
"Lucifer! Ada masalah" teriak zion yang memberitahu lucifer bahwa ada masalah besar sedang terjadi.
"Sesuai perhitungan, saatnya memulai rencana" gumam lucifer kemudian beranak dari sofa pergi bersama zion.
.
.
.
.
.
.
"A-apa yang kalian maksud?" tanya akito yang terlihat tidak mengerti apa yang mereka katakan, tidak lama kemudian hana terlihat berlari menghampiri akito namun salah seorang reven langsung menangkap tangan kiri hana.
"Lepaskan!" bentak hanya yang mencoba melepaskan genggaman sang reven.
"Nona kau sudah mengambil langkah yang salah dengan berteman dengannya, kami harus mengambil langkah tegas terhadap mu. Menurut peraturan jika dalam misi ada gangguan maka kami berhak mengambil langkah tegas" jelas sang reven lalu mengangkat pedangnya.
"Jangan bilang... Hana!" teriak akito dan wuss... Api biru yang bergejolak mulai menyelimuti tubuh akito, untuk sesaat para reven terdiam karena melihat hal tersebut termasuk mereka yang melihat dari dalam kelas.
Si reen yang menggenggam tangan hana mulai mempererat pegangannya membuat hana merasa kesakitan, melihat sahabatnya yang kesakitan akito menjadi sangat merah dan api biru yang keluar dari dirinya semakin besar.
"Hooh" bukannya berhenti reven itu malah semakin tertantang untuk membuat akito makin marah, tanpa berpikir panjang iya langsung meremas pergelangan tangan hana sampai terkilir dan meninggalkan bekas memar.
"Hana!? Dasar manusia bedebah!!" teriak akito dan menyebarkan aura yang begitu besar bukan hanya itu api birunya juga menjadi begitu besar sampai menyentuh kubah.
"Akhirnya kau menunjukkan identitas mu, dasar iblis"
"Takkan ku ampuni kalian!" akito pun langsung bergerak menyerang mereka bertujuh.
"Haah! Kemampuan mu masih mentah dasar bocah sialan" jawab reven itu lalu melepaskan genggamannya dari tangan hana.
Akito yang terbakar api marah hanya bisa menyerang mengikuti emosinya tanpa berpikir sedikit pun, karena hal tersebut memudahkan para reven untuk menghindar dan menyerang akito secara langsung.
Banyak luka yang di terima akito namun semua luka itu kembali sembuh dalam waktu yang begitu cepat, mereka bertujuh yang bergerak secara acak membuat akito tidak bisa memprediksi dari mana serangan berikutnya akan datang.
Karena menyerang secara bersamaan dengan gerakan acak adalah formasi yang selalu dilakukan para reven, biasanya mereka mengkombinasikannya dengan teknik kabut mereka agar membua mereka lebih leluasa saat bergerak.
Semakin lama situasi mulai memburuk kini kondisi akito sudah sangat tertekan, dirinya hanya bisa bertahan dari gempuran serangan yang datang dari segala arah. Melihat akito yang sudah hampir kehabisan tenang memberikan kesempatan bagi para reven untuk menangkapnya.
Mereka bertujuh mulai mengambil posisi masing-masing mengelilingi akito, lalu bersama mereka menyatukan telapak tangan mereka dan mengucapkan teknik secara serentak dengan lantang.
"Teknik penyegel! Peti mati gunung besi!" sesaat kemudian sebuah peti mati keluar dari dalam tanah. Lalu penutup peti itu terbuka dan dari dalam pagi mati yang begitu gelap iru sejumlah tangan muncul lalu menarik akito untuk masuk kedalam.
Tapi tidak semudah itu untuk menarik akito masuk kedalam, ia masih punya sisa tenaga untuk mempertahankan dirinya.
"Lepaskan akito!" teriak hana lalu mendorong salah satu reven membuat teknik segel mereka berantakan.
"Anak sialan. Kenapa kau tidak bersyukur sudah kami biarkan untuk hidup? Kau tidak tau kami diberi kewenangan untuk membunuh siapapun yang menganggu jalannya misi" jelas reven itu sambil mencekik hana membuat hana sulit untuk bernafas.
"Ugh.! A-apa?" reven berhenti lalu melihat kebawah dan terlihat sebuah tangan menembus tubuhnya dari belakang, ketika dilihat kebelakang itu adalah akito.
Dengan kasar akito menarik kembali tangannya bengitu juga dengan isi perut dari reven itu, bergegas ia langsung mendekati hana dan menanyakan keadaannya syukurnya hana tidak terluka terlalu parah.
Melihat rekan mereka sudah ada yang tumbang membuat yang lain langsung bergerak menyerang, sebelum serangan itu dagang akito meminta hana untuk menjauh untuk mencari tempat yang aman.
"Berani sekali kalian menyakiti sahabat ku" akito terlihat mengangkat tangan kanannya.
"Takkan ku ampuni!" teriaknya lalu mengepalkan tangannya lalu para reven itu terbakar oleh api biru yang sama dengan yang keluar dari dalam diri akito.
Api itu terus membakar mereka, suara jeritan kesakitan terdengar menggema di seluruh sekolah sampai akhirnya lima diantara mereka sudah berubah menjadi debu, tapi akito menyiapkan satu orang reven untuk bertanya siapa yang menyuruh mereka.......
"Ini saatnya" ucap lucifer lalu menjentikkan jarinya membuat kubah yang dibuat para reven hancur..........
"Siapa yang menyuruh kalian? Cepat jawab" terika akito didepan si reven namun meski sudah di paksa untuk bicara reven itu tetap tutup mulut.
Sampai akhirnya iys memilih untuk mengakhiri dirinya sendiri dengan cara memotong lehernya. Setalah kekacauan ini selesai akito langsung berjalan untuk menghampiri hana.
"Nah. Ini dia" kemudian lucifer membuka kedua matanya yang mengeluarkan aura yang begitu gelap.
Tubuh dari dua reven yang sudah lagi melihat kembali berdiri karena di kendalikan lucifer, tubuh yang isi perutnya keluar menahan akito untuk tidak berjalan lebih dekat ke hana. Sementara yang lehernya disayat berlari kearah hana.
Kemudian menarik hana ke luar sekolah, akito mencoba melepaskan tangan reven yang menahannya namun tidak segampang itu. Setelah sampai di pinggir jalan reven yang membawa hana mulai mematahkan kedua kaki hana lalu melemparkannya ke tengah jalan.
"Hana!" api biru akito kembali muncul dan menghanguskan reven yang menahannya dalam waktu sangat cepat, bergegas akito berlari untuk menyelamatkan hana sebelum ada mobil yang melintas.
Tapi masih ada satu lagi reven yang dikendalikan lucifer, untuk kedua kalinya akito kembali di tahan sayangnya untuk sekarang akito tidak bisa menggunakan api birunya karena kekurangan tenaga.
"Hana! Cepat kemari!" teriak akito yang meminta hana untuk segera menyingkir dari tengah jalan tapi itu sangat sulit dilakukan mengingat kedua kali hanya sudah di patahkan.
"Siapapun tolong!" terika akito lalu melihat kearah sekolah dan ia terkejut melihat semua orang telah dikendalikan........
"Kau pikir aku sebodoh itu akan membiarkan rencana ini gagal?" gumam lucifer yang sudah mengendalikan semua orang disekolah.
"Itu dia. Mainan ku sudah datang" lanjut lucifer setelah melihat sebuah truk besar bergerak kearah hana. Bergegas ia juga mengendalikan pengemudi truk tersebut untuk menambah kecepatannya menjadi maksimal.
"Hana! Kenapa kau diam saja? Tenang aku akan segera kesana menolongmu" teriak akito yang terus mencoba melepaskan diri dari mayat sialan itu.
Sadar kalau ada truk yang bergerak begitu cepat kearahnya membuat hana tidak banyak pilihan selain menerima takdirnya.
"Akito terimakasih untuk semua kenangan bahagia kita, aku tidak akan pernah melupakannya. Aku hanya ingin kau untuk belajar membaca dan jangan pernah melupakan diri ku" ujad hana lalu tersenyum begitu manis.
Dan truk itu pun melintas tepat didepan akito.
"Oke. Semuanya berjalan lancar" kemudian lucifer melepaskan kendali nya dari semua orang membuat orang-orang yang iya kendalikan pingsan dan mayat sialan itu kembali mati.
"Hahahaha.. Waktunya menyiapkan batu loncatan berikutnya" kemudian dengan santai lucifer berjalan pergi.........
"Tidak..! Tidak..! Hana?! HANA........!!!" teriak akito dengan suara yang penuh kesedihan memeluk mayat sahabatnya dibawah hujan yang mulai turun