The Exorcist

The Exorcist
Misi baru untuk kontes



"Yamato ... Yamato ..." suara yang begitu lembut terus memanggil-manggil Yamato dalam kegelapan.


Sampai akhirnya kedua matanya terbuka lalu melihat sang ayah dan sang ibu yang duduk didepannya, suasana taman yang indah juga orang-orang yang sedang menikmati suasana.


"Kau tertidur?" tanya sang ibu.


"hAh? A-apa? Tidak mungkin. Kalian?!" gumam Yamato yang terkejut dengan apa yang di lihatnya.


"Hmmm? Apa? Kami kenapa, jangan berpikir yang tidak-tidak tentang yah dan ibu mu sendiri dasar nakal" jawa sang ibu lalu mencubit pipi Yamato.


"Aaaa~ aduh~duh. Sakit .... Terasa Sakit?" teriak Yamato kemudian menyadari sesuatu.


"Jika tidak terasa Sakit berarti semua ini nyata. Kalau begitu semua hal sudah aku alami cuman mimpi?" batin Yamato yang mulai berpikir.


Namun di saat dirinya sedang berpikir tiba-tiba sesuatu menciprat ke wajahnya, Jari tangan Yamato mulai meraba apa sebenarnya yang mengenai wajahnya. Ketika di lihat itu adalah darah segar.


Sontak saja wajahnya menjadi begitu terkejut, untuk kedua kalinya cipratan darah kembali mengenai wajahnya namun kali ini lebih banyak.


"Hah!?" kedua mata Yamato mulai bergetar melihat mayat kedua orang tuanya yang bersimbah darah, refleks Yamato langsung berdiri dengan wajah yang terlihat begitu ketakutan.


Ia mulai melihat ke sekeliling dan melihat banyak sekali maya berserakan di mana-mana bahkan rumput hijau, bunga warna-warni kini berubah menjadi merah darah.


"Tidak ... Tidak ..." karena sangat takut membuat dirinya mulai berlari tanpa tujuan yanh pasti.


"Apa sebenarnya semua ini? Mimpi atau bukan?" batin Yamato sambil terus berlari.


Karena tidak fokus dengan jalan didepannya membuat ia tidak sadar kalau ada sebuah mobil yang melintas dengan kecepatan tinggi, saat berbalik mobil itu sudah ada tepat didepan wajahnya siap melindas Yamato kapan saja.


Namun ditengah keputus asanya itu, mobil yang seinci lagi menabrak Yamato berubah menjadi seorang pria dewasa berjubah putih dengan pelat kuning di pinggir jubahnya, pria itu memeluk Yamato dengan erat.


Saat itu juga keadaan sekitar berubah menjadi kekosongan sejauh mata memandang hanya ada warna putih dan kehampaan.


Yamato tidak berkedip sama sekali kala berada di pelukan pria misteri itu kemudian iya pun berkata.


"Bagunlah ... Berjalanan mu masih belum selesai ... Dunia ini membutuhkan mu ... Aku percaya padamu, lakukan apa yang gagal ku lalukan" ujar pria itu........


"Arg.........!!" teriak Yamato yang terbangun dari pingsannya.


"Ha-hanya mimpi? Tapi terasa nyata?" gumam Yamato dengan wajah yang berkeringat dan nafas yang terbata-bata.


Tidak lama kemudian petugas medias datang measuk karena mendengar teriakan Yamato, mereka langsung mengecek dan menanyakan keadaan apa saja yang dirasakan setelah bangun dari pingsan.


Setelah pemeriksaan dan mendapatkan hasil kalau Yamato sudah kembali puluh cuman ia tidak bisa kecapean berlebih selama beberapa hari, kemudian para petugas medis itu pergi meninggalkan ruangan agar yamato bisa istirahat.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Setelah pemakaman selesai terlihat pak morisawa baru datang, keterlambatannya ini membuat jendral lain merasa sedikit aneh. Bergegas pak morisawa mendatangi keluarga pak kurudo dan meminta maaf atas keterlambatannya.


Sementara itu Masaru dan yang lain berjalan bersama menuju mobil, karena suasana yang canggung akhirnya Mitsuhiro mencarikan seusanan. Dengan beberapa leluconnya membuat yang lain tertawa kecuali matsuya dan tadeo yang hanya berkedip dengan wajah polosnya.


Kedua mata tadeo mulai melirik pada matsuya yang ada di sebelahnya.


"dia marah? Apa dia menahan emosinya?" batin tadeo saat melihat matsuya yang terlihat sedang menahan amarahnya.


"Dan matsuya ... Tersenyumlah. Sudah berapa tahun kau tidak tersenyum, cobalah" gurau Mitsuhiro sambil beberapa kali menepuk pundak matsuya.


Semua orang dibuat terkejut melihat matsuya yang menarik kerah baju Mitsuhiro dengan wajah marah, kecuali tadeo yang tidak terkejut sama sekali bahkan ekspresi wajahnya tidak ada yang berubah.


"Kenapa? Kenapa kau masih bisa tersenyum dan bergurau? Jangan sok kuat, aku tahu hatimu masih terluka bukan? Untuk apa kau bertingkah konyol?" teriak matsuya didepan wajah Mitsuhiro yang hanya bisa teridam menundukkan kepalanya.


"Kau benar. Matsuya, kehilangan satu-satunya orang yang ku sayangi tiada didepan mata ku, ingatan itu masih tersimpan dengan baik didalam ingatan ku. Serasa kejadian itu baru kemarin"


"Aku dan kau berbeda, aku tidak ingin terlalu larut dalam kesedihan karena itu tidak akan mengembalikan apa yang sudah hilang, aku bersikap seperti ini hanya untuk bisa melupakan ingatan itu meski hanya sesaat saja.


"Kau terlalu larut dalam kesedihanmu, sebagai orang yang sudah mengenal mu sangat lama aku jadi khawatir denganmu" tambah Mitsuhiro.


Sebelum situasi menjadi semakin memanas akhirnya sebagai yang paling tua diantara mereka semua Masaru turun tangan untuk memisahkan mereka berdua


Beberapa menit kemudian pak Ogawa datang menghampiri mereka, tanpa banyak basa-basi lagi pak Ogawa langsung memberitahu tujuannya mendatangi mereka secara langsung karena untuk meminta bantuan menangkap para penadah yang kini telah jadi setengah iblis.


Kenapa pak Ogawa dan para reven tidak bisa menangkap mereka itu karena para reven tidak bisa bergerak di siang hari sementara itu para penadah hanya bergerak di siang hari dan bersembunyi di malam hadi dengan sangat ssempurna.


Batasan ini membuat para reven kesulitan untuk bergerak jadi mereka akan di nonaktifkan dan di ganti dengan divisi 0. Dengan penuh keyakinan mereka semua menerima misi ini dan membua pak Ogawa bangga pada mereka dengan semangat dan keyakinan yang mereka miliki.


"Kalau begitu kalian bersiaplah, tunggu aku diruangan ku. Aku akan menjelaskan soal ketujuh penadah itu" kemudian pak Ogawa pergi.


.


.


.


.


.


.


.


.


Sesampainya di asrama mereka semua langsung memakai seragam lengkap dengan topi ketika sudah selesai dan akan pergi ke kantor pak Ogawa mereka melihat Yamato yang berjalan bersama ryuu yang tidur diatas kepalamya.


"mao-chan ... Kau baik-baik saja kan?" tanya akane setelah berlari menghampiri Yamato.


"yah aku baik" jawab Yamato namun dengan suara lesu tidak seperti biasanya yang penuh semangat.


"kalian mau kemana?" lanjut Yamato saat sadar kalau teman-temannya mengenakan seragam lengkap.


"Oh .. Kau akan tau jika ikut" jawab Mitsuhiro kemudian merangkul Yamato dan tersenyum memberikannya semangat.


"yah .. Kau sendiri yang mengajak, aku akan bersiap dulu" dan semangat Yamato kembali.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Entah bagai mana mereka bisa menjadi setengah iblis seperti itu, mungkin mereka sudah tau setelah beberapa kali terpergok kalau paraa reven hanya punya izin bergerak saat malam saja, jadi mungkin itu sebabnya mereka bersembunyi di malam hari"


"Mungkin ada orang lian yang telah merencanakan semua ini demi keuntungannya sendiri, mereka pasti telah di jadikan iblis secara paksa"


"Mereka tidak bergerak berkelompok tapi sendiri, jumlah mereka ada tujuh orang dan kalian ada sembilan kalau begitu siapa yang ingin berduaan?"


"Kami!" sahut Masaru dengan lantang mengangkat tangan kirinya sementara tangan kanan mengangkat tangan kiri Ayumi.


Sontak Ayumi terkejut dengan wajah merah dan teman-temannya yang lain tersenyum cabul kearah mereka berdua.


Kemudian pak Ogawa membagikan selembar kertas pada mereka semua.


"Dalam kertas itu adalah tempat di mana mereka sering terlihat, keberhasilan misi ini bergantung pada kalian, Anak-anak semoga berhasil"


.


.


.


.


.


..


.


"siapa yang selesai terakhir harus membersihkan kamar mandi bagai mana?" usul Yamato, karena merasa menarik yang juga setuju dengan usulan tersebut, kemudian masuk ke dalam mobil masing-masing yang akan membawa mereka ke tempat tujuan.