
"Bunuh dia!" teriak seorang bandit dan para monster pun mulai menyerang secara serentak.
"Tahap kedua! Lingkaran matahari!" bergegas Yamato memutar pedangnya, menciptakan sebuah roda api yang berputar begitu cepat dan roda api tersebut mulai membesar memotong para monster menjadi dua.
Karena pedang yang digunakan Yamato tidak bisa menahan suhu yang begitu panas daru tahap kedua pedang tersebut perlahan mulai meleleh.
"Sudah kuduga pedang biasa tidak bisa menahan suhu sepanas itu" gumam Yamato lalu melemparkan pedang yang sudah hancur itu.
Syukurnya para bandit itu memilih untuk meundur karena mereka tidak memiliki kekuatan yang cukup untuk melawan Yamato meski loso vs squad. Sesaat keheningan mulai menyelimuti sampai akhirnya beberapa anak kecil datang menghampiri Yamato dan memberikan pujian kepadanya.
"Kakak. Barusan kau sangat kerena"
"Apa bisa ajari kami?..."
Tidak lama kemudian para warga juga datang menghampiri untuk berterimakasih atas bantuannya dan mereka juga ikut memberikan pujian pada Yamato.
.
.
.
.
.
.
"Huuu~ bagai mana cara ku menemukan jawaban dari semua pertanyaan ku ini?" gumam akito yang duduk di sebuah atap rumah memandangi bulan purnama dengan wajah yang terlihat galau.
"Yo. Sepertinya kau sedang memikirkan sesuatu, apa ada masalah?" ujar lucifer yang terlihat berdiri didekat akito.
Mendengarnya akito pun melihat kearah lucifer dan ketika mereka saling beradu tatapan, dalam sekejap mata lucifer dibawa masuk kedalam alam bawah sadar akito.
"Hah? Jangan katakan kalau..." gumam lucifer yang melihat sekeliling di penuhi kobaran api biru.
"Kau sangat lama" sahut seseorang namun tidak terlihat siapapun disekitarnya.
Sesaat kemudian siluet wajah yang tercipta dari api buru yang berkobar muncul didepan lucifer.
"Apa rencanamu gagal? Sayang sekali padahal dengan kekuatan yang azir miliki aku dapat bangkit dengan mudah" lanjut sosok tersebut.
"Aku lupa tidak memperhitungkan para exorcist itu, namun aku masih punya satu jalan lain" jawab lucifer kemudian memperlihatkan kunci emas yang pernah diberikan ogaki kepadanya.
"Lalu? Percuma saja jika kau memiliki kuncinya namun tidak dengan pondasinya"
"Kau tidak usah memikirkan soal menara itu, aku tau tempat lain. Irminsul!" dan seperti biasa lucifer memperlihatkan senyuman penuh tipu muslihatnya lagi.
"Aku tunggu itu" lalu sosok misteri itu pun menghilang dan lucifer keluar dari alam bawah sadar akito.
"Ada apa?" tanya akito.
"Tidak. Tidak apa-apa, tapi sepertinya ada yang sedang memperhatikan kita" bisik lucifer lalu dengan cepat melemparkan sebuah pisau berbentuk bulu burung kearah sebuah pohon.
Terlihat seorang reven keluar dari dalam pohon itu, karena sudah ketahuan reven itu pun bergegas pergi. Namun lucifer tidak membiarkannya kabur semua itu ia terus melemparkan pisaunya namun semua itu berhasil dihindari oleh reven tersebut.
Dari dalam salah satu tas kecil yang melingkar di pinggangnya si reven mengambil beberapa bola berwarna hitam kemudian melemparkan semua itu ke arah lucifer, saat berada disekitarnya saat itu juga lucifer sadar kalau itu.
"Peledak!?" dan ledakan beruntun terjadi.
"Cih. Dia berhasil kabur" lucifer terlihat agak kesal karena dirinya berhasil dipermainkan oleh seorang reven dengan begitu mudah.
.
.
.
.
.
.
Sementara itu di ruangan pak morisawa dirinya sedang memeriksa beberapa laporan kasus yang telah di selesaikan bulan ini, tidak lama kemudian telpon kantornya berbunyi. Pak morisawa pun menjawab panggilan telpon tersebut.
"Ya. Ini dengan morisawa. Apa! Yah kau tunggu disitu aku akan segera datang" bergegas pak morisawa menutup telpon lalu berjalan tergesa-gesa keluar.
Secepat mungkin pak morisawa memacu mobilnya pergi ke suatu tempat, beberapa menit kemudian akhirnya ia sampai di lapangan volly pinggir kota, meski tempatnya yang terbuka namun di tempat tersebut sangat sepi bahkan jarang ada orang yang berkeliaran saat malam hari kecuali kelompok pereman.
Ternyata alasan pak morisawa datang ketempat terpencil seperti itu adalah untuk menemui reven yang tadi dikejar lucifer dan dia adalah anggota reven divisi 1. Kemudian iya pun memberi informasi yang telah didapatkannya pada pak morisawa.
"Sesuai perintah anda saya sudah mengikuti iblis itu belakangan ini dan dugaan anda benar dia memiliki hubungan dengan lucifer, tapi saya minta maaf karena hanya informasi ini yang hanya dapat saya sampaikan karena lucifer sudah mengetahui keberadaan saya tadi" jelas si reven.
Dan reven tersebut langsung masuk kedalam gelapnya malam.
"Sekarang apa yang direncakannya?" gumam pak morisawa lalu berjalan kembali ke mobilnya.
Saat akan membuka pintu seseorang terdengar memanggil pak pak morisawa dengan panggilan pak tau, ketika dilihat itu adalah kelompok pereman yang sedang berjalan mendekatnya.
Mereka semua mulai berdiri di sekitar mobil pak morisawa kemudian salah satu dari mereka mulai berbicara dengan nada tidak sopan pada seseorang yang lebih tua darinya.
"Oi pak tua. Mobilmu bagus juga, apa kau pinya sesuatu untuk diberikan pada kami?" tanya pereman tersebut lalu mendekati pak morisawa.
"Dan coba lihat kau memakai seragam, sepertinya kau pejabat penting" lanjutnha.
Sesaat kemudian terdnegat suara gaduh dari dalam bagasi mobil membuat para pereman itu terkejut.
"Genbu! Tenanglah, mereka bukan lawan" ujar pak morisawa dan saat itu juga suara gaduh yang ada di dalam bagasi berhenti.
Hal tersebut membuat mereka semua penasaran dan menyuruh pak morisawa untuk membuka bagasi mobil, awalnya pak morisawa melarang mereka untuk membuka bagai mobil namun karena mereka memaksa akhirnya pak morisawa membuka bagasi mobilnya.
Dan mereka melihat sesuatu yang tertutupi kain hitam karena hal tersebut rasa penasaran mereka semkain tinghinl lalu meminta pak morisawa untuk menunjukkan apa yang ada dibalik kain hitam tersebut.
"Apa kalian ingin uang?" tanga pak morisawa, mendengar kata uang mereka semua langsung bersemangat dan menanyakan bagai mana cara agar mereka bisa mendapatkan uang yang dimaksud.
"Kalau begitu ikut aku ke markas pusat" ajak pak morisawa dan mereka semua langsung masuk kedalam mobil.
Beberapa menit kemudian akhirnya mereka sampai di markas pusat namun melalui jalan belakang, pak morisawa mengajak mereka semua masuk ke dalam ruang bawah tanah.
Melihat markas pusat yang begitu besar membuat mereka tidak berkedip sama sekali bahkan saat berada diruang bawah tanah.
Mereka diminta untuk Menganti pakaian didalam sebuah ruangan.
"Setelah mereka selesai bawa mereka kalian paham" ujar pak morirsawa kepada beberapa polisi exorcist kemudian pergi.
Ia berjalan mendekat sebuah pintu yang dijaga oleh beberapa polisi exorcist lalu membuka kunci pintu tersebut dengan sebuah kartu identitas yang hanya dimiliki para jendral.
Didalam terdapat sebuah meja besar dan beberapa kuris juga didepannya terdapat sebuah kaca besar untuk memantau sesuatu didalam ruangan kosong yang ada disebelahnya.
ternyata ada kitsuki yang sedang duduk sambil melihat sebuah catatan.
"Bagai mana dengan?" tuanya pak morisawa.
"Tidak ada kemajuan, semua hasilnya tetap sama bahkan kita mengalami kemunduran" jelas pak kitsuki.
Beberapa menit kemudian para pereman yang tadi diajak pak morisawa terlihat berada didalam ruangan kosong, melihat pak morisawa yang ada di dalam ruangan sebelah, mereka pun melambaikan tangan sambil tersenyum.
"Dari mana mereka?" tanya pak kitsuki
"Seperti biasa" jawab pak morisawa lalu duduk didekat pak kitsuki.
"Oh"
Tidak lama kemudian beberapa petugas yang menggunakan baju APD lengkap masuk ke dalam, mereka hanya berdiri diam lalu pak kirsuki mengambil mic kecil lalu berbiacar.
"Mulai" dan orang-orang yang Menggunakan APD itu mulai menyuntikkan cairan kental berwana merah pada mereka semua.
Bergegas mereka langsung keluar ruangan dan mengunci pintu rapat-rapat, pak kitsuki mulai menghitung mundur dari lima, empat, tiga, dua, satu.
Dan para pereman itu mulai merasakan ada yang tidak beres dengan tubuh mereka, beberapa bagian fisik mereka mulai berubah dan proses perubahan tersebut menimbulkan rasa sakit yang teramat hebat.
Mereka terus berteriak didalam namun teriakan mereka tidak terdengar jelair bahkan pak morisawa dan pak kitsuki yang melihat langsung dari sebuah jendela kaca besar tidak mendengar suara apapun.
Beberapa dari mereka mencoba meminta tolong dengan cara memukul-mukul caka dan mencoba membuka pintu namun sayangnya semua itu sudah direncang agak tidak mudah hancur.
"Sekarang keluarkan serumnya" ujar pak kitsuki melalui sebuah woki toki.
Lalu beberapa bagian dinding dalam ruangan itu mulai terbuka dan dari dalam keluar sejumlah senapan, tapi bukan peluruh yang ada di dalam senapan tersebut melainkan sebuah suntikan berisi cairan berwarna biru tua.
Mereka yang kini terlihat seperti iblis mulai panik sayangnya tidak ada jalan keluar, sampai akhirnya suntikan tersebut mulai ditembakkan. Setelah terkena suntikan cairan yang asa didalamnya langsung masuk kedalam tubuh mereka.
Seketika wujud mereka kembali menjadi manusia namun beberapa detik kemudian tubuh mereka langsung mengering layaknya tulang yang dibungkus kulit.
Akhirnya mereka semua pun tewas......
"Uji coba kali ini juga gagal tapi setidaknya ada sedikit kemajuan" ujar pak kitsuki.
Benar ini adalah uji coba untuk mengambilkan manusia yang menjadi iblis dengan cara menetralkan darah iblis yang teramat didalam tubuh manusia.
Cairan merah yang disuntikan diawal adalah darah iblis dan cairan biru yang di suntikan diakhir adalah vaksin yang sedang dikembangkan. Mirisnya eksperimen ini dilakukan langsung terhadap manusia.
"Huuu~ kita kehabisan lagi monyet percobaan" ujar pak kitsuki.
"Jangan khawatir. Sampah seperti merekam masih banyak berkeliaran diluar sana" jawab pak morisawa kemudian pergi.