The Exorcist

The Exorcist
bergeraknya para reven



"Wah-wah. Sungguh mengejikan kita bisa sekelas dan sebangku" ujar hana setelah akito duduk didekatnya.


"Kenapa apa kau terlihat aneh pake seragam sekolah?"


"Aneh? Haha. Kau bercanda yah? Coba lihat itu, baru hari pertama saja udah serame itu penggemarmu" kemudian akito pun berbalik dan melihat banyak anak perempuan yang masih memperhatikan dirinya.


"Kyaaa.. Tampan sekali"


"Aduh mas. Harim ku hangat tanggung jawab mas"


"Oh ya tuhan. Malaikat dari mana dia?"


"Tampan sekali"


Mendengar mereka semua berkata seperti itu membuat akito semkain malu, saat jam pelajaran di mulai akito terlihat kebangun dan kesulitan karena dirinya tidak bia baca dan menulis.


Melihat akito yang binggung bagai mana cara membaca dan menulis hana pun memberitahu kalau istirahat nanti iya akan mengajari akito cara membaca dan menulis tapi untuk sekarang akito hanya mendengarkan dan memperhatikan semua pelajaran.


Selama pelajaran berlangsung akito terlihat begitu memperhatikan apa-apa saja yang dikatakan oleh guru didepan sampai akhirnya bel istirahat berbunyi. Hana langsung mengajak akito pergi ke perpustakaan.


Ketika sedang berjalan kesana banyak anak perempuan dari kakak kelas maupun adik kelas yang memanggil akito dengan sebutan pangeran, bahkan beberapa dari mereka mengikuti akito dari belakang. Merasa kesal hana pun menarik tangan akito lalu berlari walau begitu tetap saja mereka mengikuti akito.


Saat didalam mungkin karena ada akito satu perpustakaan penuh oleh anak perempuan, sadar dengan apa yang sedang terjadi penjaga perpus pun menyuruh yang cuman ingin melihat akito untuk keluar.


Mendengar hal tersebut berhasil membuat perpustakaan kembali menjadi sepi dan hanya menyisakan beberapa anak termasuk akito dan hana.


Berapa buku seperti buku A,B,C, ayo membaca, belajar menulis dan lain-lain.


"Ini mungkin sudah cukup, mari kita mulai dari menulis" ujar hana kemudian membuka buku pelajaran bab pertama.


Supaya akito dapat cepat memahami dan mengingat setiap huruf hana menggunakan cara lama yaitu mengajarinya dengan lagu anak kecil. Awalnya akito tidak mau bernyanyi bersamanya tapi hana memberitahu hanya dengan ini akito dapat mudah mengingat setiap huruf.


Tidak diduga akito dapat menyerap semua pelajaran yang diajarkan hana dengan sangat cepat dan kini is sudah bisa menulis dengan rapih tinggal masalah membacanya saja. Sayang sekali waktu yang mereka punya tidak cukup karena bel kembali berbunyi itu artinya mereka harus kembali ke kelas.


"Aku tidak pernh berpikir akan bisa menulis seperti ini, terimakasih sudah mau mengajari ku" ujar akito yang berjalan di samping hana.


"Jangan dulu berterimakasih kau masih belum bisa membaca dan otak mu encer juga hanya beberapa jam saja kau langsung bisa menulis" puji hana atas keberhasilan akito yang kini sudah bisa menulis.


"Istirhat kedua nanti kita akan belajar membaca" lanjut hanya dengan penuh semangat.


.


.


.


.


.


.


.


.


"Komandan kami melihat targetnya" ujar seorang reven pada seseorang melalui alat komunikasi yang ada di balik topengnya.


Iya terlihat sedang memantau akito menggunakan sebuah teleskop bukan hanya seorang diri tidak lama kemudian enak orang reven lain datang menghampiri.


"Baik. Kami mengerti, tentu kami saja sudah cukup" kemudian iya menutup panggilan.


"Komandan oprasi meminta kita untuk segera bergerak, sebelum itu kita Pastika tidak ada pengganggu disekitar sini" jelasnya lalu mereka bertujuh berpencar untuk memeriksa sekitar.


Ketika salah satu dari mereka sedang memeriksa area ternyata iya sudah diketahui oleh zion, kemampuan iya pergi zion terus mengikutinya sampai akhirnya sang reven menyadari kalau ada yang membuntutinya.


Iya pun melaporkan hal tersebut pada sebelum mengambil tindakan kepada ketua kelompok, setelah mendapatkan izin untuk bertindak reven itu berhenti dengan cerpat berbalik membuat zion terkejut.


Ketika mereka berdua sedang baku hantam tiba-tiba semua bola yang menempel di dinding iru mulai menyemprotkan asap yang begitu pekat, mengakibatkan zion tidak bisa melihat apapun.


Yang bisa zion lalukan hanya mendengar suara dari sepatu si reven, ia mencoba mengikuti gerakan suara sepatunya dan ternyata suara tersebut semakin menjauhinya, bergegas zion mengejar si reven yang pergi meninggalkannya.


"Ketua. Serangga itu sudah pergi, kita bisa melanjutkan rencana" ujar si reven melihat zion yang pergi menjauh. Jika dia masih berada disini itu artinya yang dikejar zion adalah.......


Tau kalau dikejar saja akan memakan waktu lama zion pun mulai melemparkan beberapa belati dan dengan mudahnya semua belati itu mengenai si reven, ketika didekati seketika saja tubuh reven itu langsung menghilang menjadi asap.


"Apa? Ternyata itu asap pembuat ilusi" gumam zion yang baru menyadari hal tersebut.


Bergegas ia kembali namun sudah terlambat sebuah kubah hitam muncul diatas sekolah lalu menutupi area sekolah dengan sangat rapat.


"Gawat!"


.


.


.


.


.


.


"Apa itu?" tanya hana yang melihat kubah dengan cepat menutupi seluruh sekolah.


Seketika saja keadaan menjadi gulap gulit, seluruh lampu sekolah langsung dinyalakan untuk mengurangi kepanikan. Seluruh guru berusaha untuk menenangkan murid mereka.


Segelap apapun keadaannya tidak akan berpengaruh pada para reven karena lensa kaca pada topeng mereka memungkinkan semua reven untuk melihat didalam kegelapan dengan sangat jalas namun semua yang mereka lihat akan berwarna abu-abu begitu pula saat siang hari.


Itu mengapa mereka terlihat begitu suram karena sudah tidak pernah lagi melihat betapa berwarnanya dunia setelah mereka bergabung dengan kelompok reven.


.


.


.


.


.


.


"Kelas yang itu, cepat bergerak" bergegas mereka semua pergi ke kelas di mana akito berada.


Untuk memaksa sakit keluar mereka melemparkan beberapa belati masuk kedalam kelas melalui jendela, terlihat belati itu menancap di dinding bukan hanya itu sesuai terlihat diikatkan pada belati tersebut dan itu adalah...


"Peledak! Anak-anak berlindung dibawah kursi kalian!" teriak wali kelas mereka.


Dan bom.. Ledaka terjadi beberapa kali syukurnya tidak ada yang terluka karena mereka sudah lebih dulu berlindung, setelah ledakan terjadi dan asap yang mengepul sudah menghilang.


Mereka semua dikejutkan dengan keberadaan ketujuh reven yang sudah berdiri di depan akito. Tanpa banyak tingkah lagi mereka melemparkan akito keluar kelas dari jendela membuat akito terjatuh dari lantai dua ke bawah.


Di susul para reven yang turun dengan cara melompat daru dalam kelas melalui jendela. Semua orang langsung melihat keluar untuk menyaksikan apa yang sedang terjadi.


Melihat sahabatnya dalam bahaya hama langsung berlari keluar untuk menolong akito.


"Si-siapa kalian?" tanya akito setelah kembali bangun.


"Siapa kami itu tidak penting, kami diperintahkan untuk memurnikanmu sebelum semuanya terlambat" jawab salah satu dari kejutuh reven kemudian mereka menarik pedang masing-masing dari dalam sarungnya.