The Exorcist

The Exorcist
menyelamatkan dan kembali



"Setidaknya aku bisa sedikit mengintip masa depan" ujar ogaki didepan sebuah cermin berbentuk bulat sempur dengan ukuran yang besar dan di dalam cermin itu terdapat bayangan dirinya.


Dan cermin yang di maksud sebenarnya adalah cermin yata no Kagami.


Setelah ogaki meletakkan telapak tangannya pada cermin tersebut sesaat kemudian terlihat cermin itu mulai retak dan genjreng... Pecah menjadi beberapa bagian yang tersebar Disekitarnya.


Setiap pecahan kaca menunjukkan masa depan yang akan terjadi dalam waktu dekat mau pun jauh, tapi kali tidak ada satu pun bagian cermin yang menunjukkan masa depan apapun.


"Ha~ ternyata tidak berfungsi. Sebenarnya dimana mahide menyembunyikan tiga pusaka itu?" gumam ogaki kemudian keluar dari ruangan kehampaan.


.


.


.


.


berhari-hari berlalu dan kini Yamato telah bisa menguasai amaterasu, sekarang tinggal yang terlihat yaitu tsukoyomi berbeda dari yang lain untuk kenguasi tombak bulan ini Yamato harus bisa tenang dalam kondisi apapun.


Ogaki menyuruh Yamato untuk duduk melipat kedua kakinya seperti yang kalian bisa tebak, ogaki menyuruh Yamato untuk bermeditasi.  Baru saja mulai meditasinya ia terlihat sudah tidak bisa.


Baru beberapa menit saja Yamato sudah menyerah melakukan meditasi yang dianggapnya membosankan dan ogaki hanya bisa menghela nafas.


Melihat Yamato tidak bisa diam saat meditasi membuat ogaki berpikir sebenarnya apa yang ada didalam kepala Yamato dan apa yang sedang ia pikirkan.


"Sebenarnya apa yang ada didalam pikiran bocah ini? Kenapa dia tidak bisa diam. Apa jangan-jangan dia memikirkan+++"


Meski membutuhkan waktu lama perlahan-lahan waktu meditasi yang dilakukan Yamato mulai bertambah, meski sesekali tangannya tidak bisa diam namun akhirnya Yamato dapat melakukan meditasi dengan baik.


Karen hal tersebut ogaki mulai melakukan rencananya, ia menyuruh pada samurai terakota untuk membuat keributan di sekitar Yamato dengan alat musik yang sudah ogaki siapkan.


Tanpa basa basi lagi mereka semua langsung memainkan alat musik tersebut secara asal asalan.


"Untung aku menyiapkan menyumbat telinga ini sejak awal" gumam ogaki lalu menutupi kedua telinganya dengan sebuah penyumbat agar tidak mendengar suara bising dari alat musik yang di mainkan para samurai terakota.


Reteteteu teteh dung tes dung dung dung tes.


Mereka benar-benar terlihat sangat bersemangat mengganggu Yamato, lama kelamaan rencana ini berefek juga. Yamato terlihat mulai terganggu dengan suara bising yang ada disekitarnya.


Melihat Yamato yang masih bisa bertahan akhirnya ogaki turun tangan untuk mengganggu Yamato.


"Oh. Coba lihat ada binatang hijau kecil melompat-lompat didekatmu" bisik ogaki tepat didepan telinga Yamato.


Tidak butuh waktu lama raut wajah ketakutan mulai tampak jelas di wajah Yamato, sesaat kemudian dirinya langsung melompat kemudian lari terbirit-birit lalu naik memanjat sebuah pohon.


"Wah. Wah. Rupa nya kau pandai memanjat pohon"


"dasar kakek tua bangka licik!" teriak Yamato yang masih nangkring diatas pohon.


"Siapa yang kau sebuah kakek tua hah!?" jawab ogaki yang tidak terima kalau dirinya disebut kakek tua.


"Siapa lagi kalau bukan kau! kau'kan pelupa bahkan coba pikir kapan terakhir kali kau merayakan ulang tahun!"


Mereka terus beradu argumen sampai akhirnya Yamato turun dan melanjutkan meditasinya, seiring berjalannya waktu kini suara-suara bising itu tidak berpengaruh lagi bahkan membuat para samurai terakota sesak nafas karena terlalu cape.


Melihat penembang yang terjadi Pada Yamato sungguh dluar perhitungan membuat ogaki mulai yakin kalau Yamato bisa saja melebihi leluhurnya yaitu mahide.


Berhari-hari Yamato terus melakukan meditasinya dalam kondisi apapun, karena pelatihan untuk mengendalikan tukoyomi hanya meditasi saja karena untuk penggunaannya anggap saja sedang pake pedang.


Setelah latihan yang panjang dan melelahkan di malam harinya Yamato tidur lebih awal beralaskan rerumputan hijau dekat sebuah api unggun, terlihat pula lukanya sudah diobati.


"Aku masih tidak percaya dia bisa berkembang secepat ini, tapi bukankah fisik juga harus dilatih yah?...." gumam ogaki kemudian ia mulai berpikir.


"Perluas lapangan ini, tebang pepohonannya" lanjut ogaki yang meminta mereka untuk berkerja lembur.


Mendengar perintah itu salah satu dari mereka membawa dengan bahasa isyaratnya yang kalua di terjemahkan akan menjadi.


"Tuan. Apa tidak bisa besok saja? Meski kami arwah tetap saja kami butuh istirahat"


"Kalian mencoba membantah ku?" tanya ogaki yang mulai mengeluarkan auranya untuk membuat mereka semua takut.


Benar saja baru sesaat mereka semua langsung bergegas melakukan apa yang di katakan ogaki, kemudian ia menjentikkan jarinya lalu sebuah kursi muncul, meja dengan diatasnya terdapat secangkir teh hangat, dan sebuah buku.


"Nah. Kalau beginikan enak. Aa~ astaga punggung ku" gumam ogaki setelah menegangkan badannya kemudian duduk.


Sesekali ogaki melihat ke arah mereka semua dan terlihat kalau mereka sedang bekerja sangat keras dan juga bersemangat namun ketika ogaki melanjutkan membaca bukunya mereka malah bermalas-malasan bahkan ada yang tidur.


Tepat tengah malam akhirnya ogaki meminta mereka untuk berhenti karena sudah cukup luas, tanpa memikirkan tempat mereka semua langsung menjatuhkan diri ke tanah beristirahat.


"Hmmm. Ada-ada saja, nah besok adalah hari yang melelahkan lagi" kemudian satu lagi jentikkan jari dilakukan ogaki.


Pagi hari pun saat bangun dan membuka kedua matanya Yamato melihat alat-alat gym yang lengkap bahkan dan ogaki yang sudah memakai baju olahraga lengkap denga sebuah topi.


"Hahah.. Saatnya mengubah tubuh lembekmu jadi lebih bagus" ujar ogaki kemudian meniup peluit.


Dari kiri dan kanan para samurai terakota datang dengan sedikit gaya akrobatik dan mereka pula memakai baju olahraga yang sama dengan tuan mereka yaitu ogaki.


"Aku punya perasaan buruk tentang ini" batin Yamato.


"Hehehe.. Bersiaplah"


Ya. Benar pelatihan yang lebih menguras keringat dan tenaga pun dimulai, phus up, **** up, angkat beban tapi bukan beban hidup, lari, semua itu dilakukan Yamato.


Pada malah hari ogaki memasak makan malam yang penuh protein untuk membantu perkembangan fisik Yamato, Paginya pelatihan yang sama masih dilakukan untuk menyemangati ogaki mendandani para samurai terakota dengan baju chiliders lengkap dengan rok mini warna pink.


Ternyata tidak hanya terkenal dalam medan perang mereka juga pandai dalam hal tari menari untuk menyemangati Yamato, bukan hanya mereka bahkan tuan mereka yaitu ogaki ikut menari bersama.


"Kalian membuat ku merasa jijik!"


Empat bulan telah berlalu dan kini bentuk tubuh Yamato yang awalnya dikatai lembek oleh ogaki sudah lumayan dibanding sebelumnya dan ini menandakan kalau latihan Yamato bersama ogaki sudah cukup.


"Kau sudah melampaui ekspetasi ku terhadapmu, tugas ku sudah selesai saatnya untuk dirimu kembali pada teman-temanmu dan selamatkan mereka karena saat ini ada ancaman besar" jelas ogaki.


"Tentu. Dan terimakasih untuk semuanya," jawab Yamato.


"Nah sekarang pergi dan selamatkan orang-orang yang kau sayangi" kemudian pintu keluar dari sana terbuka bergegas Yamato pun keluar.


"Jadi apa kalian ingin liburan?" tanya ogaki pada para samurai terakota.


.


.


.


.


.


"Hoh. Jadi kau yang jadi wadah bagi azir?" gumam satan saat masih menahan serangan dengan demage critical yang gak manuk akal.


Tanpa mendengar apa yang baru saja dikatakan oleh satan, Yamato langsung kembali menyerang.


"Ini demi teman-teman ku!!!"