The Exorcist

The Exorcist
Masih berlanjut



"Teknik Senjaya terkutuk ....."


"Aaa..! Masaru jangan dulu di pake aku belum membidiknya dengan benar" teriak Ayumi yang mengingatkan Masaru namu sayang sudah terlanjur kepake.


"Ilusi aroma kikyo!" wuss... Kabut pun mulai menyelimutkan seluruh paskiran, membuat pengelihatan Ayumi dan si pria terhalang.


"Bagai mana ini" gumam Ayumi yang mulai berpikir, tak lama kemudian ia mendapatkan ide yang sangat beresiko sayangnya tidak ada pilihan lagi.


"Teknik senjata terkutuk! Air mata dewi matahari!" lalu Ayumi melepaskan satu anak panahnya ke atas.


Dan anak panah itu meledak menciptakan sebuah awan gelap, lalu dari dalam awan tersebut puluhan bola api mulai berjatuhan menghantam apapun yang ada di bawah kecuali Ayumi yang aman karena bola api itu tidak akan mengenainya


"Astaga" ucap Masaru yang terkejut dengan semua bola api yang mulai berjatuhan.


"Gawa aku harus segera menyelesaikan ini" lanjut Masaru kemudian ia memasang kuda-kuda dan melesat cepat.


Beberapa saat kemudian Kabut mulai menghilang itu berarti lawan mereka berhasil di kalahkan, Ayumi juga mulai menghentikan penggunaan tekniknya. Setelah suasana bersih dari Kabut ayumi melihat Masaru dengan wajah yang gosong, rambut berantakan dan sedikit robekan pada bajunya


"Masaru! Masaru!!! "Teriak Ayumi yang terus mengguncang Masaru karena ia seperti tidak sadarkan diri.


"Hahaha..... Untuk sesaat aku menyesal bersamanya... Tapi penyesalan itu sudah hilang" batin dan dirinya terlihat pasrah terus di guncang-guncang oleh Ayumi.


Sama seperti sebelumnya jiwa pria yang ini juga kembali pada jiro lebih tepatnya masuk kedalam cincinnya.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Aku tidak melihatnya di mana-mana" gumam tadeo yang berjalan di sebuah terowongan kereta api.


Keadaan yang gelap tak mampuh merubah wajah tadeo sedikit pun bahkan tiba-tiba saja serangan datang dari orang yang sedang di carinya, dengan mudah tadeo menangkap leher pria itu kemudian berkata padanya.


"Paman. Maaf, tapi aku harus membunuhmu" ujar tadeo kemudian meremas leher pria itu sampai putus, setelah selesai ia berjalan kembali untuk pulang.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Nak ... Gadis seperti mu sangat tidak cocok membawa senjata seperti itu" ujar pria itu pada yuzuru.


"Idih. Suka-sukalah, siapa juga yang butuh pendapatmu. Catur bet jadi orang" jawab yuzuru, karena kesal terus di ceramahi membuat ia merasa kesal.


Dan untuk menutup mulumya, yuzuru mulai menyerang dengan pedang lenturnya, pedang yuzuru berhasil mengikat leher pria itu. Lalu menariknya dengan cepat.


Saat itu juga yuzuru melancarkan serangan keduanya tapi sayangmya untuk kali ini serangannya berhasil di hindari, meski tanggung tapi yuzuru tetap membelokkan serangannya dan tidak di duga serangan itu berhasil memenggal kepala pria itu.


"Kau tau mulut mu itu lebih lemes dari seorang perempuan" ujar yuzuru yang masih terlihat kesal tapi meski sudah hampir menghilang pria itu tetap menceramahi yuzuru.


Merasa jengkel mendengarnya membuat yuzuru dengan nafsu menendang kepala si pria lalu terlempar jauh kedalam gudang.


"Lebih baik aku pulang dari pada harus di suruh membersihkan kamar mandi" gumam yuzuru lalu berjalan kembali.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Ya ampun. Kenapa aku harus kebagian tempat seperti ini?" gumam Mitsuhiro yang berjalan di antara wanita-wanita cantik dan pria-pria.


Yah. Sekarang Mitsuhiro berada di rumah pelacur, selama berjalan masuk banyak tante-tante yang menggodanya meski untuk sesaat kepincut tapi Mitsuhiro masih bisa mengendalikan diri.


Sampai akhirnya ia tidak mengaja menabrak seorang pria karena takut akan marah, Mitsuhiro langsung meminta maaf berkali-kali sampai topinya jatuh.


"Maaf paman aku sedang mencari sesuatu...." jawab Mitsuhiro saat membungkuk mengambil topinya.


"Seragam itu?! Apa jangan-jangan ......" batin pria itu tapi iya dikejutkan dengan Mitsuhiro yang melesatkan belatinya dari bawah ke atas.


Namun si pria berhasil menghindari, hal ini membuat perhatian orang-orang tertuju pada mereka.


"Paman kau masih tidak mau jujur?" tanya Mitsuhiro kemudian kembali memakai topinya.


"Apa maksudmu bocah sialan?"


"Hawa keberadaanmu. Berbeda dengan manusia. Tunjukkan wujudmu sekarang atau aku habisi kau sekarang, toh nanti juga kau akan mati" jawab Mitsuhiro lalu menunjukkan pria itu dengan belatinya.


"Masih belum mengerti juga?" gumam Mitsuhiro kemudian melemparkan belatinya itu.


Dalam sekejap belati itu membelah dirinya menjadi puluhan, karena tidak ada pilihan lain pria itu akhirnya kembali ke wujudnya yaitu manusia setengah iblis dan langsung menangis.


Beberapa belati ada yang menancap di lengannya dan sisanya menancap di segala arah bahkan hampir mengenai seseorang. Baru saja akan berbicara tiba-tiba si pria dikejutkan dengan kemunculan Mitsuhiro yang ada di dekatnya.


bergegas dirinya menjauh saat itu Mitsuhiro berhasil mencabut satu belati yang tertancap di lengan kiri pria itu.


"Teknik senjata terkutuk! Hujan penghancur! " sesaat kemudian belati yang menancap pada lengan pria itu mulai mengeluarkan aura di susul dengan belati yang lain.


Dan tiba-tiba saja semua belati yang tertancap secara acak itu mulai berterbangan menghujani-nya sampai akhirnya tubuh pria itu hancur berantakan.


"Maaf sudah membuat kacau, dan tidak perlu di bereskan dia akan menghilang dengan sendirinya kok" ujar Mitsuhiro pada semua orang kemudian pergi.


Syukurnya saat datang Mitsuhiro memakai seragam lengkap membuat tidak ada yang berani melarangnya melakukan semua keributan itu.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Marika yang terlihat terus melancarkan serangan meski pria yang di lawannya terus menghindar.


"Meski mengunakan sabit yang ukurannya melebihi tubuhnya sendiri, tapi gadis serangannya benar-benar tidak dapat di tebak" batin pria itu yang tidak memilih cepat untuk membalas kecuali terus menghindar.


"Teknik senjata terkutuk! Jubah shikigami!" gumam Marika kemudian jubah bertudung mulai muncul menyelimuti seluruh tubuhnya, dan mata pisau pada sabit itu menjadi agak besar.


Dalam hitungan detik teknik ini mulai menyembunyikan Marika dari pengelihatan lawannya, dengan begitu ia dapat menyerang secara diam-diam. Pria itu mulai waspada dengan teknik ini karena Marika bisa muncul dimana saja.


"Di mana dia? ...... Hah?! Di belakang!" gumamnya kemudian menyadari keberadaan Marika, bergegas iya berbalik manun itu terlambat lehernya terlebih dahulu ditenas Marika.


"Aku selesai! Saat lihat siapa yang harus membersihkan kamar mandi. Ku harap bukan aku" gumam Marika sambil berjalan pergi.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Kau tipikal orang yang gampang terpancing emosi rupanya" ujar si pria yang duduk di ujung beton penopang jembatan.


"Diam kau. Jangan sok mengenal orang" jawab matsuya.


"Benarkah? Kau tau dalam pertarungan emosi yang berlebih tidak baik. Karena itu akan membawamu pada kekalahan" entah bagai mana tapi pria itu tiba-tiba berada di belakang matsuya.


Bergegas ia mengayunkan pedangnya namun meski kena itu bukan yang asli karena itu hanya sebuah ilusi, sesaat setelah matsuya menebas ilusi tersebut pria itu kembali muncul berdiri didealah kiri dengan jarak yang aman dari serangan matsuya.


"Jangan membodohi diri sendiri, kau juga tau terlalu larut dalam emosi hanya akan menghancurkan diri sendiri. Sekarang dari ku mungkin kau sudah mendengar nasehat seperti ini dari sahabat yang mengkhawatirkan mu"


"Kenapa? Kenapa kau malah mirip dengannya?" teriak matsuya yang terlihat sangat kesal.


"Teknik senjata terkutuk! Tebasan gelombang bulan sabit!" lanjutnya kemudian melesat kearah pria itu namun matsuya tidak langsung melepaskan tekniknya karena ia tau yang ada di depannya hanyalah ilusi.


Bergegas ia berbalik kebelakang kemudian melepaskan tebasan bulan sabitnya, tidak di sangka hal ini berhasil menebas leher si pria yang asli.


"Jika saja kau dapat mengontrol emosi maka akan menemukan potensimu" saran si pria di saat-saat terakhir sebelum menghilang.


"Aku benci semua orang, bahkan aku benci hidup ku sendiri" gumam matsuya kemudian berjalan pergi.