The Exorcist

The Exorcist
Kita adalah sahabat



"Terkadang aku berpikir untuk apa aku dilahirkan? Untuk apa aku berada didunia ini? Dan mengapa aku bisa hidup? " ujar Fukushima yang berumur 16 tahun, berjalan bersama Tadaoki yang berumur sama dengannya.


"Aku tidak mengira kau bisa memikirkan hal sejauh itu, ku kira isi otakmu cuman wanita" jawab Tadaoki.


"Kau keterlaluan, begini-begini juga aku selalu berpikir seperti itu, semua pertanyaan itu selalu menghantui pikiran ku" tambah Fukushima sambil menatap ke ada langit yang cerah.


"Suatu saat nanti. Mungkin pertanyaanmu akan terjawab, meski saat ini kau masih belum berguna untuk orang lain tapi suatu saat nanti kau akan berguna bagi seseorang" jelas Tadaoki.


"Mungkin saja. Tapi aku penasaran, bagaimana aku akan berguna bagi orang lain?" gumam Fukushima.


"Entahlah, biarkan waktu yang menjawab"


.


.


Saat ini mereka berdua duduk di bangku sekolah menengah atas dan dikelas yang sama. Mereka berdua adalah sahabat sejak duduk disekolah dasar, awalnya hubungan mereka tidak harmonis, karena sifat mereka berdua yang bertolak belakang membuat mereka berdua sering bertengkar.


Terkadang mereka berkelahi karena masalah kecil, permusuhan mereka berdua berakhir di kelas lima sekolah dasar.


Waktu itu sekolah sedang mengadakan perkemahan di alam terbuka lebih tepatnya didekat sebuah bukit. Tidak jauh dari pusat kota.


"Baiklah, anak-anak malam ini kita akan melakukan uji keberanian. Akan ada tujuh kelompok, masing-masing terdiri dari enam orang" ujar seorang guru perempuan kepada semua muridnya.


Setelah kelompok satu dan dua telah dibentuk, saat kelompok tiga nama pertama yang disebut adalah Hosokawa Tadaoki lalu disusul oleh Fukushima Masanori.


Anggota kelompok tiga lain sudah memiliki firasat buruk tenteng hal ini, karena mereka sudah tau apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Aku keberatan! Aku tidak mau satu kelompok dengan anak kecil" ujar Tadaoki yang mengutarakan penolakannya.


"Siapa juga yang mau satu kelompok dengan orang jutek sepertimu? Dan siapa yang kau panggil anak kecil dasar anak kecil" sahut Fukushima yang tidak terima dengan apa yang disampaikan Tadaoki.


"Ini sekaligus untuk membuat tali perdamaian diantara kalian berdua. Ibu sudah pusing melihat kalian selalu bertengkar. Jadi malam ini jalin hubungan pertemanan yang baik" jelas sang ibu guru lalu pergi meninggalkan mereka berdua.


Mau tidak mau mereka harus berada di satu tim yang sama, ketika giliran mereka salah seorang teman mereka menasehati sebelum pergi masuk kedalam hutan.


"Kali ini saja, kalian jangan bertengkar, mengerti?"


"Yah-yah, jangan menasehatiku, beritahu orang yang ada disebelahmu itu" jawab Tadaoki kemudian berjalan pergi lebih dulu.


"Dasar anak itu .... " lalu Fukushima pun berjalan agak jauh dibelakang Tadaoki.


Walau hutan ini bukan hutan belantara tapi taman nasional yang tidak jauh dari perkotaan, anehnya suasana didalam hutan terasa begitu dingin, suara-suara serangga malam menambah kesan dipikiran mereka semua.


Di situasi yang sangat sunyi, tiba-tiba saja sosok baju putih melompat keluar dari dalam semak-semak. Sontak mereka semua teriak karena terkejut lalu berhaburan lari kesana-kesini.


"Eh? Kemana semuanya?" tanya orangĀ  yang berpakaian seprti hantu itu, ketika melihat tidak ada siapapun didepannya.


.


.


Tadaoki terlihat mulai berhenti berlari dan mulai menarik nafas, dari arah belakang tiba-tiba Fukushima datang berlari sambil berteriak dan menabraknya, membuat Fukushima jatuh di atas Tadaoki.


Bergegas tadaoki mendorong Fukushima dari atas tubuhnya dan mereka berdua kembali bertengkar.


"Siapa yang kau panggil tidak punya mata? Salah mu berdiri didepan ku"


"Kau lari yang tidak lihat-lihat jalan"


"Kau yang berdiri disembarang tempat"


Beberapa menit berlalu, akhirnya mereka berdua berhenti bertengkar setelah Tadaoki mengalah, tanpa mengajak Fukushima, Tadaoki berjalan pergi untuk mencari jalan pulang.


Awalnya Fukushima tidak ingin mengikuti Tadaoki, namun setalah dirinya berpikir akhirnya dengan terpaksa ia mengikuti Tadaoki, meski menyadari kalau Fukushima mengikutinya di belakang tapi Tadaoki tidak mempedulikannya dan terus berjalan.


Bukannya menemukan jalan pulang, mereka berdua malah semakin tersesat masuk kedalam hutan dan sampai didekat sebuah sungai dengan arus yang lumayan besar, sadar kalau dirinya semakin tersesat Fukushima mulai menyalahkan Tadaoki.


Karena tidak bisa menemukan jalan yang benar, tidak terima Tadaoki menjawab perkataan Fukushima barusan. Ketika akan berjalan meninggalkan Tadaoki tiba-tiba tanah yang diinjak Fukushima ambles membuatnya jatuh ke sungai.


"Oi bodoh! Cepat berenang!"teriak Tadaoki setelah melihat Fukushima mulai tenggelam dan terbawa arus sungai.


"Aku ..... Ti ... Tidak ... Bisa.. Berenang!!" jawab Fukushima, karena kehabisan tenaga untuk mempertahankan tubuhnya tetap mengambang akhirnya Fukushima tenggelam.


Refleks, Tadaoki langsung melompat masuk kedalam sungai dan berenang menghampiri Fukushima yang tidak berdaya lagi, setiap kali Tadaoki akan berhasil meraih tangan Fukushima, selalu ada beberapa gelombang air yang mengganggu, setelah berusaha keras akhirnya Tadaoki berhasil menangkap tangan Fukushima.


Bergegas ia langsung membawa Fukushima ke daratan. Melihat Fukushima yang tidak sadarkan diri Tadaoki mulai kebingungan bercampur panik, sebisa mungkin ia mencoba untuk menyadarkan Fukushima namun usahanya tidak berhasil.


Dalam pikirannya, Tadaoki berpikir kalau Fukushima sudah mati dan karena itu Tadaoki mulai menangis.


"Hei, jangan mati dulu, jika kau mati aku akan kesepian" ujar Tadaoki dalam tangisnya.


Beberapa saat kemudian, terlihat beberapa cahaya senter dari para dewan guru yang sedang mencari mereka berdua, melihat itu Tadaoki langsung berteriak untuk memberitahu keberadaan mereka berdua.


.


.


Didepan api unggun sambil mengunakan selimut, Tadaoki dan Fukushima duduk bersama, tidak ada yang mau buka mulut lebih dulu sampai akhirnya.


"Terimakasih" ucap Fukushima dengan pandangan menatap api.


Mendengar itu Tadaoki menjadi sedikit terkejut, karena ia baru pertama kali mendengar Fukushima berterimakasih kepadanya secara langsung.


Meski tidak melihat kearah Tadaoki saat berterimakasih, tapi wajah Fukushima menunjukkan kalau dirinya sangat tulus mengucapkan terimakasih.


.


.


Setelah kejadian itu, hubungan mereka berdua perlahan mulai membaik sampai akhirnya menjadi dua sahabat yang tidak terpisahkan, meski terkadang lelucon yang mereka berdua lakukan agak ekstrim.


Ketika masuk ke akademi Exorcist, mereka berdua lulus sebagai angkatan terbaik dengan nilai yang sama, semenjak masuk Exorcist mereka berdua mulai bersaing, tidak ada yang mau kalah.


Saat Tadaoki naik jabatan menjadi kapten divisi 5, beberapa hari kemudian Fukushima juga naik jabatan menjadi kapten divisi 4 .


Dan kini mereka sedang bersaing untuk mendapatkan jabatan jendral utama, persaingan mereka berdua tidak menghilangkan sedikit pun rasa persahabatan di antara keduanya.


Malah, persaingan yang mereka berdua lalukan membuat hubungan mereka semakin erat dan persahabatan mereka berdua takkan terpisahkan meski maut datang menjemput salah satu dari mereka berdua.