
"Apa ?!" Teriak Dea langsung bangkit dari posisi terbaringnya, "Si-siapa perempuan ini ? Kenapa dia nempel-nempel pada Megan ?" Lanjutnya memperhatikan sebuah foto yang di posting oleh tetangganya itu.
"Dia !" Ucapnya merasa kesal pada sosok Megan yang mulai dekat dengan beberapa perempuan lain sejak dirinya patah hati.
"Aku tidak suka ini !!" Teriaknya lagi membuat Kinan geram dan membalas teriakan adiknya dari lantai bawah.
"Berisik ! Udah malam juga" Teriak Kinan membuat Dea bungkam.
'Tapi aku benar-benar...' Batin Dea sambil meremas baju di bagian dada sebelah kirinya dan kembali membaringkan tubuhnya.
***
Di kamar Kinan. Wanita itu masih sibuk dengan pekerjaannya, tak ada tanda-tanda dia akan tidur malam ini. Selain itu dia juga membuka kaca jendelanya selebar mungkin. Membiarkan udara dingin malam ini memasuki kamarnya dengan bebas, bahkan nyamuk pun ikut berkunjung untuk menemaninya agar tetap terjaga.
"Sudah pukul sepuluh. Suaranya sudah tak terdengar lagi, mungkin Dea sudah tidur..." Gumam Kinan mengingat saat dirinya berteriak keras di bawah anak tangga. Dan kembali ke kamarnya dengan cepat.
"Ah lelahnya..." Lanjutnya sambil meregangkan tubuhnya dan segera meraih cangkir teh yang sudah dingin.
"Hee... lagi-lagi begadang" Suara seseorang membuat Kinan segera melihat kearah jendela kamarnya yang terbuka. Dan di dapatinya Akira disana, menyeringai hambar dengan tatapan bingungnya.
Kinan yang melihatnya tak berniat menanyakan eskpresi aneh yang dibuat oleh pria itu. Karena dia juga tidak begitu memperdulikannya, mungkin karena sedang banyak masalah dan tak ingin terlibat lebih jauh lagi dengan pria itu.
"Pulang sana !" Ucap Kinan kembali melanjutkan aktivitas menggambarnya.
"Dengar !" Ucapnya membuat Kinan kembali melirik kearah Akira yang tidak memperdulikan ucapannya.
"Aku sudah lama ingin menanyakan sesuatu padamu. Boleh aku menanyakannya sekarang ?" Lanjutnya sambil melirik kearah sebuah lukisan yang tersimpan disudut ruangan kamar Kinan.
"Telingamu bermasalah ya ? Ku bilang pulang !" Ucapnya ketus.
"Lukisan itu. Kau mendapatkannya dari mana ? Apa kau yang membuatnya ?" Tanya Akira tak mendengarkan perkataan Kinan yang membuat wanita itu mulai kehabisan kesabaran.
"Aku mendapatkannya dari seseorang. Cepat pulang sana !" Teriak Kinan sambil menggebrak mejanya, membuat beberapa pensil dan kertas berjatuhan dari tempatnya.
"Sebenarnya aku ingin meminta saran darimu, tapi sepertinya suasana hatimu sedang tidak baik ya..." Gumam Akira sambil menggaruk tengkuknya, "Kalau begitu aku pergi deh" Lanjutnya sambil berlalu dari tempatnya.
'Kenapa dia selalu mengangguku ? Membuatku sakit kepala saja' Batin Kinan sambil memijat dahinya yang mulai berdenyut.
***
Malam sudah berlalu dan hari ini Dea pergi bersama Megan seperti biasanya. Dan Akira, aku tak sengaja melihat seorang perempuan yang menjemputnya dengan mobil pribadinya.
Perempuan yang ku kenali, mantannya Akira. Pada akhinya pria itu mulai membuka hatinya lagi untuk mantan tercintanya, begitulah pikirku saat melihat mobil pribadi Akira masih terparkir di halaman rumahnya.
Ibu juga baru saja menelponku dan memberitauku kalau Bayu akan berkunjung ke rumah untuk menjemputku.
"Masalah baru lagi..." Gumamku sambil menghempaskan tubuhku keatas sofa diruang tengah. Menyenderkan punggungku pada kepala sofa dan bermalas-malasan disana. Memikirkan semua masalah yang menghampiriku secara bertubi-tubi.
'Jika aku menolak perjodohannya maka lahan itu tidak akan bisa ditebus. Ayah dan Ibu juga tidak memiliki uang sebanyak itu untuk membantu kakek. Dan berita soal sandiwara pertunanganku dan Akira akan tersebar luas, reputasi keluargaku akan semakin hancur nantinya. Bagaimana perasaan Dea saat dia mengetahui semuanya ? Paman juga menghilang begitu saja...' Batinku memikirkan semua yang ada dikepalaku, 'Apa yang harus ku lakukan ?' Lanjutku sambil menguap dan menutup mulutku dengan tangan kananku.
"Kalau begitu, aku harus mengikuti permainannya kan ? Lalu mencari celah untuk menghapus semua bukti itu. Aku juga tidak bisa membiarkannya tersebar, bagaimana dengan nasib keluarganya Akira jika berita itu sampai tersebar luas. Reputasi mereka pasti akan hancur, dan yang paling merasa bersalah adalah Akira. Lagipula semua ini terjadi karena ulahku, jadi aku harus bertanggung jawab. Seperti yang dikatakan oleh Akira..." Tuturku berusaha meyakinkan diriku sendiri setelah memikirkan rencana yang terlintas dikepalaku.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu yang diketuk dari luar. Dengan malasnya ku langkahkan kaki ku menuju pintu dan segera meraih knop pintu itu setelah mengenakan sepatu vans kesukaanku.
Ku dapati Bayu yang sudah tersenyum lebar di depan pintu rumahku, membuatku harus menghela nafas berat berkali-kali.
"Jadi akhirnya kau mau menerima perjodohan itu ya ?" Gumam Bayu mengikuti langkahku.
'Aku harus menghubungi Dea kalau hari ini aku akan pergi kerumah ibu. untungnya dia selalu bawa kunci duplikat' Batinku sambil mengetik pesan untuk Dea sebelum masuk kedalam mobilnya.
***
Akira sedang sibuk menelpon seseorang dan menjauhkan dirinya dari Kiara. Tak lama kemudian dia mengakhiri panggilannya dan kembali menemui wanita itu.
"Siapa ?" Tanyanya membuat Akira mendelik.
"Klienku" Jawabnya, "Aku sudah mengosongkan jadwalku hari ini karenamu, jadi cepat kita pergi. Aku tidak suka membuang-buang waktu..." Lanjutnya sambil masuk ke dalam mobilnya.
"Baiklah, ayo pergi" Ucap Kiara begitu bersemangat dan segera masuk kedalam mobil, duduk disebelah Akira. Membiarkan pria itu mengemudikan mobilnya.
"Aku ingin pergi ke taman dulu, ayo pergi kesana" Tutur Kiara sambil memandangi wajah Akira yang sedang serius mengemudi.
"Hey hey, hari ini aku benar-benar bahagia. Terima kasih karena sudah bersedia menemaniku jalan-jalan..." Lanjutnya berusaha mencari topik pembicaraan namun Akira tak memperdulikannya.
"Soal lukisanku itu. apa kau masih menyimpannya ?" Tanya Kiara membuat pria itu melirik kearahnya.
"Mau ku lukiskan lagi untukmu ? lukisanku sudah lebih bagus sekarang, kau pasti akan menyukainya..." Lanjutnya masih mengoceh.
"Sebenarnya aku sudah membuangnya" Ucap Akira membuatnya bungkam, 'Aku menghilangkannya...' Lanjut Akira dalam hati, membenarkan ucapannya.
"He ? kenapa ? itukan sangat cantik. Kau bahkan merengek padaku minta dilukiskan sebuah pemandangan bagus disekitar rumahmu. kenapa malah membuangnya ?" Tanya Kiara merasa kesal dengan wajah yang dibuat sok imut.
***
Jam istirahat di sekolah Dea.
"Ha ?" Ucap Dea yang sedang duduk di bangku kantin sekolah, membuat Fani terkejut.
"Apaan sih loe ? bikin gue jantungan aja" Tanya Fani sambil mengelus dadanya.
"Kakak gue..." Jawab Dea terlihat sedih, "Dia bilang mau ke rumah ibu dulu. Masa gue ditinggal sendirian sih dirumah ?" Lanjutnya sambil merengek memeluk tubuh Fani yang sudah duduk disampingnya.
"Loe ini ya, kirain gue beneran dewasa, baru aja ditinggal sehari langsung gila seperti ini. di depan kakak loe, loe bisa sangat dewasa. dibelakang malah bertingkah kek bocah gini" Gumam Fani langsung mendapat cubitan kesal dari Dea.
"Aw !" Pekiknya menahan sakit.
"Bener kan ? gue ngomong apa adanya, udah sih ntar sore juga pulang lagi..." Jelas Fani saat melihat mata berkaca-kaca Dea.
"Tapi ini pertama kalinya dia mau berkunjung ke rumah ibu dikampung, dan itupun tanpa gue..." Jelas Dea masih dengan mata berkaca-kacanya membuat Fani mendelik kesal.
"Udah saatnya kan kakak loe pergi sendiri tanpa loe. Loe yang bilang supaya dia gak bergantung sama loe terus. Pikun loe ya ?" Tutur Fani setelah menghela nafas berat.
xxx
Yah mereka terjebak permainan Bayu dan Kiara 🥺 yah...
Hari ini sampai sini dulu ya, besok kita lanjut lagi. aku mau menyelesaikan hutangku (gambar Akira & Megan 😁) dulu.
Bye-bye 👋😊