The Exorcist

The Exorcist
Mister desa akitsu



Hari ini kapten Hideaki sedang pergi untuk misi disebuah desa yang jauh dari kota, selama dalam perjalanan kesana kapten Hideaki melihat pohon yang masih rindang dan suasana yang sejuk.


Hamparan sawah dan kebun, menyambutnya tapi nasib tidak begitu bagus setelah melewati semua terowongan tiba-tiba ban mobilnya bocor.


Hanya berkedip dan melihat ban nya yang bocor, kapten Hideaki mulai bingung harus melakukan apa karena perjalanan masih agak jauh. Dan tidak ada pengkel disekitar sana .


"Kenapa? Kenapa kau harus bocor disaat seperti ini? Yaampun kau benar-benar membuatku kesal saja"


"Seharunya dari dulu kau sudah ku jual dan beli mobil baru" lanjut kapten Hideaki yang terlihat kecewa dengan mobilnya itu, lalu menendang ban mobil yang bocor.


Tapi tiba-tiba saja ban mobil tersebut lepas dan menggelinding pergi, melihat itu bergegas ia mengejar ban mobilnya. Setelah beberapa menit kejar-kejaran akhirnya ban tersebut berhasil dibawa kembali.


"Jadi, akan sampai kapan aku berada di sini?" batin kapten Hideaki yang mulai kebingungan.


Karena tidak ada sinyal untuk menghubungi siapapun, setelah menarik nafas panjang ia pun kembali masuk kedalam dan memilih untuk tidur.


Tidak lama kemudian, kapten Hideaki mendengar suara mobil yang datang dari arah belakang, bergegas ia langsung keluar dan menghentikan mobil tersebut.


"Syukurlah, apa aku boleh menumpang? Sepertinya kita satu tujuan" tanya kapten Hideaki pada seorang wanita paruh baya yang mengemudikan mobil bak terbuka itu.


Setelah di persilahkan, bergegas kapten Hideaki masuk kedalam dan meninggalkan mobilnya begitu saja, selama didalam mobil kapten Hideaki mencium bau yang tidak sedap


Tapi ia tidak berani menanyakan hal itu.


"Apa anda polisi exorcist yang datang kedesa kami?"


"Benar, bagai mana anda mengetahuinya?"


"Dari pakaian yang anda gunakan, itu sudah cukup mencolok" jawab si ibu.


"Astaga, aku lupa memakai baju formal" batin kapten Hideaki yang merasa sedikit malu.


"Tempat ini bau.... Bangkai, ternak yang masih bisa bergerak kemarin langsung ludes dalam semalam, apa manusia bisa melakukan hal itu? Orang-orang ketakutan.."


"Ho...."


"Kami masih merahasiakan insiden ini dari anak-anak, bisa repot kalau mereka tidak mau berangkat sekolah karena takut, jika sampai memengaruhi anak-anak, nanti bisa muncul gosip aneh-aneh, sebaik mungkin rahasiakan ini" ujar si ibu lalu melihat kearah kapten Hideaki.


"Tentu saja, merahasiakan sesuatu adalah keahlian ku, karena aku adalah kapten divisi 1" jawab kangen Hideaki.


"Ho... Meski begitu anda cukup narsis"


.


.


Setelah satu jam kurang akhirnya ia sampai di desa akitsu, sebelum keluar si ibu memberitahu sesuatu.


"Jika anda membutuhkan penginapan, saya membuka penginapan di desa ini"


"Kebetulan sekali" jawab kapten Hideaki lalu kembali masuk kedalam mobil.


Beberapa menit kemudian, ia pun sampai di penginap milik ibu itu, sambil melihat-lihat pemandangan kebun, sambil menikmati kue dango dan teh hijau.


"Aduh maaf, aku malah menyerahkan pembayaran ban itu ke kalian nanti akan ku bayar belakang"


"Baik" jawab si ibu pemilik yang menemani kapten Hideaki.


Setelah ia sadar bahwa ada beberapa anak yang sedang mengawasinya di balik sebuah pohon, ketika disapa mereka malah langsung lari terbirit-birit.


lalu pandangannya terhenti pada seorang anak yang sedang bekerja di ladang, wajah anak itu terlihat belepotan dengan tanah dan pupuk.


Ia pun berjalan kecil, kemudian berteriak menyapa anak itu tapi dia hanya membungkukkan badannya kemudian kembali bekerja.


"Pekerja keras yah atau pemalu? Kelihatannya bukan pulang dari sekolah, apa dia bekerja di sini?" tanya kapten Hideaki.


"Aku jelaskan rincinya nanti" jawab ibu pemilik dengan kepala yang menunduk kebawah.


Kapten Hideaki hanya terlihat bingung ketika mendengar jawab dari ibu pemilik sampai akhirnya.


.


.


Beberapa menit kemudian, terdengar seseorang mengetuk pintu dan berkata "permisi! Saya izin membasuh punggung anda!" kedengarannya seperti suara anak kecil.


"yah sebentar, loh! Kamu yang tadi pagi dengan anak-anak tadi" kemudian kapten Hideaki mengambil handuknya kemudian berjalan membukakan pintu.


"Saya putra dari ibu pemilik nama saya kazuma, umur 15 tahun, selama kunjungan, saya bertugas menjadi pelayan anda" jawab anak yang bernama kazuma itu.


"Bapak dari tokyo, kan? enaknya! Di kota ada apa saja, kan? Semua orang bilang mobil bapak keren sekali, saya bercita-cita merantau ke kota saat sudah dewasa!"


"Oh.. Begitu." terlihat kapten Hideaki yang kebingungan harus menggapainya bagai mana.


"Sayangnya, saya harus merahasiakan ini dari ibu, dia pasti menyuruh saya mewarisi penginapan ini.." tapi perkataan kazuma langsung di potong kapten Hideaki setelah ia mengingat sesuatu.


"Ngomong-ngomong, aku diberitahu ibu pemilik tadi ada satu anak lagi disini yah?" tanya kapten Hideaki.


"Oh, maksudnya tadeo? Itu namanya, dia bekerja di ladang tiap hari, jadi selalu berlumuran tanah dan pupuk, karena selalu bau pupuk dia tidak bisa melakukan pekerjaan melayani tamu" jelas kazuma setelah selesai melakukan pekerjaannya lalu ia pergi.


"Hmm.. Menarik yah".


selesai mandi, kapten Hideaki kembali kekamarnya setelah mengunakan baju ia menyempatkan diri untuk berjalan-jalan di sekita penginapan.


Udara pedesaan sangat terasa berbeda dengan perkotaan, disini terasa begitu sejuk dan tenang tidak ada tumpukan dokumen yang harus diperiksa, dan tidak ada kapten fukushima dan kapten tadaoki yang mengganggu.


Dirasa cukup ia kembali, ketika bertemu ibu pemilik kapten Hideaki menyapanya dan mengajaknya mengobrol sebentar.


"Yah mandi disini enak sekali"


"Syukurlah anda merasa begitu, saya ikut senang" jawab ibu pemilik.


"Oh iya, ibu pemilik kalau tidak salah namanya kazuma.."


Kebetulan saat itu kazuma lawat dan mulai menguping pembicaraan kapten Hideaki dan ibu pemilik.


"wah sepertinya aku akan di pujian anak pintar " bisik Kazuma yang terlihat senang.


"Apa aku bisa minta diganti ke tadeo saja?" tanya kapten Hideaki.


"Heh?" kazuma terkejut ketika mendengar perkataan dari kapten Hideaki yang tidak sesuai dengan harapannya.


.


.


Pagi-pagi sekali, ibu pemilik menemui tadeo yang ada di belakang dengan membawa baju seragam pelayan.


"Pelayan?" tanya tadeo yang tidak menunjukkan ekspresi sedikitpun dan hanya memasang wajah datar polosnya saja.


"dia memaksa" jawab ibu pemilik yang tidak melihat ke atau tadeo sedikitpun.


"Aku belum pernah melakukannya tapi baiklah" lalu tadeo yang polos pun mengambil seragam itu dan berajalan kebelakang untuk membersihkan diri.


Saat sedang mandi di tempat yang cukup terbuka, wajahnya terlihat begitu polos tanpa adanya ekspresi sedikit pun yang di tunjukan tadeo. Setelah selesai mandi ia pun mulai melakukan tugasnya,


Mengantarkan sarapan kekamar kapten Hideaki.


"Permisi" ucap tadeo diluar kamar, lalu masuk dengan mengantar sarapan.


"Sudah datang juga, kemarin kita bertemu, apa kamu masih ingat dengan paman?"


"Iya" jawab tadeo dengan wajah datarnya berjalan masuk.


"Silahkan sarapan anda" lanjut tadeo yang meletakkan sarapan yang ia bawa diatas meja.


"Saya permisi" tapi ketika ia akan pergi kapten Hideaki meraih tangannya.


Tadeo hanya terdiam dengan tatapan melihat kearah tangannya yang di pengang kapten Hideaki, tanpa menunjukkan sedikit pun ekspresi.