
Muramasa digambarkan sebagai orang yang benar-benar gila dan rentan terhap serangan kekesaran. Karena desktruktif itu, dipercaya memengaruhi bilah pedang yang dia tempa. Pedang itu kemudian akan 'memiliki' sang pemilik. Mengubahnya menjadi prajurit gila dan mematikan, layaknya Muramasa.
Banyak pendapat berkata bahwa pedang Muramasa kontras dengan Masamune. Pada suatu legenda, yang berkata bahwa ia murid Masamune, mengikuti kompetisi pembuatan pedang untuk menentukan, siapakah ahli pedang terhebat di Jepang. Setelah keduanya menyelesaikan pedang mereka, uji senjata dilakukan.
Kontesnya, pedang itu harus digantung di sungai dengan ujung yang tajam menghadap ke arus. Pedang Muramasa pun memotong semua yang melewatinya. Seperti ikan, daun, dan bahkan udara. Sebaliknya, pedang Masamune gagal memotong apapun. Tetapi, Masamune dinyatakan sebagai pemenang, karena pedang Muramasa haus darah dan memotong tanpa pandang bulu. Sementara itu, pedang Masamune tidak memotong atau membunuh dengan sia-sia.
Terlepas dari reputasi buruknya, pedang Muramasa berkualitas tinggi dan populer di Jepang. Sempat pada pemerintahan Togugawa Ieyasu, shogun pertama Edo, Pedang Muramasa tak lagi disukai. Ayahnya, Matsudaira Hirotada dan kakeknya Matsudaira Kiyoyasu dibunuh oleh pengikut mereka yang memegang pedang Muramasa. Konon, shogun sendiri juga dipotong dengan pisau Muramasa oleh salah satu jenderalnya.
Pedang muramasa seakan memiliki kekuatan untuk membunuh anggota keluarga Tokugawa. Akibatnya, shogun memutuskan untuk melarang kepemilikan Muramasa dan pada akhirnya banyak karya-karya Muramasa dilebur, walaupun beberapa disembunyikan.
Larangan kepemilikan pedang Muramasa dianggap serius. Mereka yang tertangkap akan dihukum berat. Kasus yang pernah terjadi adalah Takanak Ume, Hakim Nagasaki yang menimbun 24 bilah Muramasa pada 1634. Ia kemudian diperintahkan melakukan seppuku (ritual bunuh diri mengeluarkan isi perut).
Terlepas dari hukuman berat, orang-orang yang terus menyimpan pedang Muramasa megubah tanda pedang untuk menghindari deteksi dari pihak berwenang. Selain itu, banyak pemalsuan telah dilakukan, sehingga sulit mengidentifikasi pedang Muramasa yang asli.
.
.
.
.
.
"Tapi bukannya keshogunan sudah menyita dan melebur pedang muramasa, lalu bagai mana masih ada?" tanya Yamato.
"Pada 1634 Seorang samurai yang memiliki pedang muramasa untuk lepas dari razia dia mengubah pola pada pedang agar tidak bisa diidentifikasi oleh pihak Shogun, lalu menyembunyikannya diruang bawah tanah rumahnya"
"Sementara pedang muramasa lain mulai diambil paksa pedang itu masih tersimpan aman di ruang bawah tanah, sampai akhirnya saat gempa bumi di tohoku pada 2011 ruang bawah tanah itu ditemukan setelah sebuah minimarket yang ada di atasnya rubuh"
"Butuh waktu seminggu bagi tim peneliti di markas pusat dapat memastikan bahwa itu pedang muramasa terakhir di jepang bukan, tapi didunia" jelas kapten ogami.
Karena perjalanannya cukup jauh membuat Yamato dan Akane merasa mengantuk, ketika Yamato tertidur didekatnya akane tetap terlihat masih terjaga meski wajahnya terlihat begitu mengantuk.
Kapten ogami yang melihat akane mengantuk pun bertanya kenapa dirinya tidak tidur seperti Yamato dan Akane menjawab kalau dirinya tidak bisa tidur dalam kendaraan meski pun mengantuk kecuali jika dirinya memaksakan untuk tidur.
Mendengar jawaban itu kapten ogami mulai mengajak Akane untuk mengobrol agar iya tidak merasa mengantuk. Untuk permulaan kapten ogami menanyakan apa yang disukai Akane dan apa yang tidak disukainya.
Dengan bersemangat akane menjawab kalau dirinya menyukai pria tampan dan dirinya sangat bersyukur karena semua orang di markas pusat memiliki wajah yang tampan.
Karena terlalu bersemangat Akane memilih untuk pindah kursi kedepan di dekat kapten ogami, kemudian ia mengambil sesuatu dari dalam saku bajunya dan itu adalah.
"Coba lihat.. Tada! Ini adalah koleksi foto cogan ku, banyakkan" ujar Akane yang menunjukkan foto Yamato dan anak laki-laki lain di asrama.
Mulai dari saat tidur, makan, gosok gigi, setelah mandi, dan ketika belajar.
"Astaga. Banyak sekali, dari mana kok bisa?" tanya kapten ogami setelah melihat semua foto itu.
"Oh.. Sebenarnya aku punya kamera dan dengan itu aku memfoto mereka secara diam-diam, karena untuk mempertahankan kealamian wajah mereka" jelas Akane.
"Tapi aku tidak melihat ada foto tadeo disini, apa kau belum memfotonya?" tanya kapten ogami yang baru sadar kalau tidak ada foto tadeo.
"Eng.... Kapten terlalu bayak bertanya, coba lihat ini tebak foto siapa?" lalu akane menunjukkan sebuah foto yang membuat kapten ogami terkejut dan mampir saja menambrak mobil yang ada disebelahnya.
"I-ini.. Kapan kau mengambilnya?" benar. Itu adalah foto kapten ogami saat dirinya berjalan di koridor dengan wajah merah karena baru selesai minum.
"Waktu itu. Aku selesai dari kantor kapten Hideaki setelah meminta bantuannya memperbaiki kamera ku, saat berjalan aku melihat kapten karena wajahmu saat itu sangat imut jadi aku foto saja. Tidak masalahkan aku simpan?" jelas Akane.
"Tidak masalah. Tapi itu sangat memalukan"
"Ngomong-ngomong untuk apa kau membawa semua itu?"
"Ini hanya sebagai jimat pelindung saja"
"Oh..~"
Setelah cukup lama berkendara akhirnya mereka sampai di pelabuhan Shimizu, semua orang langsung mengambil posisinya masing-masing mengamankan sekitar pelabuhan.
Kapten ogami, Akane, dan Yamato yang dalam setengah sadar berjalan ke petugas pelabuhan untuk bertanya kapan kapal dari niijima sampai ke pelabuhan.
Petugas itu pun menjelaskan kalau kapal yang di maksud kapten ogami akan mengalami keterlambatan dikarenakan mesin kapal tiba-tiba mati dan kini pekerjaan kapal sedang memperbaiki mesin yang rusak tersebut.
Setelah mendapatkan informasi itu kapten ogami mulai mengubungi pak morisawa untuk melaporkan keterlambatan kapal dari niijima, mau tidak mau mereka semua harus menunggu lama sampai akhirnya kapal dari niijima tiba di pelabuhan.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Akito yang masih merasa kehilangan yang teramat mendalam sedang murung dibawah sebuah jembatan dengan sungai yang mengalir tenang di depannya.
Dari kejauhan reven yang dikirim pak morisawa sedang memperhatikan akito dengan sebuah teleskop dari atap gedung.
"Sudah berapa lama kita disini?" tanya salah satu dari mereka.
"Eng.. Kurang lebih tiga puluh jam dan anak itu masih belum beranjak dari tempatnya semenjak kemarin" jawab rekannya.
"Bukannya itu hal yang bagus. Kita tidak susah payah mengikutinya, biarkan dia duduk disana sampai kapanpun" sahut seorang reven yang sedang menggunakan teleskop untuk melihat akito lebih jelas.
Beberapa menit kemudian akito mulai berdiri dari kemudian berjalan pergi melihat hal tersebut membuat para reven mulai bersiap untuk mengikuti akito tapi.
Baru saja akan bergerak mereka dikejutkan dengan kemunculan kelompok reven lain yang menyerang akito.
"Oi.. Oi. Oi. Apa-apaan mereka itu?"
"Itu reven divisi 4, kenapa pak akaza bertindak secepat ini?"
"Sudah.. Lebih baik kalian ikuti mereka aku akan melaporkan ini pada pak morisawa"
Bergegas ia menghubungi pak morisawa sementara rekan-rekannya bergegas pergi untuk mengejar akito yang sedang diburu reven divisi 4