Dea & Kinan

Dea & Kinan
75. Delia



Waktu sudah menunjukan pukul 03:15 Pm. Kinan masih berjalan santai memasuki kompleks perumahannya. Tangan kanannya sudah menjinjing belanjaan satu kantung pelastik penuh, sedangkan tangan kirinya sudah dimasukan kedalam saku jaket yang dikenakannya.


Sesekali dia bersenandung kecil sambil memperhatikan lingkungan sekitarnya. Langkahnya juga terbilang ringan sampai dia melihat dua orang mencurigakan sedang mengganggu seorang perempuan disalah satu gang kecil.


"Sejak kapan ditempat seperti ini ada preman?" Gumamnya sambil mengingat-ngingat sesuatu.


"Pergi kalian!" Teriak perempuan itu menyadarkan Kinan.


Tanpa pikir panjang dia segera berjalan mendekati kedua preman yang sedang menggoda seorang perempuan asing dihadapannya. Pria berbandana merah dan pria berambut hitam dengan sebuah anting hitam disalah satu telinganya.


"Jangan mendekat!"


"Ayolah nona, tidak perlu takut. Kami hanya ingin bersenang-senang sedikit..." Tutur preman berbandana merah.


"Benar, kami tidak akan-" Lanjut yang satunya terhenti saat mendengar suara langkah kaki mendekatinya.


"Mau bersenang-senang?" Tanya Kinan membuat kedua preman itu melirik kearahnya. Lalu segera memutar tubuhnya menghadap ke arah kedatangan wanita itu, menyembunyikan seorang perempuan yang sedang digoda oleh mereka dibelakang punggung mereka.


"Wah hari ini kita sangat beruntung ya," tutur pria berambut hitam itu.


"Kau benar, tubuhnya memang terbilang kecil. Tapi wajahnya lumayan juga..." Lanjut yang satunya.


"Apa yang kalian pikirkan?" Tanya Kinan mulai mengeluarkan aura mengerikannya.


"Sebaiknya kau jangan macam-macam!" Ancam pria berambut hitam itu sudah merangkul perempuan dibelakangnya. Terlihat sebilah pisau yang digenggamnya sudah menodong kearah leher perempuan disampingnya.


"Le-lapaskan!" Teriak perempuan itu sambil memejamkan matanya mulai ketakutan.


"Ki-kiara?" Tanya Kinan saat bertemu pandang dengan wanita itu.


"Jadi kau kenal dengannya ya?" Tanya pria berbandana merah itu besamaan dengan hembusan angin sore yang menyapa pertemuan mereka.


"Lupakan saja, aku tidak mengenalnya..." Tutur Kinan segera berbalik badan hendak meninggalkan perempuan itu sendirian.


"Tu-tunggu! Kau yakin tidak akan menolongku?" Teriak Kiara dengan suara seraknya namun tak berhasil menghentikan langkah Kinan.


Tapi dengan cepat pria berbandana itu segera mencekal tangan kanan Kinan, membuat wanita itu refleks menjatuhkan barang belanjaannya.


"Jangan menyentuhku!" Teriaknya sambil melepaskan cekalan pria itu, lalu berbalik badan dan segera menendang pria itu hingga tersungkur.


"Bo-bos!" Ucap pria berambut hitam itu terlihat terkejut.


"Beraninya kau!" Ucap pria berbandana itu merasa geram.


"Cola ku..." gumam wanita itu memperhatikan belanjaannya yang sudah berserakan ditanah.


"Rasakan ini!" Teriak pria dibelakangnya membuat Kinan refleks menghindari serangannya.


"Kurang ajar." Lanjut pria itu semakin kesal dengan tinjunya yang tak juga mengenai tubuh Kinan.


Kinan yang mulai bosan berhadapan dengan pria itupun segera melesat cepat kebelakang pria berbandana itu, lalu segera melayangkan tendangan maut ketubuh preman itu tepat pada saat pria itu membalikan badan kearahnya.


"Ck!" Decak Kinan saat merasakan linu dibagian lututnya.


"Ini yang terakhir!" Teriak Kinan hendak meninju wajah pria itu, tapi dengan gerak cepat pria yang sempat menyandra Kiara itu, dia langsung menghadang Kinan dan segera menebaskan pisaunya tanpa arah.


"Dia? Benar-benar Kinan?" Gumam Kiara bertanya-tanya dengan tatapan bingungnya.


Disisi lain Bayu sedang berlari mencari keberadaan Kiara. Sampai telinganya menangkap suara keributan disebuah gang kecil. Matanya membelalak terkejut saat melihat sebuah perkelahian dihadapannya, dia juga melihat Kiara yang sudah terduduk ditanah memperhatikan perkelahian dihadapannya.


Dengan lincah Kinan menghindari semua serangannya hingga pria itu kelelahan, "Kurang ajar!" Umpatnya merasa kesal.


"Ada apa? Aku hanya menghindari seranganmu saja, tapi tampaknya kau sudah kelelahan ya..." Ejek Kinan sambil memberikan senyuman sarkasnya.


"Dasar wanita kurang ajar!" Teriaknya lagi sambil berlari secepat mungkin kearah Kinan.


"Apa yang sedang terjadi disini?" Guman Bayu masih mematung ditempatnya, matanya sibuk memperhatikan perkelahian dihadapannya.


"Kinan!" Teriak Kiara menyadarkan Kinan dengan posisinya yang dekat dengan pria berbandana merah itu.


"Gawat," ucapnya saat melirik kearah pria berbandana yang sudah memegang sebilah pisau yang dilemparkan oleh rekannya itu.


***


"Ini kan?" Gumam seorang perempuan yang berdiri disamping Akira.


"Masuk saja, kami selalu makan malam di rumah ini. Setelah makan malam kita bisa melanjutkan pembicaraan soal pekerjaan kita." Jelas Akira sambil membuka knop pintu rumah kinan.


Dea yang mendengar suara pintu tertutup pun langsung berlari untuk memeriksanya.


"Kau sudah pulang kak? Tumben-" Tanyanya terheti saat melihat seorang perempuan disampingnya. Wanita itu juga terlihat terkejut saat melihat sosok Dea dihadapannya.


"Kau!" Ucap mereka bersamaan.


"Selamat datang tuan." Lanjut Fino saat melihat kepulangan Akira.


"Kau? Kenapa ada disini?" Tanya Akira.


"Ceritanya panjang-" Jawab Fino terhenti saat melihat Dea berjalan kesal mendekati wanita disamping Akira.


"Jangan salah paham Dea, dia ini-" Tutur Akira berusaha menjelaskan sesuatu pada gadis berambut hitam itu. Bahkan pria itu sudah berdiri dihadapannya, menghalangi pandangan tubuh Dea untuk tidak mendekat kearah wanita dibelakangnya.


"Jangan menghalangiku!" Ucap Dea sambil mendorong Akira kesamping.


"Tu-tuan!" Ucap Fino merasa terkejut dengan tindakan Dea.


"Dea!" Ucap Megan masih tak didengarkan.


"Lama tidak bertemu Dea," tutur wanita itu kembali memberikan senyuman manisnya.


"Jadi kau masih tinggal disini ya." Lanjutnya bergumam.


"Aku tidak mau tau, cepat pergi dari rumahku!" Ucap Dea meperlihatkan wajah kesalnya.


"Dasar tidak sopan!" Ucap Megan sambil memukul kepala Dea membuat gadis itu memekik kesakitan, "Setidaknya persilahkan dia masuk dulu, dia ini tamu kakak gue." Lanjutnya saat melihat tatapan tajam yang diberikan oleh Dea.


"Hhaha... sebenarnya aku ini sepupunya Dea, jadi jangan khawatir. Dia hanya kesal padaku karena-" Jelas wanita itu terhenti saat tangannya yang hendak meraih puncak kepala Dea segera ditepis oleh gadis itu.


"Cih! jangan seenaknya memanggilku sepupumu, aku tidak akan memaafkan keterlibatanmu dalam menghancurkan impian kakak ku." Tutur Dea penuh penekanan.


"Apa yang kau katakan?" Tanya wanita itu.


Akira dan Megan pun tak bisa ikut terlibat dalam pembicaraan kedua perempuan dihadapannya. Aura mengerikan tiba-tiba tercipta diantara mereka saat pandangan mereka saling bertemu.


'Menghancurkan impian Kinan?' Batin Akira bertanya-tanya.


"Apa yang loe katakan? Loe baik-baik aja kan De?" Tanya Megan mengulangi pertanyaan wanita berambut pirang dihadapannya.


Belum sempat Dea menjawab, tiba-tiba dari arah luar terdengar beberapa suara yang mendekati rumahnya.


Tak lama kemudian pintu rumahnya sudah terbuka, memperlihatkan sosok Kinan bersama Kiara dan Bayu.


Kinan yang melihat kerumunan didalam rumahnya pun tak bisa berkata apapun, hanya memasang ekspresi terkejut yang sama dengan ekspresi yang ditunjukan mereka semua.


"Kenapa kau bersama si tiang listrik?" Tanya Dea sambil menunjuk kearah Kiara.


"Ti-tiang listrik?" Gumam Kiara.


"Rupanya kau masih punya nyali untuk menemui Kinan ya..." Tutur Akira menatap sinis kearah Bayu.


"Haaa wanita itu!" Teriak Kiara saat melihat sosok wanita berambut pirang dihadapannya.


"Delia..." Gumam Kinan menyebutkan nama wanita berambut pirang itu.


"Lama tidak berjumpa Kinan" Sapa wanita itu sambil tersenyum.


"Dea tolong ambilkan kotak P3K," tutur Kinan, "Kalian obatilah lukanya didalam, aku akan membuatkan makan malam untuk semuanya" Lanjutnya sambil berjalan keaeah dapur.


"Apa yang kau maksud? Kotak P3K? Jangan bilang..." Teriak Dea tak didengarkan.


"Fino tolong bantu Dea mengobati mereka." Ucap Kinan sebelum benar-benar pergi ke dapur.


"Baik Nona!"


"Ka-kami bisa mengobati lukanya sendiri," tutur Bayu merasa canggung terutama saat Akira terus memperhatikannya.


"Apa sebaiknya kita pulang saja?" Lanjut Bayu bertanya pada Kiara.


"Kita sudah diundang kesini bagaimana bisa kita pulang begitu saja?" Jawab Kiara sambil berjalan memasuki ruang tamu.


"Nona Delia juga sebaiknya masuk kedalam." Tutur Fino mempersilahkan saat mereka semua menyebar memasuki rumah Kinan.


Megan mengekori Dea yang berjalan kearah kamarnya dan Akira bersama Delia, mereka pergi keruang tengah. Sisanya pergi keruang tamu.


"Loe ngapain ngintilin gue?" Tanya Dea.


"Tadi itu beneran sepupu loe?" Tanya Megan.


"Dia anak paman gue, udah ah gue mau bawa ni kotak kehadapan si tiang listrik!" Jawab Dea segera menuruni anak tangga dengan terburu-buru.


'Tadi sore dia ketemuan sama perempuan lain, sekarang dia bawa perempuan lain lagi kerumah. Dasar pria...' Batin Dea menggerutu kesal saat melihat Akira dan Delia sibuk berbincang.


xxx