The Exorcist

The Exorcist
Tragedi dan Pelatihan gila



Akan ku urus dari sini" ujar Yamato yang berjalan masuk kedalam dengan beberapa percikan petir yang keluar dari susanoo.


"Yamato" Akane dan Mitsuhiro hanya terdiam dan terkejut melihat yang sudah berubah. Tanpa mereka berdua sadari beberapa serangan datang kearah mereka berdua.


"Awas!" teriak Mitsuhiro yang mencoba menyelamatkan Akane meski dia tau dirinya juga akan terkena serangan itu.


Namun semua serangan itu berhasil di tebas hanya dengan satu ayunan saja bahkan petir dari susanoo dengan cepat merambat dan menyengat korban.


Lalu sebelum kembali menyerang bergegas Yamato menyerangnya lebih dulu, ia melemparkan tsukoyomi dan berhasil menembus tubuh korban.


"Apa yang kau lakukan?!" tanya Akane yang terkejut karena Yamato tidak segan-segan menyerang.


Tapi anehnya korban tidak mengeluarkan darah sama sekali, Yamato pun berjalan mendekati korban yang sudah tidak berdaya kemudian menarik tsukoyomi dan terlihat iblis yang merasuki korban mulai ikut tertarik.


Karena tsukoyomi hanya menargetkan iblis yang ada didalam tubuh korban, meski tertususk hal itu tidak akan melukai korban bahkan tidak akan menimbulkan luka apapun kecuali pada iblis yang sudah di targetnya.


Iblis itu terlihat tidak berdaya bahkan iya seperti tidak bisa menggerakkan tubuhnya sendiri, kemudian Yamato akhirnya memenggal kepalanya. Tanpa melirik sedikit pun kearah mereka berdua Yamato langsung berjalan pergi.


Tapi Mitsuhiro langsung menghalangi langkah kaki Yamato.


"Dari mana saja kau dua minggu ini? Kau tau kami sangat mengkhawatirkan mu, yaa~. Kecuali matsuya, kau tau sendirikan dia seperti apa?"


Sayangnya Yamato tidak menjawab perkataan Mitsuhiro dan memilih menghiraukannya lalu kembali berjalan tapi kakinya kembali berhenti untuk kedua kalinya saat mendengar Akane memanggil.


"Mao-chan!"


"Ada apa ini? Kenapa kau tiba-tiba berubah...."


"Maaf. Tapi ini jalan yang ku pilih untuk menjadi lebih kuat. Tetap berada di satu tempat tidak akan membuat ku berkembang" jawab Yamato lalu menggunakan kekuatan susanoo untuk berpindah tempat dengan sangat cepat.


.


.


.


.


.


.


Seperti biasa akito yang terlihat penuh pikiran sedang menyendiri di bawah pohon disebuah taman. Ia terus memikirkan tentang sosok misterius yang pernah muncul dan mengatakan hal yang menjadi tanda tanya besar dalam hidup akito.


"Bentar lagi kayaknya mau hujan"


Tidak lama kemudian entah kenapa tiba-tiba saja akito mulai memikirkan teman-temannya, bergegas ia pun berdiri dan langsung pergi untuk menemui seichiro dan yang lainnya.


Ditengah perjalanan hujan pun turun cukup deras, beberapa menit kemudian dirinya sampai yaitu disebuah pabrik besi yang sedang kosong karena libur. Akito pun berjalan masuk kedalam melihat tidak ada siapa-siapa ia mulai berteriak memanggil seichiro dan yang lainnya.


Karena fokus mencari teman-temannya sampai tidak akito sengaja sebuah batangan besi, saat ia melihat batangan besi tersebut akito melihat terdapat bercak darah pada besi itu.


"Darah?" bergegas akito mulai menyusuri setiap tempat yang ada di dalam pabrik tersebut sampai akhirnya ia menemukan mereka semua.


"Hah?!" akito terlihat begitu terkejut kala melihat sechiro dan yang lainnya berada dk bawah alat pemotong besi dan seperti ini sudah di rencanakan sejak awal karena leher mereka berada tepat dibawah alat pemotong besi.


"O-oi. Ada apa ini?" tanya akito kemudian berjalan untuk menolong teman-temannya.


"Akito! Jangan mendekat!" sora yang memperingati akito agar tidak berjalan mendekati mereka.


Namun sudah terlambat, sebuah tali kawan yang membentang dibawah tak sengaja diinjak akito, membuat tuas untuk menghidupkan alat tersebut ke tarik. Dan mesin itu pun mulai menyala berputar kencang memotong leher teman-teman akito.


"!" darah dari mereka terlihat menciprat ke akito, ia hanya terdiam dengan wajah yang begitu shock melihat teman-temannya kehilangan didepan kedua mata akito karena kecerobohannya.


"Apa ini? Ini hanya mimpi bukan? Kalau begitu" akito langsung mengambil sebuah batangan besi dan menusukkan batangan besi tersebut pada dirinya sendiri.


"Kenapa? Jika ini mimpi kenapa aku merasa kesakitan? Ini mimpi kan? Aku yakin ini mimpi" tidak berhenti hanya dengan satu batang besi akito berlari kesebuah tiang kemudian menghantamkan kepalanya sendiri pada tiang tersebut.


Ia terus melakukan hal seperti itu meski darah sudah mengalir membasahi wajahnya.


"Kenapa? Kenapa kau belum bangun juga!!!!!" teriak akito yang mulai menangis.


Ia berjalan perlahan mendekati tubuh teman-temannya yang perlahan mulai menghilang, diluar hujan deras alhirnya turun dengan gemuruh hujan  yang menutupi suara tangisan kesedihan akito.


"Apa ini tidak keterlaluan?" tanya leviethan pada lucifer, mereka berdua berdiri ditengah hujan yang deras dibawah payung yang mereka bawa, Melihat tangisan akito dari kejauhan.


"Keterlaluan? Kitaa hanya perlu memberikan tekanan emosional padanya bukan? Sedih, marah, dan senang" jawab lucifer.


"Terserahlah, aku mau ke tempat belial mungkin dia mau memberiku minuman gratis" kemudian leviethan pun berjalan pergi meninggalkan lucifer.


"Apa dia masih belum menemukannya? Mengadu domba dua pihak bodoh memang lah epic" lalu lucifer berjalan pergi.


.


.


.


.


*Kilas balik*


Seichiro dan yang lainnya terlihat sedang berkumpul di dalam sebuah pabrik, mereka berkumpul untuk menunggu akito datang selagi menunggu mereka saling mengobrol satu sama lain.


"Maaf tapi aku harus melakukan ini" gumam leviethan dengan tangan kanan membawa tombak es berjalan dari luar masuk kedalam pabrik.


Melihat aura yang dimiliki leviethan sangat jauh diatas mereka semua, fuyumi mengusulkan untuk pergi menjauh sebelum hal yang tidak dinginkan terjadi. Tapi pada saat mereka kan pergi tombak es yang dibawa leviethan tadi terlihat melesat dan menembus bahu sora.


"Aku tidak ingin melukai kalian" kemudian leviethan meniupkan nafas bekunya, bergerak cepat membekukan kaki seichiro dan yang lainnya.


Tidak lama kemudian sosorang memukul leher mereka dari belakang membuat mereka semua pingsan dan orang tersebut adalah lucifer. Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sadar dan saat ini mereka sudah berbaring dibawah alat pemotong besi.


"A-apa yang kau lakukan?" tanya sora yang masih terkejut dengan apa yang baru saja terjadi.


"Hah? Tidak apa-apa, aku hanya melakukan apa yang harus aku lakukan saja. Yaitu membuat akito membunuh kalian" jawab lucifer setelah memasang tali yang di ikat pada tuas masih pemotong besi tersebut.


"Dan ini untuk menambah keseruan" kemudian lucifer mengambil logo exorcist dari dalam saku celananya kemudian meletakkan logo tersebut dibawah tubuh sora.


"Dasar brengsek apa jangan-jangan kau juga yang...!!" teriak seichiro .


"Benar! Aku yang membunuh katsugi, saat itu mulutnya sangat berbahaya untuk rencana ku, dan ingat untuk apa kalian hidup hah?"


"Kalau begitu nikmati sisa waktu kalian, bereskan kekacauan ini jangan sampai akito curiga" kemudian lucifer pergi dari sana.


"Maaf anak-anak, ku harap kalian memahami posisi ku saat ini. Aku tidak bisa menentang lucifer" ujar leviethan namun tidak ada yang memperdulikannya.


Lalu iya pun mula membereskan semua kekacauan yang telah dilakukannya tadi.


*and kilas balik*


.


.


.


.


Setelah tubuh fuyumi menghilang akito melihat sebuah logo yang tidak asing dan sering ia lihat, karena itu adalah logo kepolisian Exorcist.


"Seharunya aku sudah menduga ini semua. Kalian harus membayarnya dengan sangat mahal"


Saking kesalnya tubuh akito terlihat bergetar, ia mulai berjalan pergi untuk membalaskan dendamnya.


"Hiihihi... Emosi yang bagus" gumam sosok siluet wajah yang muncul di belakang akito.


.


.


.


.


.


.


.


Dilapangan sepak bola sekolah menegah pertama terlihat ogaki yang sedang berdiri ditengah lapangan seperti sedang menunggu seseorang.


"Hujannya deras sekali" gumam ogaki yang sedang menunggu dibawah payung hitamnya(gak pake penutup kepala)


"Oh sudah datang " lanjutnya yang melihat Yamato berjalan menghampirinya.


"Kau yakin ingin latihan sekarang? Hujannya lagi deres loh?"


"Lakukan saja yang harus kau lakuka" jawab Yamato yang sudah memasang kuda-kudanya.


"Berhati-hati karena mereka cukup tangguh" lalu belasan samurai bermata merah dengan full armor dan senjata yang lengkap bermunculan dibelakang ogaki lalu mereka langsung tunduk dihadapannya.


Kemudian ogaki berjalan melewata para masurai itu setelah itu mereka semua berdiri dan menarik pedang dari dalam sarungnya. Anggap saja latihan seperti ini sama aja dengan memperhitungkan nyawa sendiri.


Serangan para samurai itu begitu terorganisir hanya butuh waktu sebentar Yamato sudah terbaring di lantai, saat para samurai itu akan membunuh Yamato syukurnya ogaki menghentikan mereka.


"Kita sudahi ini?" tanya ogaki yang berdiri didekat Yamato, karena tidak menjawab ogaki berbalik lalu berjalan pergi namun.


"Masih belum... Ini masih belum cukup" Yamato menghentikan kaki ogaki dengan jari telunjuknya.


"Kau cukup gigih, baiklah kalau itu yang kau inginkan akan ku turuti"


"Kalian jangan terlalu kasar santai saja aku...."


"Jangan! Jangan tahan diri kalian, tidak masalah jika kalian berniat membunuh ku" potong yang yang kembali bangkit.


"Kalian dengarkan? Lakukan saja" gumam ogaki didekat salah satu dari para samurai.


Mereka hanya menjawab dengan anggukan kepala, kemudian kembali bersiap melayani keinginan Yamato.


"Orang-orang mengatakan. Tuhan tidak akan memberikan ujian diluar batas kemampuan mahkluknya, tapi ini sudah diluar batas kemampuan manusia biasa. Dia berani melawan lima belas tentara terakota, jumlah segitu sudah bisa menghancurkan satu armada militer"


"Menempa seorang legenda memang menguras bayak waktu dan tenaga" gumam ogaki yang menonton latihan Yamato dengan para samurai.