The Exorcist

The Exorcist
Keinginan Onryō



"Onryō atau hantu penasaran, yang memiliki kemampuan untuk muncul di alam hayat/dunia manusia untuk membalas dendam. Dalam legenda dan cerita rakyat, kebanyakan onryō merupakan arwah wanita, tetapi onryō pria juga pernah disebutkan, khususnya dalam pementasan kabuki" jawab ryuu.


"Nah apa kau paham?" sahut Mitsuhiro.


Di sudut ruangan terlihat wanita yang di rasuki onryō itu mencoba untuk melawan, tapi dirinya langsung di lumpuhkan mengunakan kertas yang sama.


Kertas itu di tempelkan Masaru di dahi wanita itu agar onryō yang ada di dalam tubuhnya tidak bisa berbuat apa-apa.


Saat Yamato memperhatikan wanita itu tiba-tiba terdengar suara wanita yang menangis, padahal saat itu tidak ada yang menangis.


Dan keistimewaan dari mata raja azir kembali terjadi, dalam sekejap mata Yamato dapat melihat masalalu dari onryō yang ada di dalam tubuh wanita itu.


Awalnya Yamato kebingungan dengan apa yang terjadi namun saat dirinya melihat banyak warga yang berkumpul di depan sebuah rumah.


Mereka semua terlihat begitu marah dengan pemilik rumah itu, semua orang terus meneriakinya dengan sebutan pelacur, tukang selingkuh dan lain-lain.


Seorang perempuan tiba-tiba memprovokasi warga kalau pemilik rumah itu memiliki gangguan mental psikopat, dengan bodohnya pada warga semkain marah.


Lalu Yamato berpindah tempat yaitu di dalam rumah yang sedang di amuk warga, ia melihat seorang ibu yang sedang memeluk kedua anaknya, mereka bertiga terlihat begitu ketakutan.


"Kita bakar saja dia!" teriak perempuan kampret itu.


"Yah bakar-bakar" teriak warga lalu melemparkan banyak obor, seketika saja api mulai menjalar membakar rumah.


Yamato yang ingin membantu tapi ia tidak bisa menyentuh mereka, beberapa menit kemudian Yamato kembali sadar dari pengelihatannya.


Saat masih mencerna apa yang tadi ia lihat, hantu Onryō yang ada di dalam tubuh perempuan itu mulai keluar secara perlahan.


Dengan mengunakan belati milik Mitsuhiro, matsuya bersiap untuk mengakhiri hantu itu tapi yamato bergegas menghalangi niat matsuya.


"Tolong~~" Onryō itu terus meminta tolong dengan suara kecil sayangnya hanya Yamato yang mendengarnya.


"Tolong! Makamkan kami dengan layak, dingin!" Onryō itu ternyata hanya ingin dirinya dan kedua anak-anaknya untuk di makamkan dengan layak.


Karena semenjak rumahnya di bakar habis, warga tidak menguburkan mereka dan membiarkan di tumpukan rumah yang sudah hangus dan kini tempat itu sudah menjadi tempat pembuangan sampah.


"Minggir!"


"Tidak akan, ketahuilah Onryō itu hanya ingin di makamkan dengan layak"


"Jangan bercanda di saat seperti ini, cepat menyingkir"


"Percayalah pada ku, aku bersedia menanggung semua akibatnya jika berbohong" jawab yamato dengan wajah yang begitu yakin.


"Matsuya! Lebih baik kits coba dulu saran Yamato" sahur Masaru.


Matsuya hanya menyipitkan kedua matanya lalu menarik kembali kertas yang menempel di kepala perempuan itu, dan itu artinya matsuya menyetujui keinginan Yamato.


Dengan wajah senang Yamato memberitahu Onryō yang ada di dalam tubuh wanita itu kalau iya akan di makamkan dengan layak, sesuai keinginannya.


Ketika Yamato belum selesai bicara dengan Onryō itu, kertas kuning milik matsuya kembali menempel dan Onryō yang ada di dalam tubuh perempuan itu keluar.


Dengan cepat matsuya mengambil belati milik Mitsuhiro dan melemparkannya ke arah Onryō, dan belati itu pun berhasil menancap di tubuh Onryō.


Perlahan kekuatan terkutuk yang ada di dalam belati itu mulai membakar Onryō, sebelum iya menghilang Onryō mengatakan sesuatu yang sangat kasihan.


Dan kali ini suara dari Onryō dapat terdengar dengan jelas oleh yang lain


"aku hanya di fitnah, setidaknya makamkan kedua anak ku, mereka sedang kedinginan dil luar sana" dan Onryō itu pun berhasil di murnikan untuk selamanya,


Tanpa basa basi Yamato langsung memukul wajah matsuya "apa kau tidak mendengarnya? Kelakuan mu lebih rendah dari mahkluk apapun"


"Berengsek! Jangan asal bicara" teriak matsuya lalu membalas pukulan Yamato.


Syukurnya Masaru dan Mitsuhiro langsung memisahkan mereka berdua sebelum mereka mengunakan senjata masing-masing.


Dengan kasar matsuya melepaskan tangan Masaru dari tangannya lalu berjalan pergi kembali ke markas lebih dulu meninggalkan yang lain.


"Sudah jangan di pikirkan, coba lihat dia akan segera sadar" ujar yuzuru.


.


.


.


.


Di luar desa, Yamato berhenti di depan sebuah lahan yang di penuhi sampah, ia pun berhenti dan berdiri di depan tempat tersebut.


Yamato pun terlihat mulai menangis karena tidak dapat memenuhi keinginan dari Onryō, sebagai ucapan minta maafnya Yamato pun duduk di tanah lalu mendoakan Onryō dan kedua anaknya.


Teman-temannya yang lain juga ikut mendoakan Onryō, agar iya tenang di alam sana dan tidak memikirkan tentang dendamnya pada warga desa.


.


.


.


.


.


Sesampainya di asrama Yamato tidak banyak bicara dan kali ini ia langsung pergi tidur.


"Di mana ini? Apa aku sedang bermimpi?" tanya Yamato yang melihat di sekelilingnya hanya ada kekosongan.


Tiba-tiba dari belakang ada yang menarik baju Yamato ketika ia berbalik untuk melihatnya, ternyata itu adalah seorang anak kecil.


Anak itu pun memberitahu kalau ibunya ingin bertemu dengan Yamato, dengan di tuntun oleh anak kecil tersebut Yamato berjalan menuju tempat ibu anak kecil itu berada.


Berapa terkejutnya Yamato saat melihat wanita yang tidak lain dan tidak bukan adalah Onryō dengan dengan wujud dirinya yang masih hidup.


Sambil mengendong anaknya satu lagi yang masih kecil Onryō itu pun tersenyum lalu berkata.


"Terimakasih banyak atas usahanya, sekarang kami sudah menemukan tempat yang hangat di sini kami tidak kedinginan lagi, anak-anak bisa kembali tertawa"


"Tidak! Tidak! Aku sudah gagal memenuhi keinginanmu, maaf! Maaf!"


"Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri, kebencian manusia selalu membuat hati nurani mereka tertutup, dan maaf kami harus segera pergi" ujar Onryō itu yang berjalan menjauhi Yamato.


"Kakak nanti kita bermain bersama yah!" teriak anak laki-laki itu dengan melambaikan tangannya.


"Tentu" jawa Yamato lalu tersenyum


.


.


.


.


.


.


.


"Lalalalalala, malam-malam aku berjalan sediri.." ujar lucifer yang sedang berjalan di halaman depan markasnya.


"Apa kau sudah tidak waras yah?" tanya akito yang berjalan menghampirinya.


"Belum tidur?"


"Ini baru jam 8, tapi kenapa wajahmu terlihat begitu bahagia?"


"Lupakan itu, akito apa boleh aku melihat punggungmu?"


"Boleh tapi untuk apa?"


"Sudah turuti saja"


Lalu lucifer pun sedikit membuka kerah baju akito dan ia melihat sesuatu yang membuatnhya tersenyum lebar.


"Oke selesai sekarang kembali ke kamar mu"


Berhubungan tidak punya urusan dengan lucifer akito pun berjalan kembali ke kamarnya.


"Hahahah, sesuai dugaan akito memilikinya sekarang kita lihat apa anak itu dapat memurnikanmu azir atau aku yang akan memurnikanmu" ujar lucifer dengan kedua mata yang melihat ke arah gerhana bulan.