The Exorcist

The Exorcist
Akimitsu akito kecil



"Dasar anak pemabawa sial!"


"Aku menyesal telah melahirkanmu"


Penghinaan..! Direndahkan...! Dan disalahkan atas perbuatan yang tidak diperbuatnya. Begitulah kehidupan akito semasa dia masih kecil


.


.


.


.


.


Hujan badai bergemuruh diluar disertai angin yang bertiup sangat kencang membuat beberapa pohon tumbang menimpa kabel dan memutuskan aliran listrik ke sejumlah rumah dan kesebuah rumah sakit di mana menjadi saksi bisu perjuangan seorang perempuan melahirkan anaknya.


Didalam kamar rawatnya tidak ada satupun dokter atau suster yang menemaninya dimasa-masa sulitnya melahirkan karena mereka semua semua yang berada dirumah sakit tersebut sudah tewas dibunuh oleh seseorang.


bayang-bayang dan mata jahat mulai bermunculan di seluruh rumah sakit mengawasi sang ibu yang sedang berusaha sendirian melahirkan bayinya, kemudian pintu kamar rawatnya terbuka sesaat dirinya berpikir kalau yang masuk itu adalah dokter tapi ternyata bukan.


"Ketemu!" ucap orang itu yang ternyata adalah lucifer dengan membawa botol kaca berukuran sangat kecil dan didalamnya terdapat setetes darah.


Bergegas lucifer langsung mencoba membuka mulut perempuan itu dan berusaha agar iya meminum darah dari botol kaca tersebut, setelag berusaha keras akhirnya lucifer berhasil membuatnya meminum darah itu.


Pada awalnya tidak ada yang terjadi namun perut perempuan itu mulai membesar, semakin lama semakin besar iya terus berteriak dan meronta kesakitan sampai akhirnya meledak. Membuat seisi ruangan tertutup oleh darah.


terlihat seorang bayi laki-laki tanpam berlumuran darah ibunya mulai memperdengarkan tangisan pertamanya dengan diiringi gemuruh guntur dari luar.


Tanpa terlihat ada rasa bersalah sedikit pun diwajahnya, lucifer mulai membawa bayi tersebut besama. Berjalan dibawah hujan yang deras membuat darah yang menutupi sang bayi mulai menghilang.


Dan lucifer pun menamai anak tersebut dengan nama.


"Akimitsu Akito"


Bertahun-tahun kemudian kehidupan yang sangat keras dijalani akito dirinya harus menerima semua pengalaman yang selalu didengarnya dari orang-orang disekitarnya.


Suatu hari seorang pria terlihat mencuri tas dari seorang perempuan karena ketahuan ia bergegas kabur membawa tas tersebut,


saat akito sedang berjalan sendiri waktu saat ini umurnya baru 7 tahun.


"?" ia melihat pencuri tadi berlari kearahnya dengan wajah panik, tiba-tiba saja si pencuri itu memberikan tas yang dicurinya pada akito.


"Tu-tuan tas anda!" teriak akito sambil sedikit mengangkat tas itu keatas.


"Itu dia.. Anak itu bersekongkol dengan pencuri tadi tangkap dia!" teriak seorang perempuan dan dia adalah pemilik dari tas yang berada ditangan akito.


Karena tidak tau apa-apa dan merasa tidak bersalah akito tidak memilih untuk kabur, akito terus menjelaskan kalau dia tidak bersekongkol dengan pencuri tadi bahkan dia tidak mengenalnya tapi orang-orang terus menuduh akito.


"Dasar anak sialan. Sepertinya kau harus diberi pelajaran"


"Gawat!" gumam akito kemudian menjatuhkan tas itu lalu bergegas lari tapi orang-orang tidak mau melepaskannya begitu saja, mereka mengejar akito dan memojokkannya disebuah jalan sempit.


"Sudah aku jelaskan tadi. Aku tidak bersekongkol dengan pencuri itu" ujar akito yang sudah tidak bisa lari kemana-mana lagi.


"Diam kau dasar sampah!" tanpa mendengar semua kebenaran yang dikatakannya mereka mulai memukuli, menginjak, dan meludahi akiot. Akito hanya bisa bertahan tanpa melawan menerima semua pukulan yang diberikan padanya.


Tidak cukup dengan tangan kosong salah satu dari mereka mengambil sebuah balok kayu kemudian memukulkannya terus-menerus pada akito. Luka memar, dan kepalan akito mulai berdarah, perlahan kesadarannya memudar.


"Apa kalian tidak punya kerjaan lain?" tanya seseorang yang berdiri melihat mereka memukuli akito dan dia adalah lucifer.


"Dari penampilanmu sepertinya kau orang yang berkelas"


"Kalian membuat ku semakin jijik dengan manusia" lalu lucifer menjentikkan jarinya lalu sebuah lingkaran hitam muncul diatas mereka dan dari dalam sebuah mulut yang menut dengan gigi tajam muncul menggigit leher mereka sampai putus.


Lucifer mulai berjalan menghampiri akito yang sudah tidak sadarkan diri, lalu mengendongnya bersama mereka berdua berjalan pergi. Akito pun di tidurkan didalam sebuah kamar di apartemen.


Luka memar termasuk semua luka akito mulai sembuh dan tidak lama kemudian akito mulai membuka kedua matanya, meski kepalanya masih terasa pusing dan sakit akito tetap bangun lalu berjalan keluar kamar.


"Kau baru sadar bukan? Lebih baik kau istirhat" ujar lucifer yang sedang berdiri dibalkon sambil menikmati cuaca yang cerah.


"Kenapa?" tanya akito.


"?"


"Kenapa? Semua orang begitu membenci ku? Dimana pun aku berada aku pasti akan tersiksa" teriak akito dengan wajah yang terlihat sedih dan kesal.


"Bahkan aku tidak punya teman sama sekali, tidak anak seumuran ku yang mau berteman dengan ku" lanjut akito kemudian dia berlari pergi.


"......."


Akito terus berlari meski tanpa tujuan sampai akhirnya ia melihat seorang gadis kecil yang terlihat seumuran dengannya bermain pasir di taman bermain. Merasa di perhatian anak gadis itu melihat kearah akito lalu tersenyum manis.


Wajah akito mulai memerah dan ia juga terkejut ada orang yang mau tersenyum padanya, akito ingin sekali mendekati anak itu namun ia sangat sulit menggerakkan kedua kakinya. Tapi..


"Heh?!" gadis kecil itu berlari menghampiri akito kemudian menarik tangannga membawa akito untuk ikut bermain bersamanya.


"Nah. Kamu tolong buat menara di sebelah sini, aku akan membuat istana pasirnya" ujar si gadis kecil yang terlihat sudah akrab meski mereka berdua belum berkenalan satu sama lain.


Akito hanya terdiam melihat akito yang diam anak gadis itu bertanya.


"Kenapa? Apa ada yang aneh? Oh. Nama ku hana" tanya hana lalu memperkenalkan dirinya dengan tersenyum.


"A-aku.. aku.. Akimitu akito" jawab akito yang terlihat malu-malu berkenalan dengan hana.


Meski awalnya malu-malu tapi tidak butuh waktu lama mereka berdua menjadi sangat dekat, hal yang selama ini begitu diinginkan akito dan perasaan yang sangat ingin dirasakannya akhirnh terwujud dengan kehadain hana dalam hidupnya.


Tersenyum bersama, tertawa bersama, bercanda, dan mengobrol bersama. Mereka begitu menikmati saat-saat kebersamaan mereka.


"Hei.. Hei.. Akito apa yang kamu sukai didunia ini?" tanya hana saat berbaring bersama akito di hamparan rumput hijau.


"Yang aku sukai? Kalau kamu apa yang paling kamu sukai?"


"Kenapa malah balik bertanya? Eng... Kalau aku, aku sangat menyukai bunga dan bunga sakura adalah bunga kesukaan ku karena tentu saja warnanya yang cantik" jelas hana.


"Benar juga. Sakura memang terlihat cantik, aku juga suka bunga sakura apa lagi kalau belum mekar"


"Apa sih? Kenapa malah ikut-ikutan?"


.


.


.


.


"Setidaknya akito bisa tersenyum lepas, meski aku akan menghancurkan senyumannya itu" gumam lucifer saat memperhatikan akito dan hana bermain dari jauh.