The Exorcist

The Exorcist
Masa lalu



Pagi hari yang cerah, terlihat Masaru yang sedang mengangkat beberapa barang masuk ke dalam sebuah toserba, beberapa kali ia bulak-balik mengambil barang yang sama.


Semangat Masaru saat berkerja membuat penjaga toko yaitu seorang kakek tua, memintanya untuk tidak terlalu berkerja berlebihan, tapi Masaru menjawabnya dengan penuh semangat.


"Nak apa kamu bisa mengantarkan barang pesanan ini? Soal alamatnya sudah ada tertera di sana" tanya seorang kakek tua penjaga toko.


"Baik! Kalau begitu aku berangkat" lalu dengan mengunakan sepedah Masaru pun pergi mengantarkan barang pesanan pelanggan.


"Hati-hati di jalan"


Beberapa menit berkendara akhirnya ia sampai di rumah pelanggan pertamanya, dengan tersenyum Masaru memberikan barang pesanannya.


Setelah selesai Masaru kembali mengayuh sepedanya menuju rumah pelanggan berikutnya, saat melewati semua taman bermain tidak di sengaja ia melihat tiga anak kecil yang sedang di palak oleh beberapa pereman.


Ia pun berhenti dan melihat semana beberapa saat lalu turun karena para pereman itu susah mulai bermain kasar dengan anak kecil.


Dengan sopan mengigat mereka lebih tua, Masaru mengingatkan mereka untuk tidak menganggu anak kecil apa lagi sudah mengunakan kekerasan.


Tapi mereka tidak mendengarkan apa yang di katakan Masaru, beberapa cacian harus di dengarkan Masaru tapi ia masih memberitahu mereka dengan sopan.


Merasa jengkel, salah satu dari mereka langsung memukul wajah Masaru sanga kuat, dan Masaru pun di pukuli sampai ia terkapar di tanah.


Lalu para pereman itu kembali memaksa ketiga anak itu untuk mengerjakan uang mereka, tapi anak-anak itu masih tidak mebrikan uang mereka.


Karena kesal, anak-anak itu mendapatkan pukul yang cukup keras membuat mereka semua menangis, suara tangisan itu terdengar oleh Masaru dan ia kembali bangun.


"Sudah ku bilang jangan kasar pada anak kecil" teriak Masaru lalu memukul orang yang tad lebih dulu memukul dirinya.


Dengan wajah memar dan hidung mimisan, Masaru berkelahi dengan mereka semua suara tangisan dar anak-anak itu membuat ia semakin kuat dan berhasil membuat para pereman itu kabur.


Meski dirinya juga terlihat begitu babak belur, perlahan ia mendekati anak-anak itu dan menanyakan keadaan mereka bertiga.


"Lain kali jika ada orang yang seperti mereka kalian harus segera berteriak minta tolong yah, atau lebih baik lari" ujar Masaru lalu tersenyum ke arah mereka bertiga.


"Kalau begitu sampai bertemu" lanjut Masaru lalu kembali mengayuh sepedanya.


Setelah pergi kesana-kesini akhirnya semua barang yang harus ia antarkan sudah habis dan Masaru pun kembali, sesampainya di toko kakek tua yang menjaga toko terlihat terkejut saat melihat keadaan Masaru.


Bergegas iya mengobati luka di wajah Masaru dan membalut kedua tangannya dengan perban.


"Aaa..!! Kek pelan-pelan" ujar Masaru yang kesakitan saat menempelkan beberapa plester di wajahnya.


"Sudah kau pulang saja dan istirahat" ujar si kakek.


"Tidak! Di luar masih ada barang-barang yang belum aku masukkan ke dalam, di tambah mereka semua berat" jawab Masaru lalu berjalan keluar untuk memindahkan barang-barang yang ia maksud.


Meksi dengan luka-luka itu tapi Masaru tetap bekerja keras demi mereka yang sedang menunggunya.


Saat sedang istirahat di belakang, Masaru terlihat sedang mengoleskan salep di lukanya untuk mengurangi rasa sakit luka-lukanya itu, tidak lama kemudian ia kembali untuk berkerja.


Kakek tua yang melihat kegigihan Masaru dalam berkerja hanya bisa menghela nafas dengan wajah penuh kekhawatiran yang terlihat jelas di wajahnya.


.


.


.


.


Selama menjaga toko, dirinya melayani beberapa orang yang datang ke toko untuk membeli barang yang mereka butuhkan, tepat jam 10:33 Masaru langsung membersihkan toko dan menutupnya.


Saat dirinya berjalan pulang, ia melihat di sebrang jalan ada toko kue kemudian ia pun berapa menuju toko kue tersebut, di dalam Masaru melihat-lihat kue yang ingin ia beli.


Ketika sudah menemukannya Masaru meminta pada pelayang toko untuk menuliskan kata selamat ulangtahun yang ke 6 di atas kua itu.


"Terimakasih sudah berbelanja di sini, semoga kuenya enak" ujar seorang pelayan toko saat Masaru akan pergi.


"Yah baik, kanaami pasti akan senang" ujar Masaru dengan wajah yang begitu bahagia.


Beberapa menit ia berjalan akhirnya Masaru sampai di depan sebuah panti asuhan, baru sampai di depan gerbang ia di buat heran karena.


Tidak terlihat ada orang di sana, bahkan semua lampu di dalam panti asuhan itu mati dengan wajah kebingungan Masaru berjalan perlahan masuk ke dalam.


"Apa mereka sedang memulai pestanya tanpa diri ku?" ujar Masaru yang bertanya pada dirinya sendiri.


Baru saja membua pintu depan, Masaru di buat terlalu dengan wajah yang begitu terkejut ketika melihat beberapa suster tergeletak bersimbah darah di lantai.


"A-apa yang terjadi!? Kanam!" kemudian Masaru lari kedalam dengan begitu panik.


"Kanami! Kanami!" teriak Masaru yang memanggil-manggil nama kanami.


Ia pun berhenti di depan sebuah ruangan tempat bermain, Masaru terlihat sangat terkejut ketika melihat anak-anak tewas berlumuran darah.


Perlahan Masaru berjalan masuk ke dalam, dan ia pun terdiam saat melihat anak perempuan yang ternyata anak yang sedang di cari Masaru.


"Tidak..!!!!" teriak Masaru lalu memeluk erat kanami.


"Tidak! Tidak! Ini tidak mungkin terjadi, ini hanya mimpi, ini pasti hanya mimpi" ujar Masaru yang menangis sejadi-jadinya.


Ketiak itu, Masaru mendengar suara langkah kaki yang perlahan mendekat, bergegas ia bersembunyi di belakang lemari sambil memeluk mayat kanami.


Ternyata seorang iblis yang berjalan masuk ke dalam, Masaru pun mengintip untuk melihat apa yang akan di lakukan iblis itu dan hal yang membuat Masaru mual pun terjadi.


Satu persatu mayat anak-anak itu di makan oleh iblis tersebut dalam satu kali suapan, melihat itu Masaru langsung kembali bersembunyi karena tidak kuat untuk melihatnya.


Beberapa saat kemudian terdengar suara pintu depan di dobrak, dan sejumlah polisi exorcist berlarian masuk ke dalam, iblis itu juga langsung pergi.


"Kejar iblis itu jangan sampai dia bisa kabur" .


"Beritau petugas yang ada di belakang untuk segera bersiap-siap"


Namun dirinya terlambat karena para polisi exorcist sudah mengepung setiap sudut di panti asuhan tersebut, karena sudah aman Masaru pun keluar.


Dan beberapa exorcist bergegas menghampirinya sambil menanyakan keadaan Masaru, Masaru hanya terus menangis sambil mengendong mayat kanami di pangkuannya.


"Kanami maafkan kakak, seharunya kakak pulang lebih awal, maaf! Maaf!"


"Kakak menyesal, maaf! Maaf! Dan kanami selamat ulang tahun"