Dea & Kinan

Dea & Kinan
111. Khawatir



"Huwaaa... Dasar bodoh! hiks." Teriak Kinan masih menangis sambil memukul dada bidang Akira dengan kedua tangannya yang sudah terkepal dengan erat saat sudah berdiri dihadapan pria itu, meski begitu pukulannya terbilang lemah.


Akira hanya bisa mematung ditempat, merasakan pukulan beruntun yang dilayangkan oleh Kinan di atas dada bidangnya. Matanya hanya bisa menatap kepala wanita dihadapannya, kepala yang tertunduk dengan kedua tangan yang terus memukul dada Akira secara bergantian.


Untuk pertama kalinya, dia melihat Kinan menangis seperti itu. Lalu dengan cepat Akira meraih kepala bagian belakang Kinan dan menariknya masuk kedalam pelukannya, berusaha untuk membuatnya tenang sampai tangisannya mereda.


"Tidak perlu takut, aku ada disini." Bisik Akira selembut mungkin mencoba untuk menenangkan Kinan.


Perlahan otot tubuh Kinan pun melemas, kedua tangannya sudah berhenti memukuli dada bidang Akira.


"Syukurlah kau baik-baik saja. Aku juga merasa takut saat mengingat bagaimana mobil itu melaju dengan cepat melewati mobilku, dan kau hebat bisa menghindarinya disaat yang tepat." Tutur Akira sambil mengelus kepala Kinan dengan matanya yang sibuk memperhatikan mobil perusahaan yang mendapat kerusakan dibagian belakang, tepatnya dibagian samping kanan belakang dan bagian depan yang menghantam pinggiran jalan.


"Syukurlah kau baik-baik saja." Gumamnya mempererat pelukannya, mencoba menepis semua pikiran buruk yang sempat melintas didalam kepalanya.


'Apa yang dia pikirkan? Aku hanya merasa takut jika dia benar-benar melupakanku. Aku merasa sangat takut jika hal itu sampai terjadi, aku bahkan tak bisa membayangkan dia melupakanku setelah membuatku jatuh cinta padanya. Tapi syukurlah kau masih mengingatku ....' Batinnya masih terisak didalam pelukan Akira.


"Siapapun pasti merasa takut setelah mengalami kecelakaan seperti itu–" Tutur Akira segera terhenti saat merasakan tubuhnya di dorong menjauh dan mengharuskannya untuk melepaskan Kinan dalam pelukannya.


"Bukan itu bodoh!" Ucap Kinan sambil menyeka air matanya membuat pria itu terkejut.


Akira hanya bisa melongo mendengar ucapan Kinan, "He?" Tanyanya terlihat bingung dengan reaksi yang diberikan oleh wanita itu.


"Aku ... aku tau ya kau berusaha kabur dari pengejaranku." Jelas wanita itu menatap tajam mata Akira, sedangkan pria itu berusaha untuk menghindari tatapan Kinan.


"Yah sebenarnya itu ...." Tuturnya berusaha menjelaskan.


"Padahal aku sangat mengkhawatirkanmu, tapi kau malah menghindariku." Gumam wanita itu membuat pria itu melirik kearahnya.


"Mengkhawatirkanku?" Tanyanya segera mendapatkan anggukan lemah dari Kinan.


"A–akira?" Tanya Delia yang sudah berdiri di belakang pria berambut hitam itu. Akira yang mendengar suara itupun langsung berbalik badan menghadap kearah wanita berambut pirang dihadapannya.


"Kinan kau baik-baik saja?" Lanjut Kiara yang baru tiba ditengah-tengah mereka dengan ekspresi lelahnya, dia baru saja selesai memberikan penjelasan kepada seorang polisi yang menanyainya perihal kecelakaan yang terjadi siang ini.


"Kiara?" Gumam Kinan masih meneteskan air matanya.


"Ada apa ini sebenarnya? Jangan bilang kau ... bagaimana bisa? Aku yakin sudah ...." Tutur Delia merasa heran dengan perlakuan Akira pada Kinan yang masih sama seperti biasanya.


'Apa obatnya tidak bekerja? Mana mungkin, aku yakin sudah memasukan obat itu kesemua minuman yang dibawakan untuknya oleh pelayan kantor ... apa selama ini dia mempermainkanku?' Lanjutnya dalam hati mencoba untuk menahan emosinya.


Belum sempat Delia mendapat jawaban dari pria itu, seorang polisi sudah datang menghampiri mereka untuk menanyakan kejadian yang menyebabkan kecelakaan beruntun yang menimpa mereka.


"Pak saya sudah memeriksa kamera cctv-nya." Ucap seorang polisi lainnya yang mendekati polisi yang sudah lebih dulu menghampiri Kinan dan yang lainnya.


"Kalau begitu kita selesaikan saja di kantor polisi." Jelas polisi itu membuat Kiara dan Akira terkejut.


Korban kecelakaan yang mengemudikan mobil sport merah itu sudah dibawa ke rumah sakit dengan menggunakan ambulance, sedangkan mobilnya sudah di derek oleh mobil pengangkut, mobil yang dikendarai Kinan pun segera diamankan agar tak menghalangi jalan.


Di kantor polisi.


'Kenapa aku juga harus ikut?' Batin Kiara dan Delia secara bersamaan ditengah-tengah penjelasan yang diberikan Kinan dan Akira saat ditanya oleh polisi yang duduk dihadapannya.


"Lalu untuk apa aku memberikan penjelasan pada polisi itu dijalan tadi?" Lanjut Kiara bertanya-tanya sambil melirik kearah seorang polisi yang sedang berbincang dengan polisi lainnya di depan pintu masuk.


"Menurut informasi yang ku dapatkan, pengemudi mobil sport merah itu sedang dalam kondisi mabuk dan hilang keseimbangan dalam berkendara. Lalu dijalur berlawanan ada tiga mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi," jelas polisi itu membuat mereka berkeringat dingin.


"Meski kecelakaan itu sepenuhkan kesalahan pengendara mobil sport merah itu. Tapi tetap saja kalian sudah melanggar peraturan lalu lintas dengan berkendara diatas kecepatan rata-rata. Jadi kami harus memberikan surat tilang pada kalian." Lanjutnya membuat mereka menghela napas pasrah.


"Harusnya tadi aku gak usah mengejar mereka." Gumam Kiara merasa menyesal dengan tindakan yang diambilnya.


Disisi lain, terlihat sosok Dea yang sedang asik menyantap makan siangnya di kantin sekolah bersama dengan Fani dan Rafa.


"Balikin pangsit gue!" Ucap Fani berusaha merebut pangsit yang dicuri oleh Rafa di dalam mangkuk baksonya.


"Apa enaknya makan pangsit?" Tanya Dea sambil mengambil pangsit Rafa yang menganggur di dalam mangkuk baksonya.


"Aaa... pangsit gue!" Teriak Rafa ketika melihat pangsitnya masuk ke dalam mulut Dea, sedangkan gadis itu hanya bisa memperhatikan Fani yang diam-diam mencuri sebutir bakso di dalam mangkuk Rafa.


"Pangsit ilang tinggal ganti pake bakso aja ya kan?" Tanya Fani setelah mengunyah bakso di dalam mulutnya.


"Sial! padahal gue cuma pengen nambah satu pangsit, tapi malah rugi ...." Gumam pria itu terlihat murung memperhatikan mangkuk bakso yang tinggal setengah lagi dengan empat butir bakso kecil yang mengisi mangkuknya bersama dengan mie dan potongan sayur.


Tawa Dea dan Fani pecah saat melihat ekspresi Rafa yang terlihat menyedihkan memperhatikan mangkuk baksonya.


"Nih gue ganti pake kerupuk." Ucap Dea setelah puas tertawa sambil memberikan bungkusan kerupuk yang tersisa tiga buah didalamnya.


"Gue maunya pangsit." Gumam Rafa melirik tajam kearah Dea yang sudah mencuri pangsitnya.


"Hhehe, udah aman di dalam perut gue. Gimana dong?" Tanya Dea setelah terkekeh.


"Udah sih tinggal makan aja. Salah sendiri kan pake ngambil pangsit gue duluan, ya gue pasti balas lah." Ucap Fani terlihat menikmati makanannya.


"Ya tapi gak ngambil bakso yang gede juga kali." Tutur Rafa tak rela baksonya diambil.


"Kenyangnya ...." Gumam Dea setelah selesai menyantap habis nasi goreng yang dibelinya.


"Loe juga! pake ikut-ikutan ngambil pangsit gue." Ketus Rafa dengan ekspresi kesalnya.


"Ya, gue kepengen pas liat loe makan pangsitnya Fani. Jadi gue ambil punya loe ...." Jelas Dea sambil memalingkan wajahnya kearah lain, berusaha menghindari tatapan tajam sahabatnya itu.


"Punya temen gak ada yang pengertian banget sama gue." Gumam Rafa sambil melahap baksonya dengan perasaan kesalnya, sedangkan Fani dan Dea hanya bisa memperhatikan kelakuan Rafa.


XXX