The Exorcist

The Exorcist
sebuah kemungkinan



"Ini.. Barangmu, wajah konyolmu terus menghantui ku" ujar Arthur setelah melemparkan pedang muramasa pada lucifer.


"Ohohoho.... Sudah ku duga.. syukurlah kau punya pikiran, dan memilih untuk menghindari pertarungan" jawab lucifer kemudian mengambil pedang muramasa yang ada didepan kakinya.


"Ya.. Terserah apa yang kau katakan, aku tidak perduli. Jangan temui aku jika tidak ada urusan" jawab Arthur sambil berjalan pergi.


"Apa? Kenapa masih disini? Kalian tidak punya kerjaan lain selain membaca novel online? Pergi lakukan hal lebih positif.. Tapi ingat like, komen, follow, favorit, and sher... Sebagai gantinya aku akan tidur disebelah kalian malam ini... Nona cantik( ˘ ³˘)❤" setelah berbicara sendiri lucifer pun pergi dengan membawa pedang muramasa.


.


.


.


.


Di koridor lantai lima, pak morisawa terlihat sedang berjalan sendiri menuju kantornya setelah keluar dari kantor pak akaza. baru saja masuk sesaat pak morisawa terkejut melihat kapten ogami yang berdiri membelakanginya.


"Maaf.. Saya jika saya tidak sopan, tadinya saya mau kembali lagi nanti keren anda tidak ada diruangan" ujar kapten ogami setelah melihat pak morisawa.


"Tidak apa-apa... Jadi bangai mana apa semuamya lancar?" jawab pak morisawa kemudian menanyakan jalannya misi.


"Eng.. Anu.. Sebenarnya saya.. Sebenarnya misi gagal, pedang itu berhasil di curi oleh seseorang" jawab kapten ogami dengan kepala yang menunduk malu.


"Tidak usah di pikirkan, pedang itu senangnya palsu"


"Apa?!" mendengar apa yang di katakan pak morisawa barusan membuat kapten ogami terkejut.


"aku sudah mengira kalau lucifer akan bertindak jadi, keterlambatan kapal bukan karena mesin mati, melainkan pergantian barang. Aku mengirim pedang tiruan dengan helikopter, karena inilah yang membuat kapal terlambat datang ke dermaga" jelas pak moridawa.


"Kalau begitu dimana yang asli?"


"Sudah berada ditempat yang aman, jadi kau tidak usdaj khawatir.... Seperti pepatah di kota lama.."


"Apa itu?"


"Entahlah aku belum pernah pergi kesana"


"Dahlah skip-_" lalu kapten ogami kelua dari ruangan pak morisawa.


.


.


.


.


.


.


.


.


Malam yang sunyi di markas pusat hanya terdengar suara dari serangga malam yang terus bernyanyi, hanya terlihat beberapa orang saja yang masih berlalu-lalang di depan halaman. Di parkiran hanya ada beberapa mobil saja karena yang lain sudah pulanh ke rumah mereka.


Di lantai 3 lebih tepatnya di perpustakaan yang sudah gelap karena lampu didalamnya sudah di matikan, tapi masih ada orang yang sedang membaca cukup banyak buku dengan pencahayaan dari sebuah lampu kecil.


Dan orang tersebut adalah Ayumi, dirinya terlihat sedang mempelajari tentang pengobatan, seperti merawat luka, menghentikan pendarahan, membedah, menjahit luka dengan rapih, dan lain-lain. juga berbagai jenis tanaman yang dibudidayakan di ruang bawah tanah markas pusat dan yang tidak dibudidayakan maksudnya yang tumbuh liar di hutan.


"Rajin sekali.. Ini sudah jam 11 malam loh." ujar seseorang dan ketika Ayumi berbalik dia adalah bu azusa yang tersenyum padanya.


"Eng... Itu.. A-aku" Ayumi terlihat gugup dan bingung harus mengatakan apa.


"Banyak juga... Kenapa masih belajar jam segini? Padahal ujian ibu masih lama?" tanya bu azusa kemudian duduk didekat Ayumi.


"Eng... Soal itu.. Aku tidak pandai dalam bertarung karan hal itu aku hanya selalu menjadi beban terutama bagi Masaru, meski dia tahu aku ini beban tetap saja dia masih mau setim dengan ku saat ada misi.... Setidaknya dengan aku belajar ilmu pengobatan aku bisa sedikit berguna" jelas Ayumi.


Kemudian Ayumi memberikan buku catatannya yang penuh dengan langkah-langkah pengobatan, jenis-jenis tumbuhan bahkan Ayumi sampai menggambar bentuk tumbuhannya.


"Bagus sangat rinci... Baiklah akan ibu buat kau mendapatkan cincin batu darah!" ujar bu azusa dengan penuh semangat.


"Cincin batu darah? Apa itu?" tanya Ayumi saat mendengar ada benda seperti itu.


"Oh.. Itu sejenis pangkat..."


Cincin batu darah seperti namanya itu adalah sebuah cincin dengan permata berwarna merah darah, cincin ini hanya diberikan kepada perawat terbaik dan terhebat yang memiliki kemampuan dalam media yang tinggi.


Bagi orang yang memiliki cincin batu darah maka dirinya akan memiliki jabatan yang disebut artemis yang  setara dengan jabatan kapten, tapi dalam bidang medis saja tetap saja mereka akan dihormati oleh semua anggota exocist karena ilmu pengobatannya yang sangat tinggi.


Tidak banyak yang memiliki cincin ini karena hanya ada satu dan saat ini cincin tersebut dimiliki oleh bu azusa.


"Cincin yang indah bukan?" tanya bu azusa setelah memperlihatkan cincin batu darah pada Ayumi.


"Itu artinya itu ibu..."


"Benar... Ibu yang menduduki jabatan artemi saat ini, tidak ada yang tahu karena waktu pelantikan ibu minta untuk dilakukan secara tertutup, dan ibu tidak pernah memakai cincin ini tapi ibu selalu membawanya... Alasannya karena ibu tidak gila hormat, ibu lebih suka jika orang-orang bersikap biasa saja pada ibu"


"Dan sampai sekarang orang-orang hanya tahu kalau jabatan artemis masih kosong setelah pensiun artemis sebelumnya, mungkin mereka yang di tenaga media sedang berusaha menjadi artemis" Tambah bu azusa.


Mendengar apa yang dikatakan bu azusa membuat Ayumi kagum dan bertekad untuk menjadi artemis seperti bu azusa di masa depan nanti, dengan bantuan dari bu azusa membuat hal yang sulit di mengerti Ayumi menjadi mudah dengan penjelasan yang sangat mudah dipahami, dan tidak bertele-tele.


Tidak lama kemudian bu azusa mendengar suara seseorang yang sedang berlatih di lapangan, karena penasaran iya pun berjalan mendekati jendela untuk melihat siapa orang yang latihan malam-malam ditambah suhu yang sedang dingin.


"!?" dan itu adalah matsuya yang sedang melatih gerakannya dengan pedang kayu, bu azusa dapat melihat dengan jelas adanya kebencian dan rasa iri yang kuat dalam hati matsuya.


Hal tersebut sangat terlihat dari gerakannya yang sudah sempurna namun berkali-kali terus diulangi.


.


"Ini... Masih Belum Cukup... tidak ada yang berubah sama sekali" batin matsuya dengan wajah yang berkeringat dan nafas yang terengah-engah.


"Aku harus jadi lebih kuat, dan membalas semua penghinaan pada ayah ku selama ini. Tunggu saja kau, iblis sialan"


.


.


.


.


"HACUH....... oh tidak hidung ku berair, tapi kok jadi merinding ya? Mungkin karena cuacanya sedang dini. Lebih baik aku menghangatkan diri" gumam zion kemudian masuk kedalam sebuah hotel.


.


.


.


.


.


.


.


"Hmmmm.. Aku tertipu mentah-mentah, ekspetasi yang tidak sesuai realitas" gumam lucifer yang berjalan dengan wajah kesal tanpa membawa lagi pedang muramasa.


Karena ia sudah tahu kalau pedang muramasa yang berhasil didapatkan Arthur adalah palsu dan lucifer memilih membuangnya ketempat sampah.


Tak lama kemudian dari belakang seseorang memanggil lucifer, karena dipanggil ia pun berbalik dan melihat akito yang berdiri didepannya.


"ada apa?" tanya lucifer