
Keesokan harinya, aku pergi menemui Yoojin. Aku yang seperti tidak tau malu memaksa masuk kedalam rumahnya, meskipun aku tau dia masih marah padaku.
"Yoojin, apa aku boleh masuk?" tanyaku yang berdiri di depan pintu rumah Yoojin.
Raut wajah Yoojin sudah terlihat jelas kalau dia masih bete pada diriku. Tapi aku tidak peduli, aku masih saja memaksa masuk kerumahnya.
"Kamu masih marah? masih mau halaman selanjutnya nggak nih?" Aku sedikit mengancam agar dia mengizinkanku masuk.
"Iya-iya, masuk aja asal jangan sembarangan menyentuh barang-barangku," kata Yoojin dengan nada cuek.
Aku masuk kedalam rumah Yoojin, meskipun dia terpaksa menyuruhku masuk hanya demi sebuah buku yang ada padaku saat ini. Tapi buku itu menguntungkan untukku agar bisa dekat dengannya.
"Kamu duduk aja dulu, aku mau mandi sebentar," kata Yoojin sambil mengalungkan handuk dilehernya.
Aku menganggukan kepalaku. Aku melihat sekeliling rumahnya. Memang benar, rumahnya sangat bersih, aku sampai kagum melihat kebersihan rumah Yoojin. Beda dengan rumahku yang jarang aku bersihkan karena sibuk dengan pemotretan.
Aku yang sedari tadi sedang berjalan dirumah Yoojin sampai tidak menyadari kalau sang pemilik rumah sudah selesai mandi dan berada dibelakangku sekarang. Aku terjatuh karena menabraknya dari depan.
Kami akhirnya jatuh bersamaan, aku yang sekarang berada diatas tubuh Yoojin menjadi kaku tidak bisa berkata apa-apa. Aku menatap matanya yang begitu indah, wajahnya yang begitu tampan membuat mataku tidak bisa mengalihkan pandanganku.
Yoojin perlahan-lahan mulai menutup matanya. Aku terkejut dan langsung berdiri dari posisiku saat ini. Aku menepuk pipi laki-laki itu untuk menyadarkannya. Tapi dia masih tak kunjung membuka matanya.
Aku mulai panik, aku bingung harus bagaimana. Akhirnya aku mengambilkan kemeja putih untuk menutup tubuhnya. Aku takut tak kuasa menahan untuk menyentuh tubuhnya kalau aku tidak segera menutupnya.
Beberapa menit kemudian dia mulai membuka matanya. "Yoojin, kamu nggak apa-apa kan?" tanyaku.
Yoojin bangun dan duduk di sofa. "Ada apa denganku? kenapa aku bisa pingsan." Yoojin membuatku bingung untuk menjawab pertanyaannya.
'Harusnya aku yang bertanya kenapa kamu pingsan oon.' batinku sambil menghela napas.
"Sepertinya kita tunda saja perjalanan hari ini, aku pikir kamu sedang tidak enak badan makanya pingsan begitu." Aku kemudian berpamitan pulang pada Yoojin.
Aku bosan kalau harus dirumah. Aku berpikir untuk menemui kakakku di Kliniknya. Aku bersiap-siap dan langsung pergi menuju Klinik kakakku.
Sesampainya diklinik kakak, aku langsung masuk keruangannya tanpa minta izin pada asisten kakakku terlebih dahulu.
"Selamat siang kakak." Aku langsung duduk di meja kerja kakakku.
"Ana, ada angin apa kamu menemui kakak?" tanya kakakku.
Namanya Yun Baek Hee, dia adalah anak pertama dari tiga bersaudara. Aku nomer dua, dan aku masih mempunyai adik laki-laki namanya Kenzoo.
"Yah, aku pengen ketemu kakak aja. Mumpung aku libur," kataku sambil memutar-mutarkan kursi yang aku duduki.
Aku kemudian bercerita tentang Yoojin pada Kak Baekhee. Aku memberitau Kak Baekhee kalau Yoojin sudah mau mengizinkan aku masuk kedalam rumahnya.
"Kak, dia tadi sudah bolehin aku masuk kedalam rumahnya," ucapku.
"Syukur lah kalau gitu, tapi lebih baik kamu tidak paksain diri untuk membantu dia berubah," ucap Kakakku.
"Kenapa kak? kan niatku baik," kataku.
"Karena penyakit OCD tidak semudah yang kamu kira proses penyembuhannya. Dan juga harus didasari dari dirinya sendiri." Kak Baekhee menceritakan panjang lebar mengenai penyakit itu.
"Jadi begitu, tapi aku tetap mau berusaha kak agar dia cepat sembuh dari penyakitnya itu." Dengan penuh semangat aku berkata seperti itu pada Kakkakku.
Kak Baekhee langsung diam dan menatapku. Dia lalu duduk didepanku, aku hanya diam melihat tatapan Kak Baekhee yang menakutkan. Seolah banyak pertanyaan didalam sana.
"kakak, yang benar saja aku jatuh cinta sama makanan ku, aku cuma anggap dia ayam goreng. Karena setelah aku menyentuhnya aku tidak merasakan apa-apa lagi terhadap makanan yang lain. Aku cuma mau ayamku ...." Aku membayangkan ayam goreng yang lezat sambil tersenyum.
Kak Baekhee menjadi penasaran pada Yoojin saat aku mengatakan dia bisa membuat semua makanan menjadi hambar setelah menyentuhnya. Rasa penasaran Kakakku menjadi bertambah, dia ingin menemui Yoojin yang sudah membuat aku tidak mau lagi menyentuh makanan lain selain dirinya.
Aku tidak menyetujui keinginan kakakku karena aku tidak mau makananku disentuh oleh orang lain. Meskipun dia adalah kakakku, aku tetap tidak bisa terima. Kemudian aku pergidari Klinik Kak Baekhee.
Ditengah perjalanan, Aku mendapat pesan dari Yoojin yang mengajakku jalan. Aku yang sedang kelaparan merasa sangat senang karena makananku akan datang dengan sendirinya padaku.
Aku membalas pesan dari Yudha dan mengajaknya bertemu di Kafe tempat aku dan teman-temanku biasa makan disana. Sesampainya di Kafe, Yoojin ternyata sudah sampai terlebih dulu disana.
Aku melambaikan tanganku dan menyapanya. "Hai Yoojin," Sapaku sambil mendekatinya.
Seperti biasa, Yudha memasang wajah kesal padaku karena aku mengajaknya ketempat yang ramai.
"Ngapain sih kamu ngajak aku ke Kafe begini, nggak higenis tau, kalau mau makan aku bisa buatin dirumah," kata Yoojin sambil membersihkan tempat duduknya dengan tisu basah.
Aku tertawa melihat keanehan yang terus dia perlihatkan padaku. Saat melihat Yoojin aku membayangkan ayam goreng yang begitu menggoda. Tanpa sengaja aku memegang tangannya.
"Hyemi, apa-apaan sih." Yoojin langsung membersihkan tangannya yang sudah aku pegang tadi.
"Ya elah maaf deh, lagian kamu itu harus belajar menerima situasi kayak gini. Apa kamu mau menyendiri terus seumur hidup?" ucapku pada laki-laki yang ada dihadapanku.
Yoojin menatapku dengan tatapan kesal. Sepertinya dia sudah benar-benar tidak nyaman dengan situasi seperti ini.
"Tidak usah terlalu memikirkan aku. Ayo cepat selesaikan pertemuan ini dan segera pulang," ucap Yoojin dengan nada cueknya.
Setelah selesai makan, aku dan Yoojin bergegas pulang. Aku tau Yoojin merasa tidak nyaman dari tadi. Tapi aku masih saja berpikir bagaimana caranya agar Yoojin bisa percaya padaku agar aku bisa menyentuhnya setiap hari.
Tidak terasa kami sudah sampai di apartemen. Ternyata karena sedari tadi aku berjalan sambil melamun jadi tidak sadar kalau sudah sampai.
"Sudah sampai, kamu masuk sana. Aku juga mau istirahat," ucap Yoojin.
"Iya bawel," Aku masuk rumahku sambil tersenyum melihat raut wajah Yoojin yang cuek.
.
.
.
.
.
MAAF JIKA MASIH ADA KESALAHAN DALAM PENULISAN CERITANYA ...
**JANGAN LUPA LIKE, VOTE DAN BINTANG NYA YA ...
DUKUNGAN KALIAN AKAN MEMBUAT AUTHOR SEMANGAT UNTUK UPDATE BAB SELANJUTNYA...
NANTIKAN KELANJUTAN CERITANYA PARA READERSKU**** ...
TERIMA KASIH ...
IG : Blue Flower