
Waktu sudah menunjukan pukul 10:00 Am, Dea sedang asik sendiri di dalam kamarnya dan Kinan sedang bermalas-malasan di depan komputernya.
"Rasanya sudah lama tidak merasakan kedamaian seperti ini..." Gumamnya sambil memainkan kursi putar yang di dudukinya.
Tak lama kemudian terdengar suara dering heandphone di dapam kamarnya, dengan cepat wanita itu segera mengambil heandphonenya di dalam kamarnya.
"Ibu ?" Gumamnya saat mendapati nomor ibunya tertera dilayar henadphonenya, Dengan cepat dia mengangkat panggilan dari ibunya itu.
"Hallo nak..." Terdengar suara yang begitu lembut menyapa telinga Kinan, raanya sudah lama dia tidak mendengar suara lembut sang ibu. Apalagi saat orang tuanya mendesak dirinya untuk menerima perjodohan dengan Bayu, Kinan sudah tak pernah menghubungi keluarganya lagi. Bukan tanpa alasan, hanya saja dia ingin fokus dengan tujuannya agar bisa terlepas dari perjodohan yang tidak dia inginkan itu.
"Hallo bu, apa kabar ? Ibu baik-baik saja kan ? Bagaimana dengan ayah dan kakek ?" Jawab Kinan sambil menutup pintu kamarnya dan segera duduk di atas tempat tidurnya sambil melihat pemandangan diluar jendela kamarnya. Senyuman yang terukir pun mulai mengembang dan senandungan kecil mulai keluar dari mulutnya.
"Ibu baik-baik saja, ayah dan kakek juga. Sebenarnya ada hal yang harus ibu bicarakan denganmu, maaf sudah menelponmu pagi-pagi begini..." Jelasnya membuat senyuman diwajah Kinan luntur.
"Hal apa bu ?" Tanyanya mulai khawatir.
"Soal perjodohanmu dengan Bayu..." Jelas bu.Hanum membuat wanita itu menghela nafas lelah.
"Ku kira masalah apa bu. Ternyata soal Bayu..." Gumam Kinan meregangkan bahunya yang sempat menegang.
"Sebenarnya..." Jelas bu.Hanum membuat Kinan segera memasang telinganya dengan baik.
Disisi lain, Dea segera berlari keluar dari kamarnya dan menuruni anak tangga dengan terburu-buru saat mendengar suara pintu yang diketuk berulang kali dari luar.
"Iya tunggu !" Teriak Dea sebelum sampai di depan pintu, 'Gak sabaran banget sih !" Lanjutnya menggerutu dalam hati.
Lalu tangannya segera meraih knop pintu dan membuka pintu rumahnya selebar mungkin. Didapatinya sosok Bayu yang sudah berdiri di hadapannya sambil memasang senyuman terbaiknya.
"Wah belanjaanku..." Ucap Dea saat melihat semua belanjaan yang tersimpan di depan pintu rumahnya, "Terima kasih ya, ini uangnya..." Lanjutnya sambil mengasongkan uang ketangan Bayu.
"Si-simpan saja..." Tolak Bayu merasa tidak enak.
"Gak apa-apa, bawa aja. Gue gak mau berhutang sama siapapun" Jelas Dea membuat Bayu tersentak saat mendengar gadis itu berbicara menggunakan bahasa gaul.
"Gue ?" Gumamnya terdengar ke telinga Dea.
"Ah ya, loe boleh pergi sekarang. Sekali lagi terima kasih ya..." Tutur Dea sambil membawa semua belanjaannya masuk ke dalam rumahnya.
"Tunggu !" Ucap Bayu sebelum pintu rumah itu tertutup.
"Ha ?" Tanya Dea yang sudah memasang ekspresi kesalnya karena pria itu tak kunjung pergi dari hadapannya.
"Apa tidak sebaiknya mempersilahkan saya masuk dulu ?" Tanyanya sambil berusaha memasang senyuman ramahnya.
"Tidak perlu, gue sibuk ! Dan soal pagi tadi maaf ya, kak.Kinan lagi gak ada di rumah jadi mending loe pergi aja..." Jelas Dea membuat senyuman pria itu luntur, "Ah satu lagi, jangan pernah gangguin kakak gue lagi ! Ngerti loe ?!" Lanjutnya menatapnya penuh ancaman.
'Jadi dia ini putri keduanya pak.Arya dan bu.Hanum ya, tak ku sangka bisa bertemu dengannya disini. Dan lagi... aku tidak bisa membedakan mereka, tapi jika diperhatikan lagi...' Batin Bayu merasa dibodohi.
Dea pun segera pergi ke dapur dan membereskan belanjaannya lalu berjalan lagi kearah ruang tengah untuk memasukan belanjaannya kedalam kulkas, menatanya dengan rapi.
Kemudian suara pintu kamar yang terbuka membuat Dea terkejut dan refleks melihat kearah kakak nya berdiri di ambang pintu sekarang.
"Belanjaannya sudah datang ya ?" Tanya Kinan.
"Ya, jangan membuatku terkejut !" Jawab Dea kembali menata belanjaannya dengan fokus.
Sedangkan Kinan, wanita itu segera berjalan kearah pintu keluar. Dan segera membuka pintu rumahnya, dengan cepat menghentikan langkah Bayu yang hampir keluar dari halaman rumahnya.
"Kinan" Gumamnya merasa terkejut, "A-adikmu bilang kau tidak ada dirumah, kenapa kau ?" Lanjutnya merasa bingung.
"Untuk kedepannya tolong jangan pernah menemuiku lagi" Ucapnya tanpa basa-basi sambil memberikan tatapan tajam kearah pria itu.
"Apa maksudmu ?" Tanya Bayu membalas tatapan tajam Kinan.
"Perjodohan kita sudah dibatalkan !" Jawab Kinan membuatnya kembali terkejut.
"Dibatalkan ? Bagaimana bisa ? Itu pasti tidak mungkin, jangan membohongiku ya !" Tutur Bayu merasa tak terima dengan apa yang dikatakan oleh Kinan dan segera meraih bahu gadis itu, mencengkramnya dengan amat kuat.
Dengan cepat Kinan melepaskan tangan Bayu dari bahunya dan segera memutar rekaman suara ibunya dan dirinya yang sedang berbicara melalui telpon beberapa menit yang lalu.
"Tuan Wira dan Nyonya Karina sudah membatu keluarga kita, mereka sudah berbicara langsung kepada tuan Darma untuk membatalkan perjodohan kalian. Dan lahan pertanian juga sudah ditebus dengan bantuan keluarga Wira. Jadi kamu tidak perlu memaksakan diri untuk mengakrabkan diri dengan Bayu lagi, jalani hidupmu dengan bebas nak..." Suara bu.Hanum membuat Bayu tak berkutik saking terkejutnya.
"Ba-bagaimana bisa keluarga Wira ikut campur tangan dalam hal ini ?" Gumamnya merasa tak percaya.
"Sudah paham ? Untuk sekarang dan kedepannya kita sudah tak memiliki ikatan apapun, perjodohannya sudah dibatalkan. Jadi jangan pernah menemuiku lagi..." Jelas Kinan sambil berjalan menuju rumahnya meninggalkan Bayu seorang diri berdiri lesu dihalaman rumahnya.
Kemudian ada seringai jahat yang terpancar dari wajah pria itu. Memperhatikan punggung Kinan yang berjalan santai menuju rumahnya, tak lama kemudian dia pun ikut melangkahkan kakinya. Berjalan mengikuti langkah Kinan.
'Aku tidak akan membiarkanmu lepas, bagaimanapun caranya...' Batin Bayu sambil mempercepat langkahnya.
Dan saat jaraknya semakin mendekat, tanpa ragu pria itu langsung memukul tengkuk Kinan dengan tangan kanannya sebelum sempat melirik kearahnya.
Tubuh Kinan pun langsung terkulai lemah tak sadarkan diri dalam pelukan Bayu, tanpa membuang-buang waktu pria itu langsung menggendong Kinan, membawanya pergi dari rumah itu secepat mungkin.
Disisi lain..
"Hoamz..." Ucap Fino menguap sambil meregangkan tubuhnya.
Sejak semalam dia ditugaskan untuk mengawasi kediaman Akira dan Kinan oleh Karina. itulah kenapa pria itu masih anteng berlama-lama duduk manis di dalam mobilnya, memainkan teropong pengintai ditangannya.
"Membosankan... tidak ada hal yang-" Gumamnya sambil melirik kekanan dan kekiri, lalu ucapannya terhenti saat melihat seorang pria mencurigakan menggendong seorang wanita tak sadarkan diri dipelukannya. Gerak-geriknya juga membuat Fino semakin curiga padanya.
"Dia kan pria yang di taman bersama nona Kinan ? Siapa wanita itu ?" Lanjutnya bertanya-tanya, lalu segera mendekatkan teropong pengintai itu kematanya.
"Itu kan ?" Ucapnya sangat terkejut saat melihat wajah Kinan yang tak sadarkan diri sudah di masukan kedalam mobil pria itu, dan tak lama kemudian mobil itupun melaju dengan cepat melewati mobil Fino.
'Gak bisa dibiarin nih !' Batinnya memiliki firasat buruk, dengan cepat Fino memutar mobilnya dan mengejar mobil Bayu dengan kecepatan penuh.
***
"Kak !" Teriak Dea tak mendapatkan respon apapun, mendadak seluruh ruangan dirumah itu menjadi sunyi.
"Kemana dia ? Tadi kan baru keluar dari kamar ? Apa jalan-jalan keluar lagi ya ?" Lanjutnya sambil mengecek halaman rumahnya, berharap bisa menemukan kakaknya.
"Gak ada..." Gumamnya lagi mulai khawatir, "Itu kan ?" Lanjutnya segera berlari kearah sebuah heandphone yang tergeletak di tanah.
"Heandphone kakak ?!" Ucapnya sambil meraih heandphone itu, dan melihat kesekitar rumahnya.
'Kenapa ini ? kenapa perasaanku mendadak tidak enak begini, dan lagi... kenapa kakak meninggalkan heandphonenya disini begitu saja ? kemana dia pergi ? kenapa tidak bilang dulu padaku ?' Batin Dea bertanya-tanya sambil memasang ekspresi cemasnya memperhatikan heandphone ditangannya.
xxx