Dea & Kinan

Dea & Kinan
34. Rona merah diwajah Kinan



Hari ini aku sudah menyelesaikan pesanan gambar para klienku. Jadi aku menggunakan waktu luangku untuk bermalas-malasan seperti biasanya.


Berbaring diatas sofa, menyalakan komputer dan memutar musik dengan volume sedang. Lalu bermain game di heandphoneku sambil sesekali meraih kripik yang tersimpan diatas meja.


"Benar-benar hari yang damai" Gumamku begitu menikmati hari bersantaiku, "Tapi sudah jam segini ko mereka belum pulang juga ya?" Lanjutku sambil melihat kearah jam dinding yang sudah menunjukan pukul dua siang.


Tak lama kemudian aku mendengar suara mobil yang memasuki halaman rumah Akira.


'Baru juga diomongin udah pada datang aja.' Batinku saat mendengar suara Dea dan Megan di luar rumah, mereka sedang memperdebatkan sesuatu yang tidak penting. Seperti cara mengemudi Megan yang katanya sangat nekat dan.., entahlah aku tidak terlalu memperdulikannya dan tidak terdengar dengan jelas juga.


"Aku pulang." Teriak Dea memasuki rumah dengan wajah kesalnya.


"Hee... habis ngedate sama Megan toh." Tuturku membuatnya mendelik kearahku.


"Ngedate? Sama tu orang? Yang benar saja ...." Ucapnya dengan ekspresi yang sulit ku gambarkan.


"Ya apalagi namanya kalau bukan ngedate. Kalian pergi berdua kan? Tanpa bilang dulu padaku, padahal aku pengen nitip big cola ...." Jelasku kembali fokus pada game diheandphoneku.


"Cuma mengantarnya. Dan lagi, kakak kan bisa menelponku atau mengirim pesan padaku, kenapa tidak melakukannya? Aku kan bisa saja membelikanmu big cola." Jelas Dea sambil menghempaskan dirinya pada sofa disebrangku.


"Iya ya, ko aku gak kepikiran." Ucapku saat menyadari ucapan Dea, "Aaa... kenapa aku tidak menyadarinya, kan aku bisa menelpon. Bodohnya aku." Lanjutku tampak kesal dengan ketelmianku.


"Ngomong-ngomong, apa tahun ini kita akan pergi lagi?" Tanya Dea setelah menghela nafas lelah.


"Pergi? Kemana?" Tanyaku sambil melirik kearahnya.


"Festival kembang api. Kemana lagi?" Jawab Dea.


"Ah, sudah saatnya ya ...." Gumamku, 'padahal tadi pagi aku sibuk mencari hadiah untuk Dea karena tau sekarang sudah masuk tanggal 29 desember. Tapi aku tidak ingat kalau besok lusa ada festival kembang api.' Lanjutku dalam hati.


***


Pukul 06:30 Pm, di kediaman Kinan.


Akira tampak murung menyantap makan malamnya, sedangkan Megan malah terlihat menyilaukan. Dia terus tersenyum mengeluarkan aura bahagianya, membuat Kinan bertanya-tanya.


"Apa ada yang membuatmu bahagia Megan?" Tanya wanita itu memberanikan diri.


"Ku dengar akan ada festival akhir tahun dari Dea. Aku jadi sangat menantikannya." Jawab Megan begitu antusias.


"Jadi karena itu ...." Ucap Kinan kembali menyantap makanannya, 'auranya menyilaukan seperti itu.' Lanjutnya dalam hati.


"Aku selesai." Ucap Dea telihat buru-buru, setelah menyimpan piring kotor diwastafel, dia langsung melengos keluar dari dapur.


"Ada apa dengannya?" Tanya Megan yang juga merasa heran dengan tingkah gadis itu.


Tak lama kemudian Akira juga mengakhiri makan malamnya dan langsung mencuci piring bekas makannya tanpa berbicara sepatah katapun.


'Hah aku benar-benar benci situasi seperti ini.' Batin Kinan yang menyadari perubahan sikap pria itu.


"Pasti terjadi sesuatu kemarin." Guman Megan memperhatikan kakaknya sambil mengingat kejadian di taman hiburan, saat dia melihat Kiara berdiri dihadapan kakaknya.


Terdengar suara heandphone berdering memecahkan keheningan diruangan itu. Dengan cepat Akira mengangkatnya saat melihat nomor asing yang tertera di layar heandphonenya.


Kemudian pria itu melangkah pergi dari dapur, Megan pun mengusaikan makan malamnya dan ikut pergi setelah berterima kasih pada Kinan.


Kinan pun langsung mencuci sisa piring kotor yang tersimpan di wastafel.


"Aura mereka benar-benar bertentangan ya." Gumam Kinan mengingat wajah murung Akira dan wajah Megan yang bersinar.


***


Di depan rumah Kinan.


"Hallo Akira ...." Suara seorang wanita membuat mata Akira membelalak terkejut, "ini aku Kiara." Lanjutnya membuat pria itu semakin rapuh.


"Aku ingin mengundangmu keacara penyambutanku besok, pukul tujuh malam ...." Jawab Kiara.


"Aku harap kau mau datang untuk memenuhi undanganku, kau boleh mengajak pacarmu juga. Aku ingin mengenalnya lebih dekat lagi dengannya, aku penasaran dengan gadis yang berhasil menaklukan hatimu itu." Lanjut Kiara penuh harap dan diakhiri dengan nada sedih diakhir kalimatnya.


"Kenapa aku harus menuruti kemauanmu?" Tanya Akira sambil mengepalkan tangan kirinya dengan kesal.


Kinan yang sejak tadi menguping di ambang pintu pun mulai melangkahkan kakinya mendekati Akira. Menepuk bahunya pelan membuat pria itu terperajat dan refleks mematikan sambungan telponnya.


"Kinan?" Tanyanya.


"Sikapmu hari ini benar-benar membuatku jengkel. Kenapa tidak terus terang padaku kalau kau sedang ada masalah?" Tutur Kinan sambil menggaruk kepala bagian belakangnya.


"He?" Guman Akira, "Kau mengkhawatirkanku? Ingin menghiburku?" Lanjutnya sambil memasang wajah polosnya membuat Kinan merasa kesal.


"Aku tidak ada niatan untuk menghibur orang sepertimu!" Bentak Kinan sambil berkacak pinggang dan mendongakan wajah kesalnya.


"Bukan ya?" Guman Akira merasa kecewa.


"Hentikan wajah bodohmu itu!" Bentaknya lagi membuat Akira bertemu tatap dengan Kinan.


"Bo–bodoh?" Gumamnya mulai merasa kesal karena dikatai oleh wanita itu, lalu tiba-tiba saja pikiran jahilnya muncul, membuatnya tersenyum dingin kepada Kinan.


"A–apa?" Tanya Kinan merasa terancam ketika melihat raut wajah Akira yang sudah berubah.


"Ini pertama kalinya kau menghampiriku sendiri kan? Biasanya aku yang selalu mendatangimu. Apa itu artinya kau sudah mulai membuka dirimu?" Tanyanya sambil melangkah maju mendekati Kinan, memperpendek jarak diantara mereka. Tapi wanita berambut coklat itu terus mengambil langkah mundur setiap kali Akira melangkah maju. Sampai akhirnya tubuhnya terhenti saat mendapati tembok di belakangnya.


"Berhenti di situ!" Ucap Kinan berkeringat dingin saat Akira semakin mendekat, menatapnya dengan serius penuh intimidasi, dan niatan tersembunyi.


Kinan yang merasa heran dengan sikap Akira yang terbilang labil pun mulai merasakan tenggorokannya kering, membuatnya kesulitan menelan ludahnya.


Lalu tiba-tiba Akira menaruh tangan kanannya pada tembok dibelakang Kinan, memperpendek jarak pandang mereka dengan wajah yang semakin mendekati wajah Kinan. membuat gadis itu harus menahan nafasnya untuk beberapa saat.


"Kalau sudah begini, aku harus memaksamu untuk meminjamkan Dea padaku." Tuturnya membuat Kinan mematung, padahal sebelumnya dia merasa gemetar ketika melihat wajah Akira yang semakin mendekati wajahnya.


"Menjauh dariku bodoh!" Bentak Kinan sambil memukul kepala Akira tanpa ampun, membuat pria itu memekik kesakitan.


"Kenapa memukul kepalaku?" Tanya Akira yang sudah menjauhkan dirinya dari wanita yang sudah memukul kepalanya.


"Salah sendiri!" Jawab Kinan sambil memalingkan wajahnya, menyembunyikan rona merah yang tampak samar dikegelapan malam.


'Apa yang dia lakukan? Jantungku rasanya mau copot, untuk beberapa saat aku sampai lupa untuk bernafas. Padahal tatapan mengintimidasinya sempat membuatku ketakutan, tapi saat wajahnya semakin mendekat ... rasanya, ah sesak sekali. Pria bodoh itu benar-benar tak bisa ditebak.' Lanjutnya menggerutu kesal dalam hati sambil memegangi dadanya yang berdegup kencang.


"Pinjamkan Dea padaku!" Ucap Akira menyadarkan Kinan.


"Ha?" Tanya Kinan masih memegangi dadanya sambil melirik kesal kearah Akira.


"Besok aku akan menghadiri undangan mantanku, dia sudah terlanjur menyangka Dea sebagai pacarku. dan ingin aku membawanya keacara penyambutannya. Jadi ...." Jelas Akira semakin mengecilkan suaranya.


"Apa?" Teriak Kinan merasa kesal dengan ucapan pria itu, "berani-beraninya kau mengaku-ngaku sebagai pacar Dea. Benar-benar cari mati ya? Kenapa tidak menolak undangan darinya saja? Dia kan mantanmu!" Lanjutnya semakin lepas kendali.


"Aku sudah menolaknya, tapi ... aku ingin membuatnya mengerti kalau aku sudah bahagia bersama orang lain. Aku tidak ingin membiarkannya masuk kedalam hidupku lagi." Jelas Akira membuat Kinan menatap malas kearahnya.


'Jadi itu masalahmu?' Batin Kinan saat mengingat wajah Akira yang terlihat menyedihkan saat makan malam tadi.


"Bagaimana kau bisa bahagia dengan orang yang kau anggap sebagai pacar pura-puramu? Dia juga pasti akan tau kalau kau berbohong, wajahmu itu mudah dibaca. Dasar bodoh!" Tutur Kinan membuat Akira tersentak. Bagaimanapun juga ucapan Kinan itu memang benar. Dia hanya berusaha untuk berpura-pura bahagia didepan orang lain.


"Dan lagi, mending jangan libatkan Dea dalam urusan kalian. Cari yang lain saja ...." Lanjutnya sambil melangkah kearah pintu rumahnya setelah menatap tajam kearah Akira. dan mengingat adiknya yang mudah terbawa perasaan.


"Kakak sayang adik ya ...." Gumam Akira sambil memasang senyum kakunya kearah Kinan.


xxx