
Setibanya ogaki di ruang tunggu, dari dalam Yamato datang karena di suruh untuk menanyai tentang apa yang akan di laporkan ogaki, karena mereka semua mengira ogaki adalah orang yang ingin melapor tentang adanya orang kerasukan.
"Yah pak apa keluhan..." namun Yamato berhenti bertanya ketika melihat penampilan dari ogaki yang terbilang sangat aneh.
"Oh, sebentar biar aku hubungi pihak studio filem kalau kostum mereka telah di curi, *tertawa sendiri*" lanjut Yamato yang membuat lelucong dan tertawa sendiri.
Dari pengelihatannya ogaki dapat melihat siluet azir yang membayang-bayangi di belakang Yamato, tanpa bicara apapun ogaki langsung menodongkan ujung payungnya pada Yamato.
"Astagfirullah. Pak, apa yang anda lakukan? Jika tidak suka dengan lelucon saya katakan saja, tidak perlu perlu pakai payung" ujar Yamato yang terkejut karenanya.
Namun tiba-tiba saja mata kiri Yamato berubah menjadi merah pekat dan itu tandanya azir telah mengambil alih setengah dari diri Yamato.
"Turunkan payungmu dasar berengsek!" ujar azir.
"Ada apa denganmu? Ku kira ritual penobatanmu telah selesai, rupanya belum sama sekali" jawab ogaki yang mulai mengejek azir, lalu menurunkan payungnya.
"apa kau sudah jadi selemah ini sampai-sampai dapat terkurung dalam tubuh seorang bocah ingusan?"
"Diam kau!" bentak azir.
"Ya. Ya aku paham penderitaanmu, bukan hanya itu kau juga membual pada lucifer kalau aku mati di tanganmu. Hahaha, omong kosong yang bagus"
Karena kesal azir langsung mengambil alih semua kesadaran Yamato kemudian melayangkan pukulannya kearah ogaki, namun serangan dapat di halangi dengan mudah hanya mengunakan payung.
"Tenang. Bisa-bisa semua orang di sini tau, aku tau kau tidak suka bertele-tele jadi akan ku katakan maksud kedatangan ku kemari"
"Kau akan ku murnikan!"
Mendengar niat dari ogaki yang ingin memurnikan azir membuatnya menahan tawa sambil mengejek kalau ogaki tidak akan bisa memurnikan dirinya.
"Bagaimana kau bisa memurnikan diriku? Sedangkan kau saja belum tentu bisa menggoresku" ujar azir yang mengejek ogaki.
"Pada saatnya nanti kesombonganmu akan di bumkam oleh takdir, dan anak yang menjadi wadahmu saat ini. Dia sangat spesial"
Sebelum ogaki pergi terlihat sebuah kupu-kupu hitam terbang di sekitarnya kemudian bertengger di pundak sebelah kiri, dan bom.. Ogaki berubah menjadi sejumlah kupu-kupu hitam yang pergi terbang bebas.
"Sebenarnya siapa kau sebenarnya bocah?" tanya azir kemudian melepaskan kendali atas dirinya Yamato.
Yamato yang baru sadar hanya bisa kebingungan kemudian pergi dari sana.
.
.
Di ruangan Jendral akaza naoyasu terlihat dua orang anggota reven dari divisi 4 yang di pimpin olehnya langsung, sedang membicarakan tentang rencana penangkapan Yamato. Selain itu mereka juga membahas bagai mana mengatasi gangguan dari luar.
Yaitu dari jenderal wakisaka yasuharu yang secara terang-terangan mencoba menghentikan semua rencananya ini.
"Dari mana yasuharu tau soal rencana ini? Padahal kita sudah menutupinya sebaik mungkin?" tanya jenderal akaza.
"Mungkin saja dia punya mata-mata, tidak mungkin dia mencari tau sendiri. Pasti ada mata-mata yang selalu mengawas kita" sahut seorang reven dan pendapatnya itu membuat jenderal akaza mulai berpikir.
"Kau ada benarnya juga, jika dia mencari tau sendiri sama saja dengan bunuh diri, tapi yang menjadi pertanyaan nya siapa mata-mata itu?" jawab jenderal akaza yang kembali bertanya.
Dan mereka mulai berpikir keras bersama, pada awalnya mereka mencurigai kalau ada pengkhianatan dalam divisi 4 tapi setelah di pikir-pikir mana mungkin ada yang berani melakukan hal seperti itu.
Bukan hanya itu mereka terak terikat sumpah serapah untuk setia dan tidak akan membelot dan sebagai hukuman jika ketahuan melanggar maka hukuman pancung sudah menanti mereka.
Terlepas dari semua itu jenderal akaza memilih untuk menyudahi pertemuan mereka karena ia sudah pusing memikirkannya, setelah kedua reven itu pergi Jendral akaza berdiri dari kursinya lalu berdiri menghadap jendela sambil berkata.
"Akan sampai kapan semua ini berlangsung?"
.
.
Kini hari yang awalnya cerah harus berganti menjadi hujan yang begitu deras, semua orang di asrama hanya bisa termenung sambil melihat hujan dari jendela.
Saat ini Yamato terlihat sedang membantu Mitsuhiro Menganti perban penutup lukanya, sementara ryuu seperti biasa tidur di atas kepala Yamato.
Tidak lama kemudian, percikan kilat muncul membuat mereka berdua terkejut, karena itu juga Yamato tidak sengaja mengencangkan ikatan perbannya dan membuat Mitsuhiro teriak karena merasa sakit.
Bergegas Yamato kembali melonggarkan ikatannya, setelah selesai Yamato berjalan ke arah jendela dan mulai memperhatikan suasana hujan di luar asrama.
"Ryuu apa kau bisa membuat hujan ini berhenti?" tanya Yamato pada ryuu yang sedang tidur.
"Kau pikir aku ini pawang hujan? Sudah diam kau membuat tidur ku jadi terganggu" jawab ryuu lalu meminta Yamato untuk diam.
"Lebih baik kita tidur saja, cuaca seperti ini enaknya tidur dari pada menunggu hal yang belum pasti" sahut Mitsuhiro yang sudah berbaring di ranjangnya dengan sebuah selimut untuk menghangatkan dirinya.
"Apa maksudmu hal yang belum pasti?" tanya Yamato.
"Biasanya hujan deras seperti ini akan lama jadi jangan di tunggu lebih baik kau tidur juga" jawab Mitsuhiro saat Yamato akan merespon perkataannya tadi.
Terlihat Mitsuhiro sudah tertidur pulas dengan cepat.
"Huuu~~ ayolah hujan ini membuat ku bosan" ujar Yamato setelah menghela nafas, kemudian berjalan menuju kasurnya untuk tidur.
Sebelum mulai berbaring, terlebih dahulu Yamato menurunkan ryuu yang tidur di atas kepalanya, lalu membaringkannya di bantal yang ada di atas meja belajarnya, kemudian Yamato pun mulai berbaring lalu menarik selimut dan pergi tidur...
Di teras asrama terlihat tadeo yang sedang duduk sambil memandangi hujan yang turun, hal ini membuatnya teringat saat-saat masih tinggal di desa.
"Hujan ini mengingatkan ku pada ladang" gumam tadeo dengan wajah polosnya.
"Sedang apa? Di sini dingin, kenapa tidak masuk?" tanya Akane kemudian duduk di dekat tadeo.
"Aku sudah terbiasa" jawab tadeo.
"Kau ini benar-benar bodoh yah" ujar Akane.
"Tidak memahami emosi bahkan tidak memilikinya, jika harus di belakang emosi itu sangat rumit"
"Begitu yah" ucap tadeo.
"Kadang kau merasa bahagia namun kau juga akan merasa sedih, bahkan aku sendiri tidak mengerti dengan emosi ku sendiri, menurut mu emosi itu seperti apa?" jawab Akane lalu bertanya pada tadeo tentang emosi.
"Hidup itu penuh emosi, dalam satu waktu kita bisa merasakan berbagai emosi yang berbaur menjadi satu. Karena itulah yang membuat kita jadi seimbang" jelas tadeo. Mendengarnya akane terdiam.