
'Kenapa aku merasa kesal saat pria itu memeluknya?' Batin Megan mempererat genggamannya membuat Dea meringis.
Dengan cepat dia melepaskan tangan Dea dan memperlambat langkahnya.
"Maaf..." Ucapnya sambil menggaruk tengkuknya dan mengalihkan pandangannya ke sembarang arah.
"Terima kasih," Ucap Dea membuat pria itu melirik kearahnya, memperhatikan wajah Dea diam-diam.
"Balas budi." Jelas Megan membuat Dea refleks melihat kearahnya yang masih setia berjalan disampingnya.
"Ba–balas budi?" Tanyanya.
"Kau pernah menolongku dari amukan pria yang ... pacarnya ku goda malam itu." Jawabnya membuat Dea mengingat kejadian menjengkelkan malam itu. Terutama saat dirinya ditinggal oleh Megan setelah melerai perkelahiannya dengan pria asing itu.
"Lagian salah loe sendiri pake menggoda pacar orang, dan bodohnya lagi tu cewe mau aja di goda cowo hidung belang kaya loe." Ejek Dea membuat Megan refleks mencubit pipi Dea dengan gemasnya.
"Hidung gue gak belang! Lagian gue ganteng kali, wajar aja tu cewe mau gue goda." Jelas pria itu masih mencubit pipi Dea.
"Swakit beg*!" Ucap Dea sambil menginjak kaki Megan, membuat pria itu meringis dan melepaskan cubitannya. Sedangkan Dea langsung mengelus kedua pipinya dengan lembut, berharap rasa sakitnya segera menghilang.
"Jadi yang tadi itu mantan loe?" Tanya Megan setelah merasa kakinya baikan.
"Ya." Jawab Dea singkat.
"Kenapa kalian bisa putus?" Tanyanya lagi.
"Dia yang mutusin gue dengan alasan bosan ... padahal selingkuh," jelasnya sambil memperhatikan langkah kakinya.
"Jadi karena itu loe bilang semua cowo itu sama?" Gumam Megan mengingat perkataan Dea saat di halte sore tadi.
Krrruuk...
Terdengar suara perut Dea membuat langkah mereka terhenti. Dengan cepat Dea memalingkan wajahnya kesembarang arah, berharap Megan tak mendengar jeritan perutnya itu.
"Loe laper?" Tanyanya.
"Hha–ha... sedikit." Jawab Dea merasa malu setengah mati.
'Gila malu banget...' Batinnya sambil menundukan kepalanya, berusaha menyembunyikan rona merah diwajahnya dibalik rambut hitamnya.
"Sebelum pulang kita mampir dulu ya." Tutur Megan sambil tersenyum lebar kearah Dea tepat pada saat gadis itu mengangkat kepalanya.
"He? Mampir kemana? Bukannya lebih baik kita pulang?" Tanya Dea merasa kebingungan.
"Kayanya motor gue udah selesai diperbaiki. Ayo pergi!" Ucapnya setelah melihat jam tangan yang melingkar dipergelangan tangan kirinya. Lalu menggeret Dea kembali ke bengkel.
***
Waktu sudah menunjukan pukul 07:30 Pm, Dea dan Megan belum juga kembali. Dan saat ini aku dihadapkan dalam situasi super canggung bersama dengan Akira.
Pria itu masih anteng duduk di sofa sambil memainkan heandphonenya, sedangkan aku sibuk bermain game untuk mengisi waktu luangku. Tidak, sebenarnya bukan waktu luang. Hanya saja aku merasa tidak enak jika meninggalkannya sendirian di ruang tengah, sementara aku sibuk bekerja di dalam kamar.
'Dea ... cepatlah pulang.' Batinku terus memohon.
"Itu–Kinan," Suara Akira mengejutkanku.
"I–iya?" Jawabku terbata-bata sambil memutar kursi putar yang ku duduki.
Ku dapati Akira yang sudah menatapku, lalu memalingkan pandangannya kesembarang arah.
'Apa? Ada apa dengan ekspresinya?' Batinku bertanya-tanya saat melihat rona merah yang perlahan timbul diwajahnya.
'A–apa-apaan ini? Kenapa ekspresinya begitu menggemaskan, apa ini artinya ... Akira adalah seorang pria pemalu?' Lanjutku mengoceh girang saat menperhatikan wajah pria itu, tapi dengan cepat ku gelengkan kepalaku untuk menepis semua pikiran konyolku itu.
"Aku minta maaf, untuk–" Ucapnya menarik perhatianku.
"Ci–ciumanku waktu itu." Lanjutnya mengejutkanku, matanya sudah bertemu pandang denganku membuat konsol game ditanganku terjatuh ke lantai.
Dia menatapku dengan tatapan meremehkan kumplit dengan senyuman sarkasnya yang selalu membuatku jengkel setengah mati.
"Jangam mengejek ku bodoh!" Teriak ku sambil mengambil konsol game satunya dan melemparkannya kearah Akira.
"Pft..." Ucapnya berusaha menahan tawanya, "Ternyata kau lebih lucu saat sedang marah ya, wajahmu juga sudah memerah menahan malu. Hhaha..." Lanjutnya tak kuasa menahan tawanya.
Dengan cepat ku bangkitkan tubuhku dari tempat duduk ku dan melangkahkan kaki ku secara perlahan kearah Akira yang ikut berdiri di sebrang meja.
"Kali ini aku tidak akan mengampunimu!" Ucapku penuh penekanan sambil memutar-mutar bahu bagian kananku. Mengambil ancang-ancang untuk menghajarnya.
"Apa yang akan kau lakukan? Ah iya, kau kan pernah berkelahi dengan tiga preman sekaligus. Apa itu artinya kau akan menghajarku juga?" Tanyanya sambil memasang senyuman kakunya, kemudian matanya beralih kearah lantai dan kembali menatap kearahku yang semakin mendekatinya. Entah apa yang dia lihat dilantai, tapi aku tak memperdulikannya. Yang ku tau, saat ini aku sedang merasa sangat kesal padanya dan terus melangkah maju mendekati pria itu.
"Perhatikan pijakanmu bodoh!" Teriak Akira mengejutkanku dan dia langsung berjalan cepat mendekatiku, aku sendiri tidak tau apa yang dia katakan. Tapi ekspresi bodohnya kembali mencuri perhatianku.
"Aku pulang!" Suara Dea dan Megan mengejutkanku dan Akira.
Duk...
Terdengar suara lutut Akira yang menyenggol pinggiran meja, dan kini tubuhnya malah terjatuh kearahku.
"A–apa?!" Gumamku merasakan tubuh Akira yang mendorong tubuhku hingga terjengkang ke belakang bersamaan dengan tubuhnya yang menimpa tubuhku–hampir. Entahlah aku sendiri tak begitu jelas melihatnya karena sesaat sebelum kami terjatuh, aku langsung menutup mataku serapat mungkin.
Ku buka mataku perlahan saat tak merasakan berat tubuh Akira yang menimpa tubuhku, dan ku dapati sosok Akira yang sedang menahan tubuhnya dengan kedua telapak tangan yang bersalaman dengan lantai disamping kepalaku.
'Po–posisi ini?' Batinku merasa malu sendiri saat menyadari posisi tubuhku yang berada dibawah Akira.
Ku lihat sebuah garpu yang mengangkat di dekat lutut Akira.
'Jadi dia berusaha menghentikanku agar kakiku tidak menginjak garpu yang jatuh ke lantai itu? tapi kenapa dia harus terjatuh menimpaku?' Batinku menyadari niat baiknya yang berujung pada tragedi memalukan ini.
***
Dea dan Megan yang mendengar suara kegaduhan di ruang tengah pun langsung berlari untuk memeriksanya.
"Ini?" Gumam Dea saat melihat Akira yang mengunci tubuh kakaknya di lantai.
"Jangan dilihat!" Ucap Megan sambil menutup mata Dea.
"A–apa yang kau lihat? Menyingkir dari tubuhku bodoh!" Bentak Kinan menyadarkan Akira yang sempat terpesona dengan wajah Kinan yang dilihatnya dari dekat.
"Ma–maaf ...." Ucapnya sambil menyingkir dari atas tubuh Kinan, memberikan ruang untuk wanita itu bangun.
"Bodoh!" Umpat Kinan sambil mengelus kepala bagian belakangnya yang sempat terbentur cukup keras dengan lantai.
"Aku tidak tahan lagi!" Teriak Dea sambil melepaskan tangan Megan yang menghalangi penglihatannya, sontak membuat Akira dan Kinan terkejut dengan suara Dea.
"Kalian sudah pulang?" Tanya Akira melihat kearah Megan dan Dea yang masih berdiri di belakang sofa.
"Apa yang kalian lakukan?" Tanya Dea mengeluarkan aura mengerikannya saat Akira dan Kinan bangkit dari posisi terduduk mereka.
"I–itu tadi, kau salah paham! Jangan berpikir yang macam-macam Dea." Jelas Kinan tergugup.
"Bantu aku menjelaskan semuanya bodoh!" Lanjutnya sambil menyikut tangan Akira yang berdiri disampingnya.
"Ya tadi itu–" Jelas Akira terhenti saat melihat senyuman kaku Megan dan tatapan tajam Dea, lalu tiba-tiba pikiran jahilnya muncul.
"Hampir saja. Seandainya kalian pulang lebih lama lagi, aku akan sangat berterima kasih pada kalian." Lanjutnya sambil tersenyum membuat mereka semua terkejut, khususnya Dea dan Kinan.
"Apa maksudmu?! Jangan mengatakan sesuatu yang tidak-tidak!" Ucap Kinan merasa dipermainkan.
"KAK A-KI-RA!" Ucap Dea penuh penekanan membuat Kinan dan Megan segera melangkah mundur mengamankan diri dari amukan Dea.
"He?" Tanya Akira yang terlambat menyadari perubahan sikap Dea.
xxx