Dea & Kinan

Dea & Kinan
74. Speechless



Hari ini Dea pulang sekolah lebih awal, berjalan seorang diri menuju halte bus dengan perasaan riang, langkahnya juga terlihat ringan. Senyumannya terus merekah menghiasi wajah cantiknya. Entah hal baik apa yang sudah didapatkannya hari ini sampai-sampai dia tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.


Namun tak lama kemudian langkahnya terhenti saat mendapati sosok Akira dan seorang perempuan asing keluar dari salah satu kafe dekat halte bus, tepatnya kafe yang berada disebrang jalan.


Matanya mulai menatap tajam sosok Akira dan wanita yang terus bersikap manis dihadapannya.


"Dia bukan si tiang listrik kan ? Terus tuh cewe siapa lagi ? Pacar barunya kak.Akira ? Kalau iya, terus pertunangannya dengan kakak..." Gumamnya bertanya-tanya sambil berlari kearah penyebrangan jalan dan segera menyebrang saat lampu merah menyala.


Terlihat Akira membukakan pintu mobil berwarna putih yang terparkir disampingnya. Dengan cepat wanita itu memasuki mobilnya dan meninggalkan Akira didekat mobil hitam miliknya.


"Cih aku terlambat..." Decih Dea merasa kesal sendiri, dengan cepat dia berlari mendekati Akira sebelum pria itu masuk kedalam mobilnya.


Akira yang melihat kedatangannya pun langsung menutup kembali pintu mobilnya dan berjalan mendekati Dea yang terlihat ngos-ngosan.


"Dea ?" Tanyanya dengan wajah datarnya.


"Siapa wanita sok cantik tadi?" Tanya Dea tanpa basa-basi menatap tajam mata pria dihadapannya.


"Itu tadi-" Jawabnya terhenti saat tiba-tiba kerah bajunya ditarik dengan kasar oleh gadis berambut hitam itu.


"Aku peringatkan padamu satu hal, jika kau berniat mempermainkan perasaan kakak ku. Aku tidak akan tinggal diam! Aku tidak perduli dengan semua bantuan yang telah kau berikan untuk keluargaku." Jelasnya penuh penekanan dan segera melepaskan kerah baju pria itu dengan kesalnya.


"Tadi itu tidak seperti yang kau lihat..." Jelasnya menghentikan langkah kaki Dea.


"Sebaiknya kau klarifikasi kembali soal pertunanganmu dengan kakak ku," lanjut Dea sebelum melangkahkan kakinya kearah penyebrangan jalan.


"Aku benar-benar tidak akan memaafkannya jika dia sampai mempermainkan perasaan kakak!" Lanjutnya sambil meremas kedua telapak tangannya dengan gemas.


Disisi lain terlihat sosok Kiara dan Bayu yang sedang memperhatikan Akira dari dalam mobilnya.


"Kita pulang saja, aku lelah mengikutinya-" Ucap Bayu segera dipotong oleh tatapan sinis Kiara.


"Aku masih ingin mencari tau hubungan Akira dengan perempuan itu. Berani sekali dia melakukan trik murahan dengan berpura-pura tersandung, membiarkan tubuhnya jatuh kepelukan Akira," tuturnya terdengar begitu kesal saat mengingat kejadian yang dia lihat beberapa menit lalu.


"Tapi kita sudah mengikutinya selama tiga hari terakhir ini, kau butuh informasi apalagi ? Sudah jelas dia itu putri dari tuan Danu, pamannya Kinan dan Dea." Jelas Bayu sambil memutar bola matanya jenuh.


"Aku tau, tapi kenapa perempuan itu bisa dekat dengan Akira? Tidak cukup kah mereka menyuruh putri pertama pak.Arya untuk mendekati Akira? Haruskah sekarang mereka mengirim putri tuan Danu juga? Permainan apa yang keluarga mereka lakukan ? Aku benar-benar kesal sekarang..." Oceh Kiara semakin kesal.


"Selama tiga hari terakhir ini Akira selalu menemui wanita itu. Apa dia benar-benar ada hubungan dengannya ? Lalu bagaimana dengan klarifikasi soal pertunangannya dengan Kinan? Apa itu semua kebohongannya? Untuk apa dia melakukan klarifikasi itu?" Lanjutnya merasa frustasi dengan semua pertanyaan yang dimilikinya.


***


"Aku pulang..." Teriak Dea sambil berlari memasuki rumahnya setelah membuka sepatu sekolahnya.


"Kak.Dea!" Teriak ketiga anak yang masih ada di dalam rumahnya.


"Hari ini pulang cepat ya?" Tanya Diana sambil memeluk tubuh Dea membuat gadis itu tersenyum gemas.


"Kalian tidak nakal kan?" Tanya Dea segera mendapat gelengan cepat dari ketiga anak itu.


"Kau sudah pulang De?" Suara Kinan mengejutkan gadis itu.


"Siapa dia?" Tanya Dea saat melihat sosok pria berambut ikal mengekor dibelakang kakaknya.


"Ah ini-" jawabnya terpotong.


"Perkenalkan nama saya Fino nona. Saya asisten pribadinya tuan Akira." Tutur pria itu memperkenalkan dirinya sambil memberikan senyuman terbaiknya.


"Hoo... sedang apa disini? Apa orang itu memintamu menjaga kakak ku?" Tanya Dea dengan ekspresi juteknya, mengingat dia masih kesal pada sosok Akira setelah memergokinya bersama wanita asing dipinggir jalan.


Belum sempat dia menjawab, Dean dan Doni mulai membuat kerusuhan. Mereka kembali bertengkar, memperebutkan konsol game yang mereka anggap bagus dan paling menarik. Padahal kedua konsol game itu terlihat sama, sama-sama bisa digunakan dan masih terlihat bagus.


"Sudah-sudah jangan bertengkar, daripada bermain game. Bagaimana kalau mendengarkan kakak menyanyi lagi?" Tanya Dea membuat ketiga anak itu memasang ekspresi berseri-serinya.


"Menyanyi?" Gumam Fino menatap bingung kearah Dea yang sudah tersenyum lebar pada si kembar Dean Diana dan Doni.


"Kalau begitu aku keluar dulu. Persediaan cola dan camilan kita sudah habis, jadi aku mau pergi belanja dulu. Tolong jaga mereka ya..." Tutur Kinan membuat Dea terkejut setengah mati. Bagaimana bisa sosok Kinan yang malas keluar rumah bisa berubah secepat itu.


"Aku tidak salah dengar kan kak?" Tanya Dea segera mendapat cubitan gemas dipipinya.


"Swakit, lepwaskan kak!" Ucapnya berusaha melepaskan tangan wanita itu.


"Aku ingin mencari angin sebentar, lama-lama mengurus mereka kepalaku terasa penat," jelasnya sambil berjalan keluar rumahnya.


"Apa saya harus menemaninya?" Tanya Fino segera mendapat gelengan kepala dari Dea.


"Biarkan saja dia, kau bantu aku mengurus ketiga bocah ini saja. Aku mau menyimpan tas sekolah dulu, jaga mereka sebentar." Jawab gadis itu segera berlari menuju kamarnya.


Tak lama kemudian dia kembali ke ruang tengah dengan membawa sebuah gitar berukuran sedang ditangannya.


"Uwaah..." Gumam ketiga anak itu terkagum-kagum.


"Nyanyikan lagu itu lagi kak!" Lanjut Diana begitu bersemangat sedangkan Fino hanya bisa memperhatikan tingkah ketiga anak itu dengan tatapan bingung.


'Apa yang sedang mereka bicarakan? padahal biasanya sangat sulit diatur, kenapa gadis ini bisa mengaturnya semudah itu?' Batinnya bertanya-tanya saat melihat mereka duduk tenang di dekat Dea.


Dea yang melihat ekspresi tak sabar diwajah ketiga anak itupun langsung memainkan gitar ditangannya dengan hati-hati, 'Sudah lama aku tidak bermain gitar, kapan ya terakhir kali aku memainkannya? rasanya kemampuanku menurun...' Batinnya bertanya-tanya.


Kemudian gadis itupun mulai menyanyikan lagu twinkle twinkle little star yang dimaksud oleh ketiga anak itu. Tak ada yang spesial dari lagu yang dinyanyikannya, namun permainan gitar dan suaranya mampu menghipnotis ketiga anak itu. Bahkan sosok Fino yang menjadi pengamat merekapun sampai tak berkutik saat mendengar suara merdu Dea.


***


'Cause I


I cannot start to crumble


So come on and try


Try to shut me and cut me down


"He? Siapa yang menyanyi?" Tanya Megan yang baru sampai dihalaman rumahnya, dengan cepat dia turun dari motornya sambil menyimpan helmnya diatas motor.


I won't be silenced


You can't keep me quiet


Won't tremble when you try it


All I know is I won't go speechless, speechless


"Suaranya..." Lanjutnya bergumam sambil berjalan ke rumah Kinan, tanpa membuang-buang waktu pria itu segera meraih knop pintu dihadapannya. Lalu bergegas masuk, kakinya mulai melangkah kearah ruang tengah dimana suara itu semakin terdengar jelas.


Let the storm in


I cannot be broken


No, I won't live unspoken


'Cause I know that I won't go speechless


Matanya membelalak terkejut saat mendapati Dea yang sedang menyanyi disamping ketiga anak kecil yang duduk di dekatnya.


"Ini?" Tanyanya masih berdiri dibelakang Dea, mendengarkan permainan gitar dan suaranya yang merdu menyanyikan lagu "Speechless dari Naomi Scott".


Try to lock me in this cage


I won't just lay me down and die


I will take these broken wings


And watch me burn across the sky


Hear the echo saying


Ekspresi Megan pun sama kagumnya dengan ekspresi yang ditunjukan oleh Fino dan ketiga anak itu. Dia tak berani mengganggu Dea yang terlihat menikmati nyanyiannya.


Jadi pria berambut coklat itu memutuskan untuk menunggunya sampai Dea menyelesaikan nyanyiannya. Tanpa sadar dia juga sudah memberikan senyuman terhangatnya pada sosok Dea yang bahkan tak menyadari kepulangannya.


I won't be silenced


Though you wanna see me tremble when you try it


All I know is I won't go speechless, speechless


'Cause I'll breathe


When they try to suffocate me


Don't you underestimate me


'Cause I know that I won't go speechless


All I know is I won't go speechless, speechless


"Yeay..." Ucap ketiga anak itu sambil memberikan tepuk tangan meriah untuk Dea, membuat gadis itu tersenyum lebar dengan ekspresi setengah malu-malunya sambil menggaruk tengkuknya yang tak gatal.


"Siapa sangka gadis galak sepertimu bisa bernyanyi semerdu itu." Puji Megan mengejutkan Dea.


"Selamat datang tuan muda," tutur Fino menyambut kedatangan Megan, tapi pria itu malah mengabaikannya dan segera merebut gitar dipangkuan Dea. Lalu mengambil tempat duduk kosong di dekat Fino.


xxx