The Exorcist

The Exorcist
Seorang Onmyoji/onmyodo pemilik anugrah dewa



"Kebencian, pertumpahan darah, peperangan, kami bertiga tercipta karena kerakusan kalian para manusia. Dan kini kalian harus bertanggung jawab atas dosa kalian!" ujar mereka bertiga lalu membuka telapak tangan sebelah kanan.


Dan Sanshu no Jingi muncul yaitu sebuah pusaka yang terdiri atas pedang kusanagi no tsurugi yang pegang azir, cermin yatano Kagami yang pegang raja kaloon, dan permata yasakani no magatama yang dipegang ratu adara.


"Bersiaplah untuk mati!" ujar azir kemudian mengayunkan pedang kusanagi no tsurugi, hanya sedang satu ayunan semua orang didalam kota mati dengan keadaan leher tertebas.


Kemudian hujan mulai turun membersihkan darah yang mengotori kota, azir, kaloon, dan Adara, kembali menjadi normal namun tubuh mereka tidak kembali menjadi anak kecil.


Mereka bergegas menghampiri mayat ibu lalu memeluk sambil menangis mereka berdua terlihat begitu kehilangan sosok yang selalu merawat mereka, ditempat itu juga mereka menguburkan ibu dengan layak setelah mengikhlaskan kepergian ibu mereka pamit karena mereka akan membuat orang-orang membayar atas apa yang sudah mereka lakukan.


Walau kaloon terlihat ragu untuk melakukan hal ini tetap saja ia ikut kemapaun azir pergi.


Bertahun-tahun berlalu dan mereka bertiga masih seperti dulu tidak keriput, atau pun menua mereka tetap terlihat seperti baru berumur tiga puluh tahun, sampai akhirnya era  heian dimulai.


Kisah pembantaian satu kota yang dilakukan azir masih perlahan mulai memudar dan dianggap sebagai legenda saja. Kini sifat dan kepribadian azir sangat-sangat berbeda, sekarang azir begitu brutal dan kejam.


Kini azir tidak segan-segan untuk membunuh orang yang dirasanya tidak pantas hidup didunia ini, meski begitu azir tidak memaksa kaloon dan Adara untuk melakukan apa hal yang sama sepertinya.


"Ada apa dengannya? Dalam satu hari ini saja dia sudah membunuh sepuluh orang" ujar kaloon yang bersandar disebuah pohon menonton pertarungan azir melawan beberapa pendekar yanh sengaja datang untuk membunuhnya bersama Adara disebelahnya.


"Jangan menanyakan hal seperti itu pada ku, aku khawatir jika rasa dendamnya belum hilang dia benar-benar akan menghancurkan dunia ini" jawab adara.


"Terlebih lagi kekuatan sebesar ini akan kita apakan?" tambah Adara.


"Soal itu aku jugaa tidak tau, meski kita ditakdirkan untuk menghakimi dunia ini tapi aku tidak ingin melakukannya anda saja ada yang bisa menghentikannya"


"Kau benar"


Lalu hembusan angin yang begitu lembut datang bersamaan dengan aura yang terasa begitu hangat dan bersahabat dihati, merasakannya membuat kaloon dan Adara terkejut bergegas mereka berbalik kebelakang.


Bahkan azir langsung bersehati saat merasakan aura tersebut, dirinya malah terlihat bersemangat karena akan berhadapan dengan orang yang seimbang atau biasa saja lebih, tanpa basa basi azir langsung menyerang mengayunkan pedang kusanagi kearah pemilik aura tersebut.


Namun serangan azir dapat ditahan dengan sebuah pedang yang memiliki motiv petir pada sepanjang bilahnya, bukan hanya itu dua senjata lain yaitu tombak dan panah muncul


Tidak disangka pria itu berhasil mendorong azir kebelakang.


"Siapa?" tanya kaloon pada si pria.


"Aku mahide Takigawa, seorang onmyodo/nmyoji. Aku dikirim kaisar kanmu untuk menghentikan kalian" jelasnya yang ternyata seorang onmyoji bernama mahide Takigawa.


"Hah.. manusia sepertimu hanya bisa membual seperti yang lain, ujung-ujungnya kau juga akan mati sebagai penebusan dosa" jawab azir kemudian menyerang secara brutal.


Sementara mereka bertarung, kaloon dan Adara mulai membicarakan pria bernama mahide Takigawa itu sampai akhirnya Adara menyadari mengingat sesuatu.


"Ya. Aku perang mendengarnya seorang onmyoji tersohor, menurut kabar yang beredar dia mendapatkan anugrah dari tiga dewa sekaligus yaitu dewi amaterasu, dewa susanoo, dan dewa tsukoyomi. Apa mungkin ketiga senjata itu anugrah yang dimaksud?" jelas adara.


Pertarungan mereka berdua begitu seimbang bahkan sesekali azir hampir terkena serangan dari mahide, yang menjadi masalahnya adalah mahide begitu terampil menggunakan ketiga senjatanya itu.


Dia tau kapan harus menyerang jarak jauh dan kapan harus menyerang jarak dekat, melihat pertarungan ini membuat hati dan pikiran kaloon mempercayai mahide untuk menghentikan azir.


"Cih. Kalau begitu! Teknik perluasan area sihir! Selimut kabut!" ujar azir saat memasang kuda-kudanya seketika saja suasana menjadi ketutupi kabut tebal dan bukan hanya itu saja suasana juga menjadi gelap layaknya malam sementara cahaya matahari seperti cahaya bulan purnama.


Mahide mulai terlihat waspada ia mempersiapkan diri untuk serangan yang datang mendadak, sesekali mahide melihat sekelibat bayangan azir melintas di sekitarnya. Sayangnya teknik ini tidak dapat menyamarkan hawa keberadaan yang azir keluarkan.


Beberapa saat kemudian serangan kejutan dilancarkan azir dari arah samping kiri, namun mahide berhasil gerak cepat menghindar kemudian membalas serangan azir dan serangannya itu hampir saja memutuskan tangan kanan azir.


Namun yang mengejutkan adalah tiba-tiba saja mahide merasakan sakit pada dadanya membuat dirinya terus batuk sampai mengeluarkan darah, disaat itulah azir kembali menyerang tapi sekali lagi mahide berhasil menghindar.


"Sepertinya kabut ini memiliki efek lain selain memotong jarak pandang. Aku harus segera keluar dari dalam sini" batin mahide kemudian bergegas berlari untuk keluar.


Tapi saat sudah keluar tiba-tiba kaki kirinya mahide berhasil ditangkap dan ditarik kembali masuk oleh azir, bahkan kali ini mahide berada lebih dalam dari tempat awalnya tadi.


"Kabut ini bukan semata-mata untuk menghalangi jarak panjangmu namun akan merusak organ pernafas jika menghirupnya terlalu banyak" jelas azir.


"Susah kuduga pantas saja aku merasa sakit setiap kali menghirup udara" gumam mahide untuk sesaat dirinya melihat ke sekeliling kemudian melemparkan pedangnya dan menancap disebuh pohon diluar kabut.


"Sayang sekali aku tidak bisa menemanimu lama-lama didalam sini, aku akan menunggu diluar" lanjut mahide dan hanya satu kebipan mata dirinya berpindah ke tempat pedangnya tertancap.


"Cepat sekali!?" batin Adara yang terkejut melihat kecepatan berpindah mahide.


"Akan ku beritahu, ini adalah pedang suanoo yang dapat meningkatkan kecepatan brrgerak pengguna, lalu ini panah amaterasu akan membakar lawan sampai menjadi debu jika terkan anak panahnya, dan ini tombak tsukoyomi untuk efeknya coba sendiri" jelas mahide kemudian melemparkan tombak tsukoyomi kearah azir yang masih berada didalam kabut.


Karena hawa keberadaannya masih terasa begitu jelas membuat mahide mengetahui dimana posisi azir saat ini, tombak pun dilepaskan dan saat azir akan menghindar seluruh pergerakan seluruh tubuhnya menjadi sangat lambat layaknya seekor siput.


Sampai akhirnya tombak tsukotomi menembus dadanya, perlahan kabut itu mulai memudar terlihat tombak itu benar-benar menembus tubuhnya. Mahide mulai membuka telapak tangannya dan dengan sendiri tombak tsukoyomi kembali ke tangannya.


"Sekarang kau mengerti efek tombak ini?" tanya mahide pada azir yang terkapar di tanah.