The Exorcist

The Exorcist
Kenangan



"Hahahah... Hentikan kau membuat baju basah, mao-chan berhenti" ujar akane kecil sekitar umur 7 tahun dan Yamato yang berumur sekitar 6 tahun terus menembaki Akane dengan pistol air.


Mereka berdua terlihat bersenang-senang bermain bersama di pantai yang sedang sepi pengunjung, saat itu kedua orang tua Yamato masih ada.


bibi yuki yang sedang menemani mereka berdua bermain, memberitahu kalau iya akan pergi ke toilet sebentar dan meminta agar mereka berdua tidak kemana-mana


Ketika sedang asik bermain tiba-tiba saja dua orang pria datang dan langsung membawa Akane lari bersama mereka entah ke aman.


Awalnya Yamato melompat ke punggung salah satu dari mereka berdua lalu meningigit lehernya tapi ia langsung di lemparkan ke pasir.


Melihat Akane yang di culik, Yamato kecil kembali bangun dan mencoba mengejar mereka untuk dapat menyusul Yamato kecil mengambil jalan pintas.


"Lepaskan Akane!!" teriak Yamato lalu melompat menendang kepala orang yang membawa Akane.


Tanpa ada sedikit pun rasa takut di matanya (tidak seperti pas udaj gede) Yamato berdiri di depan akane untuk melindunginya


Hal itu membuat Akane malah tersipu malu.


Karena tidak terima mereka berdua mulai memukuli Yamato, tidak tinggal diam Yamato juga melawan dengan cara menggigit tangan mereka secara bergantian.


Syukurya beberapa orang pengunjung tidak sengaja lewat dan meminta kejadian tersebut, mereka pun lalu memanggil orang-orang untuk datang menangkap dua orang penculik itu.


Bergegas mereka berdua melarikan diri sebelum orang-orang datang memukuli.


"Mao-chan kau baik-baik saja?" tanga Akane yang Mendekati Yamato.


"Akane. kita ini sahabatkan? Sahabat selalu menolong bukan? Apa aku suda menolongmu?" jawab Yamato yang berbalik bertanya dengan penuh semangat meski beberapa luka memar ada di wajahnya.


"Tentu" jawab Akane dengan tersenyum tulus di depan Yamato.


.


.


.


.


.


Beberapa tahun kemudian, kini Yamato dan Akane duduk di bangku sekolah mengah pertama, waktu itu mereka kelas delapan.


Yamato waktu itu adalah bintang di sekolahnya banyak perempuan terutama adik kelasnya yang menyukai dirinya.


Tapi itu tidak menghalangi persahabatan Yamato dengan Akane, setiap jam istirahat Yamato selalu mengajak Akane untuk mekana siang bersama.


Banyak guru dan teman-temannya mengira kalau mereka ada adik kakak atau pasangan karena kedekatan mereka berdua.


Pada jam pelajaran olahraga, ketika Yamato asik bermain sepak bola dengan teman-temannya ia merasa ada yang hilang seperti sesuatu yang penting.


Dan yap Akane tidak ada di lapangan bersama teman-teman perempuannya yang lain, karena penasaran ke mana perginya Akane Yamato pun meminta ijin pada gurunya untuk mencari Akane.


Bergegas ia berkeliling sekolah, setiap kelas ia datangi untuk menemukan Akane ketika melintas di delan ruang ganti perempuan, tidak sengaja Yamato mendengar suara sesuatu yang jatuh dan sepintas ada suara Akane.


Karena penasaran ia pun megentuk pintu sebelum masuk tapi tidak ada jawaban, semakin penasaran Yamato pun membuka pintu.


Dan ia pun di buat terkejut saat melihat Akane akan di lecehkan oleh kakak kelasnya, karena tersulut emosi tanpa berpikir panjang Yamato langsung memukuli kakak kelasnya.


"Berengsek! Beraninya kau melakukannya pada sahabat ku" teria Yamato lalu melempar kakak kelasnya itu.


Saat Yamato akan kembali memukulinya, iya langsung mengambil sebuah kursi kayu lalu memukulkannya pada kepala Yamato.


Dan darah pun perlahan mengalir dari Bagain kepala yang di pukul mengunakan kursi, tidak goyah sedikit pun Yamato malah semakin menjadi-jadi.


Mereka berdua terus berkelahi sampai akhirnya Akane menarik tangan Yamato untuk menyudahi perkelahiannya.


Tidak lama kemudian, beberapa anak-anak yang sekelas dengannya datang masuk ke dalam lalu mengunci pintu dari dalam.


"Yamato sekarang cepat minta maaf! Jika tidak kami akan menghajarmu" bentak salah satu dari mereka.


"Akane tetap di belakang ku" bisik Yamato lalu menarik Akane ke belakangnya.


"Mao...... Chan"


"Cih, dasar bedebah brengsek" teriak Yamato lalu terlebih dulu melayangkan pukulannya.


Yamato yang berdiri dengan darah yang terus bercucuran dari kepalanya dan Akane yang terlihat ketakutan di sudut ruangan.


Dan masalah ini pun sampai ke telinga dewan guru, anak-anak kelas 9 yang melakukan pengeroyokan di keluarkan juga anak yang hampir melecehkan Akane,


Sementara Yamato diskors selama tiga minggu.


"Apa itu sakit?" tanya Akane yang menemani Yamato di rumahnya karena tidak ada siapa-siapa di rumah.


"Apa? Tenang kepala ku tidak apa-apa kok, dua hari lagi perbannya boleh di buka".


"Maaf yah selalu menyusahkanmu, tapi jika kau terlambat mungkin aku sudah dinodai"


"Maaf? Untuk apa? Selalu ada untuk menolong itulah namanya sahabat, selagi aku bisa melindungimu akan ku lakukan karena kita adalah sahabat" jawab Yamato lalu tersenyum..


"Kalau begitu ini" ucap akane lalu memberikan tas kain kecil berwana merah pada Yamato.


"Apa ini?"


"Itu adalah jimat pelindung dan aku juga punya, simpan baik-baik"


"Hahahah, kau mirip orang tua jaman dulu masih percaya hal seperti ini, baiklah aku akan menyimpannya"


.


.


.


.


Sekitar dua tahun kemudian ayah Yamato di temukan oleh beberapa polisi exorcist sudah tidak bernyawa.


Hal itu membuat Yamato sangat terpukul terutama sang ibu yang tidak berhenti menangis selama berhari-hari.


Setelahnya, sekitar tiga tahun kemudian sang ibu meninggal karena depresi membuat iya di rasuki iblis, kematian sang ibu membuat Yamato ssmkain hancu-sehancurnya.


Beberapa bulan kemudian, rumah Yamato di sita termasuk semua aset yang di miliki oleh kedua orang tuanya, memkasa Yamato untuk pindah ke tempat yang kumuh.


Kepergian Yamato tidak di ketahui oleh Akane ataupun bibi yuki, setiap pulang sekolah Akane selalu berhenti dan melihat ke rumah di mana dulu dirinya dan Yamato sering bermain bersama.


Hari demi hari, akane selalu berharap dan berdoa agar ia bisa bertemu kembali dengan sahabat masa kecilnya itu.


.


.


.


.


.


"Bagai mana ini? kita tidak bisa angkat senjata jika terus seperti ini" bisik Mitsuhiro yang sedang berdiskusi dengan kapten Hideaki.


"Tidak ada cara lain, kita paksa iblis itu untuk keluar" jawab kapten Hideaki yang bersiap menghunuskan pedangnya.


"Astaga! Tenang dulu, coba lihat sepertinya Yamato sedang memikirkan sesuatu"


"Tunggu sepertinya peran kita terbalik, kenapa kau yang waspada? Sedangkan aku yang gegabah?" tanya kapten Hideaki.


"apa maksudnya?"


"Tidak, sudah lupakan saja".


Selama mereka berdua berdiskusi, Yamato terus menatap jimat yang dulu di berikan Akane padanya, dan ia pun mulai menyadari sesuatu.


Bahwa ini semua adalah kesalahannya, penyebab Akane dapat di rasuki iblis adalah dirinya.


Karena kepergian Yamato yang secara tiba-tiba membuat Akane selalu melamun memikirkan keadaan Yamato sampai saat ini.


"Akane! Bersabarlah kau akan ku selamat"