The Exorcist

The Exorcist
membaiknya situasi



"Kekuatan spiritual yang begitu murni dan tulus, aura nya bahkan tidak terkotori oleh aura azir" batin satan ketika baku hantam dengan Yamato.


Tidak disangka situasi berpihak pada Yamato kenapa? Karena satan tidak bisa menggunakan semua kemampuannya karena saat ini tubuh akito sudah mahir sampai pada batasnya, hal tersebut memberikan kesempatan Yamato untuk memproritaskan pedang roh milik satan.


Yamato terus berusaha untuk merebut pedang tersebut namun tetap saja gagal tapi tiba-tiba satan merasa kalau kekuatannya sedang ditekan dari dalam oleh akito yang ingin mengambil alih atas dirinya.


Hal itu memberikan kesempatan bagi Yamato dan bergegas ia memotong pergelangan tangan satan membuat pedang roh itu terlempar. Sebelum satan lebih dulu mengambil kembali pedang tersebut secepat mungkin Yamato mengambilnya.


"Kembalikan teman-teman ku!" teriak Yamato lalu menghancurkan pedang roh tersebut pecah berkeping-keping, semua pecahan tersebut berubah menjadi roh-roh yang telah diambil oleh satan kemudian kembali ke tubuh mereka masing-masing.


Mereka yang telah sadar dibuat terpaku melihat pertarungan antara Yamato melawan satan.


"Yamato..."


"Ugh.. Kelautan ku semakin ditekan, sepertinya bocah ini ingin mengambil alih" gumam satan saat sedang menghindari setiap serangan yang datang.


"Teknik terkutuk! Tahap ketiga! Gerhana matahari cincin! Lingkaran api!"


"Gawat!?"


Sayang seribu sayang saat Yamato akan menyerang tiba-tiba ia dihalagi  oleh lucifer yang tersenyum lebar ke arah semua orang. Lalu ia berjalan mendekati Yamato, semua orang mencoba menghalangi lucifer namun kaki mereka ditahan oleh sesuatu yang muncul dari dalam tanah hal tersebut juga terjadi pada Yamato.


"Kau! Apa kau yang bernama lucifer?" tanya Yamato yang terlihat memasang wajah marah.


"benar. Akulah iblis yang membunuh orang tuamu, dan aku adalah dalang dibalik semua ini. Sebenarnya sendiri yang akan menjadikanmu wadah untuk azir, namun takdir berkata lain.." bisik lucifer tepat didekat telinga Yamato.


Mendengar itu Yamato semakin meradang sepertinya ia sudah tidak bisa menahan amarahnya lagi, dengan sendirinya busur amaterasu menembakkan beberapa anak panah untuk menjauhkan lucifer dari Yamato.


"Sepertinya aku sendiri yang harus menyelesaikan permasalahan ini" ujar ogaki yang terlihat bejalan dari pintu gerbang kemudian berdiri didepan Yamato untuk melindunginya.


"Akhirnya kau muncul juga... Polaris!!" teriak satan yang mulai menyerang ke arah ogaki, lucifer yang melihat itu mencoba menghentikannya namun gagal.


Tiba-tiba saja pukulan satan berhenti didepan wajah ogaki bahkan dirinya tidak dapat menggerakkan lengannya itu


"Masih terlalu awal untuk menyentuh ku" gumam ogaki dan seketika saja akito berhasil mengambil kendali namun sayangnya iya harus pingsan.


"Waduh. Sudah selesai rupanya, kalau begitu kami pergi semua. Maaf Tentang semua kerusakan ini, aku tau exorcist bayak uang untuk memperbaiki semua ini. Nah sampai jumpa di end game nanti" kemudian lucifer membawa akito pergi bersamanya. Dan juga penghalang yang mengikat kaki mereka semua akhirnya hilang.


"Aku tidak bisa banyak membantu..." gumam ogaki kemudian mengeluarkan cermin yata no Kagami yang telah kembali ke tangannya.


"Ini mungkin akan membantu" lalu cermin tersebut berputar bersamaan dengannya semua hal kembali menjadi normal semua kerusakan kini telah menghilang.


Selain menciptakan dunia cermin atau sebuah dimensi, cermin yata no Kagami juga bisa memulihkan kondisi apapun dari rusak menjadi bagus dari bagus menjadi rusak, anggap saja dua sisi pada cermin ini adalah hitam dan putih.


Jika didunia ada masalah maka saat sisi putih dibalik semuanya akan kembali normal tapi seblaiknya jika sisi putih dibalikkan ke sisi hitam maka semunya akan menjadi kacau.


(Paham tidak? yang gk paham komen aja)


Setelah memperbaiki semua kekacauan yang telah terjadi ogaki pun melambaikan tangannya pada semua orang kemudian berjalan pergi dengan diikuti Yamato dibelakangnya.


"Apa kau akan ikut dengan ku lagi?" tanya ogaki lalu berhenti berjalan.


"Kau punya sesuatu untuk dilindungi bukan? Coba lihatlah kebelakang" tak lama kemudian suara Mitsuhiro, Akane, Masaru, yuzuru, Marika, Ayumi, dan tadeo terdengar berteriak memanggil Yamato.


Mendengar panggilan tersebut ia pun berbalik dan melihat semua orang tersenyum melambaikan tangan mereka ke arahnya.


"Apa kau setega itu meninggalkan hal yang sebegitu berharganya? Kembalilah pada mereka"


"Teman-teman..~ ma-maaf..~" air mata Yamato mulai menetes lalu teman-tamannya berlari menghampiri kecuali matsuya.


"Dasar bodoh. Kenapa harus menangis?"


"kami merindukanmu, asrama tidak seheboh dulu tanpa mu"


"Jangan pergi lagi"


"Sayang kau tahu. Aku sudah menemukannya, dia sangat mirip denganmu dan dia bisa bisa menggunakan seni darah iblis seperti ku, akan kita berinama siapa?" gumam belial didepan tabung kaca yang berisi sebuah jantung.


Dari ekspresi wajahnya belial terlihat begitu senang dan bahagia saat memceritakan seseorang kepada jantung yang dia sebut dengan kata "sayang"


"Anda saja kau melihatnya mungkin kau juga akan merasa senang, tapi...~ aku tidak percaya kalau perjuangan mu untuk menyelamatkan ternyata tidak sia-sia" air mata dan wajah penuh penyesalan pun terlihat telah pada diri belial.


"Tenang saja kita akan kembali bersatu menjadi keluarga seutuhnya dan menjalani hidup bahagia dalam keabadian" tidak lama kemudian terdengar suara lonceng yang didekat pintu berbunyi itu berarti ada pengunjung.


Bergegas belial menghapus air matanya dan kembali memasang wajah tenang namun dapat mengintimidasi orang yang melihatnya.


"Maaf. Tuan, tadi saya...~" belial dibuat terdiam karena melihat dua gadis dan satu anak kecil yang berumur mungkin sekitar enam tahun, baju yang mereka gunakan sedikit kotor dan pada sepatu mereka juga terdapat lubang kecil


Melihat belial mereka salah satu dari mereka langsung datang menghampiri lalu bertanya sambil menunjukkan sebuah selebaran.


"Apa benar anda membutuhkan pegawai?" tanya gadis tersebut.


"Hah? Maaf. Tapi saya tidak pernah memasang selebaran seperti ini" jawab belial kemudian mulai membersihkan lemari tempat memajang minuman.


"Tapi ini ada di jendela bas anda, meski tidak benar mungkin setidaknya kami bisaa berkeja di sini"


"Maaf tapi saya sendiri sudah cukup mengelola bar ini, kalian boleh pergi" jawab belial yang ingin marah namun ada anak kecil.


wajah mereka mulai terlihat murung kemudian berjalan keluar namun tiba-tiba saja belial mendengar anak kecil itu berkata.


"Kakak apa kita tidak akan makan hari ini?"


"Huu..~ tunggu!" secepat kilat mereka langsung kembali kedalam berdiri rapih didepan belial.


"Kalian benar-benar butuh pekerjaan?" tanya belial yang terlihat mempertimbangkan mereka bertiga.


"Tentu. Kami sangat butuh, berapapun bayarannya kami akan berkerja keras"


"Kalau begitu perkenalkan diri kalian dulu"


"Oh. Kau sudah sadar?" lucifer langsung memberikan air untuk akito yang baru saja bangun dari pingsannya.


Akito pun mengambil air yang diberikan lucifer lalu membuangnya meski dalam keadaan tubuh yang masih terasa lemas akito mulai berdiri kemudian berjalan perlahan meninggalkan lucifer.


"Aku membunuh mereka... Tidak-tidak ini bukan salah ku.. Tapi gara-gara aku mereka mati.. hana aku rindu denganmu" gumam akito dengan wajah yang merasa begitu bersalah dan tertekan.