The Exorcist

The Exorcist
Hilangnya dua bidak catur



Setelah menyadari kalau tengoku berbeda dari pedang pada umumnya membuat leader dan adiram harus sangat berhati-hati karena jika terkan luka yang mereka dapatkan tidak bisa sembuh, gampangnya kemampuan regenerasi mereka berhenti dan juga rasa sakit yang ditimbulkan berbeda.


Orang-orang langsung berlarian saat mereka kembali saling baku hantam karena banyak serangan nyasar dari pertarungan ini, walau mendominasi tapi tetap saja kapten Hideaki mendapatkan luka namun bukan luka parah cuman luka gores saja.


Jika saja adiram atau leader melawan kapten Hideaki seorang diri mungkin pertarungan ini tidak akan berjalan lama, meski begitu dua bangsawan terkutuk pun terlihat kesulitan saat akan menyerang karena kapten Hideaki terlalu lincah.


Dan juga yang menjadi masalah terbesar bagi mereka berdua adalah tengoku yang dapat menyebabkan luka permanen atau kemampuan regenerasi mereka tidak bekerja. Ketika pertarungan berlangsung jalan-jalan sekitar mulai di blokir oleh kepolisian.


Karena sedikit kehilangan fokus daru arah atas adiram menyerang syukurnya kapten hidaeki berhasil menghindar di saat-saat terakhir dan hanya jubahnya yang sedikit tergores.


Tidak memberikan kesempatan bagi kapten Hideaki untuk berkedip mereka berdua kembali menyerang, karena harus menahan dua serangan sekaligus membuat kapten Hideaki terhempas ke udara mengarah pada sebuah gedung.


Tapi kedua kakinya berhasil mengambil pijakan pada dinding gedung itu kemudian.


"Teknik penaklukkan! Arus sungai shizu!" ucap kapten Hideaki lalu mendorong dirinya kearah leader. Terlihat tengoku menyemburkan air sangat cepat.


Dan sing.... Serangan tersebut dengan mudah melewati leher leader. Dengan yang masih terkejut kepala leader kahienya jatuh ketahan begitu juga dengan tubuhnya.


"Apa?" ucap adiram yang tidak percaya leader bisa kalah tepat didepan matanya sendiri.


"Suda ku katakan, tengoku sudah pernah memenggal kepala iblis yang jauh lebih kuat dari kalian" sahut kapten Hideaki lalu membalikkan badannya ke ada adiram.


"Maaf saja tapi aku berbeda dari exorcist lain" lanjut kapten Hideaki.


Yah karena kapten Hideaki memiliki satu keistimewaan dirinya tidak menggunakan teknik senjata terkutuk atau pun teknik terkutuk melainkan menggunakan teknik penaklukkan.


Teknik ini tidak memiliki batasan maksudnya jika pengguna aliran ini memiliki imajinasi yang kuat mata teknik-teknik baru akan tercipta tapi untuk menyempurnakan teknik penaklukkan harus terus dilatih dan diatas sebaik mungkin.


Karena hal tersebut kapten Hideaki mempelajari semua teknik penaklukkan dari sebuah buku yang di tulis oleh leluhurnya dan hampir semua teknik yang ada didalam buku tersebut sudah dikuasinya dengan sangat baik.


Jadi dalam kata lain kapten Hideaki memiliki berbagai jenis kemampuan menyerang, dan bertahan. Ini membuatnya agar unggul dari lawan yang kuat.


anggap saja ini adalah teknik turunan khusus untuk menaklukkan  iblis.


"Jangan terlalu membanggakan diri, keadaan bisa saja berubah bukan?" jawab adiram lalu terlihat cambuknya mulai berubah warna dari hijau menjadi hitam pekat.


Beberapa saat kemudian pertarungan ini kembali di buka oleh adiram yang menyerang duluan, meski tidak kena tapi terlihat serangan dari cambuknya dapat membelah jalan juga sebuah mobil.


Jarak serangan jambut itu juga menjadi sangat panjang, membuat kapten Hideaki kesulitan saat akan mendekati adiram. Tak ada celah sama sekali bagi kapten Hideaki untuk bergerak mendekatnya, meski ia terus menerus bergerak mencari celah walau sekecil apapun tetap dicari.


Namun celah tersebut sama sekali tidak ketemu yang ada malah kapten Hideaki hampir saja terkena serangan.


"Tidak ada celah bagi ku untuk mendekat walau sedikit saja, padahal dari gerakan tangannya seharunya cambuk itu tidak mengarah pada ku. Apa jangan-jangan... Gawat!" batin kapten Hideaki saat memperhatikan adiram namun serangan datang padanya.


Serangan yang harusnya tidak kena malah ujung pecut itu berbelok dan berhasil kengikay kaki kanan kapten Hideaki.


"Ho. Tidak" gumamnya kemudi adiram mulai menghempaskan kapten Hideaki, dirinya membentur tembok gedung.


"Aaa.. Aduh. Duh. Pinggan ku" keluh kapten Hideaki setelah kembali berdiri.


"sepertinya bukan kau saja yang punya pikiran tapi cambuk itu juga" lanjut kapten Hideaki lalu melihat kearah cambuk yang di pengang adiram.


"Oh. Kau baru menyadarinya? Benar. Meski aku menyerang asal-asalan tetap saja cambuk ini akan mengejarmu" jelas adiram.


"Kedengarannya menarik" ucap kapten Hideaki dan kali ini dirinya yang menyerang duluan.


Sebelum adiram menggerakkan cambuk itu dengan cepat kapten Hideaki mendekat lalu melayangkan serangan tapi cambuk tersebut bergerak untuk menghalangi serangan dari kapten Hideaki.


Namun kapten Hideaki langsung menghentikan serangan dan bergegas kembali bergerak ketempat dimana cambuk itu akan memerlukan waktu untuk menghalangi serangan.


Dan kapten Hideaki berhasil memberikan luka tebasan yang cukup fatal dibagian punggung adiram. Bergegas kapten Hideaki langsung menjauh setelah melukai adiram.


"cih. Kau benar-benar menjengkelkan" ujar adiram dengan darah yang terus menerus dari luka tebasan tadi.


Saat akan memulai kembali pertarungan untuk menentukan siapa yang akan menang dan siapa yang akan kalah, tiba-tiba saja mereka berdua mendengar suara tangisan dan itu ternyata dari seorang anak kecil yang berjalan tanpa memperhatikan sekelilingnya sambil terus menangis memanggil-manggil ibunya.


Meminta adiram yang sedikit melirik kearah anak tersebut membuat kapten hideaki bergegas menyerangnya namun sernagan kali ini bukan untuk melukai melainkan hanya untuk menganggu fokus adiram agar kapten hideaki dapat membawa anak malang itu kembali pada ibunya.


"Anak manis ayo kita pergi" ujar kapten hidaki pada anak kecil itu namun anak tersebut malah takut dan tangisannya semakin menjadi-jadi.


"Hah!" tanpa berkata apapun lagi kapten Hideaki langsung menggendong anak itu untuk menghindari serangan dari adiram bersamanya.


Secepat mungkin kapten Hideaki berlari melewati setiap serangan yang datang kearahnya demi membawa anak tersebut kembali pada ibunya atau setidaknya ketempat yang aman lebih dulu.


Ketika berada dipangkuannya si anak terus menangis sambil mencoba turun dan itu membuat fokus kapten Hideaki terbagi dua. Lalu serangan muncul dari arah atas membuat kapten Hideaki terkejut beruntungnya ia berhasil menghindar namun ujung rambutnya sedikit terpotong oleh cambuk adiram.


Akhirnya kapten Hideaki sampai ditempat para polisi memblokade jalan, ia langsung memberikan anak itu pada salah satu polisi tanpa menjawab hormat mereka lebih dulu.


"Bawa dia ketempat yang aman" ujar kapten Hideaki lalu berbalik untuk menahan sernaga yang datang.


"Kau akan benar-benar ku taklukkan!" ujar kapten Hideaki kemudian melepas serung tangannya.


"Coba saja!" jawab adiram.


"Teknik penaklukkan! Tebasan pemenggal kepala!" lalu kedua tangan kapten Hideaki mulai menggenggam erat tengoku sementara adiram.


"Teknik darah iblis! Ketiada akhiran!" kemudian pecut adiram mengakurkan sura dan melesat cepat kearah kapten Hideaki yang jaraknga cukup jauh.


Pecut itu bergerak sangat cepat maju ke sana kemari seperti tidak memiliki batasan. Namun kapten Hideaki terlihat masih diam tak bergerak sedikit pun tapi saat sedikit lagi ujung pecut itu akan menembus kepalanya.


"Tidak mungkin!" adiram terlihat begitu terkejut melihat kapten Hideaki berhasil menghindar dari serangan pecutnya padahal pecut itu bergerak sangat cepat.


Dengan pedang yang meluapkan aura besar bahkan membentuk sebuah siluet kepala naga, kapten Hideaki bergerak mendekati adiram sambil menebas pecut itu yang terus mencoba menghentikannya dirinya sampai tidak bersisa lagi.


"Dengan ini berakhirlah sudah!" teriak kapten Hideaki lalu mengayunkan tengoku dengan sekuat tenaga.


Dan akhirnya leher adiram berhasil di tebas meski agak sulit saat menggerakkan tengoku.


Kapten Hideaki mulai menarik nafas lega lalu memasukkan tengoku kembali kedaam sarungnya, kemudian bergegas dirinya kembali untuk menemui anak-anak yang menunggunya di mobil.


.


.


.


.


.


.


"Ayolah. Cepat katakan!" ujar Yamato yang kesal karena ogaki terdiam begitu lama padahal iya akan memberitahu Yamato tentang apa yang menjadi pertanyaan selama ini.


"Huu~ baik aku ku mulai, azir, aku, dan......"