The Exorcist

The Exorcist
Saatnya untuk unjuk kemampuan



Mereka semua pun berpencar ke tujuh tempat berbeda dengan jarak yang berjauhan.


Setelah beberapa menit berkendara akhirnya Yamato ampai di tempat tujuannya yaitu sebuah bekas mall.


"Ini tempatnya? Baiklah. Paman doakan aku" ujar Yamato kemudian melambaikan tangannya pada pak supir yang menunggu di depan mobil.


"Ryuu apa kau merasakan sesuatu?" tanya Yamato pada ryuu yang masih tidur diatas kepalanya.


"Tidak yang aku rasakan hanya hawa dingin tempat ini" jawab ryuu dengan mata yang terpejam.


"Kau benar. Sudah berapa tahun tempat ini kosong, ya? Sayang sekali dibiarkan seperti ini coba kalau di manfaatkan lagi. Dibikin apa kek" gumam Yamato sambil melihat ke sekelilingnya.


Meski sudah berjalan cukup dalam tapi orang yang mereka cari tidak ketemu, merasa dia tidak ada di tempat ini membuat Yamato memilih untuk kembali dan mencarinya di tempat lain.


Tapi tiba-tiba saja beberapa besi runcing melesat cepat dari arah samping atas, syukurnya refleks Yamato bagus dan ia berhasil menghindari serangan kejutan itu tempat waktu.


"Coba lihat ... Mangsa ku datang sendiri, nak kau cukup berani untuk sekuruna bocah sepertimu, kebetulan juga aku sedang lapar" ujar orang yang sedang di cari Yamato.


Yamato tidak menjawabnya dan mulai mengerutkan keningnya, karena tidak direspon pria itu menjadi marah dan menganggap Yamato tidak sopan karena tidak menjawab perkataannya.


Pria itu langsung menyerang dari arah atas dengan tangan kosong, ternyata tangan kanannya langsung berubah menjadi sebuah pedang dan itu mengejutkan Yamato.


Yang tadinya Yamato berniat hanya akan menghindari malah harus menghunuskan pedangnya untuk menangkis serangan tersebut. Melihat yamato dapat menangkis serangannya membaut iya sadar kalau anak yang didepannya bukan anak biasa.


Karena itu bergegas iya mengambil jarak dengan Yamato dan kembali merubah tangannya kembali seperti semula.


"Sepertinya di anggota exorcist tapi untunnya di bukan anggota reven, terlebih lagi dia cuman bocah ingusan. Ini pasti akan mudah" batin pria itu.


"Aku sedang tidak bisa kecapean jadi akan ku selesaikan saja!" ujar Yamato kemudian memasang kuda-kudanya.


"Teknik terkuruk! Gerhana matahari! Tahap pertama! Sinar sang surya!" sama seperti sebelumnya suhu pada pedang Yamato mulai meningkat drastis.


Bahkan membuat ryuu bergegas menjauh darinya saking panasnya, bukan hanya itu Yamato sendiri mulai berkeringat karena hal tersebut.


"Baiklah aku mulai!" ujarnya dengan penuh semangat lalu mulai bergerak menyerang.


Pria itu langsung kembali merubah tangan kanannya menjadi pedang dan menangkis serangan dari Yamato, namun baru saja berbenturan tangan pria itu langsung terpotong dan mulai terbakar.


Terkejut dengan apa yang terjadi membuat pria itu tidak punya pilihan lain selain kabur sayangnya Yamato mengibaskan pedangmya dan gelombang panas ekstrim mulai menyambar pria itu, membuat luka bakar parah pada sekujur tubuhnya.


"Nah. Adios" ucap Yamato kemudian mengayunkan pedangnya memenggal kepala pria itu.


"Baiklah kita susah selesai disini" lanjutnya setelah selesai dan melihat tubuh pria itu perlahan mulai menghilang.


Yang tidak di sadari Yamato adalah, jiwa dari pria itu mulai terbang kembali kepada orang yang dianggapnya tuan yaitu jiro yamada.


"Akhirnya gampang baget. Baru pake tahap pertama aku sudah merasa lemas, apa yang lain juga sudah selesai?".


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


Di tempat Akane yaitu di sebuah sekolah yang sedang di renovasi, ia terlihat sedang bersembunyi di dalam sebuah kelas tanpa terlihat membawa senjata apapun untuk membela diri.


"oh. Ya tuhan, ku harap dia tidak menemukan ku" batin akane kemudian mengintip dari jendela kelas ke koridor yang sepi.


Saat sedang memantau situasi tiba-tiba pria yang menjadi lawannya muncul didepan wajahnya dan itu membuat Akane begitu terkejut.


Akane menunjukkan wajah ketakutan sambil berjalan perlaan kebelakang.


"Kenapa padahal aku berharap tidak bertemu denganmu, karena takut akan membunuhmu" ujar akane kemudian wajah ketakutannya berubah menjadi senyuman pesikopet.


"Hah?" pria itu mulai heran kenapa akane tiba-tiba tersenyum lebar seperti itu.


"Teknik terkutuk! Dua belas petapa bertopeng! Utara, selatan, lagit, api, udara, cahaya, mimpi, ilusi, air, petir, dimensi, penyembuhan" ujar Akane kemudian menyatukan kedua telapak tangannya.


Sesaat kemudian dua belas topeng putih dengan tulisan kata yang tadi disebut oleh Akane, setiap topeng hanya memiliki atu tulisa yang berbeda. Topeng-topeng itu mulai membentuk tubuh mereka sendiri yaitu.


Tujuh bertubuh manusia yang memakai jubah bertudung pustih dan sisanya bertubuh hewan dengan ukuran sangat besar seperti kalajengking , banteng, serigala, elang, ular, dan macan.


Dua topeng yang bertulisan dimensi dan penyembuhan berada diekat Akane sementara yang lain bersiap menyerang.


"Jadi apa kau tau rasanya loso lawan squad? Kalau begitu akan ku beritahu. Anak-anak bunuh dia" ujar akan lalu memberikan perintahmya.


Tidak butuh waktu lama akhirnya pekerjaan akane selesai dan ia memberikan pujian pada dua belas topeng itu dan mereka semua pun mulai berpelukan, meski hanya topeng tapi mereka menunjukkan rasa sayangnya pada akane.


"Terimakasih atas bantuannya" ujar Akane yang memberikan ucapan terimakasih, kemudian para topeng itu melambaikan tangan lalu menghilang.


"Yey. Waktunya pulang dan rebahan"


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Ayumi apa kau kedinginan?" tanya Masaru pada Ayumi yang ada di dekatnya.


"Hah? Tidak" jawab Ayumi.


"Itu hidungmu merah, ini pake seragam ku saja. Setidaknya akan membuat mu lebih hangat" kemudian Masaru membuka seragamnya dan memberikannha pada Ayumi.


"Jangan kau sendiri bagai mana? Akan sangat dingin kalau cuman pake kaos doang"


"Tidak apa. Kamu yang sedang butuh hidung saja sudah mulai berair tuh"


Setelah di bujuk Masaru akhirnya Ayumi mengambil kemudian menyelimutkan seragam Masaru.


"Tempat Parkir bawah tanah ini sepertinya sudah bertahun-tahun tidak di gunakan" gumam Masaru kemudian melihat ke sekeliling.


"Harum, seragam Masaru harum juga rupanya" batin Ayumi.


Ayumi yang berjalan di belakang Masaru mulai menyadari sesuatu tentang perlakuan Masaru pada dirinya selama ini yang sangat berbeda pada teman-teman yang lain.


"Sepertinya aku sudah seperti adik baginya" batin Ayumi lalu ia terkejut melihat Masaru yang tiba-tiba berbalik lalu menarik dirinya yang membuat Ayumi tidak sengaja memeluk Masaru.


Ternyata Masaru melakukan ini adalah untuk menyelamatkan Ayumi dari serangan yang datang padanya. Telihar pria yang mereka berdua cari kembali berdiri setelah melancarkan serangan pertamanya.


"Ah .. Maaf" ucap Ayumi yang langsung melepaskan pelukannya dan Masaru juga langsung melepaskan genggamannya dari tangan Ayumi.


"Ayumi bersiaplah, tetap jaga jarakmu karena kamu penyerang jarak jauh. Aku akan mengurusnya dari jarak dekat" Jelas Masaru kemudian mulai menyerang.


Ayumi juga langsung mempersiapkan busurnya. Iya mulai membidik targetnya dan tali busur pun di tarik sebuah anak panah muncul saat tali ditarik.