The Exorcist

The Exorcist
Untuk satu tujuan yang berharga



Malam hari, terlihat beilal yang sedang duduk di depan tabung kaca yang terdapat jantung utuh di dalamnya, ia terlihat sedang memikirkan sesuatu dengan wajah yang begitu murung.


Jantung yang ada di dalam tabung itu terus berdetak normal, beilal pun berbalik dan menatap kearah jagung itu dengan wajah yang begitu menyesal dan sedih. Sampai akhirnya terdengar suara pintu depan di buka.


Mendengar suara tersebut, beilal pun berjalan untuk memeriksanya tapi setelah keluar ia tidak melihat siapapun di sana melainkan sebuah surat yang tergeletak di atas meja. Berjalan beilal mendekati surat itu lalu mengambilnya.


Ia mulai membaca surat tersebut, dengan wajah yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, beilal berjalan kembali ke ruangan tempat kapsul berisi jantung itu berada, ia terlihat berdiri dengan telapak tangan yang menyentuh tabung kaca itu.


"Sepertinya, aku akan melanggar janjiku padamu" ucap beilal dengan menatap jantung yang terus berdekat normal itu.


.


.


.


.


.


.


Pagi hatinya, Yamato dan yang lainnya bangun terlihat beberapa jenis sarapan sudah tersedia di meja makan, semua makanan itu di buat dari cumi dan itu membuat.


"Astaga! Aku sudah bosan dengan cumi" bisik Yamato lalu mulai sarapan.


"Sudah diam dan makan saja" sahur Masaru


Setelah sarapan, mereka bertiga mulai bersiap untuk membuka kedai ketika sedang merapihkan bagian dalam kedai, mereka baru kepikiran tentang pak kirino yang tidak melihat dari tadi.


Lalu tiba-tiba terdengar suara dari binatang yang sangat di benci oleh Yamato,  mendengar suara itu ia langsung terdiam membatu dengan wajah yang takut dan punggung yang merinding.


Perlahan Yamato berbalik ke belakang, dan benar saja sebuah kata hijau berukuran cukup besar berada tepat di belakangnya, seketika wajah Yamato langsung pucat, sekeras  mungkin ia berteriak dan secepat mungkin ia berlari melompat naik ke pangkuan Masaru.


Membuat beberapa kursi ada yang jatuh karena tersenggol oleh Yamato ketika dirinya berlari kearah Masaru. Seperti anak kecil Yamato berteriak untuk segera membuang katak itu keluar.


"Buang-buang!! Cepat buang! Kenapa tuhan harus menciptakan makhluk seperti itu" teriak Yamato dan Marika melihat hal itu malah menjadikannya sebagai kesempatan.


Dengan santainya Marika mengambil katak itu dengan tangannya, lalu perlahan mendekati Yamato yang masih nangkring di pangkuan Masaru.


"Yamato coba lihat lucu bukan? Coba pegang kenyal-kenyal gimana gitu, jangan takut dia tidak akan mengigitmu" ujar Marika berjalan perlahan ke arah Yamato.


Melihat itu Yamato langsung bersembunyi di belakang masaru untuk menghindari kejahilan Marika,


"Jatuhkan itu, jatuhkan....!!! Kau tau aku alergi dengan katak!! Masaru lakukan sesuatu"


Masaru pun menghela nafasnya lalu berjalan mendekati Marika dengan wajah yang serius


"Berikan itu" ucap masaru kemudian mengambil katak yang di pegang Marika.


Tidak di sangka Masaru juga malah ikut-ikutan, mereka berdua terus menggoda Yamato dengan katak itu, kejar-kejaran pun terjadi di dalam kedai ketika Yamato sudah terpojok, mereka berdua mulai tersenyum.


"Yamato...!! Kikuk.. Kikuk.. Kikuk.. Ciluk bab! "


Sesaat kemudian, penyelamat datang pak kirino langsung memanggil Masaru dan Marika untuk berhenti bermain-main, karena terkejut tidak sengaja Masaru menjatuhkan katak yang di pegangnya, dan menimpah wajah Yamato.


"WAaaaaaaaaaaa....!!! " teriak Yamato langsung melompat ke atas meja  karena saking  takutnya.


Setelah kejadian barusan Masaru dan Marika langsung meminta maaf pada Yamato, tapi Yamato sedikit jual mahal karena masih merasa marah dengan apa yang tadi terjadi padanya.


Ryuu yang sedang tidur di atas kepalanya, terlihat begitu tenang di tengah keributan.


Beberapa menit kemudian, ketika sedang melayani beberapa pelanggan Yamato mulai merasakan alerginya yang mulai muncul, rasa gatal bercampur panas perlahan mulai terasa, bagian wajah yang tertumpah katak tadi terlihat merah.


Lama kelamaan, rasanya semkaun terasa karena semkain terasa Yamato memberitahu Masaru kalau dirinya akan istirahat sebentar sampai alerginya sedikit mereda.


"Kenapa?"


"Aduh.. Alergi ku masik parah" jawab Yamato lalu membuka bajunya karena merasa panas dan gatal.


Terlihat beberapa bagian pada tubuh Yamato yang merah.


"Apa tidak sampai ke bawah?" tanya ryuu.


"Apa maksud? Hey-hey jangan berpikir yang tidak-tidak"


Tidak lama kemudian Masaru datang dan menanyakan keadaan, karena merasa bersalah ia pun menawarkan diri untuk membeli obat untuk Yamato.


Setelah Yamato memberitahu jenis obat yang harus di belia, Masaru pun bergegas berangkat mengunakan sepedah milik pak kirino menuju apotik terdekat.


Beberapa menit kemudian, akhirnya Masaru sampai bergegas ia masuk kedalam dan menanyakan obat yang di beritahu oleh Yamato sebelumnya, setelah selesai ia langsung menggowes sepedanya kembali.


saat dalam perjalan kembali, Masaru malah kesasar karena lupa jalan pulang, ia terus  mencoba jalan yang ia lihat, sampai akhirnya hari sudah mulai senja. Setelah berputar-putar Masaru akhirnya sampai tepat waktu makan malam.


"Aku kembali" ucap Masaru lalu masuk ke dalam rumah.


"Kemana saja?" tanya pak kirino.


Dan Masaru mulai menceritakan tentang dirinya yang nyasar, setelag bercerita pak kirino langsung menyuruhnya untuk memberikan obat itu pada Yamato karena alerginya semakin parah.


.


.


.


.


.


Malam hari di tempat yang berbeda, terlihat beilal yang sedang berjalan memakai baju bartender dengan  rompi hitam  dan dalaman kemeja putih.


Wajah dengan tatapan yang datar terus menatap luruh ke depan, sampai akhirnya ia sampai di depan sebuah tempat para pelacur berada. Beilal pun mulai melangkahkan kakinya masuk kedalam.


Ia sebentar terdiam di depan pintu utama ketika melihat banyak mayat yang tergeletak begitu saja di depan pintu, lantai dan dinding yang berlumuran darah mulai terlihat saat ia semkaij berjalan masuk kedalam.


Dan terlihat, lucifer yang duduk membelakanginya di atas tumpukan mayat para pengunjung tempat tersebut, dengan sebuah catur di atas sebuah meja, lucifer pun berbalik setelagh iya tau kalau beilal sudah berada di depannya.


Beilal pun melihat ke arah catur itu, dan pion hitam dengan sendirinya berjalan memakan pion putih, lalu sebaliknya pion putih memakan pion hitam yang tadi memakan pion putih.


Setelah melihat itu beilal memulai pembicaraan di antara mereka berdua.


" jadi sekarang kau sudah rugi satu pion?" tanya beilal lalu duduk di sebuah kursi.


"Dalam catur raja tidak bisa bergerak bebas tapi kita sudah melihat kalau pion raja putih telah menunjukkan kekuasaannya" jawab Lucifer yang melihat kearah beilal.


"Benteng, kuncung, anak, dan patih mereka adalah pion untuk melindungi raja yang sedang tertidur pulas" lanjut lucifer.


Awalnya beilal bingung dengan apa yang di katakan lucifer namun ia langsung menyadari maksud dan arti perkataannya.


"Jadi kau menemukannya? Bagai mana kau membangunkan raja itu tanpa kekuatan azir?"


"Azir perwujudan akhir dari segalanya, tidak akan ada Akhir tanpa ada awal, itu artinya ada kekuatan setara azir dan dia adalah perwujudan awal dari segalanya" jelas lucifer yang membuat beilal semakin bingung.


"Besok datanglah dan karena aku akan sedikit mengguncang pion raja yang sedang tertidur itu" lanjut lucifer.


Tanpa bertapa apapun lagi, beilal berdiri lalu meninggalkan lucifer.


"Orang yang pintar selalu berada selangkah di depan dari mereka yang berpikir sempit" ujar beilal dengan tersenyum tipis.