
Waktu terus bergulir mengiri perjalanan cinta antara Ray dan Kanaya, hingga sampai detik ini Ray masih setia berdiri di samping Kanaya. Meskipun masalah bertubi tubi datang menghampir, namun tidak sedikitpun menggoyahkan hati mereka berdua, karena mereka yakin Tuhan akan memberi pelangi di setiap badainya.
Namun, beberapa hari setelah Ray sembuh cowo itu justru berubah acuh padanya, Ray jarang terlihat di rumah, bahkan jika ia bertemu-pun cowo itu malah menghindar. Apa ia melakukan kesalahan? Apa kata katanya menyinggung perasaan Ray? Dari yang terakhir mereka bertemu Ray berjanji akan memberikannya hadiah atas sikapnya yang mengusir Evan tempo hari.
Ahh, kenapa ia terkesan mengharapkan hadiah dari Ray sih? Kanaya menggelengkan kepalanya untuk menghapus fikiran negatifnya, tidak mungkin Ray menghianati-nya kan?
Kanaya bangkit dari duduknya, lebih baik ia istirahat dan pergi tidur, dari pada memirkirkan Ray yang hanya membuat kepalanya serasa mau pecah saja. Kanaya berjalan lesu meninggalkan area kolam renang dimana ia pernah bercanda di ayunan itu bersama Ray.
Dan asal tahu saja, bukan hanya Ray saja yang bersikap acuh. Bahkan Raka dan calon ayah mertuanya-pun seakan bersekutu untuk mengacuhkan dirinya. Ck! Ia bagai di kurung dalam sangkar emas, percuma ia tinggal di dalam rumah yang sebesar ini tapi di acuhkan oleh Ray. Rasanya menyakitkan sekali.
"Ehm"
Kanaya mengangkat wajahnya yang sedari tadi menunduk, terlihat Ray bersandar di dinding dengan stelan jas lengkap.
Kanaya melongo menatap Ray yang tersenyum manis ke arahnya. Astaga! Kenapa ia baru menyadari kalau kekasihnya itu tampan sekali sih?
"Apa?" Kanaya melengos, ia kesal dengan cowo tampan itu yang sudah mengacuhkan dirinya berhari hari.
"Aawww"
Kanaya memekik merasakan sakit di punggungnya, Ray baru saja mencekal pergelangan tangannya dan memojokannya ke tembok, mengurung dirinya di antara lengan kekarnya.
"Kamu mau kemana?"
Demi bintang kecil di langit, saat ini jantungnya terasa terbang kesana. Wajah Ray begitu dekat hingga hidung mereka bersentuhan, bahkan Kanaya bisa merasakan deru nafas Ray yang menerpa kulitnya.
"Aku mau tidur, aku ngantuk" Kanaya memalingkan wajahnya ke samping, ia tidak boleh terpesona. Tidak! Tapi sayangnya tubuhnya merespon lain saat Ray menelusuri kulit wajahnya dengan jari telunjuknya. Oh My God!
Kanaya mendorong dada bidang Ray agar menjauh, nafasnya terasa sesak jika terus dalam keadaan se intim itu.
Ray menangkap kedua pergelangan tangan Kanaya dan menariknya ke suatu tempat "Kamu ikut aku."
"Ka-kamu ma-mau apa?"
Kanaya tertatih mengikuti langkah lebar Ray yang terkesan terburu-buru, hingga langkahnya berhenti di depan pintu berwrna putih itu.
Ray membuka pintu itu perlahan dan menarik Kanaya masuk, Kanaya terkejut nyaris pingsan. Ray membawanya masuk ke dalam kamar dengan dua pria bertubuh kekar di dalamnya. Apa apaan ini?
"Me-mereka siapa Ray?"
"Uh Lala, cantik bangets calon istri yyee, eyke iri bo, dese kalo mandi pake aposeh, licin gitcyu kaya ubin mesjid." Celetuk kedua pria bertubuh kekar itu dengan gaya gemulainya.
"Lo rias calon istri gue, jangan macem macem! Atau gue tutup salon sama butik Lo berdua" Ancam Ray serius dengan wajah datarnya.
Kedua pria bertubuh kekar itu bisik bisik setelah Ray keluar dan menutup pintu itu. Kanaya tertawa mendengar dua pria yang terlihat macho membicarakan Ray, dengan tata bahasa yang aneh dan bergaya feminim bahkan melebihi sisi kewanitaan Kanaya.
Kanaya mengikuti instruksi kedua pria setengah wanita itu, untuk mencoba semua gaun yang di bawa oleh-nya. Mulai dari yang berwarna terang sampai yang berwarna gelap.
Wajahnya sudah di poles dengan make-up yang tipis terkesan natural, rambut yang di sanggul rendah hingga memperlihatkan leher mulusnya dengan sempurna. Dan sentuhan terakhir dress berwarna peach di atas lutut, dengan tali kecil menghiasi bahu mulusnya.
Kanaya menatap pantulan dirinya di cermin, ia terkejut dengan rahang terbuka. Pantulan dirinya terlalu sempurna di hingga ia tidak mengenali dirinya sendiri.
"Perfect" seru kedua pria gemulai itu.
"Gak ada baju yang lengan panjang om? Em-eh mbak." Tanya Kanaya gugup.
"Sis , panggil eyke sis. Ini udah yang paling sopan cantik. Mau pake yang warna hitam tadi? Hm?"
Kanaya menggeleng cepat, tidak bisa ia bayangkan bagaimana reaksi Ray kalau sampai ia memakai gaun yang berwarna hitam itu. Gaun panjang hingga menyentuh lantai, dan tanpa lengan yang melekat pas di tubuh, serta bagian bawah yang terbelah mengekspos bagian paha dengan jelas. Tidak tidak!
"Yaudah yang ini aja" jawabnya pasrah.
"Nah gitu dong."
Kedua pria gemulai itu menuntun Kanaya berjalan sampai pintu, dan Kanaya menunduk malu saat itu juga ketika pria bertubuh kekar itu membuka pintunya perlahan.
"Tadddaaa" seru kedua pria gemulai itu bersamaan memperlihatkan hasil karyanya pada Ray.
Ray menegakkan tubuhnya setelah tadi ia lama bersandar di dinding, Ray tertegun dengan apa yang baru saja ia lihat, ini benar Kanaya calon istrinya?atau bidadari yang baru saja turun?
Ray tertarik dari lamunannya kembali ke semula, meraih dagu Kanaya agar menatap ke arahnya. Luar biasa cantik.
"Ehm, lumayan." Ucap Ray singkat.
Huh! Lumayan katanya? Kedua pria gemulai itu saling pandang. "Lumayan? tapi situ gak ngedip dari tadi, sampe ngiler gitu, yakan say." Ejeknya seraya melempar pertanyaan pada teman di sampingnya.
Ray hanya tersenyum samar mendengar itu, memang pada kenyataannya ia terpesona dengan penampilan Kanaya yang luar biasa cantik di matanya. Ray langsung menutup mata Kanaya dengan kain hitam yang sudah ia siapkan.
"Bye bye say, sukses ya..."
****
Kini Kanaya berdiri di area terbuka setelah Ray menuntunnya berjalan sedari keluar kamar, bisa ia rasakan angin yang bertiup kencang menerpa kulitnya yang berpakaian minim.
"Kita mau ngapain Ray?" Kanaya berjalan sembari memegang erat tangan Ray yang berada di bahunya.
"Ok ,udah sampe"
Ray tersenyum puas melihat hasil karyanya mendekor tempat ini, lalu di bukanya perlahan ikatan yang menutupi mata Kanaya.
"Selamat ulang tahun sayang" Ray membentangkan kedua tangannya setelah mencuri cium di pipi Kanaya.
Kanaya terpukau dengan pemandangan di depannya, meja bundar dengan dua kursi di berhadapan dan lilin yang bertebaran sebagai penerangan.
Tak ketinggalan, kue kecil dengan angka 19 di atasnya. Serta kertas bertuliskan happy birthday honey di beberapa sisi. Ya, saat ini Kanaya berada di rooftop bangunan mewah ini. Dengan tenda kecil di atasnya sebagai pelindung.
Kanaya menutup bibirnya dengan kedua telapak tangannya, ini benar-benar indah. Tidak pernah Kanaya bayangkan sebelumnya akan merayakan ulang tahun seindah ini. Tanpa sadar sudut matanya berair.
"Kamu suka?"
Kanaya mengangguk mantap "suka banget Ray, makasih ya"
"Makasih aja? Gak ada upahnya nih?" Ray berlagak seperti rentenir yang menagih imbalan.
Ini yang selalu Kanaya takutkan jika Ray berbuat baik, pasti ada maunya. Kanaya menghela nafas pelan lalu mengecup pipi Ray singkat.
Kini mereka berdua menikmati makan malam romantis setelah Kanaya meniup lilinnya. Sesekali Ray menyuapi Kanaya meski gadis itu menolaknya.
Ray bangkit dari kursinya dan memakaikan jas miliknya untuk menutupi bahu Kanaya yang terbuka, karena angin malam yang semakin lancang menerpa kulit Kanaya. Kemudian meminta gadis itu untuk bangkit berdiri.
Ray berlutut di hadapan Kanaya seraya membuka kotak merah berbentuk hati. Kotak berisikan cincin berlian dengan permata kecil di tengahnya.
"Ehm" Ray berdehem kecil untuk mengurangi rasa gugupnya.
"Kanaya, dari sekian banyaknya rasa yang tak mampu aku ungkapkan dan dengan beribu cara kamu membuatku bahagia. Kamu adalah alasan dan jawaban atas semua pertanyaan, yang aku inginkan hanya kamu selalu ada disini untukku. Mau kah kamu menjadi yang terakhir dalam hidup ku? dan menjadi yang pertama di saat aku membuka mata?
Kanaya, Will you marry me?"
Kanaya tidak mampu berkata-kata, bahkan air matanya mengambil peran dengan baik di saat bibirnya terasa kelu untuk sekedar berkata, yes i want too.
Hanya anggukan kecil sebagai jawaban, sontak Ray berjingkrak kegirangan, lalu segera memakaikan cincin itu di jari manis Kanaya.
"Makasih sayang"
Ray langsung mengecup kening Kanaya, kemudian kedua mata indah itu, lalu mengecup hidung mancungnya. Dan melum**at bibir tipis itu dengan usapan lembut di sepanjang punggung Kanaya.
Kanaya larut dengan rasa bahagia yang membuncah, hingga tanpa sadar ia mengalungkan tangannya di leher Ray sebagai pegangan, ia takut terjatuh ke belakang karena Ray terlalu hanyut menciumnya.
🍁🍁🍁
Cuma adegan kissing, gak perlu pake warning kan 😂
Enjoy ...
Sampai ketemu di acara pernikahan Ray dan Kanaya. Kondangan kita 😂😂
Please jangan ada yang ngamen,, harusnya aku yang disana... okehh😂😂