The Exorcist

The Exorcist
keputusan yang diambil



"Sekarang apa yang harus ku lakukan? Mati? Hidup? Mati? Hidup? Semua itu sudah tidak berarti lagi bagi ku" gumam akito yang terlihat duduk disudut ruangan sebuah bangunan kosong.


"Dasar makhluk rendah.. Dia menghalalkan segala cara demi tujuan busuknya.. Aku ingin segera membunuhnya..."


"Dalam mimpi saja kau takkan berhasil.. Akan ku bantu, meski beresiko bagi ku.." sahut belial yang berjalan menghampiri akito.


.


.


.


.


.


Di perpustakaan yang tenang tiba-tiba sebuah cahaya hijau kecil muncul namun hanya sesaat beberapa saat kemudian dari dalam perpus Ayumi keluar dengan membawa beberapa buku bersamanya.


Sementara itu Masaru dan Yamato sedang menghadap pak morisawa untuk memberitahunya dengan Kanazawa yang berteman dekat dengan iblis yang bernama yael.


Mendengar penjelasan dari Masaru yang sangat ditail membuat pak morisawa menyadari sesuatu dan meminta pada mereka berdua untuk membujuk yael ikut ke markas pusat, dan usahakan jangan memakai kekerasan.


"Pak tua itu hanya bisa ngomong doang.. Telinga ku sakit mendengarnya" gumam Yamato setelag keluar dari ruangan pak morisawa.


"Jangan seperti itu. Diakan lebih tua dari kita, setidaknya tunjukkan rasa hormat mu.. Syukurnya tadi kau tidak diamuk" jawab Masaru kemudian melirik keluar melalui jendela dan dirinya melihat Ayumi yang sedang berjalan di halaman membawa beberapa buku menuju asrama.


Druk!


Masaru langsung terkejut melihat Ayumi yang jatuh karena tersandung kakinya sendiri saat itu pula ia melihat akan yang terus mengambul foto Ayumi yang jatuh.


"Ngomong-ngomong apa dia akan menelpon....-?" Yamato berhenti melanjutkan perkataannya disaat melihat Masaru yang sudah tidak ada didekatnya lagi, dan pada saat melihat keluar Masaru sudah ada disana membantu Ayumi.


"Haha... Akan sampai kapan dia memendam perasaan sebesar itu?" lanjut Yamato yang kini berjalan seorang diri.....


"Kau tidak apa-apa? banyak sekali bukunya!" tanya Masaru kemudian membantu Ayumi mengambil kembali semua buku yang jatuh.


"Mari aku bantu membawanya.. Akan sampai kapan kau memotret kami berdua?" lanjur Masaru yang bertanya pada Akane yang masih terus memotret mereka berdua.


"Ini itu penting tau.. Buat kenang-kenangan nanti kita sudah pensiun, nah. Ayo senyum" jawab Akane kemudian berfoto dengan Masaru dan Ayumi.


.


.


.


.


.


"Jadi itu alasanmu? Bukannya Mitsubishi juga punya dendam yang sama denganmu?" tanya kapten Hideaki pada matsuya yang berdiri didepannya.


"saya tidak perduli dengannya.. Yang penting saya minta bantuan anda" jawab matsuya.


"Baiklah.. Aku tidak punya alasan untuk menolak, jadi bersiaplah " setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan, matsuya pamit lalu berjalan keluar ruangan.


"Kau tidak memberitahu ku!" ujar Mitsuhiro yang sedang berdiri bersandar pada dinding, tapi matsuya tidak menjawab perkataan yang di lemparkan sahabatnya itu.


Namun Mitsuhiro tetap tahu kalau matsuya tidak ingin menjawab atau memberitahunya tentang apapun.


.


.


.


.


.


Sementara itu, Kanazawa yang sedang seorang diri dirumahnya terlihat memikirkan perkataan dari Ayumi yang memintanya ajar menjauhi yael karena akan berbahaya pada dirinya sendiri, tidak lama kemudian dari belakang yael muncul dan bertanya kenapa dari tadi Kanazawa hanya bengong.


Beberapa saat Kanazawa hanya terdiam sambil mantap yael sampai akhirnya tiba-tiba saja hidungnya mimisan, menyadari hal tersebut bergegas Kanazawa mengambul tisu untuk membersihkan darah yang keluar.


Melihat apa yang terjadi pada Kanazawa membuat yael menjadi sangat khawatir dan berkali-kali meminta Kanazawa untuk pergi ke dokter untuk memeriksa apa dia sedang sakit atau hanya kecapean.


Saat itu juga perkataan Ayumi telah terjadi, efek samping dari hubungan persahabatan mereka berdua sudah muncul. Kanazawa memberitahu pada yael kalau dirinya akan tidur sebentar.


Padahal saat didalam kamar Kanazawa menghubungi nomer yang di berikan Yamato padanya waktu itu, pada awalnya memang tidak dijawab karena panggilan selalu sibuk. Setelah mencoba beberapa kali akhirnya dijawab juga.......


"Yaaa.. Sebentar lagi libur musim panas, kita ngapain, ya? Bahaya kalau belum ada target dari sekarang bisa-bisa liburan kita kacau" gumam Yamato yang sedang berbaring dirmput dibawah pohon rindang didepan asrama dan ditemani ryuu yang sedang tidur didekatnya.


"Rasanya sepi sekalian, kemana yang lain?" sadar kalau kali ini asrama terasa begitu sunyi tidak sebising biasanya.


"Yuzuru dan Marika sedang pergi.. Mitsuhiro dan anak membosankan ada di belakang dengan hidaeki, dan anak setengah iblis ada sedang merawat bonsai dibelakang" sahut ryuu.


"Aku ingin tahu dia ke turun iblis macam apa?"


Beberapa saat kemudian Masaru datang dan memberitahu Yamato kalau Kanazawa menelpon dan menyetujui tawaran mereka, tanpa menunggu lama mereka bergegas pergi sebelum terjadi hal yang tidak diinginkan......


Dikamarnya Kanazawa masih memikirkan apa yang dilakukannya ini benar? Atau malah akan jadi kesalahan besar, dan menimbulkan rasa bersalah tapi di sisi lain Kanazawa juga sadar kalau hubungan persahabatannya dengan yael sudah tidak wajar.


Ditengah kebingungannya yael datang untuk menghibur Kanazawa, melihat yael yang berada didepannya ia langsung menangis sambil bertanya pada yael apa iya akan marah jika dirinya membuat kesalahan besar.


Dan yael menjawab dengan suara yang begitu tulus kalau dirinya tidak akan pernah marah atau membenci semua keputusan yang diambil oleh Kanazawa, karena ia tidak bisa marah pada sahabatnya sendiri.


"Oh.. Astaga! Aku terharu mendengarnya, lucifer benar. Ada iblis yang melenceng dari tugasnya" ujar Arthur yang berdiri di depan mereka berdua.


Saat itu juga Kanazawa dan yael terkejut melihat Arthur yang entah datang dari mana, yael yang mengenal Arthur mencoba untuk melindungi Kanazawa dengan merubah bentuknya menjadi iblis yang terlihat begitu sangat.


Melihat perubahan yael membuat Arthur terkesan dan menyebutnya kalau yael sebenarnya adalah iblis sejati dengan potensi yang tidak boleh si buang begitu saja.


"Yael... Kau sudah lupa untuk apa lucifer menciptakan mu dan iblis lain? Bahkan lucifer memberimu lebih dari iblis lain. Kini saatnya kau untuk kembali sadar yael!" jelas Arthur dan mata kirinya mengeluarkan aura hijau pekat saat itu juga pikiran dan sifat iblis yael kembali.


"Sepertinya mereka agak terlambat.. Hibur anak-anak itu" .....


"Kalian merasa ada sesuatu dibelakang tidak?" tanya Ayumi dan mereka pun berhenti setelah melewati gerbang rumah.


"Kau benar! Kita lihat sama-sama oke" sahur Yamato kemudian mereka bertiga menghitung mundur dari tiga, dua, satu lalu berbalik dan melihat yael yang berdiri dibelakang mereka.


Saat itu juga yael menyerang Yamato dan Masaru yang langsung menarik tangan Ayumi berhasil lolos dari sernagan barusan.


Mengingat saat ini mereka sedang ada di depan rumah, Masaru menyarankan untuk membawa yael ketempat yang jauh dari perumahan atau pun orang dan Masaru meminta Ayumi untuk memeriksa keadaan Kanazawa didalam rumah.


Dan rencana pun dimulai setelah Yamato dan Masaru pergi dengan di ikuti yael, Ayumi bergegas menuju kamar Kanazawa baru saja membuka pintu ia kaget saat melihat Arthur berada didepan Kanazawa yang ketakutan.


Arthur sedikit melirik lalu tersenyum dan pergi meninggalkan mereka berdua.