The Exorcist

The Exorcist
Tiga saudara



Mata hari bersinar indah menyinari sebuah hutan bambu, terlihat tiga anak kecil yang berdiri dua laki-laki dan satu perempuan berumur sekitar lima tahun. Seorang anak dengan paras tampan, mata merah menyala, rambut hitam berkilau dengan terus menunjukkan tatapan waspadanya  berjalan didepan. Ialah shimozawa Takuya.


Dibelakangnya terlihat seorang anak laki-laki yang memiliki pasar tampan tidak kalah dengan yang pertama berjalan dengan wajah agak ketakutan, rambut putih bersih, dan mata biru tua. Ia terus menegang erat baju dari anak yang didepannya. Dialah shimozawa ogaki


Lalu seorang anak habis perempuan cantik berjalan di belakang anak kedua dengan wajah yang begitu ceria, rambut coklat terurai, dan mata kuning gelap. Mereka terlihat sangat dekat karena tentu saja merek adalah saudara. Dialah shimozawa mitaka.


Selama berjalan didalam hutan bambu si anak perempuan terus bersenandung sambil melihat-hilat suasana disekitarnya, beberapa menit mereka bertiga berjalan akhirnya sampai disebuah desa kecil.


Sebelum masuk kedalam mitaka terlihat mengambil sesuatu yang tergeletak di tanah kemudian memberikan benda yang ditemukannya itu pada tomoya.


"Kakak. Ini" ucap mitaka yang ternyata itu adalah beberapa uang yang berbentuk kepingan emas.


"Syukurlah dengan ini kita bisa makan. Mari kita masuk, sebaiknya kita segera mencari kedai. Setelah sarapan kita harus segera pergi" jawab Takuya lalu berjalan setelah mengambil kepingan emas dari Mitaka.


Mereka bertiga berjalan ditengah keramaian desa sampai akhirnya menemukan kedai makan. Tomoya meminta kedua adiknya itu untuk menunggu karena dirinya akan memesan makanan, saat akan pergi tiba-tiba ogaki menarik baju kakaknya itu dan memberitahu kalau dirinya takut ditinggalkan sendri.


"Kakak. Tidak ingin disini" ujar ogaki denga menatap kedua mata tomoya sang kakak.


"Tenang jangan takut, kakak tidak akan meninggalkan kalian berdua. Sudah tunggu sebentar, lihat mitaka saja tidak merasa takut" jawab tomoya sambil tersenyum lalu mengelus kepala ogaki.


"Hihihi.. Ada-ada saja" ucap mitaka yang tertawa kecil didekat kakak keduanya yaitu ogaki.


Tomoya terlihat berjalan begitu waspada dengan orang-orang yang ada disekitarnya bahkan sesekali ia berbalik kebelakang untuk melihat keadaan kedua adiknya itu.


"Entah sampai kapan kami akan terus lari..." batin ogaki.


POV: tomoya.


kami bertiga terlahir tanpa ayah dan ibu, saat membuka mata kami berada didalam goa yang begitu jelap.


Ketika itu kami melihat segerombolan cahaya yang berjalan mendekat dan itu berasal dari orang-orang dengan wajah garang. Tanpa alasan apapun mereka nenagkap kami, memukul, bahkan meludahi kami.


Kami bertiga di bawa masuk ke dalam sebuah kota, disana warga mulai melempari kami dengan batu, sampah, dan buah atau sayuran busuk.


Mereka terus menyebutkami sebagai malapetaka atau juga monster, kami pun sampai disebua bangunan besar disana manusia berjenggot putih dan wajah berkeriput terlihat sangat menjijikan.


Dia mulai mendekati kami dan menatap kami denga sangat teliti lalu dia berteriak "sesuai ramalan! Sesuai ramalan!" kemudian kami kembali dipaksa berjalan masuk dalam sebuah ruangan kosong yang sangat sempit.


Perempuan itu memberitahu kami kalau kami adalah saudara dan dia juga yang memberikan kami nama.


Setiap hari kami berdua disuruh kerja paksa di pertambangan, terkadang aku meminta ogaki dan mitaka untuk diam saja sementara aku yang mengerjakan pekerjaan mereka.


Mata dan hati ku tidak kuat melihat mereka berdua harus membawa bebatuan yang besarnya melebihi diri mereka sendiri, asalkan mereka aman dan bisa tersenyum itu sudah cukup bagi ku.


Dalam satu hari kami diberi makan hanya satu kali itu pun tidak dengan air minum, tapi pelayan yang selalu memberi kami makan selalu menahan porsi makanan dan air minum, dia juga yang merapat luka kamu secara diam-diam saat malam hari.


Kami bertiga mulai merasa nyaman dan aman saat berada didekat perempuan itu sampai akhirnya kami menyebut dia ibu dan hal tersebut membuat iyaa terlihat sangat terharu.


Semua luka itu kami dapatkan karena setiap harinya kami dipukuli oleh para penjaga yang sedang tidak ada kerjaan, atau peralatan tambang yang membuat kami terluka. Saat itu serasa berada dineraka.


Dipukuli, dihina, dicaci-maki, dipandang seperti binatang, dan diludahi. Semua itu terus kami terima setiap hari bahkan pekerja lain selalu ikut memukuli kami dan menyebut kami sebagai bencana.


Tangisan ogaki selalu terdengar saat tengah malam saat para penjaga tertidur dia terus mengeluh karena seluruh badannya terasa sakit, sedangkan mitaka hanya terdiam tidak mau bicara apapun. Sifat ogaki yang rewel membuat aku harus begadang setiap malam untuk menenangkan tangisan dan menidurkan ogaki.


Sampai suatu hari dimalam yang sama, ibu kembali datang memberi kami makan malam dan kembali mengobati luka kami. Namun dua orang penjaga memergokinya dan langsung menyeret ibu dengan kasar kami mecoba menghentikan penjaga itu.


Bersama-sama akhirnya kami berempat membunuh salah satu dari mereka berdua, melihat temannya yang mati iya langsung berlari untuk melapor dan ibu langsung membawa kami keluar dari tempat itu.


Didalam hutan kami terus berlari tanpa tujuan sementara dibelakang sejumlah penjaga mengejar bersama beberapa anjing, namun langkah kaki kami terhenti karena sebuah sungai besar tapi syukurnya ada sebuah rakit.


Ibu mulai menaikkan kami kedlaam rakit itu lebih dulu tapi saat dirinya akan ikut naik tiba-tiba kaki kanan ibu digigit oleha anjing yang dilepaskan para penjaga, kami bertiga mencoba mengusir anjing itu dengan memukul kepalanya dengan sebuah dayung.


Melihat para penjaga yang semakin mendekat ibu melihat kearah kamu dan berkata.


"Ibu ingin kalian tetap hidup sampai kapanpun, jadilah pahlawan bukan jadi bencana yang orang-orang katakan. Meski kita tidak memiliki ikatan darah tapi cinta yang telah mempersatukan kita menjadi keluarga sesaat, ibu menunggu kalian menjadi pahlawan"


Kemudian ibu mendorong rakit dengan tenaganya dan memberitakan dirinya tertangkap. Ogaki dan mitaka mulai menangis sedangkan aku hanya bisa merasakan sedih yang amat dalam namun tidak bisa meluapkannya sebagai tangisan.


Kami kembali berjalan setelah sampai disebrang, kaki mitaka tidak sengaja tertusuk ranting pohon mengakibatkan dirinya sudah berjalans. Tidak ada jalan lagi aku pun memilih untuk menggendongnya.


Semalaman kami bertiga tidak tidur tapi dirasa aman pada siang harinya aku membiarkan tomoya dan mitaka untuk tidur sebentara.


Dan saat menjaga mereka tidur aku teringat pengorbanan ibu demi kami, lalu aku merasa kesal, marah, dan bercampur sedih. Aku ingin rasa ingin balas dendam dan ingin membuat mahluk lain merasakan penderitaan kami muncul dalam hati ku.