
Beberapa menit kemudian Masaru terbangun karena mendengar suara benda jatuh dari dalam kamar, bergegas ia pun masuk
Dan masaru di buat terkejut katena.
"Kyaaaa!!!! Masaru dasar mesum" teriak Ayumi ketika ia hanya mengunakan handuk saja.
"Ma-maaf" jawab Masaru dengan cepat menutup kembali pintu kamar.
Wajah Masaru begitu merah setelag melihat Ayumi yang hanya memakai handu karena ia sudah habis mandi.
Di sofa Masaru mencoba untuk melupakan apa yang tadi ia lihat tapi semakin mencoba untuk dk lupakan malah semakin kepikiran, beberapa menit kemudian Ayumi keluar setelah Menganti bajunya.
"Masaru?" ucap Ayumi yang berjalan menghampirinya.
"Yah? Eng ...... Soal tadi aku minta maaf" jawab Masaru yang terlihat merasa bersalah.
"Aaahh.. Tidak apa-apa jangan terlalu di pikirkan, kamu juga tidak berniat untuk melakukannya kan"
"Kalau begitu apa kau ingin pergi ke luar? Malam masih lama dan penyelidikan masih berlangsung, di dekat sini ada caffe kita ke sana saja" kemudian Masaru berjalan keluar lebih dulu dengan di ikuti Ayumi.
Saat melewati tkp yang masih di periksa oleh para polisi, detektif itu memanggil mereka berdua dengan terpaksa mereka kesana meski bukan waktunya.
Mereka berdua langsung di perlihatkan sebuah cakaran yang cukup besar membentang di sebuah tembok tidak jauh dari lokasi para korban di temukan.
"Ini akan menjadi misi yang sulit" ujar Masaru lalu melihat ke arah Ayumi.
"Jadi apa kalian bisa menanganinya?" tanya detektif itu.
"Kami akan mengusahakannya, jika ada yang melihat pelaku jangan di kejar, beritahu saja kami" jawab Masaru kemudian menarik Ayumi berjalan pergi bersamanya.
"Oi kalian mau ke mana?" teriak si detektif itu.....
Sesampainya di caffe tujuan, Masaru menawari ayumi untuk memesan menu yang ada, tapi Ayumi malah bertanya "apa kamu punya uang?".
"Soal itu sebenarnya, kita mendapatkan uang hasil dari misi yang sudah kita selesaikan, melihat kalian yang masih boros jadi aku pegang uang kalian" jawab Masaru.
"Tapi tenang, aku tidak akan mengkorupsi uangnya kok" lanjut Masaru.
Dan dua gelas mikacino dingin pun mereka pesan, beberapa menit kemudian seorang pelayan dengan wajah yang begitu suram, kantung mata yang agak hitam.
Pelayan itu berjalan seperti tidak punya semangat dan energi, setelag mengantarkan pesanan mereka berdua, pelayan itu pun kembali untuk mengantarkan pesanan pelanggan lain.
Ketika sedang asik mengobrol, tiba-tiba saja ada keributan yang terjadi antara seorang pelanggan dengan pelayan suram itu.
Pelanggan itu terus marah-marah karena bajunya terkena jus yang tidak sengaja di tumpahkan oleh pelayan itu, sebanyak mungkin si pelayan meminta maaf, meski dirinya terus di caci-maki.
Dengan wajah penuh emosi, pelanggan itu berjalan keluar caffe dan sesaat kemudian keadaan kembali normal.
"Ngomong-ngomong aku belum mengetahui masa lalumu sebelum masuk exorcist" ujar Masaru yang terlihat begitu penasaran.
"Masa lalu ku? Soal itu.." dan Ayumi pun mulai menceritakan masa lalu yang melatar belakangi dirinya masuk exorcist.
Masaru terlihat diam saat mendengarkan cerita masalalu Ayumi yang berbeda dari mereka semua dengan sedikit paksaan di dalam ceritanya.
"Begitulah latar belakang ku masuk exorcist, meski aku lemah dan penakut dalam semua hal"
"Begitu yah"
Beberapa menit kemudian, mereka berdua kembali ke penginapan karena malam akan segera tiba.
Sesampainya di penginapan, mereka berdua mulai mempersiapkan segalanya sebelum pergi, tidak lama kemudian terdengar suara pintu yang di ketuk beberapa kali.
"Kami akan segera ke sana, tinggalkan satu mobil saja untuk kami dan kalian tidak usah datang karena ini di luar kemampuan kalian" ujar Masaru.
"Baiklah aku mengerti, jika butuh bantuan segera hubungi kami dan berhati-hatilah nak" jawab si detektif lalu memberikan kunci mobil pada Masaru kemudian pergi.
Setelah beberapa menit mempersiapkan semuanya, Masaru san Ayumi pun masuk ke mobil dan bergerak menuju tempat di pelaku berada.
Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka sampai di depan sebuah gudang yang cukup besar namun sudah tidak di gunakan lagi.
Baru saja sampai di pintu masuknya, sebuah lempengan besi melesat cepat dari dalam ke arah mereka, untungnya mereka bisa menghindar dari hal tersebut.
Sesaat kemudian terdengar suara teriakan pria dari dalam sana, bergegas Masaru dan Ayumi masuk ke dalam, mereka melihat pria yang pernah mereka lihat sebelumnya.
Yaitu pelanggan yang marah-marah di caffe tadi pagi, dan sesosok manusia setengah iblis berdiri membelakangi mereka berdua.
Saat orang itu berbalik, ternyata dia adalah di pelayan caffe dengan penampilan yang begitu berbeda saat pertama kali melihatnya.
"Dia, ternyata dia bukan manusia" ujar Ayumi
"Tidak! Dia itu manusia tapi melakukan perjanjian dengan iblis" sahut Masaru setelah meliha sebuah cincin berkilau di jari mansi pelayan itu.
"Pak lebih baik anda hentikan perjanjian dengan iblis itu" lanjut Masaru yang mencoba bernegosiasi dengan si pelayan.
"diam kau! Kalian tidak mengerti bagai mana rasanya selalu di remehkan dan di pandang rendah oleh orang-orang tapi seseorang menyelamatkan ku dari penderitaan ini......"
........................................
"Hacuk..... Astaga sepertinya ada yang sedang membicarakan ku?" ujar lucifer saat dengan berkumpul dengan yang lain.
.........................................
"Dia menawari ku untuk melakukan perjanjian dan sekarang aku bisa membalas mereka yang selalu meremehkanku" ujar si pelayan itu.
"Tapi anda belum tau apa resikonya jika terus mengikat janji dengan iblis"
"Diam kau jangan sok suci jadi orang"
"Hatimu sudah di buatkan oleh rasa benci pantas saja mudah di pengaruhi oleh iblis" kemudian Masaru mulai mengeluarkan pedangnya.
"Ayumi! Aku akan membuatnya sibuk kau bawa orang itu ke mobil" bisik Masaru lalu mulai menyerang.
Layaknya besi, tangan pelayan itu tidak terluka sama sekali saat berbenturan dengan pedang, saat ada kesempatan Ayumi bergegas membawa korban untuk menjauh.
Sayangnya, ketika hampir keluar si pelayan melihat Ayumi membawa mangsanya dengan cepat iya memukul mundur Masaru, memfokuskan serangannya pada Ayumi.
Menyadari serangan itu, Ayumi bergegas mendorong korban ke samping dan ia langsung melompat ke belakang sambil menarik busurnya lalu melepaskan anak panahnya.
Tapi anak panahnya malah terpental lagi karena tubuh pelayan itu sangat keras seperti besi.
Tidak cukup satu kali palayan itu kembali menyerang Ayumi dan kali inj serangannya berhasil di tangkis oleh Masaru mengunakan pedangnya.
"Cepat bawa dia ke mobil" ujar Masaru yang masih menahan serangan dari si pelayan.
Bergegas Ayumi berjalan secepat yang ia bisa, membawa korban untuk masuk ke dalam mobil.
"Anda sebaiknya berhenti sebelum menyesal" ujar Masaru.
"Diam kau! Anak ingusan sepertimu tidak akan mengerti" jawab si pelayan lalu melayangkan pukulannya dari samping