
"Begini saja! Dalam hitungan 3 kita lakukan penukarannya" usul lucifer namun ryuu tidak menjawabnya.
"Aku anggap diam mu sebagai jawaban 'ya'" lanjutnya.
Saat itu juga, ryuu bersiap menarik benang sutra yang terhubung dengan jarum yang tadi ia sebarkan.
Dan tepat di hitungan ketiga, ryuu langsung menarik semua benangnya.
Membuat dinding gudang itu roboh, secepat mungkin ia langsung menarik himeno dan Yamato untuk menjauh dari reruntuhan.
Dari tempatnya, ryuu dan himeno melihat drystan yang berjalan kearah mereka dengan baju yang kotor karena debu. Tidak lama kemudian suara lucifer terdengar.
"Pastikan kau mendapatkan azir" ujar lucifer yang menyerahkan masalah inu pada drystan.
Tidak ada jalan keluar, dan sebagai penebus dosa nya, ryuu meminta himeno untuk pergi membawa Yamato kembali ke markas pusat. Himeno yang sadar dengan apa yang dimaksud ryuu menolak usulan tersebut.
"Aku tidak akan mendinginkanmu, jika aku pergi kau juga harus pergi. Ryuu jangan terlalu membebani dirimu sendiri" ujat himeno yang mencoba melarang ryuu menghadapi drystan seorang diri.
"jangan banyak bicara dan cepat pergi!!" bentak ryuu dihadapan himeno.
Dengan hati yang sangat berat dan dalam tangisan himeno pergi membawa ryuu kembali ke markas pusat. Melihat itu drystan yang akan mengejar dihalangi oleh ryuu.
Dengan mengacungkan pedangnya, tepat didepan wajah drystan. Dengan tersenyum lebar dan tanpa berkata apapun lagi. Drystan menerima tantangan dari ryuu.
Pertarungan ini dimulai oleh ryuu yang terlebih dahulu menyerang, dalam waktu yang sangat singkat tangan kiri drystan berubah menjadi sebuah pedang besar dan juga panjang. Menangkis serangan dari ryuu.
Perbedaan kekuatan yang terlihat begitu jelas diantara mereka berdua, namun ryuu berusaha untuk mengimbangi drystan dan usahanya itu tidak sia-sia saja.
Serangan yang mengbabi buta, terus dilancarkan drystan tapi ryuu masih bisa untuk mengatasi serangan demi serangan. Dan luka gores dibagian wajah sebelah kirinya muncul. Kemudian mereka berdua mengambil jarak satu sama lain.
Sesaat kemudian, ryuu kembali memuntahkan darah karena hukuman dari sumpah yang pernah diucapkannya dihadapan Yamato waktu itu. Rasa sakit layaknya dicabik-cabik begitu terasa didalam tubuh ryuu.
Sayangnya, itu tidak bisa menghentikan ryuu sedikitpun ia kembali berdiri tanpa adanya rasa gemetar atau Takur yang terlihat dari wajahnya. Membuat drystan memberikan pujian dan tepuk tangannya.
"Hebat! Hebat! Sekali! Semangat yang bagus, tapi apa semangat saja sudah cukup untuk membantumu?".
"Kau benar sekali dan karena itu, aku akan mempertaruhkan segalanya untuk saat ini" jawab ryuu.
.
.
Himeno yang baru sampai didepan gerbang utama markas pusat, langsung di sambut oleh beberapa penjaga bersenjata, bersiap menyerang.
Setelah berusaha keras, akhirnya himeno berhasil masuk kedalam markas pusat. Dengan kedatangannya membuat semua anggota exorcist berdatangan, termasuk para jendral dan kapten.
"Menjauh! Jangan ada yang mendekat" ujar jendral morisawa lalu berjalan perlahan mendekati himeno.
"Nona, apa kau bisa menjelaskan apa yang sedang terjadi?" tanya jendral morisawa.
Setelah membaringkan Yamato, himebo pun mulai menjelaskan bahwa saat ini ryuu sedang berusaha menahan drystan seorang diri, demi membuka jalan untuknya dan Yamato.
Jendral morisawa pun mencabut jarum kecil yang menancap di titik lumpuh Yamato dan beberapa saat kemudian Yamato pun sadar. Ia langsung menanyakan tentang ryuu.
Tanpa mengatakan apapun lagi, himeno bergegas kembali untuk membantu ryuu. Jendral morisawa yang mengerti tentang ini menyuruh kapten Hideaki untuk ikut dengan himeno.
Mendengar itu, Yamato memaksa untuk ikut dengan kapten Hideaki namun ia dilarang keras oleh para jendral.
.
.
"Sudah ku bilang, akan ku pertarungan segala ini untuk saat ini"
"Teknik puncak! Teknik darah iblis!............. PEMBAKARAN JIWA!!".
Dan ryuu pun membuka dirinya sendiri, dan melumuri pedangnya mengunakan darahnya sendiri, terlihat pedang jarum itu berubah bentuk setelah menyerap darahnya.
Kini pedang itu menjadi pedang katanan pada umumnya, namun warga lihat pedangnya adalah hitam pekat dengan polesan warna merah darah.
Saat ini, drystan dibuat ketar-ketar dengan teknik yang di gunakan oleh ryuu. Meski teknik ini sangat kuat akan tetapi teknik ini juga akan membunuh ryuu secara perlahan.
Tergantung seberapa lama ia mengunakan mode pembakaran jiwa. Seperti namanya juga, jiwa atau umur ryuu akan terus berkurang sering berjalannya waktu.
Walau ia mengunakan mode ini hanya sebentar, tetap saja ryuu akan mati karena itu adalah harga yang harus ia bayar ketika sudah masuk mode pembakaran jiwa.
Dalam hitungan detik, ryuu berada dibelakang drystan dan itu membuat drystan terkejut.
"Gawat! Dia bahkan lebih cepat" ucap ucap drystan.
Tidak sempat menghindar, bergegas drystan menangkis serangan itu tapi pedang ryuu berhasil menghancurkan tangan kanan drystan. Hanya dengan satu serangan saja.
Tidak membuang waktu sedikit pun, bergegas ryuu membelok serangannya dan hampir mengenai leher drystan.
"Kau benar-benar memaksa" ujar drystan setelah berada dalam jarak aman.
"Kita lihat siapa yang akan tertawa nanti" lanjut drystan dan kedua matanya menjadi terang.
Dan drystan mulai menunjukkan wujud aslinya yang sangat campuran antara anggun dan menakutkan.
Dengan tinggi sekitar 6-7 meter, kedua sayap yang besar teru memancarkan aura keputusan, jubau merah yang metupi dari pinggan sampai bawah, kepala yang mirip kepala naga, dan dua buah tanduk satu menjulang panjang sementara satu lagi sudah terpotong entah kenapa.
"Gementarlah dihadapan perwujudan keputusan" ujar drystan.
"Astaga!" ucap kapten Hideaki yang melihat wujud asli drystan, sambil menggenggam tangan himeno.
"Kita tidak bisa ikut campur, ini sudah terlalu jauh, bahkan aku sendiri, ini adalah pertarungan terakhirnya" lanjut kapten Hideaki yang mencoba menghentak himeno agar tidak ikut campur.
.
.
"Nah kucing, akan sampai kapan kau menyombongkan diri?" dan kali ini drystan yang menyerang lebih dahulu.
Walau berdua ukuran, tapi ryuu tetap bisa mengimbangi drystan dalam wujud aslinga iru. Jual beli serangan terus terjadi, setiap luka yang mereka terima langsung sembuh dengan cepat.
Mereka berdua terlihat tidak memberikan waktu untuk berhenti menyerang satu sama lain, untuk meningkatkan serangan ryuu kembali melukai dirinya sendiri dan membiarkan pedangnya menyerang darahnya.
itu membuat daya serang, kecepatan, dan daya rusak ryuu bertambah. Begitu juga dengan drystan, iya memperkuat pertahanan dan juga sernagannya.
Tidak ada yang mau berhenti, setiap serangan yang mereka berdua lakukan tidak pernah gagal, sampai akhirnya mereka berdua mengambil jarak untuk melakukan serangan terakhir.
"Nah, apa kata-kata terakhirmu?" tanya drystan.
Namun ryuu tidak menjawab dan sebuah tato aneh mulai merambat dari wajah sebelah kanan menuju tangan sebelah kanannya. Pedang itu mengeluarkan aura yang begitu gelap.
Sesaat mata ryuu tertuju pada himeno yang melihatnya dari kejauhan bersama kapten Hideaki.
ryuu mulai tersenyum tipis dan berbisik.
"Selamat tinggal!"