
"Akan sampai kapan kau menahannya?" tanya Arthur lalu bergerak menyerang.
Sementara itu para mayat hidup masih belum dapat dibunuh dengan mudah, karena ini tidak memberikan mereka pilih selain menyesal semua mayat hidup tersebut sementara waktu. Para exercist mulai menghentakkan kedua telapak tangannya ketanah.
Lalu sejumlah peti mati muncul menghisap mayat hidup itu, mengunci mereka didalam sana meski begitu mereka terus mencoba membuka peti yang mengurung mereka.
"Jika mereka tidak mati hanya dengan ditebas.... Kalau begitu kita bakar saja" ujar Yamato kemudian melepaskan panah amaterasu.
Panah yang di lepaskan itu mulai memecah dirinya sesuai dengan jumlah peti mati yang mengurung para mayat hitu tersebut. Saat panah itu menancap seketika saja api besar mulai membakar mereka dan perlahan berubah menjadi budiran debu.
Setelah itu yamato kembali melepaskan anak panahnya dan kali ini ia melepaskannya kearah Arthur, kemudian bergegas pergi untuk membantu.
"Kenapa kalian diam saja?" tanya Yamato pada exorcist lain yang hanya diam menonton.
"Ada sedikit peraturan aneh dalam divisi 4, dan itu dibuat oleh kapten ogami sendiri. Dalam peraturan itu kami dilarang keras untuk membantu kapten dalam kondisi apapun" jawab seorang exorcist.
"Cih. Peraturan macam apa itu?" gumam Yamato kemudian pergi bersama akane yang ada di belakangnya.
Meski peraturan yang dibuat kapten ogami berbeda dengan kapten lain karena dirinya punya alasan yang kuta mengapa membuat peraturan seperti ini. Alasan tersebut adalah karena ia tidak ingin ada satupun korban nyawa dalam divisi yang ia pimpin.
Hal ini terbukti karena semenjak divisi 4 berada di bawah pimpinan kapten ogami belum tercatat ada korban nyawa dalam divisinya, anggap saja kapten ogami lebih memilih mengorbankan nyawanya dari pada harus melihat orang lain berkorban demi dirinya.
Meski tahu kalau dirinya kalah jumlah dan terus dikeroyok tidak membuat Arthur sedikit pun ingat sedikit pun panik atau terburu-buru, iya malah sangat menikmati jalannya petarung ini.
Lalu dari arah samping Yamato melemparkan tombak tsukoyomi membuat gerakan tubuh Arthur begitu lambat, karena tidak dapat menghindar akhirnya tombak itu menembus kepalanya.
Dengan kecepatan dari pedang susanoo yang tiada tandingannya memudahkan Yamato mendekati Arthur, refleks melihat Yamato yang dalam sekejap berada di depannya bergegas Arthur menyerang sebelum diserang.
Tapi Yamato lebih dulu menghindar deketat tsukoyomi kemudian mencabut tombak tsukoyomi hanya dengan satu tarikan saja.
*bayangkan aja sendiri oke*
"Gerakan yang bagus... Sepertinya kau cocok jadi hyper" gumam Arthur dengan luka kepala yang mulai sembuh cepat.
"Astagfirullah... Ngeri bet njir, padahal itu pala coak" batin Yamato yang malah merinding melihat luka pada kepala Arthur yang sangat parah langsung sembuh.
Entah kenapa saat Arthur melihat kearah pedang muramasa yang tergelatak dibelakangnya tiba-tiba ia malah teringat wajah konyol lucifer di pikirannya. semakin lama wajah-wajah itu semakin memenuhi pikiran Arthur.
"Aku bukan tipe iblis yang suka berhenti di tengah permainan... Tapi wajah si bajingan itu akan memenuhi pikiran ku" lalu Arthur mulai mengeluarkan dua duplikat dirinya.
"Aku ambil ini" kemudian ia menghilang menjadi kabut hitam dengan membawa pedang muramasa.
"Huu..~" kapten ogami pun membuka kembali kubahnya dan ternyata sudah malam.
"Kalian pergi dan berikan kabar pada yang lain untuk bersiap-siap" teriak kapten ogami kemudian anggota timnya bergegas pergi ketempat tim pengintai berada.
"Anak-anak. Pelajaran kalian dimulai sekarang" tambah kapten ogami lalu bergerak menyerang lebih dulu.
Yamato dan Akane melakukan kerja sama yang bagus, dengan dua belas topeng petapa yang digunakan untuk menjadi pendukung setiar serangan yang dilakukan Yamato, tapi tidak selalu menjadi pendukung mereka juga ikut menyerang.
Mendapatkan dukungan dari Akane memudahkan Yamato saat Arthur menghindar, ia bisa menggunakan salah satu dari dua belas topeng itu sebagai pijakan untuk langsung bergerak tanpa mengambil ancang-ancang lebih dulu.
"Sekarang ayang-ayang ku. Kunci om-om tampan itu" sesuai apa yang dikatakan sang tuan putri Akane.
12 babunya itu langsung bergerak dan berhenti berdiri mengelilingi Arthur kemudian sebuah pola muncul lalu dari dalam mulut mereka masing-masing keluar sebuah rantai berdiri yang langsung mengikat Arthur dengan sangat kuat.
Tidak lama kemudian dari atas Yamato melepaskan anak panahnya dan membakar Arthur dengan hebat, lalu bergerak cepat memenggal kepala Arthur. Hanya butuh waktu singkat bagi tubuh Arthur untuk menghilang setelah di penggal mungkin karena itu hanya duplikat-nya saja.
"Kerja bagus ayang-ayang ku semua" satu persatu akane mulai memberikan mereka semua ciuman hangat, melihat apa yang sedang dilakukan oleh sahabatnya tersebut membuat Yamato merasa geli.
Sementara mereka berdua sudah selesai, saat ini kapten ogami dan beberapa orang dari anggota timnya sedang mencoba melumpuhkan Arthur dengan cara.
"Teknik terkutuk! Asap pembakar segalanya" lalu mereka semua mulai meniupkan asap yang cukup tebal, lalu menggesekkan Anata gigi atas dan gigi bawah.
Menciptakan sebuah percikan api dan percikan tersebut langsung meyebar dengan cepat membakar asap yang mereka tiupkan, karena ini Arthur yang ada di dalamnya harus terbakar. Sesaat kemudian ia merasakan sesuatu leintas didekatnya.
Lalu tiba-tiba saja kepala Arthur terjatuh dengan darah yang mulai menyembur keluar.
"Kami selesai disini" ujar kapten ogami lalu memasukkan pedangnya kembali kedalam sarungnya.
"Bersiap kita akan segera kembali ke markas" lanjut kapten ogami kepada yang lain.
"Dia mengambil pedangnya.... Bagai mana sekarang?" tanya Yamato.
"Jangan terlalu di pikirkan... Lebih baik kita kembali" jawab kapten ogami kemudian berjalan pergi lebih dulu.
.
.
.
.
.
.
.
.
Di kantor pak akaza terlihat dirinya sedang berbicara dengan para reven yang ditugaskan memburu akito.
"Kami semua tidak bisa menemukan jejaknya lagi, anak iu bersembunyi dengan baik" ujar salah satu dari mereka.
"Meski dalam kondisi seperti itu, dia tetap bisa lari dari kejaran kalian. Kita akan bahas ini nanti ada yang ingin berbicara dengan ku" jawab pak akaza yang menatap kebelakang para reven.
Melihat pak akaza mereka pun langsung berbalik dan melihat pak morisawa yang berdiri di belakang mereka dengan wajah serius. Para reven langsung memberikan hormat mereka dan bergegas pergi.
"Akan ku buatkan kopi.. Duduklah dulu" ujar pak akaza kemudian beranjak dari kursinya untuk membuatkan kopi.
"Kenapa anda bertindak tanpa memberitahu kami lebih awal?" tanya pak morisama setelah duduk.
"......... Memberitahu kalian juga tidak ada gunanya, bertindak sendiri menurut ku lebih baik" jawab pak akaza kemudian memberikan secangkir kopi yang telah ia buat.
"Sekarang.. Mari kita mengobrol santai" lanjutnya