The Exorcist

The Exorcist
dimulainya pelatihan ekstrim



"Ayah mu Takigawa masaki adalah keturunan mahide, itu artinya kau juga adalah keturunannya" ujar ogaki lalu membuka penutup kepalanya.


Rambut putih bersih, kata biru tua, senyuman tipis itu adalah gambaran wajah ogaki.


"Kalau begitu siapa yang membunuh orang tua ku?" tanya Yamato.


"Dia... Yang membunuh ayah dan ibumu adalah lucifer, dia merencanakan pembunuhan ini karena mengetahui kalau kau adalah keturunan mahide, dengan kematian kedua orang tuamu maka akan memudahkannya dalam mendekatimu. dan dengan keistimewaan tubuhmu yang dapat menekan aura yang begitu besar dari azir. dia berencana menjadikanmu wadah bagi azir. Agar memudahkannya saat memindahkan kekuatan azir" jelas ogaki.


"Tapi sekarang rencananya sudah berantakan, dia tidak memperhitungkan pihak exorcist yang akan bertindak mengamankanmu setelah menjadi wadah azir" tambahnya.


Mendengar semua itu Yamato hanya bisa terdiam lalu tanpa berkata apapun lagi ia pergi tapi saat akan membuka pintu ogaki menghentikan Yamato dan berkata.


"Kau ingin membalas dendam? Melawan lucifer si fallen angel dengan kekuatan mu saat ini? Bahkan teknik gerhana matahari yang kau perlajari secara otodidak tidak akan cukup menggoresnya" Ujar ogaki.


"Lalu apa akh harus tetap diam saja setelah tau siapa yang membunuh orang tua ku? Dan membuat ku menderita bertahun-tahun" jawab Yamato dengan nada tinggi.


Mendengar jawaban tersebut membuat ogaki hanya bisa terdiam sesaat kemudian dia menjawab perkataan yang barusan di katakan Yamato.


"Hampir mustahil untuk membunuh lucifer namun itu tetap bisa dilakukan, apa kau bisa mendekat?"


Yamato pun mengikuti permintaan ogaki untuk mendekat, saat mereka duduk saling berhadapan ogaki langsung mencekik Yamato cukup kuat sampai membuat Yamato kesulitan bernafas.


Sesaat kemudian senjata mihasira no uzu no mikoto muncul menodong ogaki, melihat ketiga senjata itu membuat ogaki langsung melepaskan tangannya dan ketiga senjata itu pun menghilang.


"Kenapa kau melakukannya?" tanya Yamato.


"Sudah kuduga, ketiga senjata itu sudah kembali terikat denganmu." gumam ogaki.


"Barusan adalah senjata warisan dari mahide untukmu, saat kau masih belum bisa membangkitkannya dan setelah azir berada didalam dirimu. ketiga senjata itu dikuasi azir tapi setelah azir mengendalikan mereka, tetap saja kau adalah tuan asli mereka namun mereka tidak bisa selalu muncul saat kau dalam bahaya karena azir, kini mereka sudah terlepas dari azir dan kembali pada mu. Sekarang kau hanya tinggal belajar mengendalikan mereka saja" jelas ogaki.


"Lalu bagai mana caranya?" tanya Yamato.


Namun ogaki hanya tersenyum mendengar pertanyaan dari Yamato.


.


.


.


.


.


.


.


"Kau benar-benar menjengkelkan" ujar belial yang berjalan keluar gerbang rumah jiro, terlihat ia mulai menghancurkan cincin pemberian lucifer.


Sementara nasib jiro sedang beruntung karena belial tidak membunuhnya ia hanya menghapus semua ingatan jiro tentang semua yang sudah terjadi.


"Siapa dia?" gumam belial yang sesaat menyipitkan kedua matanya.


"oh.. Astaga! Kau benar-benar mengacaukan rencanaku" sahut lucifer yang muncul di belakang.


"Huuu~~ di mana Levi? Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu" tanya belial yang menanyakan tentang leviethan.


"Jika aku tidak ingin menjawabnya kau akan melakukan apa?" jawab lucifer dan itu membuat belial merasa jengkel.


"kau ingin bermain dengan ku? baik kemarilah" ujar belial dengan telapak tangan yang terus meneteskan darah segar.


Situasi dianatar mereka berdua semakin memanas namun akhirnya leviethan datang untuk menenangkan mereka berdua.


"Sudah. Sudah. Nah belial kakak ku tersayang jangan berkelahi ingat sekampretnya lucifer dia tetap kakak kita" ujar leviethan.


Tanpa menjawab belial pun pergi lebih dulu.


"Sudah kau juga sebaiknya jangan mengganggu belial" lanjut leviethan pada lucifer kemudian bergegas pergi mengejar belial.


"Yaampun" gumam lucifer lalu menunjukkan wajah pemalasnya kemudian berjalan pergi.


.


.


.


.


.


.


"Ini salah ku, aku sudah mengizinkannya menjalankan misi" sahut pak Ogawa yang merasa bersalah.


"Sudah. Hilangkan kekhawatiran kalian, karena Yamato berada ditempat yang aman" jawab pak morisawa.


"Apa maksud anda?" tanya pak akaza setelah mendengar perkataan pak morisawa.


"azir sudah tidak bisa berkutik lagi ditambah kini bocah itu berada ditempat yang aman, percaya saja pada ku" jelas pak morisawa kemudian pergi lebih dulu meninggalkan ruang rapat.


.


.


.


.


.


.


.


"Akan ku buat kau dapat menggunakan ketiga senjata itu" ujar ogaki lalu menjentikkan jarinya didepan pintu kamar.


Saat dibuka bukannya terhubung dengan kamar namun pintu itu kini telah terhubung dengan diemnsi ciptaan ogaki.


"Masuk" mendengar dirinya disuru masuk kedalam tempat yang begitu gelap Yamato pun mempertanyakan kewarasan ogaki.


"Apa kau sudah gila?"


"Sudah jangan banyak tanya cepat masuk" jawab ogaki lalu dengan santainya menendang Yamato masuk kedalam sana.


"Aaaaaaa~" teriak Yamato yang terjatuh kedalam dimensi tersebut.


"Ingat waktu di dalam sana berbeda dengan dunia nyata, dan jika kau mati disana itu artinya kau juga mati didunia nyata" teriak ogaki yang memberikan penjelasnya.


"Kenapa baru sekarang!!!!?" teriak Yamato sampai suaranya hilang karena sudah sangat dalam dirinya jatuh.


Pintu pun di tutup dengan wajah yang tak memiliki dosa ogaki berjalan ke dapur kemdian memanaskan air untuk membuat teh.


"Mitaka. Kapan kau akan bergabung dalam permainan ini?" batin ogaki sambil melihat air yang mulai mendidih.


"Oh. Tidak. Aku lupa memberitahu anak itu kalau ada banyak monster didalam sana, sudahlah, toh dia juga tidak akan mati semudah itu. Lagi pula aku sudah menyiapkan bebeapa mainan untuk menemaninya" lanjut ogaki.


.


.


.


.


.


.


Karena sudah cukup lama Yamato terjun bebas tanpa ujung membutanya berhenti berteriak sampai beberapa menit kemudian akhirnya Yamato jatuh keatas sebuah pohon, membuatnya terus terbentur dengan dahan-dahan pohon yang besar sampai akhirnya jatuh ketanah.


"Aduh. Au. Duh jari telunjukku terkilir" gumam Yamato kemudian berdiri lalu berjalan sebentar kedepan dan dirinya sampai di ujung tebing dengan pemandangan hitam dan danau besar.


"Apa ini..." yah Yamato terkesan saat melihat keindahan dimensi ciptaan ogaki yang belum pernah dilihat oleh mata kepalanya.


Saat sedang menikmati keindahan yang ada didepannya tiba-tiba Yamato mendengar suara teriakan perempuan dari arah belakang, bergegas dirinya berlari kearah suara teriakan barusan berasal.


Dari balik pohon Yamato melihat seorang gadis peremohn yang dikepung tiga ekor monster.


"Gawat!" ucap Yamato yang berniat menolong gadis itu namun dirinya sadar kalau tidak memegang senjata apapun.


Tidak kehabisan cara hanya dengan menggunakan dahan pohon yang ada didekatnya untuk menyerang, ditambah keahlian Yamato dalam berpedang membuat Yamato berhasil menusuk mata kiri dari salah atu monster tersebut.


"Ayo lari" ujar Yamato kemudian menggenggam tangan gadis itu dan membawanya kabur bersama. Melihat mereka berdua kabur dua Monster yang tersisa langsung mengejar merek.


"Kesini" Yamato langsung menarik gadis itu untuk bersembunyi dibelakang sebuah batu, karena terlalu dekat dengan Yamato membuat wajah gadis itu mulai memerah mungkin karena kepanasan


Heheheheh :)