The Exorcist

The Exorcist
Perjuangan seorang guru demi muridnya



Lalu dari dalam asap yang mengepul sejumlah bulu merak melesat cepat menyerang, bergegas pak kurudo langsung menghindari semua bulu merak tersebut dan sesekali harus ditangkis dengan sabitnya.


Karena leader terus spam bulu merak membuat pak kurudo kewalahan dan beberapa kali dirinya terkena bulu merak itu syukurnya hanya goresan saja, setelah spam bulu merak leader kembali menyerang jarak dekat menggunakan sebuah bulu merak yang setajam dan sekuat pedang.


Meski sudah mendapatkan luka yang sangat parah tapi luka-luka itu tidak ada artinya bagi leader karena akan kembali sembuh hanya beberapa detik saja.


Melihat regenerasi yang sangat cepat membuat pak kurudo harus menyerang leader secara bertubi-tubi dengan gelombang sabit yang saat sabitnya diayunkan, menimbulkan banyak luka adalah tujuan pak kurudo melakukan serangan bertubi seperti ini.


Serangannya berhasil memotong tangan kiri leader dan kedua kakinya, melihat hal tersebut membuat pak kurudo tidak ingin membuang waktu secepat mungkin dirinya melesat mendekati leader sebelum tangan dan kakinya kembali tumbuh.


"matilah!" teriak pak kurudo lalu mengayunkan sabutnya.


Sabit itu berhasil menembus leher leader tapi hanya sampai ditengah karena leader juga menusuk pak kurudo dengan beberapa bulu meraknya, hal ini membuatnya memuntahkan darah.


"Kau yang akan mati!" jawab leader kemudian mengayunkan tangannya kearah leher pak kurudo, syukurnya tamamonomae yang ada dibelakang berhasil menyelamatkan pak kurudo disaat-saat terakhir.


"Dia benar-benar tidak akan melepaskan ku, jika seperti ini Yamato....."


"Tamamonomae segera pergi ke markas pusat dan kabari mereka semua tentang ini, aku akan menahan dia disini" lanjut pak kurudo.


Tamamonomae hanya bisa menganggukkan kepalanya tanda bahwa iya mengerti apa yang diminta pak kurudo, tamamonomae pun kembali menggerakkan kipasnya dan dirinya berubah menjadi kabut yang perlahan menghilang.


"Regenerasinya terlalu cepat, apa yang bisa ku lakukan menghadapi regenerasi secepat itu?" batin pak kurudo kemudian ia teringat sesuatu tentang perbedaan aura yang pernah di katakan leader sebelumnya.


"Hahah... Aku tidak sangka akan melakukan ini, tapi tidak ada pilihan lain. Kita mulai ini" ujar pak kurudo setelah tertawa kecil lalu mencabut bulu merak yang menancap pada tubuhnya.


Mendengar hal itu leader mulai menyipitkan kedua matanya iya binggung kenapa pak kurudo mengatakan hal seperti itu padahal situasi saat ini sedang menekannya .


Pak kurudo mulai menyayat tangannya sendiri membuat sabit itu berlumuran dengan darah.


"Teknik pembakaran jiwa! Ubah jiwa ku jadi kekuatan! Buat diriku melampaui segala batasan!"


Darah yang melumuri sabit itu langsung diserap dan warga sabit itu kini menjadi berwarna merah gelap, dan aura yang begitu besar terus meluap membuat leader sendiri terkejut dengan luapan aura yang bisa dikatakan melebihi dirinya.


"Aku mulai!" ucap pak kurudo kemudian bergerak begitu cepat bahkan leader saja belum sempat untuk berkedip.


"Hah? Gawat!" leader dibuat kembali terkejut dengan kemunculan pak kurudo sambil mengayunkan sabitnya, sebisa mungkin leader menghalangi ayunan sabit itu dengan tangannya.


Saat tangannya terpotong leader langsung menundukkan kepalanya sebelum sabit itu memotong lehernya, tidak berhenti disitu pak kurudo kembali menyerang membuat leader tertekan dengan serangan yang terus datang kearahnya.


Melihat regenerasi pada tangannya yang terpotong begitu lambat membuat leader terkejut kenapa manusia bisa memiliki aura yang melebihi dirinya padahal ia sudah menggunakan mode angel.


"Cih, apa-apaaan dengan manusia ini!" teriak leader kemudian menyebarkan bulu meraknya.


Mereka berdua pun saling jual beli serangan dibawah hujan bulu merak yang masih di spam leader, karena itu juga dirinya harus merasakan serangan sendiri.


Ketika baku hantam tiba-tiba pak kurudo merasakan efek dari teknik pembakaran jiwanya dan hal ini membuat gerkannya sedikit goyah memberikan kesempatan bagi leader untuk menjatuhkannya.


Pak kurudo pun terkena pukulan telak yang membuatnya terhepas kebelakang menghantam sebuah pohon, ketika akan kembali bangun pak kurudo mulai memuntahkan darah cukup banyak. Ia merasa kalau seluruh tubuhnya seperti akan meledak.


"Sepertinya teknik itu merugikan penggunanya" gumam leader saat melihat apa yang sedang terjadi pada pak kurudo.


"Teknik pemurnian! Dentuman lonceng genesis" Ujar pak kurudo yang bahkan membuat leader heran.


"Dalam kondisinya seperti ini dia bahkan masih sempat menggunakan teknik pemurnian, padahal dia tau sendiri teknik pemurnian sama dengan mati" gumam leader.


Beberapa saat kemudian terdengar suara lonceng yang menggema, bertepatan dengan suara itu pengelihatan leader menjadi tidak terkendali, kedua matanya seperti bergerak sendiri kesana kemari.


Meski sudah mencoba untuk kembali mendapat kendali atas kedua matanya tetap saja kedua mata leader masih tidak terkendali, setiap mendengar suara lonceng pergerakan kedua matanya semakin parah.


Hal ini sangat menyulitkan leader saat bertarung jarak dekat, karena itu dirinya harus menggunakan serangan bulu merak untuk menjaga jarak dengan pak kurudo sekaligus mencari cara agar dirinya tidak mendengar suara lonceng itu.


"Arg...." akhirnya leader mendapatkan luka yanh sangat fatal yaitu saat pak kurudo berhasil mendekatinya ia langsung memotong kedua kaki dan kedua tangan leader membuatnya tidak bisa apa-apa lagi.


Ketika sabit itu akan menebas lehernya leader langsung menundukkan kepalanya, karena kesal tanpa basa-basi lagi leader langsung menghantamkan telinganya pada pohon dan semua batu didekatnya.


Membuat gendang telinganya pecah untuk sementara waktu, hal ini membuatnya tidak dapat mendengar apapun termasuk suara lonceng yang mengganggu pengelihatannya. Melihat itu pak kurudo kembali mengayunkan sabitnya mencegah leader bangkit kembali.


Meski leader kini sudah tidak lagi mendengar suara lonceng itu tapi sabit pak kurudo sudah keburu bergerak melewati lehernya meski sangat sulit di gerakan tapi sekuat mungkin pak kurus terus mendorong sabitnya masuk.


"Waktu ku tinggal sedikit.. Ayolah cepat terpotong" Batin pak kurudo.


"Ayo terpotong.....!!!!" teriak pak kurudoa yang terus mendorong sabitnya untuk memotong leher leader, semetara leader terlihat tidak berdaya karena kedua kaki dan kedua tangannya masih dalam proses penyembuhan.


Sampai akhirnya pak kurudo terdiam berhenti mendorong sabitnya, melihat itu membuat leader kebingungan mengapa iya berhenti dan malah terdiam mempatung seperti itu.


Tidak lama kemudian leader melihat darah mulai mengalir dari luka yang diterima pak kurudo selama pertarungan, dan angin mulai berhembus lembut pak kurudo pun tumbang saat terkena angin tersebut.


Leader pun sadar kalau lawannya itu telah tiada sebelum menyelesaikan pertarungannya, beberapa menit kemudian tangan dan kaki leader telah kembali tumbuh kemudian ia mencabut sabit yang masih ada di leherinya.


Meletakkan sabit itu didekat rubuh pemiliknya.


"Kau orang yang hebat, sayangnya kau kalah oleh waktu" ujar leader kemudian pergi meninggal tubuh pak kurudo dengan wajah yang terlihat begitu tenang dan damai.