
"Hahahahah....!! Barusan itu apa? Kau buta atau gimana? Pohon sebesar itu saja masih tidak kena.. Hahaha.. Oh astaga selera humor ku"
"Diam!" teriak Yamato kemudian berkali-kali menembakkan anak panah namun tidak ada satupun yang kena sampai akhirnya ia menyerah.
Kemudian ogaki pun memberikan penjelas bagai mana cara menggunakan sebuah panah, serinci mungkin ogaki menjelaskannya bahkan sampai ke sejarah membuatkan panah itu.
Namun Yamato hanya
Planga plongo mendengar setiap kata yang keluar dari mulut ogaki, setelah selesai dan bertanya apa ia paham Yamato banya menggelengkan kepalanya karena tidak ada satupun kata yang masuk kedalam otaknya.
"Belegug sia!! Itu otak apa dompet kosong tanggal tua? Masa gak ada yang masuk satupun. Kau pake metode masuk telinga kanan keluar telinga kiri ya?" teriak ogaki didepan wajah Yamato sambil menunjuk-nunjuk hidung Yamato.
*belegug sia \= bodoh kamu/maknanya main sama dengan kata t*l*l
(Dari bahasa sudah, btw ada orang sunda juga?)
"Astagfirullah.... Ya. Maaf, soal pemahaman logika aku memang payah. Itu karena kenapa aku sering tidur di kelas" Mendengar pengakuan yamato yang mengatakan kalau dirinya lemah dalam logika mengharuskan ogaki mencari cara lain yang ampuh.
Sesaat kemudian akhirnya sebuah ide tercetus dalam otaknya, ogaki menunjuk salah satu dari samurai terakotanya untuk mengajari yamaro cara menggunakan panah namun bukan dengan logika tapi mempraktekkannya langsung.
Meski penampilan samurai terakota itu sangat sangar namun saat mengajari yamato dirinya begitu santai walau pun Yamato susah mengerti apa yang di maksud olehnya karena iya dan yang lain tidak bisa bicara dan hanya menggunakan bahasa isyarat.
Yamato hanya bisa mengangguk saja meski ia sendiri bingung apa yang di maksud. Dari posisi, cara memegang busur, cara memegang panah yang salah mulai di perbaiki oleh sang samurai, dan memperhitungkan angin yang berhembus.
Setelah semua dalam posisi yang benar Yamato pun melepaskan anak panahnya dan itu berhasil mengenai pohon yang sudah berkali-berkali gagal di panah namun kini satu anak panah berhasil menancap dan membakar pohon tersebut hingga hangus.
Si samurai hanya bisa memberikan ibu jadinya untuk memberikan selamat atas keberhasilan pertama Yamato, beberapa kali Yamato terus melakukan hal yang sama sampai ogaki merasa Yamato sudah mahir dalam menembak target yang besar.
"Nah. Saatnya naik level" ujar ogaki kemudian menjentikkan jarinya, lalu dua samurai yang ada dibelakangnya langsung terikat kuat dengan tali.
Ogaki pun meminta yang lain untuk memindahkan mereka berdua, setelah berada di posisi ogaki berjalan lalu menyimpan satu buah apel diatas kepala mereka berdua. Sadar kalau ini sangat beresiko tinggi saat itu juga mereka menggeliat karena tidak ingin dijadikan target.
Melihat apal yang susah payah diseimbangkan ogaki diatas helem mereka jatuh, membuta iya marah dan membuat kedua samurai itu kena mental dan langsung diam berdiri tegak. Walau kedua mata mereka menunjukkan ketakutan yang nampak begitu jelas.
Lalu samurai lain datang dan berbicara lewat bahasa isyarat yang kalau diartikan.
"Sabar ya. Bro idup emang pait"
"Bilang ke bini gw kalau gw sayang dia"
"Oi! Kalian ngapain cepat pergi dari situ" teriak ogaki menyuruh yang lain untuk tidak menghalangi.
Busur pun ditarik dan dua anak panah muncul dalam satu kali tarikan. Yamato mulai melakukan hal yang sama seperti yang diajarkan kepadanya tadi, mulai dari posisi, cara memegang, dan menghitung kecepatan angin dengan cara merasakan hembusan angin yang menerpa.
Setelah persiapannya selesai kedua anak panah itu pun dilepaskan, semua samurai langsung menutup mata mereka karena tidak ingin melihat rekan mereka mati sia-sia. Sementara ogaki terlihat begitu serius sambil memakan popcorn yang entah dari mana didapatnya.
Dan..... Tidak disangka Yamato berhasil mengenai kedua apel tersebut hanya satu percobaan, tali yang mengingat kedua samurai itu pun hilang dan mereka langsung berpelukan lalu sujud syukur karena masih hidup.
"Next target bergerak! kalian berdua ambol keranjang apel itu, lalu lemparkan ke udarah dan kau. Yamato panah apel-apel itu saat setelag dilemparkan" jelas ogaki.
"Jadi siapa yang mau bantu.... heh!? Kok ilang" saat berbalik ogaki sudah tidak melihat para samurai terakota-nya karena mereka sudah bersembunyi jauh dibelakang sebuah pohon dan hal tersebut membuat ogaki kesal.
"Sedang apa kalian disana?! Cepat kemari! Jangan terkenal karen legenda saja!" teriak ogaki yang terlihat kesal.
Dengan kepala yang menunduk kebawah mereka berjalan berbaris didepan ogaki kemudian ia memilih siapa yang akan melemparkan apel untuk jadi target. Setelah dipilih sang samurai yang itu pun berjalan dan berdiri di posisinya.
Sesuatu apa yang tadi dijelaskan ogaki, latihan memanah tahap kedua pun dimulai banyak sekali panah yang meleset bahkan ada yang nyasar daan hampir memanah masa depan ogaki.
Melihat hal tersebut ogaki memberitahu Yamato agar tetap tenang lalu fokuskan pemandangan mu pada satu objek, jangan ikuti pergerakan objek tersebut melainkan fokus kearah mana objek itu akan bergerak.
Setelah menarik nafas untuk menenangkan pikirannya, Yamato pun mulai kembali menari busur dan apel dilemparkan. Kini ia tidak fokus pada pergerakan apel tersebut meliakan ke titik dimana apel itu akan lewat.
Dirasa sudah pas panah pun dilepaskan dan kali ini Yamato berhasil mengenai apel yang dilemparkan tersebut, setelah keberhasilan pertama seterusnya banyak apel yang berhasil di panah meski begitu ada beberapa yang meleset.
Berjam-jam kemudian latihan memanah tahap kedua pun selesai, dilanjut dengan tahap ketiga yaitu menembak target yang bergerak seperti biasa yang menjadi korban latihan ini adalah para samurai terakota, Kali ini mereka semua yang terpilih.
Kemudian ogaki menyuruh mereka membawa satu apel di kepala lalu berlari secepat yang mereka bisa, bukan hanya itu mereka harus berdiri saling berjauhan kebelakang.
"Mata mu tidak rabun jauh kan?" tanya ogaki setelah mempersiapkan target latihan.
Mendengar pertanyaan dari ogaki Yamato hanya menggelengkan kepalanya karena memang ia tidak memiliki penyakit rabun jauh atau pun dekat. Setelah pemeriksaan mata selesai ogaki mulai menyuruh mereka semua lari mundar-mandir.
Sebelum mulai ogaki memberitahu kalau rumusnya masih sama dengan saat akan memanah apel yang jatuh, cuman ini tergantung pada pengelihatan Yamato saja.
Selama latihan tahap ketiga berlangsung ogaki hanya terus memperhatikan Yamato, dalam pikirnya ia berpikir mungkin tekad yang kuat dan kemauan yang besar memberikan stamina lebih pada Yamato.
Dari awal sampai sekarang dia tidak beristirahat sama sekali meski luka nya masih basah tapi Yamato terlihat tidak memikirkannya sama sekali dan memilih fokus pada tujuannya saat ini.
"Mungkin saja dia bisa melebihi leluhurnya. Mahide apa kau akan memaafkan ku jika membuat keturunan mu melebihmu?" gumam ogaki.