The Exorcist

The Exorcist
Seorang gadis



Beberapa saat kedua monster itu berhenti didekat batu tempat Yamato dan gadis itu bersembunyi.


"Harum sekali" batin gadis itu yang berada sangat dekat dengan Yamato bahkan wajahnya hampir bersentuhan dengan Yamato.


Saat Yamato sedikit naik untuk melihat situasi saat itu juga wajah si gadis bersentuhan dengan dadanya, membuat wajah si gadis semakin memerah. Setelah melihat kedua monster itu pergi Yamato pun menanyakan keadaan si gadis.


"Apa kau baik-baik saja. Ha.. Kok wajahmu merah!?" Yamato terkejut saat mlihat wajah merah dari gadis itu, seketika Yamato langsung menjauh dari si gadis karena takut dianggap ca*ul padanya.


"Ma-maaf. Aku tidak bermaksud buruk pada mu" lanjut Yamato yang terlihat panik.


Gadis itu mulai berdiri kemudian berjalan mendekat, semakin mendekat, dan bahkan membuat Yamato harus terjatuh untuk tidak bersentuhan dengan gadis itu, namun alangkah sial atau beruntungnya dia gadis itu malah meniduri Yamato.


"Oh. Ya tuhan apa ini yang disebut rejeki gk kemana?" batin Yamato dengan wajah yang memerah, kemudian hidungnya mulai mimisan karena melihat dua bola kehidupan tepat didepan matanya.


.


.


.


.


"Sekarang bocah itu sedang apa didalam sana?" tanya ogaki sabil melihat langit biru dari jendela.


.


.


.


.


Detak jantung yang terus berdebar kencang, tarikan nafas yang semakin cepat, dan wajah Yamato sudah memerah sampai akhirnya.


"Aaaa...! Tidak! Aku tidak ingin cepat-cepat kehilangan masa perjaka ku" teriak Yamato setelah mendorong gadis itu bangun dari dirinya.


"Hah?!" si gadis terlihat ke bingung melihat reaksi yamato.


"Kenapa?" tanya si gadis.


"Kau tanya kenapa? Maaf haram-deus, kita sejalan tapi tidak seiman" jawab Yamato yang memalingkan wajahnya meski wajahnya masih terlihat sedikit merah.


"Maaf aku tidak sopan tapi aku lakukan itu untuk mengetahui kau orang baik diluar dan didalam atau cuman diluar saja, dan terimakasih sudah menolong ku tadi"


"Mari. Sepertinya kau orang bukan berasal dari sini, lebih baik kau ikut dengan ku, setidaknya kau dapat beristirahat disana" lanjut si gadis yang mengajak Yamato untuk ikut dengannya.


Saat akan berjalan tiba-tiba Yamato merasakan sakit dibagian perutnya dan darah juga terlihat mulai mearnai bajunya, itu karena lukanya masih belum pulih dan tadi Yamato sudah bergerak secara tanpa memikirkan resiko lukanya akan kembali terbuka.


Perlahan pengelihatan Yamato mulai kabur sampai akhirnya dirinya jatuh tak sadarkan diri, mendengar suara benda jatuh membuat si gadis berbalik kebelang untuk memeriksa dan iya pun terkejut melihat Yamato yang tidak sadarkan diri di tanah.


"oh. Tidak, bagai mana ini? Gawat dia berdarah" gadis itu terlihat begitu panik kemudian ia bergegas lari masuk kedalam hutan.


Beberapa menit kemudian akhirnya Yamato bangun dan ia melihat kalau sekarang dirinya berada di dalam sebuah tenda yang terbuat dari kulit hewan, bukan hanya itu Yamato melihat perbannya sudah diganti menggunakan lain putih yang di dalamnya sudah dilapisi dedaunan herbal.


"Yaampun!" saat akan bangun seorang nenek tua memintanya untuk tidak banyak bergerak karena lukanha bisa kembali terbuka.


"Ini dimana?" tanya Yamato pada nenek tua tersebut.


"Kamu berada di desa kami, terimakasih sudah menolong yumi" jawab si nenek.


"Kamu benar, ini minumlah" lalu si nenek memberikan secangkir minuman herbal yang baunya seperti kaos kaki yang tidak dicuci setahun.


Karena si nenek terus memperhatikan dirinya sebisa mungkin Yamato meminum obat tersebut sampai habis, untuk sesaat dirinya merasa seperti nyawanya sedang di cabut.


Tidak lama kemudian si gadis yaitu yumi datang masuk, iya pun memberikan baju Yamato yang sudah dibersihkan dari darah. Yumi meminta Yamato untuk segera memakai baju karena iya akan mengajaknya berkeliling desa.


Dibawah matahari yang bersinar terang, Yamato dan yumi berjalan bersama melihat-lihat desa. Yang uni disini adalah rumah mereka semua sebuah tenda dari kulit hewan.


"Oh. Aku lupa. Nama ku Takigawa Yamato salam kenal" ujar Yamato yang baru sekarang memperkenalkan dirinya.


Tapi saat yumi akan memberitahu namanya Yamato langsung memotong karena dirinya sudah diberitahu oleh nenek tua tadi.


"Aku tidak sangka orang aneh itu bisa menciptakan duni seperti ini" batin Yamato yang masih tidak percaya kalau semua ini ciptaan ogaki.


Saat sedang jalan santai tiba-tiba terdengar suara keributan mendengar suara tersebut membuat Yamato dan yumi bergegas kesana walaupun Yamato harus mengurangi kecepatan larinya karena takut akan membuka kembali lukanya.


"Ada apa?" tanya Yamato pada yumi.


"Desa diserang para monster sepertinya mereka ingin membalas atas kematian rekan mereka" jelas yumi.


Gerombolan monster itu terus mengamuk menghancurkan rumah-rumah dan melukai orang-orang, tidak alam kemudian sekelompok orang datang dan mereka adalah para bandit.


Mereka menggunakan para monster sebagai senjata menyerang desa, melihat hal tersebut yumi langsung mengajak Yamato untuk segera pergi ketempat yang aman. Tapi Yamato tidak bisa pergi meninggalkan orang-orang yang terluka disana.


"Ayo cepat! Kenapa kau hanya diam saja?" tanya yumi yang terlihat panik.


"Huuu~~ aku tidak bisa pergi tanpa bersama mereka yang terluka disana" jawab Yamato yang menunjukkan keyakinan dan percaya dirinya pada yumi.


"Apa!?" mendengarnya membuat yumk terkejut


"Aku pinjam ini" lanjut Yamato kemudian mengambil sebuah pedang yang terpanjang didepan rumah seseorang.


"Akan kutunjukkan seberapa hebat diriku dan kalian harus tau aku bahkan pernah melawan mahkluk yang lebih sangar dari ini!" teriak Yamato yang berlari kemudian melompat.


Menyerang seekor monster dari arah atas lalu membelahnya menjadi dua hanya dengan satu tebasan saja. Melihat itu orang-orang berhenti berlari dan terdiam melihat apa yang di lakukan Yamato.


Para bandit dibuat terkejut karena ada yang bisa membunuh seekor monster hanya denga satu tebasan saja, pada bandit pun menyuruh para monster untuk menargetkan Yamato terlebih dahulu.


"Dia pasti akan mati" bisik sorang pria yang ada dibelakang yumi pada temannya.


"diam kalian jangan bergosip!" banyak yumi.


Untuk sesaat orang-orang mengira kalau Yamato akan mati karena saat ini ia sedang dikepung dari segala sisi oleh para monster.


"Nah. Bocah apa kau akan menyerah?" tanya seorang bandit.


"Dalam mimpimu. Teknik terkutuk! Gerhana matahari! Tahap pertama! Sinar sang surya!"


Dan pedang yang digunakan Yamato mulai mengeluarkan aura panas, bahkan semua orang mulai berkeringat akibat kepanasan.


"Makan ini!" teriak Yamato kemudian mengayunkan pedangnya kearah beberapa monster yang ada didepannya.


Gelombang panas yang dikeluarkan pedang itu saat di ayunkan berhasil membuat beberapa monster berubah menjadi debu, dan itu mengejutkan semua orang.


"Ada yang ingin jadi debu? Kalau begitu siapa selanjutnya?"