Dea & Kinan

Dea & Kinan
24. Rencana Rafa



Pagi ini Kinan tidak ikut sarapan pagi bersama dengan Akira, Megan dan adiknya yang sudah berada di dapur.


Mereka sedang menyantap sarapan pagi tanpa kehadiran Kinan.


"Ada apa dengan kak.Kinan? Kenapa dia tidak ikut sarapan?" Tanya Megan memecah keheningan.


"Ah, dia sudah sarapan duluan sebelum kalian datang." Jawab Dea setelah menelan makanan di dalam mulutnya.


"Tumben ...." Gumam Megan merasa heran sambil memperhatikan Dea yang diam-diam memperhatikan kakaknya.


Akira yang sedang menikmati makanannya tak begitu memperhatikan Dea yang diam-diam memperhatikannya.


"Ah ya," ucap Megan mengejutkan Dea dan Akira, "ada yang mau aku tanyakan." Lanjutnya membuat Dea menaruh perhatian padanya.


"Aku melihat seorang pria sedang menunggumu diluar, apa dia temanmu? Atau pacarmu?" Tanya Megan membuat Dea bergegas memeriksanya.


'Siapa yang dia maksud?' Batin Dea bertanya-tanya sambil membuka pintu rumahnya.


"Kenapa lama sekali?" Tanya Rafa yang sudah berdiri di depan pintu rumahnya membuat Dea mematung saking terkejutnya.


"Ke–kenapa? Loe gak salah alamat kan? Rumah Fani bukan disini loh." Tutur Dea sedikit tergugup.


"Gue kesini buat–" Jelas Rafa terpotong.


"Gue gak mau berangkat sekolah bareng loe ya!" Ucap Dea membuat Rafa naik pitam.


"Dengerin gue dulu!" Ucap Rafa dengan nada sedikit membentak membuat Dea bungkam dan mengangguk paham, "ini gue titip di rumah loe. Kalau bisa loe atur dekorasinya, gue mau kita ngerayain ulang tahun Fani bareng-bareng di rumah loe pulang sekolah nanti." Lanjutnya menjelaskan sambil memberikan semua dekorasi yang dibawanya.


Dea yang mendengar penjelasan Rafa mendadak naik pitam, "Kenapa gak rayain di rumah Fani aja? Udah jelas loe salah rumah!" Teriak Dea merasa sangat kesal. Secara yang ulang tahun kan Fani, kenapa dirayainya malah dirumah Dea? Benar-benar ridak nyambung.


"Ibunya bilang hari ini ada acara arisan dirumahnya, jadi gue gak bisa rayain dirumahnya. Yang terlintas dipikiran gue ya rumah loe. Jadi gue minta tolong sama loe buat ngatur semuanya." Jelas Rafa membuat Dea mendelik kesal.


"Loe b*go ya? Gue kan juga sekolah. Mana masih ujian, loe gak minta gue buat bolos kan?" Tanya Dea menekankan nada bicaranya.


"Ya loe bisa atur waktunya kan? Nanti gue yang urus si Fani." Jawab Rafa.


"Loe kan masih marahan sama tu anak. Gue gak yakin dia mau deket-deket sama loe." Ucap Dea sambil menghela nafas berat.


"Gue sengaja ngasih jarak sama dia. Buat ngerencanain perayaan ulang tahunnya hari ini. Jadi demi menyukseskan rencana gue, loe bantuin gue ya." Jelas Rafa sambil menyeringai.


"Kenapa gak bilang lebih awal RAFA?!" Teriak Dea sambil memukul perut pria itu, membuatnya mengerang kesakitan.


"Ada apa ini?" Tanya Megan yang sudah selesai sarapan dan berdiri dibelakang Dea, membuat gadis itu melihat kearahnya.


"Ah Kalian mau berangkat ya? Kalau begitu hati-hati dijalannya." Ucap Dea saat melihat Akira berjalan melewatinya setelah memberikan senyuman hangat padanya.


"Tapi hari ini aku free loh." Ucap Megan memasang wajah polosnya.


"Sudah siang, mau berangkat bareng gak De?" Tanya Akira yang membuka pintu mobilnya menyadarkan Dea yang harus segera pergi ke sekolah.


"Pokoknya gue serahin semuanya sama loe ya. Pulang sekolah nanti gue bawa Fani." Jelas Rafa sambil menaiki motornya dan memakai helmnya.


"Jangan seenaknya! Gue kan bilang ...." Jelas Dea tak di dengarkan, dan Rafa sudah menancap gasnya, menjauhi rumah Dea.


"Dasar Rafa!!" Umpat Dea sambil membalikan badannya, dan mendapati Megan yang masih berdiri diambang pintu, lalu terlintas sebuah ide di dalam kepala Dea.


"Karena aku harus sekolah, tolong atur dekorasinya diruang tamu ya. Pulang sekolah harus sudah selesai, tolong ya." Lanjut Dea masih bersikap manis sambil memberikan semua dekorasi itu ketangan Megan, lalu berlari keruang tengah untuk mengambil tas sekolahnya.


"Awas aja kalau dekorasinya belum selesai saat aku pulang sekolah nanti!" Ancam Dea masih memberikan senyuman manisnya membuat Megan semakin merinding.


Akhirnya Dea pun pergi ke sekolah bersama Akira. Pria itu memang selalu mengantar Dea ke sekolah, meski tidak terlalu sering.


"Tu anak bener-bener nyeremin ya." Guman Megan sambil melihat semua dekorasi di tangannya setelah melihat mobil kakaknya berlalu dari hadapannya.


"Ada apa?" Tanya Kinan mengejutkan Megan.


"Kak Kinan ...." Guman Megan merasa lega saat melihat wanita itu.


"Dekorasi ulang tahun?" Tanya Kinan yang sudah berdiri di hadapan Megan sambil memperhatikan semua dekorasi yang dipegang oleh pria itu, "siapa yang ulang tahun?" Lanjutnya bertanya sambil menatap mata Megan membuat pria itu tersipu malu tanpa alasan.


"Ti–tidak tau, tadi Dea memberikannya padaku dan memintaku untuk menyiapkan dekorasinya sebelum dia pulang sekolah." Jelas Megan sambil melirik kesembarang arah.


"Dea?" Guman Kinan sambil memegangi dagunya, "Hem, siapa ya?" Lanjutnya bertanya-tanya sambil berjalan ke arah ruang tengah diikuti oleh Megan.


"Ah Fani! hari ini ulang tahunnya, He jadi Dea berencana merayakannya disini. wah sepertinya mengasyikan ...." Tutur Kinan mengeluarkan aura berbunga-bunganya.


"Kak Kinan?" Ucap Megan membuat wanita itu segera melihat ke arahnya.


"Tolong kau urus dekorasinya ya. aku akan mengurus kue nya." Ucap Kinan membuat Megan mematung.


'Apa yang dia katakan?' Batin Megan bertanya-tanya dengan sikap Kinan pagi ini.


"Kalau tidak salah, masih ada persediaan untuk membuat kue ...." Gumam Kinan mengobrak ngabrik isi kulkas dengan perasaan senang dan antusias.


'Yah terserahlah, yang penting suasana hatinya baik. Sebaiknya aku pergi menghias ruang tamu sekarang. jangan sampai Dea membunuhku karena aku tidak bisa mendekorasinya tepat waktu.' Oceh Megan dalam hati sambil berjalan ke arah ruang tamu.


Waktupun berlalu dengan cepat, dua jam sudah Megan menghabiskan waktunya untuk mendekorasi ruang tamu, dan Kinan juga sudah selesai mempersiapkan kue ulang tahun untuk Fani.


"Akhirnya ... selesai juga." Ucap Megan sambil menghempaskan dirinya keatas sofa di ruang tengah.


"Aku juga sudah selesai. terima kasih sudah menghiasnya ...." Tutur Kinan sambil memberikan Es jeruk kepada Megan. membuat pria itu kegirangan.


"Sepertinya kau sangat menyukai Es jeruk ya." Ucap Kinan membuat Megan mengangguk cepat setelah meneguk Es jeruk di dalam mulutnya.


"Sama seperti Dea ternyata." Lanjutnya sambil tersenyum mengingat kembali wajah adiknya yang begitu sumringah jika dibuatkan Es jeruk olehnya.


"Dea?" Tanya Megan sambil meletakan gelasnya diatas meja.


"Ya. dari kecil dia sudah menyukai Es jeruk." Jawab Kinan kembali tersenyum saat bayangan Dea kembali menghiasi kepalanya, 'buatan ibu tentunya. dan aku bekerja keras untuk belajar membuat Es jeruk kesukaannya agar rasanya bisa sama dengan buatan ibu.' Lanjutnya dalam hati.


Megan yang melihat senyuman Kinan, kembali dibuat terpaku olehnya. untuk pertama kalinya dia melihat Kinan tersenyum sehangat itu, meski dia selalu tersenyum saat sedang bersama Dea. tapi dia tidak pernah melihatnya tersenyum sehangat itu.


'Ah detak jantung ini lagi ... sebenarnya ada apa denganku? dulu saat melihatnya berlari mencariku yang tersesat ke kompleks sebelah, aku juga mengalami perasaan ini. apalagi saat melihatnya berdiri dihadapanku dengan wajah lelahnya, rasanya saat itu aku ingin agar waktu berhenti, supaya aku bisa melihat sisi lain kak Kinan lebih banyak lagi, dan sekarangpun aku menginginkannya, agar waktu berhenti ....' Batin Megan mengoceh sambil memperhatikan Kinan diam-diam, menyembunyikan rona merah diwajahnya dengan bantal sofa yang di peluk erat olehnya.


'Sial detak jantungku malah semakin cepat, sebenarnya perasaan aneh apa yang sedang ku alami saat ini? jangan bilang ...." Lanjutnya masih dalam hati sambil bertemu pandang dengan Kinan.


xxx