil mendekatkan boneka itu kedadanya, merasakan detak jantungnya yang mulai berpacu lebih cepat dari biasanya.


"Loe bilang apa tadi ? pakaian kemarin itu dari loe ?" Lanjutnya bertanya dengan menaikan nada bicaranya.


"Iya" Jawab Megan sambil melangkah pergi mendahului Dea.


"Jangan belikan aku pakaian seperti itu lagi ! aku tidak akan memaafkanmu karena sudah membuat kakak ku berbohong padaku, awas kau ya. Tunggu aku... jangan kabur oii !" Teriak Dea mulai berlari mengejar Megan dengan rasa kesalnya, kemudian berganti dengan senyuman hangat yang ditunjukan pada punggung Megan yang tak meliriknya sedikitpun.


Lihatlah seberapa manisnya Dea saat dia sedang jatuh cinta. Jika saja dia membalikan badannya untuk beberapa detik, pasti pria itu juga akan jatuh hati padanya dan melupakan luka dihatinya.


'Bukankah ini juga bisa disebut sebagai kencan ?' Batin Dea yang sudah berjalan di samping Megan.


xxx