
"Kakak. Kenapa melamun? Cepat makan bukannya kita harus segera pergi?" tanya mitaka saat melihat tomoya melamun.
"Hah? Tidak apa-apa, sudah cepat habiskan makanan mu" jawab tomoya.
Beberapa menit kemudian setelah selesai mereka bertiga pun bergegas pergi dari sana, ketika berjalan mengikuti jalan keluar desa terlihat seseorang yang menunggang kuda berteriak teras membacakan pengumuman yang dibawanya.
"Pengumuman! Pengumuman!
Tengah hari besok akan dilakukan eksekusi pada pengkhianat datang dan saksikan...."
Mendengar pengumuman tersebut membuat mereka bertiga terdiam dan memiliki firasat kalau yang akan dimaksud adalah ibu, bergegas berlari peri keluar desa setelah beberapa menit mereka pergi orang yang membawa pengumuman itu juga pergi.
Setelah beberapa saat berjalan diluar desa tiba-tiba saja tomoya melompat dari atas pohon kearah si pembawa pengumuman, ia langsung memukul kepala orang itu dengan bagu besar sampai dia pingsan.
Setelah orang itu bangun dirinya melihat sudah di todong dengan sebuah bambu runcing, tomoya mengancamnya jika melawan bambu tersebut akan menancap di kepalanya. Karena tidak ingin mati muda orang itu menuruti tomoya.
Tomoya meminta orang itu untuk membawanya kembali bersamanya, karena tidak banyak pilihan orang itu menuruti permintaan tomoya.
"Ayo naik!" ajak tomoya.
"Apa kita akan pergi sama lagi?" tanya ogaki yang terlihat ragu untuk ikut dan mitaka yang memegangi ujung baju ogaki.
Meski mereka tidak setuju tetap saja tomoya pergi meninggalkan mereka berdua ia lalu menyuruh orang itu untuk memacu kudanya.
"Jadi. Ayo kita kesana" ujar mitaka kemudian menarik ogaki untuk pergi ketempat yang aman, tidak lama kemudian mereka berdua mendengar suara ranting pohon yang patah keinjak.
.
.
.
.
.
.
.
Kuda itu terus dipacu tanpa ada hentinya, pada malam hari tomoya sampai didepan gerbang masuk ke kota, sebelum turun ia melakukan apa yang harus dilakukan yaitu membunuh orang itu.
Meliha ada topeng kain putih bertuliskan pesan disaku celana orang tersebut, tomoya mengambil kain itu lalu memakainya membuat wajahnya tertutup oleh kain tersebut karena ia tahu kalau warga kota masih mengingat wajahnya.
Setelah menyembunyikan mayat pria yang dibunuhnya tomoya, kemudian ia pun berjalan memasuki kota ditengah keramaian. Tidak sengaja dari sudut mata kirinya tomoya melihat kakek tua yang waktu itu memeriksa dirinya dan yang lain.
Karena itu tomoya mulai mengikuti kakek tua tersebut sampai kerumahnya, dari luar jendela rumah tomoya melihat sebuah batu besar dengan ukiran gambar yang berurutan mulai dari
Gambar sebuah goa yang bersinar, tiga anak, tiga benda, dan sebuah menara.
Tomoya terus memperhatikan gambar kesatu dan kedua, ia teringat dengan goa tempat dirinya pertama kali membuka mata lalu tiga anak itu sangat miri dengan dirinya, ogaki, dan mitaka.
Disaat kakek tua itu sedang memperhatikan semua gambar pada batu tersebut, tiba-tiba dari belakang tomoya muncul kemudian menusuk si kakek dengan sebuah pisau.
Si kakek melihat tomoya yang begitu marah dengan mata yang melotot kearahnya, tanpa pikir panjang lagi tomoya kembali menusuk si kakek sebanyak lima kali membuat wajah dan tangannya terkena cipratan darah.
Setiap lemari dan laci dirumah tersebut mulai di geledah untuk mencari tau tentang semua ini sampai akhirnya tomoya menemukan sebuah buku usang yang hampir rusak.
Ia mulai membuka buku tersebut dan dihalaman pertama terdapat gambar yang sama pada batu besar itu, yaitu sebuah goa dan penjelasannya yaitu.
*dunia sudah kacau. Sifat manusia yang haus akan kekuasaan membuat mereka jatuh dalam perang tak berujung. Dari goa tergelap akan muncul tiga hakim untuk meluruskan dunia*
Kemudian tomoya membuka jalan kedua dan di saya terdapat gambar tiga anak kecil yang bergandeng tangan juga penjelasannya dibawah.
Lalu ha lama ketiga dengan gambar tiga buah bedan yang terdiri atas sebuah cermin, pedang, dan batu dan penjelasannya yang terdapat dibawah.
*Sanshu no Jingi akan menjadi pondasi utama dalam menopang kehidupan*
Selanjutnya halaman keempat terdapat gambar sebuah menara dan berikut penjelasannya.
*babel yang menjulang tinggi menembus awan menjadi tempat manusia berkumpul dan menjadi tempat penghakiman dilakukan*
"Apa semua ini?" batin tomoya, ia terlihat begitu kebingungan dengan semua hal aneh yang berhubungan langsung dengan dirinya, ogaki, dan mitaka.
.
.
.
.
.
.
Saat fajar pertama tomoya langsung menyelinap masuk kedalam penjta berhubungan ia hafal tempat dan jatual pergantian penajag memudahkannya untuk menyelinap tanpa diketahui.
Namun ada beberapa penjaga yang di habisi tomoya karena mereka yang selalu memukuli ogaki dan mitaka, setelah beberapa menit akhirnya tomoya menemukan penjara tempat ibu dikurung.
Kondisi ibu begitu memprihatinkan melihat tomoya ibu sangat terkejut dan memarahinya karena datang.
"Untuk apa kemari? Cepat pergi sebelum penjaga menemukanmu" ujar ibu.
"Tenang saja aku akan membawa ibu pergi bersama kami" jawab tomoya yang berusaha untuk membuka pintu penjara.
Saat sedang berusaha tiba-tiba seorang penjaga muncul lalu memukul kepala tomoya sampai ia pingsan tak sadarkan diri. Tomoya yang pingsan dilemparkan masuk kedalam penjara yang berbeda dengan ibu.
Beberapa menit kemudian akhirnya ia bangun, ibu langsung menanyakan keadaan tomoya. Tidak lama kemudian beberapa penjaga kembali datang lalu membawa mereka berdua , disebuah lapangan yang di penuh warga tomoya melihat ada seseorang yang memakai baju serba hitam bahkan kepalanya ditutupi kain ditangan orang tersebut terdapat sebuah pedang yang cukup besar dan tajam.
Menyadari kalau eksekusi akan segera dilakukan tomoya mulai memberontak mencoba melepaskan diri untuk membawa ibu terbebas dari hukuman ini, namun tomoya diperlihatkan kelemahan terbesarnya yaitu ogaki dan mitaka yang Tidaka sadarkan diri.
"Jangan macam-macam jika mereka berdua tidak ingin terluka" ujar seorang penjaga.
"Dasar makhluk sialan!" teriak tomoya yang begitu kesal dengan semua ini.
Ibu mulai d bawa ketengah lapangan lalu didudukkan dan kepalanya dibungkus main hitam, orang atau seebut saja algojo itu mulai mengambil posisinya.
"Tidak! Tidak!...." teriak tomoya meski dirinya terus dipukuli dengan kayu tetap saja ia mencoba untuk menolong ibu.
Sampai akhirnya tepat didepan mata kepalanya sendiri tomoya melihat orang yang selalu membawakannya makanan dan minuman lebih bahkan sudah dianggap seperti ibu sendiri harus tiada karena di eksekusi.
Dengan wajah yang begitu terkejut, mata yang bergetar melihat hal tersebut. Dalam sekejap emosi tomoya memuncak dari dalam dirinya keluar aura merah yang begitu pekat dan kental semua penjaga yang mencoba menghentikannya tersempas.
Bukan hanya tomoya, ogaki dan mitaka juga mengeluarkan aura namun dengan warna berbeda. Aura yang dikeluarkan ogaki itu berwarna biru tua sementara mitaka berwarna kuning keemasan.
Mereka berdua bergerak melayang ke dekat tomoya, lalu postur tubuh mereka bertiga berubah yang awalnya anak-anak kini menjadi berumur sekitar tiga puluh tahun.
Pakaian mereka juga berubah menjadi sangat bagus dan mewah mereka terlihat begitu berwibawa, dileher ogaki terlihat sebuah kunci emas yang dikalungkan. Sejumlah roh samurai mulai muncul memainkan drum taiko.
"Puja ketiga penguasa... Puja ketiga penguasa... Puja ketiga penguasa.." para roh samurai tersebut terus mengatakan hal yang sama.
"Tunduklah dihadapan penguasa sekaligus hakim yang adil, raja azir(tomoya), Raja Kaloon(ogaki), dan ratu Adara" teriak seorang roh samurai dengan suara yang begitu lantang dan keras.
Saat itu juga kedua mata mereka bertiga terbuka membuat semua orang yang disana kocar kacir berhabudan kesana kesini.