
Di pagi hari, di kuil susanoo dia adakan acara keagamaan banyak orang yang datang untuk berdoa dan ada juga yang datang hanya untuk melihat-lihat saja.
Di tengah kerumunan dua remaja berlari menerobos orang-orang dan mereka adalah matsuya dan Mitsuhiro.
Mereka berhenti di dekat dua orang kepala pendeta yang sedang bersiap-siap untuk memulai acaranya, matsuya dan Mitsuhiro memanggil mereka dengan sebutan "ayah".
"Kalian sudah pulang?" tanya ayah matsuya.
"Hari ini banyak orang kalian pulanglah" tambah ayah Mitsuhiro.
"Pendeta Fujimoto! Pendeta akashi! Cepatlah acara akan segera di mulai" teriak panitia yang memanggil nama ayah matsuya dan Mitsuhiro.
Awalnya mereka berdua tidak ingin pulang tapi setelah beberapa kali di paksa akhirnya mereka berdua mengalah dan pergi pulang.
Dan suara lonceng dan drum taiko pun terdengar mengiringi jalannya upacara, luar kuil matsuya terus membicarakan seoal impiannya.
Beberapa menit kemudian, mereka berdua bukannya kerumah malah pergi ke tempat lain yaitu menemui beberapa teman mereka yang sudah menunggu di taman.
Mereka semua kembali bersenang-senang bersama, pergi ke bioskop untuk menonton filem yang sedang terkenal belakangan ini, seharian mereka semua bersenang-senang.
Sampai akhirnya malam tiba, sebelum ke rumah mtasuya dan Mitsuhiro menyempatkan diri untuk menemui ayah mereka yang masih ada di kuil.
Keadaan di kuil begitu berantakan, banyak sampah yang berserakan di mana-mana, tidak lama kemudian ada seorang pendeta yang memanggil untuk meminta bantuan.
Saat membantu pendeta itu membersihkan halaman, matsuya menanyakan tentang ayahnya dan pendeta itu menjawab kalau kepala pendeta yaitu ayah matsuya sedang ada di dalam.
.
.
.
.
Di dalam, terlihat pendeta Fujimoto dan pemdeta akashi sedang membersihkan altar dan tempat-tempat lain di dalam kuil.
Saat sedang sibuk bersih-bersih pendeta akashi dibuat terdiam saat melihat air yang ada di mangkuk tergetar.
Dan Bomm... Seseorang menerobos masuk ke dalam dari atap kuil, membuat kedau pendeta itu terkejut di buatnya, sosok itu adalah zion.
"Yo.. Sudah lama tidak bertemu" ujar zion lalu mengusap rabutnya kebelakang.
"zi-zion! Mau apa kau kemari?" tanya pendeta akashi.
"Kalian ingat ini?" lalu menunjukan bekas luka di lehernya yang terlihat cukup jelas.
"Luka ini yang masih membekas sampai sekarang, waktu itu kalian berdua hampir saja mengalahkan ku"
"dan ku dengar kalian berdua sudah pensiun, jadi aku datang untuk meneruskan masa lalu kita" lanjut zion dengan tersenyum lebar.
.
.
.
.
Flashback...........
Yah maksud dari zion adalah, di masa lalu mereka berdua adalah seorang kapten utama exorcist dan waktu itu para jenderal hanya berjumlah enam orang
Sebelum tiga belas kapten utama di bentuk.
Waktu itu juga jenderal morisawa belum menjabat menjadi seorang jenderal, begitu juga dengan jenderal yang lain...
Saat ada misi, mereka berdua bertemu dengan zion, pertarungan di antara mereka berlangsung sangat sengit, waktu itu zion tidak sekuat sekarang dan iya hampir saja kehilangan kepalanya jika tidak di tolong lucifer.
Dan zionl adalah satu-satunya di antara berdelapan yang memiliki bekas luka permanen.
And Flashback.......
.
.
.
Sesaat kemudian matsuya berlari ke dalam untuk menemui ayahnya dan di ikuti oleh Mitsuhiro.
Mereka berdua langsung berhenti berlari ketika melihat keberadaan zion, perlahan mereka berdua berjalan mundur.
"Matsuya! Mitsuhiro! Cepat lari!!" teriak pendeta Fujimoto.
Dan zion mulai bergerak menyerang tapi serangannya tidak kena karena pendeta yang tadi sedang membersihkan halaman depan, menarik mereka berdua.
"Seimei, cepat bawa anak-anak pergi"
Dan pendeta yang bernama seimei itu pun membawa matsuya dan Mitsuhiro untuk pergi ke tempat yang lebih aman.
Tidak ada pilihan lain kedua pendeta itu harus menghadapi zion untuk yang ke dua kalinya, dua buah pedang yang di simpan di bawah altar pun di keluarga.
"zion! Kita selesaikan ini sekarang" ujar pendeta akashi.
.
.
.
.
Di luar kuil, matsuya mencoba melepaskan genggaman tangan pendeta seimei karena ia tidak ingin meninggalkan ayahnya.
Tapi tidak semudah itu untuk lepas darinya ,di rumah matsuya pendeta seimei mulai menelpon kantor kepolisian exorcist untuk meminta bantuan.
Sayangnya semua divisi yang ada di kantor itu sedang bertugas di luar kota untuk beberapa hari, tidak ada caralain pendeta seimei pun menghubungi markas pusat.
Setelah di konfirmasi divisi 4 yang di pimpin oleh kepten shimazu yoshihiro, dan waktu yang mereka butuhkan untuk sampai cukup lama, lebih dari empat jam.
Saat iya berbalik untuk melihat matsuya dan Mitsuhiro, mereka berdua sudah tidak ada dengan pintu depan yang sudah terbuka.
Bergegas pendeta seimei berlari untuk mengajar mereka berdua.
.
.
.
"Aku lupa kalian itu sudah tua, gerakan kalian tidak masa seperti dulu" ujar zion lalu melemparkan banyak pisau bernetuk bulu burung.
Walau zion mengatakan gerakan mereka berbeda itu sudah berbeda tapi mereka dapat begitu lancar menghindari setiap pisau itu untuk mendekatinya.
Suara benturan yang terjadi antara senjata yang mereka gunakan terus menggenggam di seluruh kuil, sampai akhirnya hujan pun turun.
Mengingat umur dan juga stamina yang tidak masa seperti dulu, pendeta Fujimoto dan pendeta akashi sudah mulai kelelahan.
Saat sedang mengambil jarak antara satu sama lain, tanpa peringatan apapun zion bergerak dengan cepat mendekati mereka berdua.
Karena terkejut dengan serangan yang sangat mendadak itu, mereka berdua harus terlempar setelah menangkis serangan dari zion.
Beberapa menit kemudian, mereka melihat "anak-anak!" ujar pendeta akashi setelah melihat matsuya dan Mitsuhiro.
"Ironis sekali!" ujar zion kemudian melemparkan banyak pisau ke arah matsuya dan Mitsuhiro.
"Tidak!" dengan kekuatan yang tersisa pendeta akashi langsung melindungi anak-anak mengunakan dirinya sendiri.
"Cepat larilah" ujar pendeta akashi dengan sura yang lembut kemudian iya melepaskan pelukannya dan jatuh.
Melihat ayahnya telah jatuh,Mitsuhiro mencoba untuk menolong seng ayah tapi ia sudah tidak merasakan nafas dari sang ayah.
"Satu jatuh tinggal satu lagi" ujar zion dengan menunjuk ke arah pendeta Fujimoto mengunakan pisaunya.
"zion, bersiaplah untuk di murnikan!"
"Teknik senjata terkutuk! Tatapan mata kematian!"dan tiba-tiba saja sejumlah mata muncul di dalam penjuru kuil melihat ke arah zion
Terlihat salah satu dari semua mata itu ada yang berkedip, dan tanpa adanya gerakan apapun pendeta Fujimoto muncul seperti berteleportasi.
Hal itu berhasil membua zion tidak sempat untuk menghindar dan membuat telinga sebelah kirinya terpotong, meski telinga itu kembali tumbuh.
Kejadian yang sana terus terulang setiap kalian satu di antara semua mata itu berkedip pasti pendeta Fujimoto akan muncul.
Dengan ini zion di buat tidak berdaya, namun tiba-tiba pendeta Fujimoto memuntahkan darah dalam jumlah yang cukup banyak.
"Sepertinya tubuh ku sudah sampai pada batasnya" batin pendeta Fujimoto lalu melepaskan tekniknya.
"kau melepaskan tekniknya? Kenapa?" tanya zion setelah melihat semua mata yang di sekiranya menghilang.
Sesaat kemudian sebuah pedang melesat cepat dari luar kuil dan menancap di kepala zion.
"Siapa?"
Terlihat seseorang melesat cepat untuk menyerangnya tapi zion berhasil menjauh dan orang itu adalah kapten shimazu yoshihiro dari divisi 4.
"Cih" zion pun mencabut pedang yang menancap di kepalanya itu lalu bergegas pergi dari sana.
"Maaf saya terlambat" ujar kapten yoshihiro pada pendeta fujimoto....
.
.
.
.
Setelah kejadian di hari itu, pendeta Fujimoto selalu pergi ke desa untuk meminta sumbangan dari penduduk
Tapi mereka selalu " dasar rendahan! Jangan datang lagi" bentak seorang ibu-ibu lalu membanting pintu rumahnya.
"Ayah!" ucap matsuya yang melihat sang ayah di bentak.
"Jangan marah, ini adalah takdir yang sudah kita pilih" jawab pendeta Fujimoto dengan tersenyum sambil mengusap rambut matsuya