
"Hah?"
"Benar! Aku juga awalnya tidak percaya kalau dia kembali, tapi setelag banyak laporan yang sama aku mulai yakin kalau dia kembali" jelas kapten yoshihiro.
"Tidak! Aku tidak bisa meminjamkan pedang itu ke sembarang orang" jawab kepala keluarga dengan wajah datar.
"Tapi..."
"Maaf saya sedang sibuk saat ini, permisi" potong kepala keluarga kemudiaan pergi entah kemana.
Tanpa berkata-kata lagi, kapten yoshihiro berdiri lalu mengajak Mitsuhiro dan Marika untuk pergi, ingin bertanya namun mereka berdua tidak berani untuk melakukannya dan memilih untuk diam.
Selama dalam mobil suasana begitu hening, Mitsuhiro dan Marika hanya diam sesekali melihat keluar jendela, beberapa jam kemudian akhirnya mereka sampai ditempat tujuan.
Kebetulan sekali ada satu lagi mayat yang ditemukan dengan kondisi tangan kanan hilang, garis polisi dan beberapa polisi terlihat mundar-mandir disekitar tempat kejadian.
Suasana disekitar begitu kumuh dan berantakan, itu karena semenjak hancur gerbang rashomon tidak pernah dibersihkan dan itu juga yang menyebabkan banyak pereman atau mayat orang yang dibunuh dibuag disini.
Sementara kapten yoshihiro sedang berdiskusi dengan beberapa detektif, Mitsuhiro dan Marika menyempatkan waktu untuk berkeliling sekitar rashomon.
"Disini kumuh sekali" ujar Marika setelah melihat keadaan disekitarnya.
"Kau benar. Tidak salah juga disiniĀ banyak maya dibuang kesini" jawab Mitsuhiro.
Ketika sedang asik berjalan dan mengobrol bersama, tiba-tiba ada angin yanh berhembus cukup kuat dan itu membuat topi seragam yang digunakan marika berdua terbang terbawa angin.
Bergegas Marika mengejar topinya itu dengan diikuti Mitsuhiro dibelakangnya, topi itu terbang cuku jauh dari tempat awal mereka berdua berdiri tadi.
Akhirnya topi itu pun jatuh disebuah gang yang cukup sempit, kotor, dan juga gelap, saat Marika akan bergegas pergi mengambil topinya tiba-tiba Mitsuhiro menarik tangan Marika. Membawanya untuk bersembunyi dibelakang sebuah tembok.
"Apa?" tanya Marika.
"Coba lihat itu! Di ujung gang seperti ada orang" jawab Mitsuhiro dengan berbisik.
"Kau benar, sepertinya dia berjalan kearah sini"
Benar, mereka berdua melihat sekelompok pereman yang sedang nongkrong disana sambil minum minuman beralkohol, namun masih mereka tidak bagus karena mereka berdua harus tertangkap basah oleh salah satu dari para pereman itu yang baru datang.
Para pereman yang sedang duduk itu pun mulai datang mendekat setelah diberitahu tentang mereka berdua, Marika sudah mulai bingung harus bagai mana menghadapi para pereman seperti mereka semua.
"Wah, wah! Kecil-kecil sudah bawa senjata, rupanya polisi exorcist, bocah seperti kalian harusnya duduk diam dirumah bukan berkeliaran membawa senjata seperti ini" ujar salah satu dari mereka, kemudian berdiat mengambil pedang yang dibawa Mitsuhiro.
"Eng..... Anu.. Kami kesini untuk mengambil topi yang tergeletak disana" jawab Mitsuhiro dengan begitu sopan meski pada pereman.
Mereka semua lalu berbalik kearah topi yang ada dibelakang, kemudian salah satu dari mereka mengambil topi itu namun tidak memberikannya, dan malah memakainya.
"Lebih baik kalian pulang! Disini bukan tempat bagi anak kecil seperti kalian, jika tidak mau dibunuh Ibaraki-doji"
"woi bodoh kenapa kau menyebut nama itu?" bentak temannya.
"Astaga, aku keceplosan!" jawabnya dan semua pereman itu mulai terlihat panik.
Hal itu membuat yang lain menjadi panik dan merak mulai berhamburan untuk menyelamatkan diri, tapi tangan yang sama kembali muncul dan menangkap para pereman itu.
Ketika tersisa Mitsuhiro dan Marika, dari dalam gang terdengar seseorang yang sedang kebingungan mencari sesuatu.
"bukan! Bukan yang ini. Yang ini juga bukan, itu juga bukan,"
Lalu sebuah lengan kanan terlihat menggelinding kearah mereka berdua. Seketika Mitsuhiro langsung melepaskan peluruhnya kearah sosok yang sedang jongkok di sekitar mayat para pereman itu.
Hanya satu kedipan mata sosok itu menghilang entah kemana dan hanya terdengar suara rintihan kesakitan.
"sakit... Tolong jangan sakiti aku.."
"Hah?!" mereka berdua dibuat terkejut saat sosok misterius tadi sudah berada dibelakang mereka, bergegas mereka berbalik dan menjauh darinya.
Terlihat seorang pria tua dengan memakai baju zaman dulu dan rambut wajah yang begitu keriput, bukan hanya itu dia tidak memiliki tangan kanan.
"Hiks.. Hiks.. Hiks.. apa itu tangan ku? Aku mencarinya, dimana lengan kanan ku? Apa kalian yang mencarinya?" ujar sosok tersebut dan Mitsuhiro pun mulai sadaat bahwa dia adalah.
"Ibaraki-doji, kukira kau tidak akan pernah kembali lagi kesini" ujar kapten yoshihiro yang baru datang bersama beberapa detektif tadi.
"Di-dia" ucap salah satu dari para detektif itu.
"Biar kami yang mengurusnya kalian segera aman kan tempat ini" sahut kapten yoshihiro.
Mendengar itu mereka pun bergegas pergi dan menutup area sekitar rashomon.
"Tangan! Aku hanya ingin tangan ku kembali! Apa kau yang mengambilnya?" tanya Ibaraki-doji dengan menunjuk kearah kapten yoshihiro.
"Maaf tapi bukan" jawab kapten yoshihiro dan dengan mudahnya ia memenggal kepala Ibaraki-doji.
"He-hebat" ucap Mitsuhiro dan Marika yang kagum melihat hal tersebut.
"Kau tidak seperti yang sering digambarkan" ujar kapten yoshihiro kemudian berbalik kebelakang.
Dan melihat kalau kepala Ibaraki-doji sudah kembali ke tubuhnya, dan kali ini penampilannya tidak seperti orang tua tapi terlihat begitu gagah, berwibawa dan tampan dengan dua buah tanjuk di kepalanya, bahkan Marika malah kepincut dengannya.
"Pedang yang bagus, sampai-sampai aku ingin mengambil tanganmu" ujar Ibaraki-doji kemudian mulai menyerang dengan begitu brutal.
Meski begitu kapten yoshihiro masih bisa mengimbangi nya, namun hampir saja kapten yoshihiro hampir mati karena.
"api pembakar malam!" ucap Ibaraki-doji kemudia menghantamkan pukulannya kearah kapten yoshihiro.
Melihat itu bergegas ia menangkis serangan itu mengunakan pedang, tapi yang ada malah pedang yang digunakan kapten yoshihiro patah menjadi dua.
Dan bom.. Ledakan yang besar pun terjadi tepat setelah pedang kapten yoshihiro patah, syukurnya ia berhasil lolos api dari ledakan itu membakar dirinya.
Setelah asap hilang, mereka tidak lagi melihat Ibaraki-doji dimana-mana, meski begitu kapten yoshihiro masih tidak bergerak dan malah semakin waspada dari sebelumnya.